“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KEBERAGAMAN MANUSIA MASAKINI
ETOS DIGITAL DAN ETOS SPRITUAL
OLEH: SAMSURIZAL, MA
Pertemuan kesebelas: Minggu, tanggal 12 Desember 2021

PENDAHULUAN

Tulisan ini didasari dari Kuliah Filsafat pada Sekolah Filsafat Musa Asy`arie. Materi kuliah pertemuan kesebelas oleh DR. Fahruddin Faiz berjudul “Keberagamaan Manusia Masakini: Etos Digital dan etos spritual”.  

PEMBAHASAN

Jatuhnya ‘kebanggaan subyektif manusia’. Kita hanya setitik debu diantara bintang-bintang.

Kopernikus-Heliosentris: Menyingkirkan bumi, tempat tinggal manusia, dari pusat kosmos. Bumi juga berpusat bukan pusat, selain bumi juga ada bima sakti.

Darwin: Memposisikan manusia sebagai sama saja seperti makhluk yang lain, berevolusi dan tidak ada jaminan bahwa manusia adalah yang utama sejak awal atau merupakan puncaknya.

Manusia itu tidak paling utama dari awal, ada perkembangan atau problem-problem. Kita hanya melanjutkan evolusi-evolusi berikutnya. Sampai sekarang masih banyak perdebatan.

Freud: Menunjukkan ‘ketidaksadaran’ sebagai yang mengarahkan hidup manusia, membatalkan kesombongan manusia sebagai yang penuh kesadaran, rasional, dan terukur-terkendali.

Psikoanalisisnya, ada satu bagian dalam manusia yaitu bawah sadar, ini banyak memengaruhi kita. Manusia banyak disetir oleh motif-motif.

Donna Haraway: Cyborg (Machine + Organism, Disassembled + Reassembled, Social reality + Creature of fiction)

Manusia hari ini persis saibox, bukan hanya makhluk organisme tetapi menjalani hidup dengan plus mesin. Tidak bisa kita hidup tanpa hand phone, digital, dan lain-lain. Kita bisa membongkar pasang baik di dunia nyata maupun maya. Begitu juga dunia sosial, kita susah membedakan di dunia nyata dan dunia maya. 

Empat fase inilah, runtuhnya kebanggaan manusia. Manusia disetir oleh mesin, bukan dari organismenya.  

Pembentukan Kesadaran:

Hal ini ditentukan oleh jalan pikir yang berkembang hari ini. Masa kini: situasi persis dijalani dengan kegelisahan dan kenyamanan. Rights: didukung oleh kepentingan politik. Berhak berpikir, dan hak bersuara. Aku harus existensial: terjadi keramaian karena setiap orang ingin eksis. Pop Culture: viral dan tidak virul, mengejar bagaimana menjadi viral atau mejadi bagiannya. Semakin banya followernya. Informasi Teknologi: perkembangan informasi dan teknologi, tidak terbayangkan perkembanganya.

Kronologi perkembangan perubahan kehidupan manusia:

Diawali dari pra modern, eksistensi manusia tampil oleh karyanya. Penguasa zaman adalah para penemu. Era modern, fokusnya hidup ada pada dunia ekonomi. Para pahlawan tokoh itu ada pada produksi. Ini menjadi dasarnya manusia unggul. Era post modern, keunggulan manusia dilihat pada konsumsi. Seperti, terhadap apa yang digunakan. Laptopnya, HP merek apa, makan nongkrongnya dimana?. Disinilah status sosialnya terbentuk, ini awalnya munculnya teknologi. Kemudian era imaji, yang penting orang menganggap kita unggul, yang penting citra. Satu langkah lebih jauh daripada era imaji. Inilah situasi kita hari ini. Boleh menganggap teman saya masih seperti dulu atau tidak. Kalau dulu kita bisa tau aslinya, hari ini kita bertemu dengan citra-citra saja. Sehingga dunia nyata dan maya dapat berbanding 30% dan 70 %. Kehidupan kita banyak terbolak balik. Dulu manusia, sekarang dianggap manusiawi. Selanjutnya terjadi transhumanisme. Peran manusia semakin tidak bermakna, begitu juga nilai-nilai. Sehingga banya profesi-profesi tersingkir, seperti dosen-dosen, yang punya tempat dibanding dengan online. Selanjutnya, manusia tersingkirkan oleh ciptaanya sendiri. Kita diperbudak oleh ciptaan sendiri, alat yang kita buat menjadi penyingkirnya sendiri. Sehingga manusia menjadi alat bukan layaknya pencipta alat.

