HIBURAN PADA ACARA WALIMAH
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Hiburan dan walimah adalah sesuatu yang dianggap sebagai bentuk rasa syukur kedua mempelai dan keluarga besar mereka. Selanjutnya, memberikan kesan kebahagiaan. Namun, hal tersebut dapat tercapai jika dilakukan dengan baik dan benar menurut syari'at serta jauh dari prilaku mubazir. Hal ini terlihat pada sejarah atau riwayat yang disampaikan oleh para ulama hadits yang bersumber dari Rasulullah ﷺ.
Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim perlu kiranya merujuk pada apa yang telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah ﷺ sebagaimana penulis paparkan berikut ini.
Imam Ibnu Majah berkata:
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَنْبَأَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ أَنْبَأَنَا الْأَجْلَحُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَنْكَحَتْ عَائِشَةُ ذَاتَ قَرَابَةٍ لَهَا مِنْ الْأَنْصَارِ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَهْدَيْتُمْ الْفَتَاةَ قَالُوا نَعَمْ قَالَ أَرْسَلْتُمْ مَعَهَا مَنْ يُغَنِّي قَالَتْ لَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْأَنْصَارَ قَوْمٌ فِيهِمْ غَزَلٌ فَلَوْ بَعَثْتُمْ مَعَهَا مَنْ يَقُولُ أَتَيْنَاكُمْ أَتَيْنَاكُمْ فَحَيَّانَا وَحَيَّاكُمْ. (رواه إبن ماجه: ١٨٩٠)
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur berkata, telah memberitakan kepada kami Ja'far bin Aun berkata, telah memberitakan kepada kami Al Ajlah dari Abu Zubair dari Ibnu Abbas ia berkata, "Aisyah menikahkan kerabat dekatnya yang berasal dari kaum Anshar, lalu Rasulullah ﷺ datang seraya bersabda, "Apakah kalian menghadiahkan seorang gadis?" Mereka menjawab, "Benar." Beliau bertanya, "Apakah kalian mengutus bersamanya orang yang bernyanyi?" 'Aisyah menjawab, "Tidak." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kaum Anshar itu kaum yang memiliki syair, kalau seandainya kalian mengutus bersamanya orang yang mendendangkan: 'Kami datang kepada kalian, kami datang kepada kalian, maka mudah-mudahan kami diberi umur panjang, dan mudah-mudahan kalian diberi umur panjang'." (HR. Ibnu Majah: 1890 - hasan dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Sya'ir-sya'ir yang dilantunkan sebagaimana dimaksud Rasulullah tersebut di atas adalah sya'ir-sya'ir yang mengingatkan kepada kebaikan dan dilakukan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya. Imam at Tirmidzi mengatakan,
حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي غَنِيَّةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ عَاصِمٍ عَنْ زِرٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حِكْمَةً.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ إِنَّمَا رَفَعَهُ أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ عَنْ ابْنِ أَبِي غَنِيَّةَ وَرَوَى غَيْرُهُ عَنْ ابْنِ أَبِي غَنِيَّةَ هَذَا الْحَدِيثَ مَوْقُوفًا وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَاب عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةَ وَبُرَيْدَةَ وَكَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ. (رواه الترمذي: ٢٧٧١)
Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al Asyaj telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abdul Malik bin Abu Ghaniyyah telah menceritakan kepada kami Ayahku dari 'Ashim dari Zirr dari Abdullah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya di antara (bait-bait) syair itu ada yang mengandung hikmah."
Abu Isa berkata; Hadits ini gharib dari jalur ini, yang memarfu'kannya (menyambungkan sampai kepada nabi) hanyalah Abu Sa'id Al Asyaj dari Ibnu Abu Ghaniyyah, sedangkan yang lainnya telah meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Abu Ghaniyyah secara Mauquf. Hadits ini diriwayatkan dari selain jalur ini dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi ﷺ. Dan dalam bab ini, ada hadits dari Ubay bin Ka'ab, Ibnu Abbas, Aisyah, Buraidah dan Katsir bin Abdullah dari Ayahnya dari kakeknya. (HR. At Tirmidzi: 2771 - hasan shahih menurut al Albani dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits ahlul Kufah)
Demikian juga diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 5679, Abu Daud: 4357 dan Ibnu Majah: 3745 - shahih dari Ubay bin Ka'ab bin Qais, ia shahabat kuniyahnya Abu al Mundzir negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H. Selanjunta hadits riwayat imam at Tirmidzi: 2772 - hasan shahih menurut al Albani dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdu al Muthalib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.
