ALLAH MASIH MEMBERI REZKI KEPADA ORANG YANG MEMERSEKUTUKANNYA
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Ingatlah selalu firman Allah berikut:
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَاَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوٰى ۗ كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ ۗ وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٥٧)
Kami menaungi kamu dengan awan dan Kami menurunkan kepadamu manna dan salwa.*) Makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu. Mereka tidak menzalimi Kami, tetapi justru merekalah yang menzalimi diri sendiri.
(QS. Al-Baqarah/2: 57)
*) Manna ialah sejenis madu, sedangkan Salwa ialah sejenis burung puyuh.
Kemudian,
۞ وَلَوْ يُعَجِّلُ اللّٰهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ اِلَيْهِمْ اَجَلُهُمْۗ فَنَذَرُ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ. (قرآن سورة يونس/١٠: ١١)
Jikalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia sebagaimana permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti ajal mereka diakhiri. Akan tetapi, Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (QS. Yūnus/10: 11)
Imam Muslim berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ إِلَّا قَوْلَهُ وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ. (رواه مسلم: ٥٠١٦)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Abu Usamah dari Al A'masy dari Sa'id bin Jubair dari Abu Abdurrahman bin As Sulami dari Abu Musa berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada siapa pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah 'Azza wa Jalla, ia disekutukan dan dianggap punya anak kemudian Ia memaafkan dan memberi mereka rezeki." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair dan Abu Sa'id Al Asyaj keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Jubair dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Abu Musa dari Nabi ﷺ sepertinya tapi ia tidak menyebut: Dianggap punya anak. (HR. Muslim: 5016 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H. Hadits ahlul Kufah)
Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 5634, Muslim: 5017, Ahmad: 18767 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H. Sementara itu pada riwayat imam Al Bukhari: 6830,
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَحَدٌ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللَّهِ يَدَّعُونَ لَهُ الْوَلَدَ ثُمَّ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ. (رواه البخاري: ٦٨٣٠)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdan dari Abu Hamzah dari Al A'masy dari Sa'id bin Jubair dari Abu 'Abdurrahman assulami dari Abu Musa Al asy'ari berkata, "Nabi ﷺ ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar atas gangguan yang didengarnya daripada Allah, ada manusia mengaku Allah mempunyai anak (yaitu orang Nasrani), namun Allah masih juga memberi mereka kesehatan dan rejeki." (HR. Al Bukhari: 6830 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)
Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan makna yang sama, yaitu:
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ. (رواه أحمد: ١٨٧٠٦)
Telah menceritakan kepada kami Waki' Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Jubair dari Abu Abdurrahman dari Abu Musa ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada yang lebih sabar terhadap suatu hinaan yang dia dengar daripada Allah 'Azza wa Jalla. Yaitu saat Dia disekutukan dengan sesuatu, sementara Dialah yang memberi rezeki pada mereka." (HR. Ahmad: 18706 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H. Hadits ahlul Kufah)
Selanjutnya lafazh lain dengan tambahan,
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَن سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَن أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَن أَبِي مُوسَى قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ وَيُجْعَلُ لَهُ وَلَدٌ وَهُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَدْفَعُ عَنْهُمْ وَيَرْزُقُهُمْ. (رواه أحمد: ١٨٨٠٧)
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah Telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Sa'id bin Jubair dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Abu Musa ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada yang lebih sabar atas suatu hinaan daripada Allah 'Azza wa Jalla. Dia dipersekutukan dan dituduh mempunyai anak, namun dengan kesemuanya Dia yang memberi kecukupan, menolak bala` dari mereka dan memberi rezeki pada mereka." (HR. Ahmad: 18706 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H. Hadits ahlul Kufah)
Demikianlah gambaran bahwa Allah tetap memaafkan, memberi kecukupan, menolak keburukan/bala, dan memberi rezki pada manusia. Walaupun mereka memersekutukan dan menganggap Allah punya anak. Begitu juga Allah tetap mengasihi mereka. Oleh karena itu hikmah dari semua ini adalah bahwa Allah tetap menjaga dan memberi kesempatan pada manusia untuk berbuat baik atas semua yang telah dianugerahkan kepada manusia. Hal ini patut disyukuri, sebagai orang yang beriman agar mengambil pelajaran dan hikmah dalam hidup ini dengan tetap istiqamah dengan imannya.
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