TIDAK DIBOLEHKAN BAGI MAKMUM MENJAHARKAN BACAAN DALAM SHALAT
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wbarakaatuh.
Imam Ahmad meriwayatkan, terkait dengan larangan bagi makmum menjaharkan bacaan dalam shalat jahar. Yaitu shalat yang mana imam mengeraskan bacaan Al fatiha dan ayat-ayat Al Qur'an. Beliau berkata,
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الزُّهْرِيِّ سَمِعَ ابْنَ أُكَيْمَةَ يُحَدِّثُ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً يَظُنُّ أَنَّهَا الصُّبْحُ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ قَالَ هَلْ قَرَأَ مِنْكُمْ أَحَدٌ قَالَ رَجُلٌ أَنَا قَالَ أَقُولُ مَا لِي أُنَازَعُ الْقُرْآنَ
قَالَ مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ فَانْتَهَى النَّاسُ عَنْ الْقِرَاءَةِ فِيمَا يَجْهَرُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُفْيَانُ خَفِيَتْ عَلَيَّ هَذِهِ الْكَلِمَةُ. (رواه أحمد: ٦٩٧٢)
Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri ia mendengar Ibnu Ukaimah menceritakan (kepada) Sa'id bin Al Musayyab, dia berkata; Aku mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah ﷺ shalat bersama kami -ia mengira bahwa shalat itu adalah shalat Subuh-. Kemudian ketika beliau telah selesai melaksanakannya, beliau berkata, "Siapakah di antara kalian yang membaca (bacaan dengan keras)?" Seorang lelaki menjawab, "Aku." Beliau berkata, "Aku tidak ingin ada yang menyelisihi aku dalam membaca Al-Qur'an." Ma'mar berkata; dari Az Zuhri; sejak saat itu orang-orang tidak lagi membaca (bacaan) di saat Rasulullah ﷺ mengeraskan suara (bacaannya). Sufyan berkata, aku tidak mengetahui ungkapan ini. (HR. Ahmad: 6972 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 7499, 9927, an Nasa'i: 910, Ibnu Majah: 839 dan Abu Daud: 703 (hadits masyhur diakhir sanad) - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Hal tersebut di atas juga telah ditegaskan oleh Allah dalam Al Qur'an. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ٢٠٤)
Jika dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah (dengan saksama) dan diamlah agar kamu dirahmati. (QS. Al-A‘rāf/7: 204)
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ٢٠٥)
Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut pada waktu pagi dan petang, dengan tidak mengeraskan suara, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. (QS. Al-A‘rāf/7: 205)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِهٖ وَيُسَبِّحُوْنَهٗ وَلَهٗ يَسْجُدُوْنَ.۩ (قرآن سورة الأعراف/٧: ٢٠٦)
Sesungguhnya malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidak menyombongkan diri dari ibadah kepada-Nya dan mereka menyucikan-Nya. Hanya kepada-Nya mereka bersujud.*). (QS. Al-A‘rāf [7]:206)
*) Ini adalah ayat sajadah yang disunnahkan bagi kita untuk bersujud setelah membaca atau mendengarnya, baik di dalam salat maupun di luar salat. Sujud ini dinamakan sujud tilawah.
Berdasarkan Nash di atas memberikan pemahaman bahwa jika dalam shalat berjamaah, makmun tidak boleh mengeraskan bacaan Al Fatiha dan ayat-ayat Al Qur'an. Cukup mendengarkan dan menghayati apa yang dibaca oleh imam. Apabila ingin membaca bacaan salat pada waktu rukuk, sujud, atau tahyat cukup membaca sekedar terdengar bagi dia saja. Sehingga tidak mengganggu bacaan atau konsentrasi makmum lain atau bahkan imam. Kemudian terkait dengan membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat 15 tempat dalam Al Qur'an, maka disukai untuk melakukan sujud sajadah/tilawah.
Bacaan Sujud Tilawah
سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ تَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ.
"Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa shawwarahu, wa syaqqa sam'ahu, wa basharahu bi haulihi wa kuwwatihi tabaarakallaahu ahsanul khaaliqiin."
Artinya: "Wajahku bersujud kepada Dzat yang menciptakannya, yang membentuknya, dan yang memberi pendengaran dan penglihatan, Maha berkah Allah sebaik-baiknya pencipta." (HR. Ahmad, Abu Dawud, Hakim, Tirmidzi, dan an Nasa'i)
Demikianlah paparan pendek ini penulis sampaikan semoga bermanfaat dan berkah. Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wbarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