POST-HUMANISM & TRANS-HUMANISM

Posthumanism: Pandangan-pandangan baru tentang manusia dan ‘kemanusiaan’ menyesuaikan dengan perkembangan-perkembangan teknosains terkini.

Transhumanism: ideology dan gerakan yang berusaha mengembangkan teknologi yang mengeliminasi kondisi manusiawi yang lemah, temporer, dll, dengan mengembangkan intelektual, psikis dan psikologisnya, hingga mencapai "posthuman future".

Kekhawatiran: 1) AI Takeover: tersingkirnya manusia oleh AI (Artificial Intellegence), 2) Voluntary Human Extinction: masa depan dirancang sebagai dijalani tanpa manusia.

Michel Foucault, Judith Butler, Gregory Bateson, Warren McCullouch, Norbert Wiener, Bruno Latour, Cary Wolfe, Elaine Graham, N. Katherine Hayles, Benjamin H. Bratton, Peter Sloterdijk, Stefan Lorenz Sorgner, Evan Thompson, Francisco Varela, Humberto Maturana, Timothy Morton, Douglas Kellner, Donna Haraway, Robert Pepperell (penulis  "posthuman condition“). Mereka ini penggagas dan mendalami posthumanism dan transhumanism.

SITUASI POST-TRUTH Maraknya Hoax dan Emosi Sosial

Kebenaran dilewati, mengalahkan fakta objektif cirinya sesuatu yang didahului adalah kepentingan, emosi dan keyakinan. 

Fakta obyektif kalah pengaruh oleh emosi/keyakinan pribadi dalam membantuk opini.
Fakta dipinggirkan, emosi mendominasi 
Emosi menjadi dasar tafsir informasi, menyingkirkan data/fakta 

Echo Chamber (suara yang berulang)

Mencari suara yang sama untuk mendukung kebenaran kita. Sehingga menambah keyakinan sendiri. Tambah banyak menemukan pendukung maka semakin kuat keyakinannya. Selanjutnya menjadi banalisasi, tidak penting salah atau kebenaran otentik. Bisa jadi, kebohongan yang diulang-ulang menjadi benar.

Gagasan masing-masing mendapat gema dari sesame anggota komunitas sehingga memperteguh system keyakinannya dan tidak terbuka terhadap gagasan lain

Banalisasi Kebohongan 

Mengapa kebohongan memikat? Karena pembohong berbicara dengan mengikuti logika dan harapan yang dibohongi 

Way of Thoughts (Jalan yang ditempuh)

Kepentingan # Bukan Kebenaran
Eksistensi # Bukan Esensi
Kecepatan #Bukan Ketepatan
Kehebohan # Bukan Kedalaman
Citra # Bukan Makna

Manusia hari ini, tidak mengutamakan salah atau benar yang penting eksis. Sehingga lebih mudah mengubah pendirian atau salah menjadi benar atau sebaliknya kebenaran menjadi dianggap salah. Penting bagi kita mengevaluasi, tentang paparan di atas.

Begitu juga dalam bentuk menghebohkan, tidak perlu kedalaman yang penting heboh. Kemudian citra, hanya ingin tampila yang penting kesan orang kepadanya. Sehingga mengorbankan kebenaran para ulama, ahli dan yang lainnya. 

EFEK: DISRUPSI PSIKOLOGI (Kekacauan-kekacauan psikologi akibat digital)

Online Disinhibition Effect

Orang berani melakukan apa saja tanpa hambatan (ruang tanpa otoritas, tanpa status social dan anonym). Kita ingin diakui orang, takut dianggap hilang. Semua kegiatan harus diposting di media sosial atau keinginan selalu diketahui orang lain.