Berbeda dengan halnya hadits berikut dari segi sya'ir yang dilantunkan oleh orang Arab dusun, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud berikut:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا وَإِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حُكْمًا. (رواه أبوداود: ٤٣٥٨)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Simak dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata, "Seorang Arab dusun datang kepada Nabi ﷺ dan berkata dengan suatu perkataan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya dalam kefasihan (lafazh yang indah) itu terdapat sihir, dan dalam sihir terdapat hukum." (HR. Abu Daud: 4358 - shahih menurut al Albani dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdu al Muthalib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh imam al Bukhari: 4749 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Atau dalam lafazh lain,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَدِمَ رَجُلَانِ مِنْ الْمَشْرِقِ فَخَطَبَا فَعَجِبَ النَّاسُ لِبَيَانِهِمَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الْبَيَانِ لَسِحْرًا أَوْ إِنَّ بَعْضَ الْبَيَانِ لَسِحْرٌ. (رواه البخاري: ٥٣٢٥)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Zaid bin Aslam dari Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma bahwa dua orang dari penduduk Masyriq datang kepadanya, lalu keduanya berkhutbah hingga orang-orang heran dengan penjelasannya, lantas Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya dalam penjelasan (bayan) itu mengandung sihir, atau sesungguhnya sebagian bayan (penjelasan) itu mengandung sihir." (HR. Al Bukhari: 5325 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga hadits riwayat Abu Daud: 4354, at Tirmidzi: 1951 dan Ahmad: 4422 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
Sedangkan lafazh yang berbeda disertai penjelasan maksudnya oleh Sha'sha'ah bin Shuhan tentang hadits-hadits di atas adalah sebagai berikut:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو تُمَيْلَةَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو جَعْفَرٍ النَّحْوِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ ثَابِتٍ قَالَ حَدَّثَنِي صَخْرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا وَإِنَّ مِنْ الْعِلْمِ جَهْلًا وَإِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حُكْمًا وَإِنَّ مِنْ الْقَوْلِ عِيَالًا.
فَقَالَ صَعْصَعَةُ بْنُ صُوحَانَ صَدَقَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا قَوْلُهُ إِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا فَالرَّجُلُ يَكُونُ عَلَيْهِ الْحَقُّ وَهُوَ أَلْحَنُ بِالْحُجَجِ مِنْ صَاحِبِ الْحَقِّ فَيَسْحَرُ الْقَوْمَ بِبَيَانِهِ فَيَذْهَبُ بِالْحَقِّ وَأَمَّا قَوْلُهُ إِنَّ مِنْ الْعِلْمِ جَهْلًا فَيَتَكَلَّفُ الْعَالِمُ إِلَى عِلْمِهِ مَا لَا يَعْلَمُ فَيُجَهِّلُهُ ذَلِكَ وَأَمَّا قَوْلُهُ إِنَّ مِنْ الشِّعْرِ حُكْمًا فَهِيَ هَذِهِ الْمَوَاعِظُ وَالْأَمْثَالُ الَّتِي يَتَّعِظُ بِهَا النَّاسُ وَأَمَّا قَوْلُهُ إِنَّ مِنْ الْقَوْلِ عِيَالًا فَعَرْضُكَ كَلَامَكَ وَحَدِيثَكَ عَلَى مَنْ لَيْسَ مِنْ شَأْنِهِ وَلَا يُرِيدُهُ. (رواه أبوداود: ٤٣٥٩)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faris berkata, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Tumailah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Ja'far An Nahwi Abdullah bin Tsabit ia berkata; telah menceritakan kepadaku Shakhr bin Abdullah bin Buraidah dari Bapaknya dari Kakeknya ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya pada kefasihan itu ada sihir, pada ilmu itu ada kebodohan, pada syair itu ada hikmah dan pada perkataan ada kelemahan (kebingungan)."
