HIKMAH MEMBACA 300, 700, 1000 ATAU 100 AYAT PADA MALAM HARI
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Imam ad Darimi berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا فِطْرٌ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثَلَاثَ مِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ وَمَنْ قَرَأَ سَبْعَ مِائَةِ آيَةٍ لَا أَدْرِي أَيَّ شَيْءٍ قَالَ فِيهَا أَبُو نُعَيْمٍ بِقَوْلِهِ. (رواه الدارمي: ٣٣٢٥)
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Fithr dari Abu Ishaq dari Abu Al Ahwash dari Abdullah ia berkata; Barangsiapa yang membaca tiga ratus ayat pada malam hari maka dicatat baginya satu qinthar. Sedangkan tentang (perkataan); Barangsiapa yang membaca tujuh ratus ayat, maka aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Abu Nu'aim tentangnya. (HR. Ad Darimi: 3325 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)
Selanjutnya,
أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا حَرِيزٌ عَنْ حَبِيبِ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ يَقُولُ مَنْ قَرَأَ أَلْفَ آيَةٍ كُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ مِنْ الْأَجْرِ وَالْقِيرَاطُ مِنْ ذَلِكَ الْقِنْطَارِ لَا يَفِي بِهِ دُنْيَاكُمْ يَقُولُ لَا يَعْدِلُهُ دُنْيَاكُمْ. (رواه الدارمي: ٣٣٢٦)
Telah mengabarkan kepada kami Al Hakam bin Nafi' telah mengabarkan kepada kami Hariz dari Habib bin Ubaid ia berkata; Aku mendengar Abu Umamah berkata; Barangsiapa yang membaca seribu ayat maka dicatat baginya satu qinthar pahala, dan qirath dari qinthar itu tidak dapat ditebus oleh dunia kalian. Ia berkata; Tidak dapat disamai oleh dunia kalian. (HR. Ad Darimi: 3326 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Syadi bin 'Ajlan, ia shahabat kuniyahnya Abu Umamah negeri hidup Syam dan wafat tahun 86 H. Hadits ahlul Syam)
Sedangkan lafazh dengan tambahannya juga diriwayatkan oleh imam ad Darimi,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بِسْطَامَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ الْحَارِثِ عَنْ الْقَاسِمِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ وَفَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ قَالَا مَنْ قَرَأَ أَلْفَ آيَةٍ فِي لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ وَالْقِيرَاطُ مِنْ الْقِنْطَارِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَاكْتَنَزَ مِنْ الْأَجْرِ مَا شَاءَ اللَّهُ. (رواه الدارمي: ٣٣٢٧)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bistham telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah dari Yahya bin Al Harits dari Al Qasim Abu Abdurrahman dari Tamim Ad Dari dan Fadlalah bin Ubaid keduanya berkata; Barangsiapa yang membaca seribu ayat pada malam hari maka dicatat baginya satu qinthar, sedangkan satu qirath dari qinthar tersebut lebih baik dari dunia dan seisinya, serta akan mendapat pahala yang disimpan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah. (HR. Ad Darimi: 3327 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Fadhalah bin 'Ubaid bin Hafdz, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 58 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 3327 terdapat petiwayat bernama Yahya bin Bistham bin Huraits, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Muhammad dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduq, sedangkan imam Abu Daud mengatakan, "orang-orang meninggalkan haditsnya. Sama halnya dengan hadits berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عُبَيْدَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ يُحَنَّسَ مَوْلَى الزُّبَيْرِ عَنْ سَالِمٍ أَخِي أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ أَلْفَ آيَةٍ إِلَى خَمْسِ مِائَةٍ كُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ مِنْ الْأَجْرِ الْقِيرَاطُ مِنْهُ مِثْلُ التَّلِّ الْعَظِيمِ. (رواه الدارمي: ٣٣٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Musa bin Ubaidah dari Muhammad bin Ibrahim dari Yuhannas mantan budak Az Zubair, dari Salim saudara Ummu Ad Darda`, dari Ummu Ad Darda` dari Abu Ad