Fear of Missing Out (orang takut hilang)

Orang takut ketinggalan/sendirian saat yang lain bersosialisasi. Pencitraan menjadi utama, kebohongan menjadi biasa. Mentalitas Instant: like, share, comment.

Jika ini terus terjadi maka selanjutnya akan mengakibatkan manusia lemah dalam alarming intuition (peringatan dari dalam diri sendiri). Sulit mendeteksi kebohongan, karena kepekaan sudah diracuni. Mudah tertipu oleh pencitraan dan kebohongan-kebohongan.

Seseorang yang terbiasa jujur, maka akan terbentuk menjadi pribadi yang jujur. Sehingga ia mudah menerima dan peka terhadap kebenaran. Sebalinya, orang yang terbiasa bohong, maka ia akan menjadi orang yang tidak peka terhadap kebenaran.

EFEK: DISRUPSI SOSIAL

Narasi mengalahkan data, viralitas mengalahkan obyektifitas 

Menyuburkan polarisasi masyarakat karena meneguhkan keyakinan/ideology masing-masing kelompok. Sehingga lahirnya banyak kelompok-kelompok, bahkan kelompok besar menjadi bercerai berai, karena dalam kelompok ada kelompok lain.

Kebohongan menyuburkan ideology dan kesulitan untuk menerima yang lain-yang berbeda. Seperti, ada kelompok membolehkan ucapan natal dan yang tidak bahkan melarang.

Terpinggirkan/terlewatkannya hal-hal esensial, demi citra dan kepentingan artificial

Hal ini juga termasuk politik, ekonomi dan budaya dalam bentuk pop culture, mengikuti gaya hidup hari ini. Ini memengaruhi minat manusia hari ini. Akibatnya, peran atau aspek manusia terpinggirkan dan bisa habis dalam arti tambah canggih maka semakin kecil peran manusia. Oleh karena itu agar tidak terkikis habis mesti dikendalikan dengan baik.

IMPLIKASI NEGATIF TERHADAP AGAMA

Matinya Makna

Agama: “Semesta Makna”. Kematian “makna” di era Posmodern berimplikasi pula kepada “pendangkalan” peran agama. Artinya terjadi pendangkalan-pendangkalan, karena lebih mengutamakan terlihat shaleh daripada menjadi shaleh benaran.

Kegemukan Informasi 

Kegemukan informasi dalam ranah agama berimplikasi kepada “keluasan” wawasan agama minus “kedalaman”. Banyak orang “tahu” informasi-informasi keagamaan tanpa “paham” posisi, porsi, presisi, konteks dan mekanisme uji validitasnya. Kekhawatiran terjadi hanya mengandalkan tahu, sehingga ia memberikan informasi saja. Padahal manusia menjadi benar butuh pengetahuan dan pemahaman.

Total Transparancy 

Total Transparancy menyebabkan ranah agama kehilangan ranah “privat”-nya yang dalam wacana keagamaan lama justru dipandang paling “dalam”. Hubungan seorang hamba dengan Tuhannya sering digambarkan “berpuncak” dalam keasyikan “khalwat”, “uzlah” atau menarik diri dari “keramaian kerumunan”. 

Epilepsi Komunikasi 

Epilepsi Komunikasi membawa agama sebagai ‘subyek kejutan’. Agama dielaborasi hanya dalam aspek-aspek “menarik” dan “wow” belaka, mulai terorisme, khilafah, pemimpin agama, ustadz media, makhluk halus, artis taubat, dan lain sejenisnya. Pada akhirnya realitas agama pun menjelma menjadi “simulacrum” – lahirnya citra-citra/model-model keagamaan baru yang tanpa asal-usul/referensi realitas. 

SPIRITUALITAS DIGITAL

Spiritualitas digital adalah gelombang yang muncul di banyak agama dan tradisi spiritual, di mana individu dan komunitas agama menggunakan budaya dan teknologi digital (digitalisme) dengan cara yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi agama dan spiritual mereka. Spiritualitas digital adalah ihwal menggunakan teknologi dengan motif spiritual. 

