SUMPAH POLITIK DAN SUAP (RISYWAH)
(kasus pembatalan bai'at)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Sejarah kemanusiaan akan senantiasa terulang, ketika kepentingan untuk menguasai orang banyak. Sehingga kekuasaan dan jabatan mereka percayai akan berkekakalan apabila mereka mampu memerdayai rakyat. Kemampuan mereka terfokus pada kepiawaian memengaruhi pikiran orang yang mungkin dapat mereka kuasai dan berpihak secara utuh untuk mendukung kekuasaan yang ingin mereka raih.
Bahkan dalam urusan tersebut mereka rela memberi, menalangi atau memprakarsai untuk melakukan risywah (suap). Dalam hal ini melakukan politik uang. Walau pun mereka mengetahui bahwa perbuatan tersebut diharamkan, karena dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat-riwayat berikut:
ALLAH MELAKNAT PELAKU SUAP, imam Ibnu Majah meriwayatkan:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ خَالِهِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي. (رواه إبن ماجه: ٢٣٠٤)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari pamannya Al Harits bin 'Abdurrahman dari Abu Salamah dari Abdullah bin Amru ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah melaknat penyuap dan penerima suap." (HR. Ibnu Majah: 2304 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)
Lihat juga: Ahmad: 6489 dan 6689, Abu Daud: 3109 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru. Ahmad: 8662 - shahih dari Abu Hurairah.
Lafazh lain, Rasulullah ﷺ melaknat penyuap dan penerima suap dalam masalah hukum, sebagaimana diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَائِشَةَ وَابْنِ حَدِيدَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُوِيَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا يَصِحُّ قَالَ و سَمِعْت عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ حَدِيثُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنُ شَيْءٍ فِي هَذَا الْبَابِ وَأَصَحُّ. (رواه الترمذي: ١٢٥٦)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari ayahnya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ melaknati penyuap dan yang disuap dalam masalah hukum. Ia berkata; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abdullah bin Umar, 'Aisyah, Ibnu Hadidah dan Ummu Salamah. Abu Isa berkata; Hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan shahih, hadits ini telah diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Amru dari Nabi ﷺ. Dan diriwayatkan juga dari Abu Salamah dari ayahnya dari Nabi ﷺ namun tidak shahih. Ia mengatakan; Serta aku mendengar Abdullah bin Abdurrahman berkata; Hadits Abu Salamah dari Abdullah bin Amru dari Nabi ﷺ adalah hadits yang lebih hasan dan lebih shahih di dalam bab ini. (HR. At Tirmidzi: 1256 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhr, negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Lihat juga: Ahmad: 8662 dan 8670 - shahih dari Abu Hurairah.
Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ خَالِهِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ. (رواه أحمد: ٦٢٤٦)
Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari pamannya Al Harits bin Abdirrahman dari Abu Salamah bin Abdirrahman dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Rasulullah ﷺ melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap. (HR. Ahmad: 6246 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru)
Lihat juga: at Tirmidzi: 1257, Ahmad: 6490 dan 6536 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru.
Rasul juga melaknat brokernya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي ابْنَ عَيَّاشٍ عَنْ لَيْثٍ عَنْ أَبِي الْخَطَّابِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا. (رواه أحمد: ٢١٣٦٥)
Telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin 'Amir telah bercerita kepada kami Abu Bakar bin 'Ayyasy dari Laits dari Abu Al Khaththab dari Abu Zur'ah dari Tsauban berkata; Rasulullah ﷺ melaknat orang yang menyuap, yang disuap dan perantaranya (broker, makelar)." (HR. Ahmad: 21365 - dha'if dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H)
Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama:
1. Abu Zur'ah, ia tabi'in kalangan biasa. Penilaian ulama: ia majhul.
2. Abu al Khaththab [dari Abu Zur'ah], ia tabi'in [tidak jumpa shahabat]. Penilaian ulama: Abu Zur'ah mentakan, "aku tidak mengetahuinya", Abu Hatim, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya majhul. Dan,
3. Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits,
Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits dan al Bukhari menilainya shaduq yuham. Periwayat setelahnya maqbul.