Sha'sha'ah bin Shuhan berkata, "Benar apa yang dikatakan oleh Nabi ﷺ." Adapun maksud dari sabda beliau 'sesungguhnya dalam kefasihan terdapat sihir' adalah, bahwa terkadang seorang laki-laki yang salah lebih pandai dalam berargumen daripada orang yang berada di atas kebenaran, hingga penjelasannya dapat menyihir orang lain, lalu ia pun pergi dengan merampas kebenaran tersebut. Sedangkan maksud sabda beliau 'pada ilmu itu ada kebodohan' adalah, jika seorang alim memaksakan diri untuk mengetahui sesuatu yang ia tidak sanggupi, maka justru hal itu akan menjadikannya bodoh (berbicara tanpa ilmu). Adapun ucapannya 'pada syair itu ada hikmah' adalah bahwa apa yang terkandung dalam syair itu adalah nasihat-nasihat dan permisan-permisalan yang bisa menjadi nasihat bagi orang banyak. Adapun maksud dari sabda beliau; 'pada perkataan ada kelemahan (kebingungan) ' adalah jika kamu memaparkan perkataan atau cerita kepada orang yang tidak ada urusan dan tidak menginginkannya." (HR. Abu Daud: 4359 - dha'if menurut al Albani dari Buraidah bin al Hashib bin 'Abdullah bin al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 63 H)
Catatan: dalam sanad terdapat periwayat bernama 'Abdullah bin Tsabit, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan dan kuniyahnya Abu Ja'far. Penilaian ulama: Ibnu Hajar dan adz Dzahabi menilainya majhul. Selebihnya adalah periwayat maqbul (dapat diterima).
Selanjutnya, hadits-hadits terkait dengan dianjurkannya melaksanakan walimah sebagaimana sabda beliau dalam riwayat-riwayat berikut:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَدِمَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ الْمَدِينَةَ فَآخَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ الْأَنْصَارِيِّ وَكَانَ سَعْدٌ ذَا غِنًى فَقَالَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ أُقَاسِمُكَ مَالِي نِصْفَيْنِ وَأُزَوِّجُكَ قَالَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ فَمَا رَجَعَ حَتَّى اسْتَفْضَلَ أَقِطًا وَسَمْنًا فَأَتَى بِهِ أَهْلَ مَنْزِلِهِ فَمَكَثْنَا يَسِيرًا أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ فَجَاءَ وَعَلَيْهِ وَضَرٌ مِنْ صُفْرَةٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْيَمْ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ مَا سُقْتَ إِلَيْهَا قَالَ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ أَوْ وَزْنَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ. (رواه البخاري: ١٩٠٨)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas radhiallahu'anhu berkata; 'Abdurrahman bin 'Auf radhiallahu'anhu tiba di Madinah, lalu Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Saad bin Ar-Rabi' Al Anshariy. Saat itu Sa'ad adalah seorang yang kaya, lalu dia berkata, kepada 'Abdurrahman, "Aku akan membagi untukmu separuh dari hartaku dan menikahkanmu (dengan salah seorang dari istriku)". 'Abdurrahman berkata, "Semoga Allah memberkahimu dalam keluarga dan hartamu. Bagiku darimu cukup tunjukkanlah pasar kepadaku". Maka dia tidak kembali melainkan pergi ke pasar dengan membawa keju dan minyak samin lalu membawa keuntungannya untuk keluarganya lalu tinggal sejenak atau sesuai apa yang Allah kehendaki. Kemudian dia datang dengan baju yang penuh arama wewangian. Lalu Nabi ﷺ bertanya kepadanya, "Apakah engkau sudah menikah?" Dia menjawab, "Ya, aku sudah menikah dengan seorang wanita Anshar". Beliau bertanya lagi, "Dengan mahar apa engkau melakukan akad nikah?" Dia menjawab, "Dengan perhiasan sebiji emas, atau sebiji emas". Lalu Nabi ﷺ berkata, kepadanya, "Adakanlah walimah walau dengan seekor kambing". (HR. Al Bukhari: 1908 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dn wafat tahun 19 