RUANG DIGITAL SPRITUAL

Informasi spiritual, Pendidikan spiritual, Kegiatan spiritual, Interaksi dengan komunitas spiritual, Administrasi Lembaga spiritual, Komodifikasi spiritual.

Motif

Menggunakan teknologi digital untuk melepaskan diri dari kondisi manusia dan kelemahannya, meninggalkan sisi kemanusiaan dan spiritual. Menempatkan kemajuan teknologi di atas kemajuan jiwa manusia_Ilustrasi: agen kecerdasan buatan (AI) suatu hari nanti dapat melampaui manusia dalam kecerdasan kognitif, emosional, dan spiritual, mencapai keabadian digital_Melahirkan Transhumanism/ post-humanism 

Menggunakan teknologi digital untuk memperbaiki kondisi manusia, yaitu untuk memahami diri kita sendiri dan keilahian kita, menemukan makna-makna secara spiritual_Melahirkan Spiritual/ humanistic technology. 

UNSUR-UNSUR SPRITUALITAS DAN IT ROLE

LIMA unsur di atas menjadi jalan keluar dari transhumanisme yang telah meluas dikalangan manusia, baik individu maupun kelompok atau secara menyeluruh. Mengalir jangan sampai hanyut. Ini tercapai dengan hidup dengan penuh makna, nilai, menerima adanya dimensi tertinggi, kesadaran kebersamaan, dan hidup sambil melakukan refleksi, memahami dan membuka diri dengan keyakinan hidup kita bisa lebih baik. Tetap menjadi manusia yang diciptakan oleh Allah sebagai makhuk yang mulia, mukallah, mukhayyar dan mujzi (penerima balasan) terbaik dan sempurna dibanding makhluk lain. 

TIPS FROM GANDHI: HINDARILAH TEKNOLOGI YANG MEMILIKI KARAKTER SEPERTI INI

“Hanya menyenangkan, tapi bagi kamu saja, untuk kepentinganmu saja”
“Membuatmu tidak beraktifitas sama sekali”
“Mempengaruhi perilaku psikologismu”
“Memperkuatmu atau menuntunmu dalam kegelapan”
“Mengubah citra dan identitasmu di tengah masyarakat”

Lima pernyataan di atas mesti dihindari, sehingga tidak terjebak pada ketergantungan pada teknologi. Setiap perkembangan teknologi mesti dievaluasi agar menjadikannya sebagai mempermudah dan memberi kenyamanan. Jangan sampai menghambat tujuan hidup kita yang hakiki yaitu ilaihi raaji`un untuk kembali kepada Allah. 

KESIMPULAN

Kebangggaan manusia sebagai pencipta teknologi dan merubah peradaban memberikan kemampuan bagaimana menghadapi hidup. Hal ini sekaligus dapat membangun karakter  manusia sebagai manusia sesungguhnya. Hal ini terkait keistimewaan manusia sebagai makhluk yang mulia, mukallaf, mukhayyar dan mujzi. Walaupun bisa mengalami kekacauan, namun akan berakhir pada kebenaran yang ia dambakan sendiri. Semakin mengalami tekanan dan kekacauan transhumanism maka secara bersamaan akan terpacu untuk memaksimalkan potensi yang Allah anugerahkan kepadanya untuk mengolah bumi, sebagaimana fungsinya sebagai khalifah/wakil Allah di muka bumi. 

Fenomena yang terjadi di masakini akan membuat manusia hidup di era baru dengan daya budi yang mampu melakukan takhalli pengosongan diri dari hal-hal yang buruk, dari kekecewaan dan lain sebagainya. Kemudian, kemampuan untuk melakukan tahalli, mengisi diri dengan kebaikan-kebaikan yang disebabkan dari pengalaman yang buruk selama ini. Selanjutnya ia akan lebih mengerti dengan bagaimana ber-tajalli, paham bagaimana batasan dan pentingnya teknologi untuk manusia. Kreatifitas dan kemasan hidup lebih menarik akan tercipta dengan sendirinya.

REFERENSI

Fahruddin Faiz, Keberagamaan Manusia Masakini: Etos Digital dan Etos Spritual, (Yogyakarta: eSFIMA, 12 Desember 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]