“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KORUPSI DAN SUAP

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Korupsi secara syari'at adalah merupakan tindakan merugikan orang lain dan diri sendiri serta menghilangkan keberkahan. Pertama, merugikan orang lain, karena menghambat dan mengurangi hak mereka. Baik dalam hukum, maupun dalam urusan pekerjaan dan perdagangan dan lain sebagainya. Kedua, merugikan diri sendiri yaitu si pelaku dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya dan manusia pada umumnya. Ketiga, Allah cabut keberkahan hidup dan harta yang mereka hasilkan dari prilaku terlaknat tersebut. 

ALLAH MELAKNAT PELAKU SUAP, imam Ibnu Majah meriwayatkan:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ خَالِهِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي. (رواه إبن ماجه: ٢٣٠٤)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi`b dari pamannya Al Harits bin 'Abdurrahman dari Abu Salamah dari Abdullah bin Amru ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah melaknat penyuap dan penerima suap." (HR. Ibnu Majah: 2304 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)

Lihat juga: Ahmad: 6489 dan 6689, Abu Daud: 3109 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru. Ahmad: 8662 - shahih dari Abu Hurairah.

Lafazh lain, Rasulullah ﷺ melaknat penyuap dan penerima suap dalam masalah hukum, sebagaimana diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ فِي الْحُكْمِ
قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَعَائِشَةَ وَابْنِ حَدِيدَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرُوِيَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا يَصِحُّ قَالَ و سَمِعْت عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ حَدِيثُ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنُ شَيْءٍ فِي هَذَا الْبَابِ وَأَصَحُّ. (رواه الترمذي: ١٢٥٦)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari ayahnya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ melaknati penyuap dan yang disuap dalam masalah hukum. Ia berkata; Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abdullah bin Umar, 'Aisyah, Ibnu Hadidah dan Ummu Salamah. Abu Isa berkata; Hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan shahih, hadits ini telah diriwayatkan dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abdullah bin Amru dari Nabi ﷺ. Dan diriwayatkan juga dari Abu Salamah dari ayahnya dari Nabi ﷺ namun tidak shahih. Ia mengatakan; Serta aku mendengar Abdullah bin Abdurrahman berkata; Hadits Abu Salamah dari Abdullah bin Amru dari Nabi ﷺ adalah hadits yang lebih hasan dan lebih shahih di dalam bab ini. (HR. At Tirmidzi: 1256 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhr, negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Lihat juga: Ahmad: 8662 dan 8670 - shahih dari Abu Hurairah.

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ خَالِهِ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ. (رواه أحمد: ٦٢٤٦)

Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dzi`b dari pamannya Al Harits bin Abdirrahman dari Abu Salamah bin Abdirrahman dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Rasulullah ﷺ melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap. (HR. Ahmad: 6246 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru)

Lihat juga: at Tirmidzi: 1257, Ahmad: 6490 dan 6536 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru.

Rasul juga melaknat brokernya, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي ابْنَ عَيَّاشٍ عَنْ لَيْثٍ عَنْ أَبِي الْخَطَّابِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ وَالرَّائِشَ يَعْنِي الَّذِي يَمْشِي بَيْنَهُمَا. (رواه أحمد: ٢١٣٦٥)

Telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin 'Amir telah bercerita kepada kami Abu Bakar bin 'Ayyasy dari Laits dari Abu Al Khaththab dari Abu Zur'ah dari Tsauban berkata; Rasulullah ﷺ melaknat orang yang menyuap, yang disuap dan perantaranya (broker, makelar)." (HR. Ahmad: 21365 - dha'if dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H)

Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama:
1. Abu Zur'ah, ia tabi'in kalangan biasa. Penilaian ulama: ia majhul.
2. Abu al Khaththab [dari Abu Zur'ah], ia tabi'in [tidak jumpa shahabat]. Penilaian ulama: Abu Zur'ah mentakan, "aku tidak mengetahuinya", Abu Hatim, adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menilainya majhul. Dan,
3. Laits bin Abi Sulaim bin Zunaim, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Bakar negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits, Abu Hatim menilainya dha'iful hadits,
Ahmad bin Hanbal menilainya mudharibul hadits dan al Bukhari menilainya shaduq yuham. Periwayat setelahnya maqbul.

Riwayat munkar tentang penyuap dan penerima suap atau sogok,

حدثنا أحمد بن سهل بن أيوب قال : نا علي بن بحر قال : نا هشام بن يوسف قال : أنا ابن جريج ، عن ابن أبي ذئب ، عن الحارث بن عبد الرحمن ، عن أبي سلمة بن عبد الرحمن ، عن عبد الله بن عمرو قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم : « الراشي والمرتشي في النار » « لم يروه من حديث ابن جريج إلا علي بن بحر ، عن هشام ». (المعجم الأوسط للطبراني/٥: ٦٠)
( منكر ) وعنه { يعني حديث عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما الذي في الصحيح } عن النبي صلى الله عليه وسلم قال الراشي والمرتشي في النار. (ضعيف الترغيب و الترهيب/٢: ٤٠).

الاسم : على بن بحر بن برى القطان ، أبو الحسن البغدادى ( فارسى الأصل )الطبقة :  ١٠ : كبارالآخذين عن تبع الأتباع الوفاة :  ٢٣٤ هـ بـ البصرة ، و قيل الأهواز روى له :  خت د ت  ( البخاري تعليقا - أبو داود - الترمذي )رتبته عند ابن حجر :  ثقة رتبته عند الذهبي :  وثقوه

Matan hadits tersebut bermakna "Pemberi suap dan penerima suap masuk neraka". Matan (teks hadits) tersebut berbeda dengan matan hadits yang sahih dan riwayat yang banyak. Disamping periwayatnya juga dha'if (dalam at Targhib wa at Tarhib, al Baghdadi) 

Keinginan mereka untuk meraih hal di atas mereka usahakan dengan berbagai cara, bahkan rela mengorbankan akidah untuk kesenangan dunia yang sedikit ini. Padahal mereka mengetahui bahwa kesenangan yang hakiki dan terbesar tersebut hanya di dapat diakhirat.

Disisi lain, pelaku, penulis, makelar/perantaranya juga dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya serta manusia pada umumnya. Semua terkait dengan perbuatan ini dicabut dan direndahkan derajatnya. 

Selanjutnya, pelaku dapat dikenakan sangsi yang berlaku di dunia dan akhirat. Di dunia berupa hujatan sebagai penjahat dan dipenjarakan. Bukan itu saja, tetapi mengembalikan harta yang ia korupsi. Di akhirat disamping dicap sebagai orang yang muflis (bangkrut) ia mesti membayar dengan amal kebaikan dan jika tidak mencukupi maka ia menanggung dosa orang yang diperlakukannya seperti yang dimaksud. Jika itu uang negara atau uang rakyat, maka ia mesti menanggung dosa rakyat. 

Begitu hinanya prilaku demikian. Oleh karena itu, pelaku dan orang terkait dengan ini pantas dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]