Darda` dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Barangsiapa yang membaca lima ratus sampai seribu ayat maka dicatat baginya satu qinthar pahala. Satu qirath dari qinthar tersebut seperti sebuah bukit yang besar." (HR. Ad Darimi: 3328 - isnadnya dha'if menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Uwaimir bin Malik bin Qais bin Umayyah bin 'Amir, ia shahabat kuniyahnya Abu Darda' negeri hidup Syam dan wafat tahun 32 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat ad Darimi: 3328 terdapat dua orang periwayat dha'if, yaitu: Pertama, Musa bin Ubaidah bin Nusyaith, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdul 'Aziz negeri hidup Madinah dan wafat tahun 153 H. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Ibnul Madini, at Tirmidzi, an Nasa'i, Ibnu Qani', Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Adz Dzahabi berkata, "mereka mendha'ifkannya". Sementara Ya'qub bin Syu'bah menilainya dha'if jiddan. Sedangkan Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan as Saji menilainya mungkarul hadits. Abu Zur'ah dan Hakim menilainya laisa bi qawi. Kedua, Muhammad bin al Qasim, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Ibrahim Kufah dan wafat tahun 207 H. Penilaian ulama: an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah, ad Daruquthni menilainya kadzdzab, al Azdi menilainya matruk, al Baghawi menilainya dha'iful hadits. Sementara Ibnu Hajar berkata, "mereka mendustakannya" dan adz Dzahabi berkata, "mereka medha'ifkannya".
Lafazh lain diriwayatkan oleh imam Ahmad,
أَمْلَاهُ عَلَيْنَا مِنْ النَّوَادِرِ قَالَ كَتَبَ إِلَيَّ أَبُو تَوْبَةَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَاقِدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِي لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ. (رواه أحمد: ١٦٣٤٥)
Dia (Ahmad bin Hanbal radhiallahu'anhu) telah membacakannya pada kami dari kitab Nawadir-nya berkata; Abu Taubah Ar Rabi' bin Nafi' menulis kepadaku, berkata; telah menceritakan kepada kami Al Hutsaim bin Humaid dari Zaid bin Waqid dari Sulaiman bin Musa dari Katsir bin Murrah dari Tamim Ad-Dari berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang membaca seratus ayat pada satu malam maka akan ditulis baginya sebagaimana berdiri semalam." (HR. Ahmad: 16345 - hasan dan isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Tamim bin 'Aus bin Kharijah bin Saud, ia shahabat kuniyahnya Abu Ruqayyah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 40 H)
Imam Ahmad meriwayatkan dalam lafazh berbeda,
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنِي رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ زَبَّانَ عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَرَأَ أَلْفَ آيَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُتِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى. (رواه أحمد: ١٥٠٥٨)
Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghoilan berkata; telah menceritakan kepadaku Risydin bin Sa'd dari Zabban dari Sahl bin Mu'adz dari Bapaknya dari Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa membaca seribu ayat di jalan Allah Tabaroka Wa Ta'ala maka pada hari kiamat akan ditulis bersama pada Nabi, orang yang dipercaya, para syuhada' dan orang yang shalih, mereka itulah sebaik-baik teman INSYA'ALLAH". (HR. Ahmad: 15058 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib al Arna'uth dari Mu'adz bin Anas, ia shahabat negeri hidup Maru)
Kedua jalur sanad hadits riwayat Ahmad: 15058 terdiri dari periwayat yang dha'if dan diriwayatkan dari periwayat dha'if kepada periwayat dha'if. Oleh karena itu, hadits ini termasuk hadits mumgkar. Periwayat dimaksud adalah dari Sahal bin Mu'adz bin Anas (tabi'in kalangan biasa w.?) kepada Zabban bin Faid (tabi'in w. 155 H) keduanya hidup di Maru. Namun imam Ahmad meriwayatkan dari dua gurunya yang tsiqah, yaitu al Hasan bin Musa (w. 209) dan Yahya bin Ghailan bin 'Abdullah (w. 220 H). Mereka berdua masing-masing hidup di Jazirah dan Baghdad.