Riwayat munkar tentang penyuap dan penerima suap atau sogok,
حدثنا أحمد بن سهل بن أيوب قال : نا علي بن بحر قال : نا هشام بن يوسف قال : أنا ابن جريج ، عن ابن أبي ذئب ، عن الحارث بن عبد الرحمن ، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن ، عن عبد الله بن عمرو قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : « الراشي والمرتشي في النار » « لم يروه من حديث ابن جريج إلا علي بن بحر ، عن هشام ». (المعجم الأوسط للطبراني/٥: ٦٠)
( منكر ) وعنه { يعني حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما الذي في الصحيح } عن النبي صلى الله عليه وسلم قال الراشي والمرتشي في النار. (ضعيف الترغيب و الترهيب/٢: ٤٠).
الاسم : على بن بحر بن برى القطان ، أبو الحسن البغدادى ( فارسى الأصل )الطبقة : ١٠ : كبارالآخذين عن تبع الأتباع الوفاة : ٢٣٤ هـ بـ البصرة ، و قيل الأهواز روى له : خت د ت ( البخاري تعليقا - أبو داود - الترمذي )رتبته عند ابن حجر : ثقة رتبته عند الذهبي : وثقوه
Matan hadits tersebut bermakna "Pemberi suap dan penerima suap masuk neraka". Matan (teks hadits) tersebut berbeda dengan matan hadits yang sahih dan riwayat yang banyak. Disamping periwayatnya juga dha'if (dalam at Targhib wa at Tarhib, al Baghdadi)
Keinginan mereka untuk meraih hal di atas mereka usahakan dengan berbagai cara, bahkan rela mengorbankan akidah untuk kesenangan dunia yang sedikit ini. Padahal mereka mengetahui bahwa kesenangan yang hakiki dan terbesar tersebut hanya di dapat diakhirat.
Kecendrungan tersebut diabadikan dalam firman Allah berikut:
وَلَا تَتَّخِذُوْٓا اَيْمَانَكُمْ دَخَلًا ۢ بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌۢ بَعْدَ ثُبُوْتِهَا وَتَذُوْقُوا السُّوْۤءَ بِمَا صَدَدْتُّمْ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۚوَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة النحل/١٦: ٩٤)
"Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan kaki(mu) tergelincir setelah tegaknya (kukuh), dan kamu akan merasakan keburukan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan kamu akan mandapat azab yang besar." (QS. An-Naḥal/16: 94)
وَلَا تَشْتَرُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ اِنَّمَا عِنْدَ اللّٰهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة النحل/١٦: ٩٥)
"Dan janganlah kamu jual perjanjian (dengan) Allah dengan harga murah, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS.An-Naḥal/16: 95)
Tafsir QS. An Nahal ayat 94 dan 95 sebagai berikut:
(94) Allah swt menegaskan kembali kepada orang Islam tentang larangan-Nya menjadikan sumpah sebagai alat penipuan di antara mereka. Sesudah Allah melarang membatalkan perjanjian dan sumpah pada umumnya, dalam ayat ini, Allah secara khusus menegaskan larangan membatalkan perjanjian yang telah dibuat kaum Muslimin dengan Nabi Muhammad sewaktu masih di Mekah, menjelang hijrah ke Medinah.
Allah tidak membenarkan jika membuat perjanjian hanya untuk mengelabui manusia. Timbulnya larangan ini disebabkan oleh adanya keinginan dari kaum Muslimin untuk membatalkan bai'at mereka yang telah diperkuat dengan sumpah. Jika mereka melakukan hal demikian, berarti kaki mereka tergelincir sesudah berpijak di tempat yang mantap.
Mereka akan mengalami penderitaan disebabkan tindakan mereka yang menjadikan sumpah sebagai alat penipu di antara manusia. Ada tiga hukuman bagi yang melanggar jika melakukan tindakan demikian itu.
