BERTEMAN DENGAN ORANG SHALIH DAN MENSYUKURI NIKMAT ALLAH
" ... فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ."
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Orang-orang shalih memiliki keutamaan dan nilai kezuhudan yang murni. Mereka tidak memilih teman dan status sosial yang melekat padanya. Sehingga keshalihan ijtima'iyah terbangun dengan baik. Oleh sebab itu keshalihannya bukan keshalihan diri sendiri tetapi dapat menularkan kepada orang lain bahkan dunia. Sungguh bersahabat dengan orang-orang yang shalih adalah nikmat yang sangat besar.
Umar bin Khaththab berkata,
ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به.
“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang shalih. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang shalih maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]
Ingatlah firman Allah terhadap orang-orang Yahudi berikut:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَقَطَّعْنٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اُمَمًاۚ مِنْهُمُ الصّٰلِحُوْنَ وَمِنْهُمْ دُوْنَ ذٰلِكَ ۖوَبَلَوْنٰهُمْ بِالْحَسَنٰتِ وَالسَّيِّاٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٦٨)
"Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)." (QS.Al-A‘rāf/7: 168)
فَخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَّرِثُوا الْكِتٰبَ يَأْخُذُوْنَ عَرَضَ هٰذَا الْاَدْنٰى وَيَقُوْلُوْنَ سَيُغْفَرُ لَنَاۚ وَاِنْ يَّأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهٗ يَأْخُذُوْهُۗ اَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِّيْثَاقُ الْكِتٰبِ اَنْ لَّا يَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوْا مَا فِيْهِۗ وَالدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٦٩)
"Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini. Lalu mereka berkata, “Kami akan diberi ampun.” Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam Kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Negeri akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?" (QS.Al-A‘rāf/7: 169)
Amalkanlah doa yang dimohonkan kepada oleh Nabi Yusuf berikut:
رَبِّ قَدْ اٰتَيْتَنِيْ مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِيْ مِنْ تَأْوِيْلِ الْاَحَادِيْثِۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ اَنْتَ وَلِيّٖ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ تَوَفَّنِيْ مُسْلِمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ١٠١)
"Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takwil mimpi. (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (QS.Yūsuf/12: 101)
Hal tersebut juga diperkuat dengan sabda-sabda Rasulullah ﷺ berikut:
Imam at Tirmidzi meriwayatkan,
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيهِ فَإِنْ رَأَى بِهِ أَذًى فَلْيُمِطْهُ عَنْهُ.
قَالَ أَبُو عِيسَى وَيَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ ضَعَّفَهُ شُعْبَةُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسٍ. (رواه الترمذي: ١٨٥٢)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ubaidullah dari bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang dari kalian cermin bagi saudaranya, jika dia melihat ada aib padanya maka hendaknya dia menghilangkannya darinya."
Berkata Abu Isa: Yahya bin Ubaidillah didha'ifkan oleh Syu'bah. Hadits semakna diriwayatkan dari Anas. (HR. At Tirmidzi: 1852 - dha'if jiddan menurut al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: dalam sanad hadits riwayat at Tirmidzi: 1852 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits yaitu periwayat bernama:
1. 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin Mauhab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Yahya dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ibnul al Qaththan menilainya majhulul hal, Ahamad bin Hanbal mengatakan, "hadits-haditsnya mungkar". Sementara Ibnu Hajar menilainya maqbul. Sedangkan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
2. Yahya bin 'Ubaidillah bin 'Abdullah, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Madinah. Penilaian ulama: Ibnu Uyainah, an Nasa'i dan ad Daruquthni menilainya dha'if. Ahmad bin Hanbal menilainya mungkarul hadits. Yahya bin Ma'in menilainya laisa bi syai'. Sementara Ibnu Hajar menilainya matruk. Sedangkan adz Dzahabi mengatakan, "mereka mendha'ifkannya".
Selebihnya adalah periwayat maqbul.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ وَأَبُو يَحْيَى الْحِمَّانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَدْتِ اللُّحُوقَ بِي فَلْيَكْفِكِ مِنْ الدُّنْيَا كَزَادِ الرَّاكِبِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ وَلَا تَسْتَخْلِقِي ثَوْبًا حَتَّى تُرَقِّعِيهِ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ صَالِحِ بْنِ حَسَّانَ قَالَ و سَمِعْت مُحَمَّدًا يَقُولُ صَالِحُ بْنُ حَسَّانَ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ وَصَالِحُ بْنُ أَبِي حَسَّانَ الَّذِي رَوَى عَنْهُ ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ ثِقَةٌ.
قَالَ أَبُو عِيسَى وَمَعْنَى قَوْلِهِ وَإِيَّاكِ وَمُجَالَسَةَ الْأَغْنِيَاءِ عَلَى نَحْوِ مَا رُوِيَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قالَ مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ.
