“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


MANUSIA DAN REALITAS

OLEH: SAMSURIZAL, MA
Pertemuan kesebelas: Minggu, tanggal 28 November 2021

PENDAHULUAN

Tulisan ini didasari dari Kuliah Filsafat pada Sekolah Filsafat Musa Asy`arie. Materi kuliah pertemuan kesebelas oleh DR. Fahruddin Faiz berjudul “Manusia dan Realitas”. Manusia dengan segala keistimewaannya sebagai makhluk yang mulia, mukallaf, mukhayyar (kebebasan memilih), dan mujzi (menerima balasan) akan tampak pada pembahasan berikut secara jelas dan rasional. Pada akhirnya tujuan akhir penciptaan makhluk adalah manusia, dan sekaligus tujuan akhir hidup manusia adalah untuk kembali lagi kepada Allah sang Mahapencipta dan Mahamenerima segala kondisi manusia sekarang maupun kelak di akhirat.

PEMBAHASAN

Keistimewaan Manusia dalam Filsafat Islam

A. Tujuan akhir penciptaan

Kesadaran keistimewaan Manusia
Arogansi, Rasa tinggi dan kuasa atas yang lain.

B. Mikrokosmos

1. Kesadaran bagian dari kosmos, harmoni, rasionalitas. 

2. Pasif, kekurangan inisiatif dan tanggung jawab pengembangan.

C. Cermin Tuhan

1. Kesadaran spritual, hakikat hidup sebagai hamba.
2. Menyisihkan diri manusiawi terhadap wujud hakiki, yaitu Tuhan.

D. Perkembangan Manusia

1. Perspektif fatalistik
2. Perspektif humanistik
3. Perspektif dualistik
4. Perspektif behavioristik

Mengapa Harus Rasional

Rasional adalah pendayagunaan akal budi. Prinsip-prinsip rasional itu adalah hidup yang tertib, tertata dan sesuai aturan. Hidup secara benar, sesuai dengan akal budi. 

1. Eksistensial

Manusia itu butuh eksis sebagai dirinya, karena manusia itu hewan yang berpikir yang hidup dalam kelompok sosial tertentu dan makhluk Tuhan yang sempurna. Jika ingin eksis sebagai manusia harus berpikir. Keberadaan manusia di muka bumi adalah binatang yang berpikir. 

2. Fitrah 

Dorongan yang (fitri) hakiki dari Allah, setiap orang pasti ingin hidup secara benar dan tidak mau hidup secara salah atau keliru.

3. Alasan pragmatis

Kita hidup ada target-target, hal ini dapat kita capai jika memerdayakan akal budi, kalau kita berpikir secara rasional. Bahkan orang anti akal pun keputusan untuk itu dari akalnya.

4. Kebutuhan untuk adabtasi 

Hidup manusia itu dinamis tidak seperti matematika satu tambah satu dua, berubah terus-menerus. Kalau kapasitas berpikir akal/rasio kita tidak beradabtasi maka akan terus gelisah, jika tidak bisa beradabtasi dengan akal budi merespon perubahan-perubahan hidup.

5. Kebutuhan untuk kreatif

Kebutuhan kreatifitas adalah penting agar tetap bergerak. Karena manusia itu adalah makhluk yang berpikir. Ia butuh gerak dan ruang yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. 

6. Kebutuhan refleksi dan pengembangan diri

Manusia ingin hidup untuk lebih baik dengan menggunakan akal budi dengan memikirkan hidup mana yang cocok dan mana yang terbaik.

Rasional Characters

Seorang yang belajar filsafat mesti memiliki lima kapasitas berikut:

1. Logis, masuk akal. Jangan mudah tertipu dengan hal-hal yang tidak masuk akal. 

2. Obyektif, berpikir berbasis objek. Bukan keinginan pribadi, orientasi kelompok. Kalau benar disampaikan benar dan kalau salah disampaikan salah.

3. Independen, tidak ada keterikatan-keterikatan yang menghalangi pemikiran jernih. Keputusan bukam karena kepentingan-kepentingan kelompok atau karena segan dan lain sebagainya.

4. Komprehensif, menyeluruh. Tidak dipilih sesuai dengan keinginan sendiri, kelompok atau pun kesenangan sendiri. Dengan melihat semua aspek, tidak ada satu pun yang tertinggal atau tidak menggeneralisasi.

5. Argumentatif, ada data. Menyimpulkan sesuatu ada argumen dan dasarnya.

Hal tersebut di atas adalah nyawanya berpikir secara filsafat. Sekaligus sebagai ciri seorang filosof. 

Rationality Functions

Apa gunanya rasioanalitas itu?

Menyeriusi hidup, artinya hidup secara serius. Karena akal yang akan memilih dan mencari dan mendasari hidup kita. Kata Socrates, “Hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak berharga” yaitu diuji dengan rasionalitasnya sendiri.

Memahami hidup, jangan mengalir saja. Dalam konteks filsafat dengan rasionalitasnya harus berpikir. Aliran ini cocok, sesuai, bermanfaat apa tidak. Ini perlu memahami hidup tidak sekedar menjalani hidup.

Memaknai hidup, karena hidup manusia adalah dalam kubangan makna-makna. Tak pernah terbatas, tetapi maknai hidup jangan sampai memaknai hidup dengan asal-asalan. Tetapi dengan secara tertib dan tertata sesuai dengan prinsip-prinsip rasionalitas.

Memperbaiki hidup, setelah mampu memaknai hidup maka secara tidak langsung bearti telah mengalami perbaikan dalam hidup.