Pertama : Mereka bertambah jauh dari kebenaran dan hidayah Allah, meskipun sudah berada di dalam garis kebenaran itu. Kedua : Mereka memberi contoh dalam penyelewengan dari jalan Allah. Dengan kebiasaan jelek itu, mereka patut mendapat azab di dunia, seperti pembunuhan, penangkapan, perampasan, dan pengusiran dari kampung halaman. Ketiga : Mereka akan diazab di akhirat sebagai balasan atas kelancangan mereka menjauhi kebenaran. Mereka dimasukkan ke dalam golongan orang yang sengsara dan sesat.
Selanjutnya pada ayat berikutnya (ayat 95), Allah menegaskan lagi larangan-Nya tentang membatalkan janji setia itu (bai‘at) dengan menyatakan bahwa perbuatan itu sama halnya dengan menukarkan perjanjian dengan Allah dengan harga yang murah. Misalnya, untuk memperoleh keuntungan duniawi dan harta yang sedikit, mereka membatalkan suatu perjanjian yang mereka adakan sendiri. Peringatan Allah ini berhubungan dengan ihwal orang-orang Mekah yang telah mem-bai‘at Nabi kemudian mereka bermaksud membatalkan bai‘at itu setelah melihat kekuatan orang Quraisy, serta penganiayaan mereka kepada orang Islam.
Kemudian orang-orang Quraisy menjanjikan pula kepada orang Islam akan memberikan sesuatu jika mereka mau kembali kepada agama kesyirikan. Oleh sebab itu, Allah memperingatkan mereka dengan ayat ini dan mencegah mereka agar jangan sampai membatalkan bai‘at kepada Nabi itu, hanya untuk memperoleh harta duniawi. Karena apa yang ada pada Allah seperti pahala di akhirat dan agama yang dibawa Nabi untuk kehidupan duniawi, jauh lebih baik dari apa yang dijanjikan oleh pemimpin musyrik itu. Jika mereka mempergunakan akal pikiran dan merenungkan persoalan-persoalan itu, tentulah mereka lebih cenderung untuk tetap setia kepada Nabi dan menolak ajakan pemimpin-pemimpin musyrik itu.
Sejalan dengan pernyataan Allah di atas diingatkan kembali oleh Rasul-Nya sebagai berikut:
Imam al Bukhari berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ خَيْثَمَةَ عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. (رواه البخاري: ٤٦٦٩)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir Telah mengabarkan kepada kami Sufyan Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Khaitsamah dari Suwaid bin Ghaflah bahwa Ali radhiyallahu 'anhu berkata; Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Pada akhir zaman nanti, akan datang suatu kaum yang muda usianya lagi bodoh. Mereka berkata-kata dengan kebaikan, akan tetapi mereka keluar dari Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari busurnya. Keimanan mereka tidaklah melewati batas tenggorokan (tidak meresap dalam hati). Karena itu, dimana pun kalian menemukannya, maka bunuhlah mereka. Karena sesungguhnya membunuh mereka merupakan pahala, yakni pahala pada hari kiamat bagi yang membunuh mereka." (HR. Al Bukhari: 4669 - shahih dari Ali bin Abi Thallib bin 'Abdu al Murhallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H)
Lihat juga: al Bukhari: 3342, 6418, Muslim: 1771, Abu Daud: 4138 - shahih dari Ali bin Abi Thallib bin 'Abdu al Murhallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H.
