“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


RAMBUT NABI MUHAMMAD SAW DAN PERHATIAN PADA PENAMPILAN RAPI DAN BERSAHAJA

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ. (قرآن سورة الذكريات/٥١: ٢١)

(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan (QS. Aż-Żāriyāt/51: 21)

Dan firman Allah,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ. (قرآن سورة التنين/٩٥: ٤)

sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. At-Tīn/95: 4)

Menghargai dan melihat keelokkan diri adalah suatu yang mesti diperhatikan. Sehingga kepatutan dan keserasian ciptaan Allah tetap menjadi yang terindah dan memancarkan kesenangan memandang dan menjalaninya. Begitu juga halnya memperhatikan kebutuhan diri dan kebaikan untuk diri sendiri sebagai makhluk Allah yang terakhir diciptakan dengan kemuliaan dan potensi yang pantas menerima segala sesuatu yang telah dipersiapkan-Nya untuk membangun fitrah yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Menjaga hal tersebut melahirkan rasa syukur dan tawadhuk.

Kemudian Rasulullah sebagai contoh tauladan bagi umat manusia pada umumnya dan muslim khususnya. Menjadikan hal dimaksud untuk menghargai diri dan orang lain agar lebih baik.

Berikut beberapa informasi yang didapat dari riwayat hadits yang penulis temukan dalam kitab hadits imam Al Bukhari, Muslim, an Nasa'i, Ibnu Majah dan Ahmad.

IMAM Al Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ
كَانَ يَضْرِبُ شَعَرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْكِبَيْهِ. (رواه البخاري: ٥٤٥٣)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas bahwa rambut Nabi ﷺ menjuntai hingga kebahu beliau." (HR. Al Bukhari: 5453 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 4312, an Nasa'i: 5140 (hadits ahlul Bashrah), Ahmad: 11675 (hadits ahlul Bashrah), 11730, 11817 (hadits ahlul Bashrah), 13075 dan 13338 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Sementara itu imam an Nasa'i menambahkan informasi, sebagaimana hadits yang beliau riwayatkan:

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
كَانَ شَعْرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَعْرًا رَجْلًا لَيْسَ بِالْجَعْدِ وَلَا بِالسَّبْطِ بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ. (رواه النسائي: ٤٩٦٧)

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir, dia berkata; telah menceritakan kepada kami ayahku, dia berkata, "Saya mendengar Qatadah bercerita dari Anas, dia berkata, "Rambut Nabi ﷺ adalah rambut yang tidak keriting dan tidak pula lurus, (terurai) di antara kedua telinga dan pundak beliau." (HR. An Nasa'i: 4967 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Al Bukhari: 5454 (Hadits ahlul Bashrah), Muslim: 4311, Ibnu Majah: 3624, Ahmad: 11934 dan 12633 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Demikian penjelasan tentang rambut Nabi Muhammad ﷺ, yaitu ikal bergelombang terurai sampai ke bahu/pundaknya. Sehingga menampakkan kewibawaan dan keramahannya. Hal ini terlihat rapi apabila memakai sorban dan gamis. Dibandingkan dengan orang berambut pendek yang memakai sorban, dengan rambut seperti rambut beliau maka akan terlihat lebih gagah dan berkesan. Semua informasi di atas diriwayatkan melalui jalur Anas bin Malik.

Sedangkan dari jalur Al Barra', imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ
مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ أَحْسَنَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهُ شَعَرٌ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ بَعِيدُ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ لَيْسَ بِالْقَصِيرِ وَلَا بِالطَّوِيلِ. (رواه أحمد: ١٧٨٢٣)

Telah menceritakan kepada kami Waki' Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ishaq dari Baraa` bin Azib ia berkata; Saya belum pernah melihat seorang pun yang memiliki rambut panjang yang lebih indah dengan mengenakan pakaian berwarna merah melebihi Rasulullah ﷺ. Beliau memiliki rambut yang menyentuh kedua pundaknya. Jarak antara kedua pundaknya cukup lebar, dan rambutnya tidak terlalu pendek, tidak juga terlalu panjang. (HR. Ahmad: 17823 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Al Barra' bin 'Azib bin Al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H. Hadits ahlul Kufah)

Memahami informasi hadits yang ditemukan, maka dapat disimpulkan bahwa rambut Nabi Muhammad ﷺ serasi dengan postur tubuh beliau sehingga menyenangkan orang yang melihat beliau. Karena dengan postur seperti yang digambarkan dalam hadits di atas menjadikan perawakan yang senantiasa bersahaja dan berkarisma.

Sekian banyak hadits menjelaskan tentang bagaimana rambutnya Rasulullah ﷺ, namun dipihak lain beliau justru memuji jika Samurah bin Fatik memotong rambutnya ketika sudah menyentuh daun telinganya. Hal ini diinformasikan dalam riwayat imam Ahmad, bahwa beliau berkata:

حَدَّثَنَا يَعْمَرُ بْنُ بِشْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمُ بْنُ بَشِيْرٍ عَنْ دَاوُدَ بْنِ عَمْرٍو عَنْ بُسْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ فَاتِكٍ الْأَسَدِيِّ فَذَكَرَ حَدِيثًا قَالَ حَدَّثَنَا يَعْمَرُ بْنُ بِشْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ دَاوُدَ بْنِ عَمْرٍو عَنْ بُسْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ فَاتِكٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نِعْمَ الْفَتَى سَمُرَةُ لَوْ أَخَذَ مِنْ لِمَّتِهِ وَشَمَّرَ مِنْ مِئْزَرِهِ
فَفَعَلَ ذَلِكَ سَمُرَةُ أَخَذَ مِنْ لِمَّتِهِ وَشَمَّرَ مِنْ مِئْزَرِهِ. (رواه أحمد: ١٧١٢٠)

Telah menceritakan kepada kami Ya'mar bin Bisyr ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Husyaim bin Basyir dari Daud bin Amru dari Busr bin Ubaidullah dari Samurah bin Fatik Al Asadi -lalu ia menyebutkan hadits tersebut, ia berkata- Telah menceritakan kepada kami Ya'mar bin Bisyr ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Daud bin Amru dari Busr bin Ubaidullah dari Samurah bin Fatik, bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Sebaik-baik pemuda adalah Samurah, sekiranya ia memangkas rambutnya yang sudah menyentuh cuping telinga, dan mau menyingsing ikatan kainnya." Maka Samurah pun melakukan hal itu, ia memotong rambutnya yang sudah menyentuh cuping telinga dan menyingsingkan lipatan kainnya." (HR. Ahmad: 17120 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Samurah bin Fatik, disebutkan juga Sabrah, ia shahabat. Imam Ahmad meriwayatkan satu hadits dari jalur periwayatannya)

Pesan yang dipahami dari hadits riwayat imam Ahmad: 17120 tersebut adalah kerapian dan kebersihan rambut dan pakaian agar tidak terlihat gembel dan kumuh.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]