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 4758, 5618 dan 5907 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dn wafat tahun 19 H. Ketiganya hadits ahlul Bashrah. Muslim: 2556 dan 2557 [hadits ahlul Bashrah], Abu Daud: 1804 [hadits ahlul Bashrah] - shahih dari Anas bin Malik. Sementara imam al Bukhari meriwayatkan sebuah hadits ahlul Madinah yaitu melalui sanad 'Abdur Rahman bin 'Auf sebagai berikut:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنِي وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ فَقَالَ سَعْدُ بْنُ الرَّبِيعِ إِنِّي أَكْثَرُ الْأَنْصَارِ مَالًا فَأَقْسِمُ لَكَ نِصْفَ مَالِي وَانْظُرْ أَيَّ زَوْجَتَيَّ هَوِيتَ نَزَلْتُ لَكَ عَنْهَا فَإِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا قَالَ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ قَالَ سُوقُ قَيْنُقَاعٍ قَالَ فَغَدَا إِلَيْهِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَتَى بِأَقِطٍ وَسَمْنٍ قَالَ ثُمَّ تَابَعَ الْغُدُوَّ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَلَيْهِ أَثَرُ صُفْرَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَمَنْ قَالَ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ كَمْ سُقْتَ قَالَ زِنَةَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ. (رواه البخاري: ١٩٠٧)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad dari bapaknya dari kakeknya berkata; 'Abdurrahman bin 'Auf radhiallahu'anhu berkata, ketika kami sampai di Madinah; Rasulullah ﷺ mempersaudarakan antara aku dengan Sa'ad bin ar-Rabi', lalu Sa'ad bin ar-Rabi' berkata, "Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka aku beri separuh hartaku untukmu, kemudian lihatlah diantara kedua istriku siapa yang engkau suka nanti akan aku ceraikan untukmu, jika ia telah halal maka nikahilah". Perawi berkata, "Maka 'Abdurrahman berkata kepadanya, "Aku tidak membutuhkan itu. Begini saja, apakah ada pasar yang sedang berlangsung transaksi jual beli saat ini?" Sa'ad menjawab, "Pasar Qainuqa'". Perawi berkata, "Lalu Abdur Rahman pergi kesana, ia membawa keju dan minyak samin. Perawi berkata lagi, "Dia melakukan hal itu pada hari-hari berikutnya. 'Abdurrahman tetap berdagang di sana hingga akhirnya ia datang dengan mengenakan pakaian yang bagus dan penuh aroma wewangian. Maka Rasulullah ﷺ bertanya, "Apakah engkau sudah menikah?" Dia menjawab, "Ya, sudah". Lalu beliau bertanya lagi, "Dengan siapa?" Dia menjawab, "Dengan seorang wanita Anshar". Beliau bertanya lagi, "Dengan mahar apa engkau melakukan akad nikah?" Dia menjawab, "Dengan perhiasan sebiji emas, atau sebiji emas". Lalu Nabi ﷺ berkata, kepadanya, "Adakanlah walimah (resepsi) walau hanya dengan seekor kambing". (HR. Al Bukhari: 1907 - shahih dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
Memenuhi undangan pernikahan maupun silaturrahmi adalah sangat dianjurkan karena dapat mempererat tali silaturrahmi antara keluarga inti dengan masyarakat sekitar.
Riwayat dari Ibnu 'Umar, Abu Hurairah dan Jabir bin 'Abdullah dengan redaksi semakna semuanya shahih. Imam Muslim berkata,
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْوَلِيمَةِ فَلْيُجِبْ
قَالَ خَالِدٌ فَإِذَا عُبَيْدُ اللَّهِ يُنَزِّلُهُ عَلَى الْعُرْسِ. (رواه مسلم: ٢٥٧٥ - صحيح)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid bin Harits dari Ubaidillah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Jika salah seorang dari kalian diundang ke pesta pernikahan, hendaknya ia memenuhi undangan tersebut." Khalid berkata; 'Ubaidullah juga selalu memenuhi undangan pernikahan." (HR. Muslim: 2575 - shahih dari Ibnu 'Umar)
Lihat juga: Bukhari: 4775, Muslim: 2574, 2576, dan 2579, Abu Daud: 3247. Semuanya shahih dari Ibnu 'Umar.