وَيُرْوَى عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ قَالَ صَحِبْتُ الْأَغْنِيَاءَ فَلَمْ أَرَ أَحَدًا أَكْبَرَ هَمًّا مِنِّي أَرَى دَابَّةً خَيْرًا مِنْ دَابَّتِي وَثَوْبًا خَيْرًا مِنْ ثَوْبِي وَصَحِبْتُ الْفُقَرَاءَ فَاسْتَرَحْتُ. (رواه تلترمذي: ١٨٠٢)
Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Musa, telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Muhammad Al Warraq dan Abu Yahya Al Himmani keduanya berkata, Telah menceritakan kepadaku Shalih bin Hassan dari Urwah dari 'Aisyah radhiallahu'anha berkata; Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadaku, "Jika engkau ingin bersamaku (atau sederajat denganku) di surga, maka ambillah bekal dari dunia seperti bekalnya seorang musafir dan janganlah engkau bergaul dengan orang-orang kaya serta janganlah menganggap bajumu sudah lusuh (robek yaitu tidak layak pakai) sebelum engkau menambalnya."
Abu Isa berkata; Ini merupakan hadits Gharib yang tidak kami ketahui kecuali dari haditnya Shalih bin Hassan. Dan aku mendengar Muhammad berkata, "Shalih bin Hassan seorang munkarul hadits adapun Shalih bin Abi Hassan yang mana Ibnu Abi Dzuaib meriwayatkan darinya ialah seorang yang tsiqqah."
Abu Isa berkata; Dan arti dari sabda Nabi ﷺ "Dan janganlah kamu bergaul dengan orang-orang kaya". Ialah sebagaimana dalam riwayatnya Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa yang melihat orang yang dilebihkan darinya dari segi rupa dan rezeki, maka hendaknya dia melihat orang yang lebih kurang darinya atas nikmat yang dilebihkan atasnya (baik dari segi rupa atau rezeki), karena hal itu akan mendorongnya untuk selalu mensyukuri nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya."
Diriwayatkan dari 'Aun bin Abdullah berkata, "Aku telah bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku tidak melihat ada orang yang lebih memiliki kemauan daripada aku, bersama mereka aku melihat ada unta yang lebih bagus dari ontaku dan aku melihat baju yang lebih bagus dari bajuku. Lantas aku bergaul dengan para faqir dan hatiku menjadi tenang." (HR. At Tirmidzi: 1702 - dha'if dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Sebagaimana dijelaskan oleh imam at Tirmidzi dalam riwayatnya (1702), bahwa terdapat dua orang periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits dalam riwayat tersebut, yaitu:
1. Shalih bin Hassan, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Abu Hatim dan Abu Daud menilainya dha'iful hadits. Sedangkan al Bukhari menilainya munkarul hadits, an Nasa'i menilainya matrukul hadits. Abu Nu'aim dan Ibnu Hajar menilainya matruk. Sementara ad Daruquthni menilainya dha'if dan Ahmad menilainya laisa bi syai'.
2. Sa'id bin Muhammad, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu al Hasan dan negeri hidup Baghdad. Penilaian ulama: Yahya bin Ma'in, Muhammad bin Sa'ad, Abu Daud dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Abu Hatim menilainya laisa bi qawi, an Nasa'in menilainya laisa bi tsiqah. Sedangkan ad Daruqutni menilainya matruk. Sementara Hakim menilainya tsiqah dan Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam ats tsiqat".
Selebihnya adalah periwayat maqbul (dapat diterima riwayatnya).
" .... مَنْ رَأَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْخَلْقِ وَالرِّزْقِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ مِمَّنْ فُضِّلَ هُوَ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا يَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْهِ ..."
Matan ini diriwayat oleh imam Ahmad sebagai berikut:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنِي الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ. (رواه أحمد: ٩٨٥٦)
Telah menceritakan kepada kami Waki', dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Lihatlah kepada orang-orang yang ada di bawah kalian dan jangan melihat kepada yang di atas kalian karena hal itu lebih membantu agar tidak meremehkan nikmat Allah." (HR. Ahmad: 9856 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Begitu juga hadits riwayat Ahmad: 7137 dan at Tirmidzi: 2437, Ibnu Majah: 4132 - shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja lafazhnya terdapat tambahan dhamir "huwa" pada kalimat " ... unzuruu ilaa man huwa asfal minkum... ". Lihat juga HR. Muslim berikut:
و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ عَلَيْكُمْ. (رواه مسلم: ٥٢٦٤)
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir. Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah. Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah teks miliknya, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih laik membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah." (HR. Muslim: 5264 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Hadits riwayat Muslim: 5264 tersebut di atas adalah hadits masyhur, yaitu hadits yang diriwayatkan lebih dari dua jalur periwayat pada tiap tabaqat atau salah satu tabaqat, tetapi tidak sampai kepada tingkat mutawatir.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