“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


PUASA NISHFU SYA'BAN DAN KEDUDUKANNYA (berhenti puasa pada pertengahannya) 

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

BULAN SYA'BAN (SYAKBAN) adalah bulan dimana Allah dengan keagungan-Nya turun ke langit dunia menyaksikan hamba-Nya. Sehingga para hamba yang memohon kepada-Nya sesuatu permohonan akan dikabulkan, menurut apa yang Ia kehendaki. Memperbanyak puasa di bulan ini termasuk suatu hal yang disunnahkan. Namun, pengkhususan puasa pada pertengahan bulan ini adalah termasuk perbuatan yang menjadi ikhtilaf. Oleh karena itu, berhati-hati memahami hadits-hadits yang mengatakan "puasa nishfu syakban" adalah lebih baik, agar amal yang dilakukan bermanfaat dan diridhai oleh Allah.

Pada sisi lain terdapat keterangan bahwa Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan Syakban, namun juga terdapat hadits pelarangan (berhenti) berpuasa pada pertengahan bulan Syakban. Jadi, puasa pada awal sampai pertengahan bulan Syakban dibolehkan dan termasuk sunnah. Ada pun puasa pada pertengahan bulan Syakban dianjurkan untuk ditinggalkan.

Adapun hadits-hadits yang menjelaskan dan sejalan dengan pernyataan di atas sebagai berikut:

Imam Ibnu Majah mengatakan,

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ أَبِي سَبْرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ. (رواه إبن ماجه: ١٣٧٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Khallal berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah memberitakan kepada kami Ibnu Abu Sabrah dari Ibrahim bin Muhammad dari Mu'awiyah bin Abdullah bin Ja'far dari Bapaknya dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila malam Nishfu Syakban (pertengahan bulan Syakban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman, "Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rezeki maka Aku akan memberinya rezeki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar." (HR. Ibnu Majah: 1378 - dha'if jiddan atau maudhu' menurut al Albani dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdu al Muthalib bin bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ibnu Majah: 1378 terdapat periwayat bernama Abu Bakar bin 'Abdullah bin Muhammad bin Abu Sabrah, ia tabi'ut tabi'in negeri hidup Madinah dan wafat tahun 162 H. Penilaian ulama: dha'if. Sedangkan periwayat yang lainnya maqbul.

Sedangkan 'Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Ja'far negeri hidup Madinah dan wafat tahun 80 H. Jadi hadits ini diriwayatkan dari shahabat kepada shahabat.

Beberapa pakar hadits mempermasalahkan Ibnu Abi Sabrah. Diantaranya adalah pernyataan Al-Haitami,

أبو بكر ابن أبي سبرة وهو متروك.

Abu Bakar Ibnu Abi Sabrah, ia adalah perawi yang ditinggalkan. (Majma’ Zawaid, 1/213).

Demikian juga halnya Fuad Abdul Baqi menukil keterangan dari Imam Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in tentang Ibnu Abi Sabrah,

قال فيه أحمد بن حنبل وابن معين يضع الحديث.

Imam Ahmad dan Yahya bin Ma’in menilai Ibnu Abi Sabrah, "Dia telah memalsukan hadits". (Ta’liq ‘ala Sunan Ibnu Majah, 1/444).

Pendapat-pendapat tersebut tentu belum memadai, karena hadits-hadits semakna dengan hadits dimaksud masih ada. Sehingga, masih ada kemungkinan kebenaran dari matan hadits tersebut.

Pada riwayat lain ditemukan bahwa imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا حُيَيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا لِاثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ. (رواه أحمد: ٦٣٥٣)

Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami Huyai bin Abdullah dari Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Abdullah bin 'Amru, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah Ta'ala mengamati makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan Syakban, lalu Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali dua saja; orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh seseorang." (HR. Ahmad: 6353 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wa'il, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 6353 terdapat dua orang periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits, yaitu: 1. Huyyai bin 'Abdullah bin Syuraih, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 143 H. Penilaian ulama: al Bukhari menilainya fiihi nazhar, Yahya bin Ma'in menilainya laisa bihi ba'sa. Sedangkan an Nasa'i menilainya laisa bi qawi, Ibnu Hajar menilainya shaduq yuham. Sementara Ibnu Hibban mengataka, "disebutkan dalam ats tsuqat". 2. 'Abdullah bin Lahiah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'id dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth. Sementara Hakim menilainya dzahibul hadits dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Periwayat yang lainnya adalah periwayat maqbul.

Riwayat lain,

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ لِي أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ قُلْتُ ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ. (رواه أحمد: ٢٤٨٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Hajaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah dari Aisyah berkata, "Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah ﷺ, lalu saya keluar dan ternyata beliau sedang di Baqi', mengangkat pandangannya ke langit seraya bersabda kepadaku: 'Apakah engkau takut, Allah akan menzhalimimu dan rasul-Nya? ' Aisyah berkata, "Saya berkata; 'Saya mengira engkau mendatangi sebagian istri-istrimu." Beliau bersabda, 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla turun di pertengahan malam ke langit dunia di bulan Syakban, lalu ia mengampuni untuk sejumlah bulu rambut kambing atau anjing'." (HR. Ahmad: 24825 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Aisyah, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat Ahmad: 24825 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits yaitu: Hajjaj bin Arthah bin Tsaur, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Artha'ah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 145 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah, Abu Hatim dan Ibnu Hajar menilainya yudallis. Ibnu Hajar juga menilainya shaduq banyak salah dan ahli fiqih. Abu Hatim dan Abu Zur'ah juga menilai shaduq, begitu juga Yahya bin Ma'in menilainya shaduq, mudallis dan laisa bi qawi.

