KETAATAN PADA ALLAH, RASUL DAN PEMIMPIN
(dibatasi oleh kemaksiatan dan ketidakadilan)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Imam al Bukhari berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ أَنَّ الْأَعْرَجَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ. (رواه البخاري: ٢٧٣٦)
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad bahwa Al A'raj bercerita kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu'anhu bahwasanya dia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Kita adalah kaum yang datang terakhir (di dunia ini) yang akan mendahului yang lain (pada hari akhir) ". (HR. Al Bukhari: 2736 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Oleh karena itu, seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mesti mena'ati apa pun yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ. (قرآن سورة النسائي/٤: ٨٠)
"Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (QS.An-Nisā'/4: 80)
Untuk membuktikan iman yang benar tersebut dibimbing oleh Allah melalui firman-Nya,
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
۞ قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة الحجورات/٤٩: ١٤)
"Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” " (QS.Al-Ḥujurāt/49: 14)
Dan,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ. (قرآن سورة الحجورات/٤٩: ١٥)
"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS.Al-Ḥujurāt/49: 15)
Selanjutnya, hal tersebut secara umum dijelaskan dengan sabda Rasulullah sebagaimana yanh diriwayatkan imam al Bukhari:
وَبِهَذَا الْإِسْنَادِ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ يُطِعْ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَإِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ قَالَ بِغَيْرِهِ فَإِنَّ عَلَيْهِ مِنْهُ. (رواه البخاري: ٢٧٣٧)
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya, dari Abu Hurairah; Dan dengan sanad di atas, beliau ﷺ juga bersabda, "Barangsiapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Dan barangsiapa yang taat kepada pemimpin berarti dia telah taat kepadaku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpin berarti dia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya imam (pemimpin) adalah laksana benteng, dimana orang-orang akan berperang mengikutinya dan berlindung dengannya. Maka jika dia memerintah dengan berlandaskan taqwa kepada Allah dan keadilan, maka dia akan mendapatkan pahala. Namun jika dia berkata sebaliknya maka dia akan menanggung dosa". (HR. Al Bukhari: 2737 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat al Bukhari: 6604, Muslim: 3417 dan 3418, an Nasa'i: 4122, Ahmad: 7786, 9655 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Imam Ahmad meriwayatkan, bahwa Waki' berkata "aamir" adalah "imam".
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ وَقَالَ وَكِيعٌ الْإِمَامَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي وَقَالَ وَكِيعٌ الْإِمَامَ فَقَدْ عَصَانِي. (رواه أحمد: ٧١٢٥)
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mentaatiku sungguh ia telah menaati Allah, dan barangsiapa bermaksiat kepadaku sungguh ia telah bermaksiat kepada Allah, dan barangsiapa menaati pemimpinku, " -waki` berkata, yaitu Imam, - "Maka ia telah menaati aku, dan barangsiapa bermaksiat kepada pemimpinku, sungguh ia telah bermaksiat kepadaku." -Waki' berkata, yaitu Imam, - "Berarti Ia telah bermaksiat kepadaku." (HR. Ahmad: 7125 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: semuanya hadits pendukung di atas tanpa lafazh, "seorang imam adalah perisai.... ". Sementara lafazh tersebut berada pada hadits riwayat berikut:
Imam Muslim berkata,
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ عَنْ مُسْلِمٍ حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنِي وَرْقَاءُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ. (رواه مسلم: ٣٤٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dari Muslim telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Syababah telah menceritakan kepadaku Warqa` dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Seorang imam itu ibarat perisai, seseorang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. Jika seorang imam (pemimpin) memerintahkan supaya takwa kepada Allah 'Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (imam) akan mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia (imam) memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa." (HR. Muslim: 3428 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat an Nasa'i: 4125 dan 10359 [shahih dan isnadnya qawi menurut Syu'aib bin al Arna'uth] keduanya shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Sedang imam Abu Daud meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّازُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ بِهِ. (رواه أبوداود: ٢٣٧٦)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah Al Bazzaz, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abu Az Zinad, dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang imam adalah tameng yang digunakan untuk berperang." (HR. Abu Daud: 2376 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat Muslim: 3428 - dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Selanjutnya pada lafazh lain lagi imam Ahmad berkata,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ فَإِنْ صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَإِذَا وَافَقَ قَوْلُ أَهْلِ الْأَرْضِ قَوْلَ أَهْلِ السَّمَاءِ غُفِرَ لَهُ مَا مَضَى مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه أحمد: ٩٦٥٦)
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadits sebelumnya dari Abu Hurairah, "Sesungguhnya seorang imam itu adalah perisai, jika ia shalat dengan duduk maka shalatlah kalian dengan duduk, jika ia mengucapkan; SAMI'A ALLAHU LIMAN HAMIDAH (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya) maka katakanlah; ALLAHUMMA RABBANA WALAKAL HAMDU (Ya Allah Rabb kami, bagi-Mu segala pujian), jika ucapan penghuni bumi sama dengan ucapan penghuni langit maka akan dihapus dosanya yang telah berlalu." (HR. Ahmad: 9656 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Sanad dimaksud adalah hadits riwayat Ahmad: 9655,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَلْقَمَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى الْأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي. (رواه أحمد: ٩٦٥٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ya'la bin 'Atho` berkata; aku mendengar Abu Alqamah berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mentaatiku maka ia telah menaati Allah, dan barangsiapa mendurhakai aku maka ia telah mendurhakai Allah. Dan barangsiapa menaati pemimpinku maka ia telah mentaatiku, dan barangsiapa mendurhakai pemimpinku maka ia telah mendurhakaiku." (HR. Ahmad: 9655 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa ketaatan kepada Rasul disamakan dengan taat kepada Allah, sedangkan ketaatan kepada pemimpin dengan syarat ia pun taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian, ketaatan kepada pemimpin adalah ketika ia senantiasa berlaku adil dan mengajak kepada ketakwaan, jika ia berlaku maksiat maka hal tersebut menjadi dosa dan siksa baginya. Pemimpin "aamir" dimaksud adalah "imam", artinya ia wajib diikuti baik dalam peperangan, pemerintahan maupun dalam shalat. Hadits-hadits di atas, semunya diriwayatkan dari Abu Hurairah dan diriwayat oleh imam al Bukhari, Muslim, an Nasa'i, Abu Daud dan Ahmad. Oleh karena itu, hadits tersebut saling melengkapi karena diriwayat secara makna. Kualitas hadits dimaksud semuanya adalah shahih. Demikianlah yang dapat penulis paparkan, semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