WANITA MENAWARKAN DIRI UNTUK DINIKAHI OLEH RASULULLAH DAN JAWABAN BELIAU
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Islam tidak membatasi yang boleh mengajukan lamaran hanya yang lelaki, sehingga wanita juga boleh mengajukan diri untuk melamar seorang pria. Jika itu dilakukan dalam rangka kebaikan, misalnya karena ingin mendapatkan suami yang shaleh, atau suami yang mampu membimbing dan mengajarkan ajaran agama dengan benar, bukan termasuk tindakan tercela. Artinya, bukan karena latar belakang dunia semata.
Dalam al Qur'an hanya menyebutkan bahwa Allah memerintahkan kepada laki-laki yang menawarkan diri untuk menikahi perempuan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ. (قرآن سورة النساء/٤: ٣)
Jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat untuk tidak berbuat zalim. (QS. An-Nisā'/4: 3)
Namun mahar, menjadi wajib dari laki-laki sebagai penghalalan bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاٰتُوا النِّسَاۤءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـًٔا مَّرِيْۤـًٔا. (قرآن سورة النساء/٤: ٤)
Berikanlah mahar kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (mahar) itu dengan senang hati, terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati. (QS. An-Nisā'/4: 4)
Hal itu dilakukan baik terhadap hamba sahaya maupun merdeka, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمَنْ لَّمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا اَنْ يَّنْكِحَ الْمُحْصَنٰتِ الْمُؤْمِنٰتِ فَمِنْ مَّا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ مِّنْ فَتَيٰتِكُمُ الْمُؤْمِنٰتِۗ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِاِيْمَانِكُمْ ۗ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۚ فَانْكِحُوْهُنَّ بِاِذْنِ اَهْلِهِنَّ وَاٰتُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ مُحْصَنٰتٍ غَيْرَ مُسٰفِحٰتٍ وَّلَا مُتَّخِذٰتِ اَخْدَانٍ ۚ فَاِذَآ اُحْصِنَّ فَاِنْ اَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنٰتِ مِنَ الْعَذَابِۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ ۗ وَاَنْ تَصْبِرُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة النساء/٤: ٢٥)
Siapa di antara kamu yang tidak mempunyai biaya untuk menikahi perempuan merdeka yang mukmin (boleh menikahi) perempuan mukmin dari para hamba sahaya yang kamu miliki. Allah lebih tahu tentang keimananmu. Sebagian kamu adalah sebagian dari yang lain (seketurunan dari Adam dan Hawa). Oleh karena itu, nikahilah mereka dengan izin keluarga (tuan) mereka dan berilah mereka maskawin dengan cara yang pantas, dalam keadaan mereka memelihara kesucian diri, bukan pezina dan bukan (pula) perempuan yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya. Apabila mereka telah berumah tangga (bersuami), tetapi melakukan perbuatan keji (zina), (hukuman) atas mereka adalah setengah dari hukuman perempuan-perempuan merdeka (yang tidak bersuami). Hal itu (kebolehan menikahi hamba sahaya) berlaku bagi orang-orang yang takut terhadap kesulitan (dalam menghindari zina) di antara kamu. Kesabaranmu lebih baik bagi kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisā'/4: 25)
Permasalahan tersebut di atas terekam dalam hadits-hadits riwayat imam Al Bukhari, an Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad dan ad Darimi. Berikut penulis paparkan riwayat-riwayat dimaksud berkaitan dengan "Wanita menawarkan diri untuk dinikahi oleh Rasulullah, jawaban beliau dan menikahkannya dengan laki-laki lain"
Imam Al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ سَمِعْتُ ثَابِتًا الْبُنَانِيَّ قَالَ
كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ قَالَ أَنَسٌ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ
فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا وَا سَوْأَتَاهْ وَا سَوْأَتَاهْ قَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا. (رواه البخاري: ٤٧٢٦)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata, "Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah ﷺ lalu menghibahkan dirinya kepada beliau. Wanita itu berkata, 'Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku?" lalu anak wanita Anas pun berkomentar, "Alangkah sedikitnya rasa malunya." Anas berkata, "Wanita itu lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi ﷺ, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau." (HR. Al Bukhari: 4726 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)
Atau dalam lafazh semakna,
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا مَرْحُومٌ سَمِعْتُ ثَابِتًا أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا فَقَالَتْ هَلْ لَكَ حَاجَةٌ فِيَّ فَقَالَتْ ابْنَتُهُ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا فَقَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ عَرَضَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفْسَهَا. (رواه البخاري: ٥٦٥٨)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Marhum saya mendengar Tsabit bahwa dia mendengar Anas radhiallahu'anhu berkata, "Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ menawarkan dirinya, katanya, "Apakah engkau membutuhkanku?" maka anak perempuan (Anas bin Malik) berkata, "Alangkah sedikit malunya perempuan itu." Anas bin Malik berkata, "Ia lebih baik darimu, dia tawarkan dirinya kepada Rasulullah ﷺ." (HR. Al Bukhari: 5658 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)
Dengan lafazh semakna imam Ibnu Majah meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ قَالَ
كُنَّا جُلُوسًا مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ فَقَالَ أَنَسٌ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ نَفْسَهَا عَلَيْهِ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِيَّ حَاجَةٌ فَقَالَتْ ابْنَتُهُ مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا قَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ نَفْسَهَا عَلَيْهِ. (رواه إبن ماجه: ١٩٩١)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr bin Bakr bin Khalaf dan Muhammad bin Basysyar keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Mahrum bin Abdul Aziz berkata, telah menceritakan kepada kami Tsabit berkata, "Aku pernah duduk bersama Anas bin Malik, sementara di sisinya adalah puterinya. Anas berkata, "Ada seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ menawarkan dirinya kepada beliau, ia berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau mau menerimaku?" lantas putrinya (Anas) berkata, "Betapa sedikitnya rasa malu yang dimiliki wanita itu! " Anas berkata, "Bahkan ia lebih baik darimu, ia menyukai Rasulullah ﷺ, lalu menawarkan dirinya kepada beliau." (HR. Ibnu Majah: 1991 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Hal yang semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا مَرْحُومٌ قَالَ سَمِعْتُ ثَابِتًا يَقُولُ
كُنْتُ مَعَ أَنَسٍ جَالِسًا وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ فَقَالَ أَنَسٌ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ هَلْ لَكَ فِيَّ حَاجَةٌ فَقَالَتْ ابْنَتُهُ مَا كَانَ أَقَلَّ حَيَاءَهَا فَقَالَ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ رَغِبَتْ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا. (رواه أحمد: ١٣٣٣٣)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Marhum berkata; saya telah mendengar Tsabit berkata; ketika saya duduk bersama Anas, di sampingnya ada anak perempuannya. Anas berkata; seorang perempuan (Ummu Salamah) menemui Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Nabiyullah apakah engkau membutuhkanku?" maka anak perempuan (Anas bin Malik radhiallahu'anhu) berkata, "Alangkah sedikit malunya perempuan itu". (Anas bin Malik radhiallahu'anhu) berkata; ia lebih baik darimu, dia menyukai Rasulullah ﷺ, maka ia tawarkan dirinya kepada beliau ﷺ. (HR. Ahmad: 13333 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Dalam redaksi semakna "anak perempuan Anas bin Malik tertawa" imam an Nasa'i: 3198, beliau meriwayatkan:
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا مَرْحُومٌ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ امْرَأَةً عَرَضَتْ نَفْسَهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَضَحِكَتْ ابْنَةُ أَنَسٍ فَقَالَتْ مَا كَانَ أَقَلَّ حَيَاءَهَا فَقَالَ أَنَسٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ عَرَضَتْ نَفْسَهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه النسائي: ٣١٩٨)
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Marhum, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bahwa terdapat seorang wanita yang menawarkan dirinya kepada Nabi ﷺ, kemudian anak wanita Anas tertawa, kemudian berkata; betapa sedikit rasa malunya. Kemudian Anas berkata; ia lebih baik darimu, ia menawarkan dirinya kepada Nabi ﷺ. (HR. An Nasa'i: 3198 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Selanjutnya, jawaban Rasulullah tercatat dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Al Bukhari, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ امْرَأَةً أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا فَقَالَ مَا لِي الْيَوْمَ فِي النِّسَاءِ مِنْ حَاجَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَوِّجْنِيهَا قَالَ مَا عِنْدَكَ قَالَ مَا عِنْدِي شَيْءٌ قَالَ أَعْطِهَا وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ قَالَ مَا عِنْدِي شَيْءٌ قَالَ فَمَا عِنْدَكَ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ. (رواه البخاري: ٤٧٤٥)
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'd radhiallahu'anhu, bahwa seorang wanita mendatangi Nabi ﷺ dan menawarkan dirinya pada beliau, maka beliau pun bersabda, "Hari ini aku tak berhasrat pada wanita." Tiba-tiba seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah, nikahkanlah aku dengannya." Maka beliau bertanya, "Apa yang kamu miliki (untuk dijadikan sebagai mahar)?" ia menjawab, "Aku tidak punya apa-apa." Beliau bersabda, "Berikanlah ia (mahar) meskipun hanya cincin besi." Laki-laki itu berkata, "Aku tak punya apa-apa." Akhirnya beliau bertanya, "Apa yang kamu hafal dari Al-Qur'an?" laki-laki itu menjawab, "Surah ini dan ini." Beliau bersabda, "Aku telah menikahkanmu dengan wanita itu dan sebagai maharnya adalah hafalan Al-Qur'anmu." (HR. Al Bukhari: 4745 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)
Demikian juga hadits riwayat imam ad Darimi: 2104 - isnadnya shahih dan hadits mutafaq 'alaihi (jalur sanad yang sama) menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H. Hanya saja pada hadits riwayat Al Bukhari: 4641,
" ... قَالَ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ". (رواه البخاري: ٤٦٤١)
" ... Beliau bersabda, "Aku telah menikahkanmu dengan wanita itu, dengan mahar hafalan Al-Qur'anmu." (HR. Al Bukhari: 4641 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H.
Sedangkan hadits riwayat Al Bukhari: 4745, dengan lafazh,
" ... قَالَ فَقَدْ مَلَّكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ". (رواه البخاري: ٤٧٤٥)
" ... Beliau bersabda, "Aku telah menikahkanmu dengan wanita itu dan sebagai maharnya adalah hafalan Al-Qur'anmu." (HR. Al Bukhari - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)
Dan imam ad Darimi dengan lafazh,
" ... قَالَ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا عَلَى مَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ". (رواه الدارمي: ٢١٠٤)
" ... Beliau bersabda, "Sungguh aku telah menikahkanmu dengan wanita tersebut dengan mahar apa yang kamu hafal dari Al-Qur'an." (HR. Ad Darimi: 2104 - isnadnya shahih dan hadits mutafaq 'alaihi (jalur sanad yang sama) menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H)
Hadits-hadits di atas diriwayatkan secara makna dengan pemahaman yang sama, yaitu seorang perempuan boleh menawarkan dirinya kepada seorang laki-laki yang shaleh dan berilmu untuk menikahinya. Dalam hal ini, dibolehkan juga menolak. Begitu juga dibolehkan menyerahkan pilihan tersebut kepada laki-laki lain yang ia kenal kebaikan dan keshalehannya walau pun ia miskin. Sehingga pilihan dari orang yang shaleh dan berilmu (Rasulullah) tidak ada kekhawatiran akan menjerumuskan sang perempuan yang menawarkan diri untuk dinikahi.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