Lebih lanjut dapat dilihat hadits riwayat Ahmad: 20758 - shahih dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H. Imam Ahmad berkata,


حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو غُصْنٍ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. (رواه أحمد: ٢٠٧٥٨)


Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Qais Abu Ghushni, telah menceritakan kepadaku Abu Sa`id Al Maqburi, telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa beberapa hari berturut-turut, sampai-sampai dikatakan, beliau tidak pernah berbuka. Dan beliau juga berbuka beberapa hari hingga hampir beliau tidak puasa kecuali dua hari dalam sepekan, yaitu dua hari yang biasa beliau gunakan untuk berpuasa, jika tidak (berpuasa terus menerus), maka beliau akan berpuasa dua hari itu. Dan tidaklah beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban, Aku bertanya; 'Wahai Rasulullah, engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah berbuka dan engkau berbuka seakan engkau tidak berpuasa kecuali dua hari saja, yaitu Senin dan Kamis." Beliau bersabda: "Itulah dua hari yang amalan seorang hamba ditampakkan di hadapan Rabb semesta alam, aku senang ketika amalanku ditampakkan, diriku sedang berpuasa." Usamah melanjutkan; kataku selanjutnya; "Dan kami tidak melihat engkau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya'ban?." Beliau bersabda: "Itulah bulan orang-orang banyak yang lalai antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan ditampakkannya amalan-amalan, dan aku suka ketika amalanku diperlihatkan dihadapan Rabbku, sedangkan aku dalam keadaan berpuasa." (HR. Ahmad: 20758 - shahih dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)


Lihat juga hadits ke-1942. Shahih lighairi. Seperti itu juga hadits riwayat an Nasa'i: 2317 - hasan dari  Usamah bin Zaid. Sebagaimana lafazhnya,


أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. (رواه النسائي: ٢٣١٧)


Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali dari 'Abdurrahman dia berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit bin Qais Abu Al Ghushn - seorang syaikh dari penduduk Madinah - dia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Sa'id Al Maqburi dia berkata; telah menceritakan kepadaku Usamah bin Zaid dia berkata; Aku bertanya; "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban?" Beliau bersabda: "Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa." (HR. An Nasa'i: 2317 - hasan dari Usamah bin Zaid bin Haritsah bin Surahbil, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)


Sedangkan hadits pembatas dengan hadits-hadits di atas diriwayatkan oleh imam Ahmad, sebagaimana beliau berkata:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الْعُمَيْسِ عُتْبَةُ عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنْ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ. (رواه أحمد: ٩٣٣٠)

Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata; telah menceritakan kepada kami Abul 'Umais 'Utbah dari Al 'Ala` bin Abdurrahman bin Ya'qub dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Jika bulan Syakban telah sampai pertengahan maka janganlah berpuasa hingga datang bulan Ramadhan." (HR. Ahmad: 9330 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikianlah kedudukan puasa pada bulan Syakban yang diinformasikan oleh ulama hadits yang dapat dipahami bahwa berpuasa pada pertengahan bulan Syakban dianjurkan agar berhenti berpuasa hingga datangnya bulan Ramadhan.

Peluang ini dianjurkan untuk dimanfaatkan, agar kita beramal sesuai dengan sunnah. Mengeluarkan diri dan amal dari ikhtilaf adalah sesuatu hal yang sangat bijak. Karena sesuatu amal dilakukan dengan ragu-ragu tidak berfaidah hingga ia melahirkan keyakinan.

Memahami ajaran atau pun hasil ijtihad, bahkan pendapat seorang ahli dibutuhkan ilmu. Oleh karena hal tersebut maka Rasulullah mengajarkan agar meninggalkan sesuatu yang meragukan dan mengikuti sesuatu yang meyakinkan. Hal tersebut disinyalir oleh Rasulullah ﷺ sebagaimana dipaparkan dalam beberapa riwayat berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةٌ قَالَ وَأَبُو الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيُّ اسْمُهُ رَبِيعَةُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ حَدَّثَنَا بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدٍ فَذَكَرَ نَحْوَهُ. (رواه الترمذي: ٢٤٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al Anshari telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa'di berkata, Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali: Apa yang kau hafal dari Rasulullah ﷺ? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasulullah ﷺ, "Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan." Dalam hadits ini ada kisahnya. Abu Al Haura` As Sa'di namanya Rabi'ah bin Syaiban. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. Telah menceritakan kepada kami Bundar telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid ia menyebut sepertinya. (HR. At Tirmidzi: 2442 - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H)

Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 5615, Ahmad: 1630 dan 1636 [keduanya isnad shahih menurut Syu'aib al Arna'uth] - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H. Imam Ad Darimi meriwayatkan:

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا تَحْفَظُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ مَسْأَلَةٍ لَا أَدْرِي مَا هِيَ فَقَالَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ. (رواه الدارمي: ٢٤٢٠)

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin 'Amir telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa'di, ia berkata; aku berkata kepada Al Hasan bin Ali; "Apa yang engkau hafal dari Rasulullah?, " Ia menjawab, "Seorang laki-laki bertanya kepada beliau mengenai suatu permasalahan, namun aku tidak tahu permasalahan apa itu, kemudian beliau bersabda, "Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu." (HR. Ad Darimi: 2420 - shahih dari al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 50 H)

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]