Hadits-hadits di atas dengan berbagai variasi lafazh dan kualitasnya memberi isyarat bahwa agar umat Islam memperbanyak membaca ayat-ayat al Qur'an dengan ikhlas dan penuh kesungguhan mengharap ridha Allah. Sehingga pahala membacanya diberikan oleh Allah secara sempurna, apalagi membacanya pada waktu malam setelah shalat tahajud (QS. Al Muzammil/73: 4). Karena dalam hadits yang masyhur Rasulullah ﷺ bersabda, sebagaimana diceritakan oleh imam at Tirmidzi,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى قَال سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ الْقُرَظِيَّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ وَيُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَرَوَاهُ أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ رَفَعَهُ بَعْضُهُمْ وَوَقَفَهُ بَعْضُهُمْ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ سَمِعْت قُتَيْبَةَ يَقُولُ بَلَغَنِي أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ الْقُرَظِيَّ وُلِدَ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ كَعْبٍ يُكْنَى أَبَا حَمْزَةَ. (رواه الترمذي: ٢٨٣٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Adl dlahhak bin Utsman dari Ayyub bin Musa ia berkata; Aku mendengar Muhammad bin Ka'ab Al Quradli berkata; Aku mendengar Abdullah bin Mas'ud berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur'an), maka baginya satu pahala kebaikan dan satu pahala kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali, aku tidak mengatakan ALIF LAAM MIIM itu satu huruf, akan tetapi ALIF satu huruf, LAAM satu huruf dan MIIM satu huruf." Selain jalur ini, hadits ini juga diriwayatkan dari beberapa jalur dari sahabat Ibnu Mas'ud. Abul Ahwas telah meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Mas'ud, sebagian perawi merafa'kannya (menyambungkannya sampai kepada Nabi) dan sebagian yang lainnya mewaqafkannya dari sahabat Ibnu Mas'ud.
Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih gharib dari jalur ini, aku telah mendengar Qutaibah berkata; telah sampai berita kepadaku bahwa Muhammad bin Ka'ab Al Quradhi dilahirkan pada masa Nabi ﷺ masih hidup, dan Muhammad bin Ka'ab di juluki dengan Abu Hamzah. (HR. At Tirmidzi: 2835 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)
Demikian juga hadits riwayat ad Darimi: 3174 - isnadnya shahih, mauquf menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H.
Kemudian cara Rasulullah ﷺ membacanya, sebagaimana diceritakan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ قِرَاءَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ فَوَصَفَتْ { بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } حَرْفًا حَرْفًا قِرَاءَةً بَطِيئَةً قَطَّعَ عَفَّانُ قِرَاءَتَهُ. (رواه أحمد: ٢٥٥١٧)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Abu Mulaikah dari Ummu Salamah, bahwa sifat bacaan Nabi ﷺ (seperti) dalam membaca: BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM, satu huruf satu huruf dengan bacaan yang pelan." 'Affan membacanya dengan putus-putus. (HR. Ahmad: 25517 - rijalusy syaikhain menurut Syu'aib al Arna'uth dari Hindi binti Abi Umayyah bin al Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H)
Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ agar bacaan yang dibaca meresap dalam hati sanubari, sehingga dapat memperteguh iman pembacanya bahkan orang yang mendengarnya. Dalam istilah al Qur'an dikenal dengan "tartil". Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ جُمْلَةً وَّاحِدَةً ۛ كَذٰلِكَ ۛ لِنُثَبِّتَ بِهٖ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنٰهُ تَرْتِيْلًا. (قرآن سورة الفرقان/٢٥: ٣٢)
Orang-orang yang kufur berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Nabi Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar). (QS. Al Furqān/25: 32)
Dalam ayat lain,
اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ. (قرآن سورة المزمل/٧٣: ٤)
atau lebih dari (seperdua) itu. Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (QS. Al-Muzzammil/73: 4)
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pentingnya menempatkan diri membaca al Qur'an pada malam hari apalagi pada saat sepertiga atau seperdua malam setelah shalat tahajud. Hikmahnya membaca al Qur'an pada malam hari diantaranya adalah pertama, memperoleh pahala yang besar. Kedua, dapat meneguhkan hati. Dan ketiga, lebih dekat dengan Allah. Sehingga Allah anugerahkan ketenangan hati dan pikiran.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