“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


NIKMAT SURGA BAGI GOLONGAN KANAN
(ashhabul yamien)
TAFSIR QS. AL WAQI'AH AYAT 34 - 37

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

وَّفُرُشٍ مَّرْفُوْعَةٍۗ. اِنَّآ اَنْشَأْنٰهُنَّ اِنْشَاۤءًۙ. فَجَعَلْنٰهُنَّ اَبْكَارًاۙ. عُرُبًا اَتْرَابًاۙ. (قرآن سورة الواقعة/٥٦: ٣٤ - ٣٧) 

"dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. "Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya." (QS.Al-Wāqi‘ah/56: 34 - 37)

Dalam ayat-ayat ini, dijelaskan lebih rinci kesenangan dan kegembiraan yang dinikmati oleh para penghuni surga tersebut, bahwa mereka akan duduk di atas kasur tebal berlapis-lapis, empuk dan halus yang isinya terbuat dari sutra, di atas ranjang kencana yang bertahtakan emas dan permata, diciptakan pasangannya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita dan suci tak pernah haid dan hamil selama-lamanya, yang selalu dalam keadaan perawan sepanjang masa; bidadari-bidadari yang cantik jelita dan lemah gemulai, berpakaian serba sutra yang halus dan sangat menarik, dengan hiasan gelang, kalung, dan anting-anting yang menambah kecantikannya yang asli, ditambah lagi dengan semerbak harum wanginya yang sangat menggiurkan. Mereka sangat penuh cinta dan sebaya umurnya yaitu 33 tahun. Mereka itu tetap muda, mata mereka indah dan laksana mutiara yang teraimpan baik (QS. Al Waaqi'ah/56: 17, 22 - 23).

Riwayat terkait dengan penafsiran ayat di atas diriwayatkan oleh imam Ahmad dan at Tirmidzi sebagai berikut:

Imam Ahmad berkata:

وَعَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ { وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ } وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ ارْتِفَاعَهَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَإِنَّ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَمَسِيرَةُ خَمْسِ مِائَةِ سَنَةٍ. (رواه أحمد: ١١٢٩٤) 

Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Abu Sa'id Dari Rasulullah ﷺ, bahwasanya beliau bersabda dalam mentafsirkan firman Allah, "Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk" (QS. Al Waqi'ah/56: 34). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh tingginya itu setinggi jarak antara langit dan bumi, sedang jarak antara langit dan bumi adalah lima ratus tahun perjalanan." (HR. Ahmad: 11294 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib bin al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74)

Sanad hadits tersebut terdapat pada hadits nomor 11292 yaitu, 

" ... حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا دَرَّاجٌ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قال ... ". (رواه أحمد: ١١٢٩٢) 

" ... Telah menceritakan kepada kami Hasan berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah berkata; telah menceritakan kepada kami Darraj dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, ...". (HR. Ahmad: 11292)

Imam at Tirmidzi menjelaskan bahwa, 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ دَرَّاجٍ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ { وَفُرُشٍ مَرْفُوعَةٍ } قَالَ ارْتِفَاعُهَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَمَسِيرَةُ مَا بَيْنَهُمَا خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ رِشْدِينَ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ وَارْتِفَاعُهَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالَ ارْتِفَاعُ الْفُرُشِ الْمَرْفُوعَةِ فِي الدَّرَجَاتِ وَالدَّرَجَاتُ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ. (رواه الترمذي: ٣٢١٦) 

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Risydin bin Sa'd dari 'Amr bin Al Harits dari Darraj dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id Al Khudri radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ mengenai firman-Nya, "Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk."(QS. Alwaqi'ah 34), Beliau berkata, "Tingginya seperti antara langit dan bumi, dan perjalanan antara keduanya selama lima ratus tahun." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Risydin. Dan sebagian ahli ilmu berkata; makna hadits ini adalah tingginya seperti jarak antara langit dan bumi. Beliau bersabda, "Tinggi kasur-kasur yang tebal dan empuk di dalam beberapa tingkat dan jarak antara setiap dua tingkat seperti antara langit dan bumi." (HR. At Tirmidzi: 3216 - dha'if menurut al Albani dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74)

Catatan: dalam sanad hadits di atas terdapat periwayat bernama:
1. Sanad hadits riwayat Ahmad terdapat periwayat bernama: 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 174 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth, Hakim menilainya dzahibul hadits, sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduq. 

2. Sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 3216 terdapat periwayat bernama: Risydin bin Sa'ad Muflih, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu al Hajjaj negeri hidup Maru 188 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, Abu Zur'ah, Abu Daud, an Nasa'i dan ad Daruquthni menilainya dha'iful hadits. Ibnu Sa'ad dan Ibnu Hajar menilainya dha'if, sementara Yahya bin Ma'in mengatakan, "haditsnya tidak ditulis". Demikian juga hadits riwayat at Tirmidzi: 2463 - dha'if menurut al Albani dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74) 

Wallaahu a'lam bish shawaab.


Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]