Menikmati hidup, ketika kita tahu bahwa hidup sudah pas, sesuai, cocok, dan selaras dengan yang kita inginkan maka kita bisa menikmati hidup. Tetapi sebelum kita memahami rasinality functions agak sulit menikmati hidup.

Way to Functions? atau “Bagaimana menjalankan hidup secara rasional itu?”. Setidaknya ada tiga jalan yang mesti ditempuh:

1. Clarifying concepts, memperjelas konsep dalam hidup. Dalam hidup ini, ada banyak hal yang seolah-olah kita sudah tahu, padahal belum tahu. Disinilah pentingnya clarifying concepts. Misalnya tentang khalifah, ada yang memahami semacam kerajaan atau sistem pemerintahan. Satu lagi memahaminya mendefinisikan tanggung jawab seluruh manusia (inni jaa` ilun fil ardhi khaliifah). Akibatnya tidak ada kesepakatan dalam diskusi, oleh karena itu perbaiki/diperjelas konsepnya. 

2. Constructing arguments, menyusun argumen. Kalau ingin hidup yang serius apa pun yang dipikirkan dan dilakukan maka harus ada argumennya. Cara paling mudah untuk menemukan argumen maka ajukan pertanyaan “mengapa?”, jawabannya pasti argumen. 

3. Critisizing, mengeritisi argumen agar memeroleh jawaban, jika tidak relevan. Inilah hidup secara masuk akal (rasional).

4. Rational Measurements

Kesesuaian antara ideal/pernyataan dengan kenyataan. Kesesuaian antara yang dipikirkan/yang dikatakan dengan asumsi-asumsi yang mendasari. Kesesuaian antara yang dipikirkan/dilakukan dengan norma-norma yang menjadi rujukan. Kesesuaian antara yang dikatakan/dilakukan dengan tujuan.

Types of Rationality

1. Mitos - Logos
2. Logical – Dialectical
3. Theoritical – Practical
4. Practical – Interests 
5. Positivistic – Humanistik
6. Rationality Standards

Standar rasionalitas dalam kaitan berpikir filsafat adalah:

1. Clarity (jelas, terukur, dan terarah)
2. Accuracy (tepat)
3. Relevance (kesesuaiaan)
4. Depth (Kedalaman)
5. Breadth (Keluasan))
6. Fairness (Adil)
7. Rationality in Relations

I – IT ---   Objective: tidak mengandung kepentingan atau keinginan sendiri/independen.

I – I --- Subjective: Aku dengan diriku sendiri, reflektif (mengembangkan diri) yaitu membaca ke dalam diri dengan cara merenungi.

I – You --- Intersubjectivs: Pertemuan antar subjek atau dengan orang lain, rasionalitas objektif dengan komunikasi secara serius dan harmoni.

Rationality Blockers (Penghambat Rasional)

1. Herd instinct (insting kerumunan)
2. Partisan mindset (berpikir partisan) 
3. Egoism (aku sudah atau aku sudah ngerti)

Thinking Idols

1. Idola Tribus: menarik kesimpulan tanpa dasar secukupnya, berhenti pada sebab-sebab yang diperiksa secara dangkal (sebagaimana pada umumnya manusia biasa/awam/tribus). Hambatan ini sifatnya sangat umum sebagai manusia, misalnya “over-simplification” (menyederhanakan/menggeneralisir masalah) atau propensity (kecendrungan/keberpihakan karena terpengaruh oleh sesuatu yang sebenarnya tidak representatif)

2. Idola Specus (The Idols of the Cave): menarik kesimpulan berdasarkan prasangka pribadi, prejudice, selera a priori (seperti manusia dalam gua); disebabkan sifat pribadinya yang khas karena membaca buku-buku dan karena otoritas yang ia hormati dan kagumi, atau karena kesan berbeda pada pikiran yang sedang dikuasai sesuatu. Misalnya: ada orang yang lebih melihat kesamaan, ada yang lebih melihat perbedaan, ada yang lebih melihat detil, ada yang melihat keutuhan/totalitas.

3. Idola Fora (The Idols of the Market Place): menarik kesimpulan karena masyarakat umum berpendapat demikian, atau ikut pendapat umum (opini public/pasar).

4. Idola Theatri/panggung (The Idols of the Theatre): menarik kesimpulan berdasarkan kepercayaan dogmatis, mitos, dan lain sebagainya.

Batas Nalar

1. Our Own Norms (Religious, Ethics, Social, Cultural Political, etc)
2. Biological & Psychological Situations 
3. Human – limitations on Information and Experience

KESIMPULAN

Tujuan hidup manusia akan tercapai dengan sempurna apabila mengetahui dan memahami lebih banyak aspek yang memang Allah siapkan bagi mereka. Baik alam maupun apa pun yang ada dan yang telah dipersiapkan oleh Allah. Sehingga potensi-potensi tersebut tergali dengan baik dan semakin sempurna.

Selanjutnya pengaruh luar diri manusia juga akan berpengaruh kepada pembentukan dan pengembangan diri dan meningkat kemampuannya untuk berinteraksi dengan yang ada maupun yang tidak ada, baik makro-kosmos maupun mikro-kosmos. Hal terakhir ini, tercermin dalam Tuhan dan dalam diri manusia itu sendiri sebagai ciptaan Tuhan.

REFERENSI

Fahruddin Faiz, Manusia dan Realitas, (Yogyakarta: eSFIMA, 28 November 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]