Hadits senada dengan menyebutkan ciri-ciri mereka,
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرٍ الْبَصْرِيُّ الْحَرَّانِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ الْأَزْرَقِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ شَرِيكِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ
كُنْتُ أَتَمَنَّى أَنْ أَلْقَى رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهُ عَنْ الْخَوَارِجِ فَلَقِيتُ أَبَا بَرْزَةَ فِي يَوْمِ عِيدٍ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقُلْتُ لَهُ هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ فَقَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأُذُنِي وَرَأَيْتُهُ بِعَيْنِي أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَالٍ فَقَسَمَهُ فَأَعْطَى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ وَمَنْ عَنْ شِمَالِهِ وَلَمْ يُعْطِ مَنْ وَرَاءَهُ شَيْئًا فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ وَرَائِهِ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ مَا عَدَلْتَ فِي الْقِسْمَةِ رَجُلٌ أَسْوَدُ مَطْمُومُ الشَّعْرِ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَبْيَضَانِ فَغَضِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَضَبًا شَدِيدًا وَقَالَ وَاللَّهِ لَا تَجِدُونَ بَعْدِي رَجُلًا هُوَ أَعْدَلُ مِنِّي ثُمَّ قَالَ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ كَأَنَّ هَذَا مِنْهُمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ لَا يَزَالُونَ يَخْرُجُونَ حَتَّى يَخْرُجَ آخِرُهُمْ مَعَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ
قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ رَحِمَهُ اللَّهُ شَرِيكُ بْنُ شِهَابٍ لَيْسَ بِذَلِكَ الْمَشْهُورِ. (رواه السائي: ٤٠٣٤)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ma'mar Al Bashri Al Harrani, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Daud Athayalisi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Al Azraq bin Qais dari Syarik bin Syihab ia berkata; dahulu saya berharap untuk bertemu dengan seorang sahabat Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya mengenai Khawarij, lalu aku bertemu dengan Abu Barzah pada hari 'Id diantara beberapa orang dari sahabatnya, saya katakan kepadanya; apakah engkau mendengar Rasulullah ﷺ menyebutkan mengenai khowarij? Ia menjawab; ya. Saya mendengar Rasulullah ﷺ dengan dua telingaku dan melihat dengan kedua mataku, didatangkan kepada Rasulullah ﷺ suatu harta lalu beliau mulai membagi untuk orang yang berada disebelah kanan dan kiri beliau, dan beliau tidak memberi yang berada dibelakannya sedikitpun, lalu seseorang yang berada di belakang beliau berdiri dan berkata; wahai Muhammad, engkau tidak adil dalam membagi, ia adalah orang yang hitam, rambutnya dicukur, ia mengenakan dua kain putih, lalu Rasulullah ﷺ marah dan bersabda: "Demi Allah kalian tidak akan mendapati seorangpun yang lebih adil setelahku, "lalu beliau bersabda: "akan keluar pada akhir zaman, suatu kaum seakan-akan orang ini termasuk darinya, yang mereka membaca quran tidak melebihi kerongkongan mereka, mereka melesat dari Islam seperti melesatnya anak panah dari busurnya, ciri-ciri mereka adalah bercukur, mereka senantiasa keluar hingga keluar akhir dari mereka bersama Al Masih Ad Dajjal, jika kalian bertemu dengan mereka maka bunuhlah mereka, mereka adalah seburuk-buruk makhluk dan ciptaan, "Abu Abdurrahman rahimahullah berkata Syarik bin Syihab bukanlah Syarik yang terkenal itu. (HR. An Nasa'i: 4034 - dha'if [menurut al Albani] dari Nadhlah bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Barzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 64 H)
Catatan:
Seluruh periwayat dalam sanadnya maqbul, hanya saja matannya berbeda dengan yang shahih dan diriwayat orang banyak banyak. Artinyanya hadits ini syadz.
Selanjutnya, berhati-hatilah, karena banyaknya perusakan sebelum Dajjal sesungguhnya muncul baik masalah agama maupun keduniaan. Mari kita simak hadits-hadits berikut.
1. Hadits riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah - shahih
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. (رواه إبن ماجه: ٤٠٢٦)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Qudamah Al Jumahi dari Ishaq bin Abu Furat dari Al Maqburi dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara." Lalu beliau ditanya, "Apakah Ruwaibidhah itu?" beliau menjawab: "Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum." (HR. Ibnu Majah: 4026 - shahih)
2. Hadits riwayat Ahmad dari Hurairah - dha'if
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَنْبَأَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ بَكْرِ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهَا سَتَأْتِي عَلَى النَّاسِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. (رواه احمد: ٧٥٧١)
Telah menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Abdul Malik bin Qudamah berkata; telah menceritakan kepada kami Ishaq bin bakr bin Abi Al Furat dari Sa'id bin Abi Sa'id dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penipuan, di dalamnya orang yang berdusta dipercaya sedangkan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat diberi amanah sedangkan orang yang amanah dikhianati, dan di dalamnya juga terdapat Ar-Ruwaibidhah." Ditanya, "Apa itu Ar-Ruwaibidhah wahai Rasulullah?" Beliau ﷺ bersabda: "Yaitu orang bodoh yang berbicara (memberi fatwa) dalam urusan manusia." HR. Ahmad: 7571 - dha'if)
Dalam sanatnya terdapat dua orang periwayat hadits dha'if.