Riwayat lain,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ وَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ
قَالَ هِشَامٌ وَالصَّلَاةُ الدُّعَاءُ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ أَيْضًا عَنْ هِشَامٍ. (رواه أبوداود: ٢١٠٤ - صحيح)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid dari Hisyam dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian diundang, hendaknya ia memenuhi undangan tersebut, apabila ia tidak berpuasa hendaknya ia makan, dan apabila ia sedang berpuasa maka hendaknya ia mendoakan!" Hisyam berkata; yang dimaksud dengan shalat adalah berdoa. Abu Daud berkata; hadits tersebut diriwayatkan oleh Hafsh bin Giyats juga dari Hisyam. (HR. Abu Daud: 2104 - shahih dari Abu Hurairah)
Lihat juga: Muslim: 2583 dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram dan 2584 dari Abu Hurairah. At Tirmidzi: 711 dari Abu Hurairah, Ibnu Majah: 1904 dari Ibnu 'Umar. Semuanya shahih.
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَسَهْلُ بْنُ بَكَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ ح و حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ الْمَعْنَى عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اسْتَعَاذَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعِيذُوهُ وَمَنْ سَأَلَكُمْ بِاللَّهِ فَأَعْطُوهُ وَقَالَ سَهْلٌ وَعُثْمَانُ وَمَنْ دَعَاكُمْ فَأَجِيبُوهُ ثُمَّ اتَّفَقُوا وَمَنْ آتَى إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ قَالَ مُسَدَّدٌ وَعُثْمَانُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَادْعُوا اللَّهَ لَهُ حَتَّى تَعْلَمُوا أَنْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ. (رواه أبوداود: ٤٤٤٥ - صحيح)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad dan Sahl bin Bakkar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Awanah. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Jarir secara makna, dari Al A'masy dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa memohon perlindungan kepada kalian dengan nama Allah maka berilah perlindungan, dan barangsiapa meminta (pemberian) kepada kalian dengan nama Allah maka berilah." - Sahal dan Utsman menyebutkan; - "Barangsiapa mengundang kalian maka penuhilah undangannya."-Lalu keduanya sepakat pada lafadz- "Barangsiapa datang kepada kalian dengan membawa kebaikan maka balaslah kebaikannya." Musaddad dan Utsman menyebutkan, "Jika kalian tidak mendapatkan sesuatu (untuk diberikan), maka berdoalah kepada Allah untuknya, hingga mereka tahu bahwa kamu telah membalas mereka." (HR. Abu Daud: 4445 - shahih dari 'Abdullah bin Umar)
Lihat juga: Abu Daud: 1424 dari Ibnu 'Umar dan 4444 dari Ibnu 'Abbas, an Nasa'i: 2520 dari Ibnu 'Umar, Ahmad: 2136 dari Ibnu 'Abbas, 5110 dari Ibnu 'Umar, Ahmad: 10526 dari Abu Hurairah. Semuanya shahih.
Sedang pada riwayat ad Darimi: 2108,
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى وَلِيمَةٍ فَلْيُجِبْ قَالَ أَبُو مُحَمَّد يَنْبَغِي أَنْ يُجِيبَ وَلَيْسَ الْأَكْلُ عَلَيْهِ بِوَاجِبٍ. (رواه الدارمي: ٢١٠٨ - صحيح)
Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami 'Uqbah bin Khalid dari 'Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian diundang ke pesta (pernikahan), hendaknya ia memenuhi undangan tersebut." Abu Muhammad berkata; "Selayaknya ia memenuhi undangan tersebut, sementara makan bukanlah sesuatu yang wajib." (HR. Ad Darimi: 2108 - shahih dari Ibnu 'Umar)
WALIMAH ISTIMEWA ISTRI RASUL
(hadits ahlul Bashrah)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ
مَا أَوْلَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ أَكْثَرَ أَوْ أَفْضَلَ مِمَّا أَوْلَمَ عَلَى زَيْنَبَ
فَقَالَ ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ فَمَا أَوْلَمَ قَالَ أَطْعَمَهُمْ خُبْزًا وَلَحْمًا حَتَّى تَرَكُوهُ. (رواه أحمد: ١٢٢٩٨)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah bercerita kepadaku Syu'bah dari Abdul 'Aziz bin Shuhaib berkata, saya telah mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ tidak mengadakan walimah atas istri-istrinya lebih banyak atau lebih istimewa dari walimahnya pada Zainab. Tsabit al-Bunani bertanya, "Bagaimana walimahnya." (Anas bin Malik) menjawab, menjamu mereka dengan roti dan daging sampai mereka pulang. (HR. Ahmad: 12298 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