1. Abdur Rahman bin Shakhr, ia sahabat kuniyahnya Abu Hurairah, negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
2. Kaisan, ia tabi'in kalangan tua, kuniyahnya Abu Sa'id, negeri hidup Madinah dan wafat tahun 100 H. Penilaian ulama terhadapnya: an Nasa'i menilainya la ba'sa bihi, Ibnu Hibban mengatakan disebut dalam ats tsiqaat dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat.
3. Sa'id bin Abi Sa'id Kaisan, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'ad dan negeri hidup Madinah dan wafat tahun 123 H. Penilaian ulama: Ibnu Madini, Muhammad bin Sa'ad, Al 'Ajli, Abu Zur'ah An Nasa'i dan Ibnu Kharasy menilainya tsiqah. Sedangkan Abu Hatim ar Roziy menilainya shaduuq dan Ibnu Hajar al 'Asqalani menilainya tsiqah berubah sebelum matinya.
4. Ishaq bin Al Furat, ia adalah tabi'ut tabi'in kalangan tua, negeri hidup Madinah. Maslamah bin Qasim, Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya majhu.
5. Abdul Malik bin Qudamah bin Ibrahim, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua negeri hidup Madinah. Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya dha'if, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits, an Nasa'i menilainya laisa bi qawi, Al Bukhari berkata ketahui dan ingkari dan Yahya bin Ma'in menilainya shalih.
6. Yazid bin Harun, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa, kuniyahnya Abu Khalid, negeri hidup Hait dan wafat tahun 206 H. Yahya bin Ma'in, Ibnul Madini, Al 'Ajli, Abu Hatim, Ibnu Sa'ad dan Ya'qub bin Syaibah menilainya tsiqah. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalan ats tsiqaat, Ibnu Qani' menilainya tsiqah ma'mun, Ibnu Hajar menilainya tsiqah ahli ibadah dan adz Dzahabi menilainya seorang tokoh.
3. Hadits riwayat Ahmad dari Abu Hurairah - hasan
حَدَّثَنَا يُونُسُ وَسُرَيْجٌ قَالَا حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ السَّبَّاقِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ السَّاعَةِ سِنُونَ خَدَّاعَةٌ يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ سُرَيْجٌ وَيَنْظُرُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ. (رواه احمد: ٨١٠٥)
Telah menceritakan kepada kami Yunus dan Suraij mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Sa'id bin 'Ubaid As Sabaq dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ Bersabda: "Sebelum hari kiamat akan datang tahun-tahun yang penuh tipu muslihat, orang yang jujur didustai sedang pendusta dipercaya, orang yang amanah dikhianati sedang pengkhianat diberi amanah, dan Ruwaibidhah akan berbicara." Suraij berkata: "Pada tahun tersebut orang-orang ruwaibidhah akan melihat." (HR. Ahmad: 8105 - hasan)
4. Hadits riwayat Ahmad dari Anas bin Malik - shahih
حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِيُّ وَهُوَ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَمَامَ الدَّجَّالِ سِنِينَ خَدَّاعَةً يُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيَتَكَلَّمُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الْفُوَيْسِقُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. (رواه احمد: ١٢٨٢٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Al-Mada'ini, dia tak lain adalah Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami 'Abbad bin Al-'Awwam, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin al-Mukandir dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sebelum munculnya dajjal akan ada beberapa tahun munculnya para penipu, sehingga orang jujur didustakan sedangkan pendusta dibenarkan. Orang yang amanat dikhianati sedangkan orang yang suka berkhianat dipercaya, dan para ruwaibidhah angkat bicara", ada yang bertanya, apa itu ruwaibidhah?, Rasulullah ﷺ bersabda, "Orang fasik yang ia berbicara tentang persoalan publik". (HR. Ahmad: 12820).
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