UJIAN ALLAH PADA NABI AYYUB
'alaihissalam
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allah menginformasikan dalam Al-Qur'an surah Al-Anbiyā' ayat 83 dan 84 tentang kisah Nabi Ayyub 'alaihissalam sebagai peringatan dan i'tibar bagi umat muslim yang beriman. Pelajaran terhadap apa yang dialami Nabi Ayyub hanya termaktub dalam surat dimaksud. Sebagaimana firman-Nya,
۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ. (قرآن سورة الأنبياء/٣١: ٨٣)
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al Anbiya'/21: 83)
Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ayyub 'alaihissalam yang ditimpa suatu penyakit yang berat sehingga berdoa memohon pertolongan Tuhannya untuk melenyapkan penyakitnya itu, karena ia yakin bahwa Allah amat penyayang.
Pendapat ulama lain mengatakan bahwa Nabi Ayyub pada ayat ini hanya mencurahkan isi hatinya kepada Allah seraya mengagungkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Walaupun berbeda-beda riwayat yang diperoleh tentang Nabi Ayyub, baik mengenai pribadinya, masa hidupnya dan macam penyakit yang dideritanya, namun ada hal-hal yang dapat dipastikan tentang dirinya, yaitu bahwa dialah seorang hamba Allah yang shalih, telah mendapat cobaan dari Allah, baik mengenai harta benda, keluarga, dan anak-anaknya, maupun cobaan yang menimpa dirinya sendiri. Dan penyakit yang dideritanya adalah berat. Meskipun demikian semua cobaan itu dihadapinya dengan sabar dan tawakkal serta memohon pertolongan dari Allah dan sedikit pun tidak mengurangi keimanan dan ibadahnya kepada Allah.
Selanjutnya pada ayat berikutnya, Allah berfirman,
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ. (قرآن سورة الأنبياء/٣١: ٨٤)
Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami. (QS. Al Anbiya'/21: 84)
Oleh sebab itu, dalam ayat ini Allah mengabulkan doanya dan menyembuhkannya dari penyakit itu, serta mengaruniainya rahmat yang lebih banyak dari apa yang telah hilang dari tangannya, dan kemudian Allah mengangkatnya menjadi nabi.
Setelah Nabi Ayyub sembuh dari penyakitnya beliau hidup bersama keluarganya kembali, dan keluarganya itu berkembang biak pula dengan subur, sehingga jumlahnya menjadi dua kali lipat dari jumlah semula.
Kesemuanya itu adalah rahmat Allah kepadanya, atas keimanan, kesabaran, ketakwaan dan keshalihannya, Al-Qur'an mengungkapkan kisah ini untuk menjadi peringatan dan pelajaran bagi semua orang yang beriman dan beribadah kepada Allah, bahwa:
a. Allah memberi rahmat dan pertolongan kepada hamba-Nya yang mukmin, bertakwa, shalih dan sabar.
b. Orang-orang yang mukmin pun tidak luput dari cobaan, berat atau pun ringan, sebagai ujian bagi mereka.
c. Orang yang beriman tidak boleh berputus asa dari rahmat Tuhannya.
Semakin tinggi kedudukan dan tanggung jawab manusia, semakin berat pula cobaan yang diterimanya. Dalam hubungan ini Rasulullah ﷺ bersabda:
سَأَلَ سَعَدُ بْنُ اَبِى وَقَاصْ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً, قَالَ اَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً اَلْاَنْبِيَاءُ ثُمَّ اْلاَمْثَلُ فَاْلاَمْثَلُ. رواه ابن ماجه عن سعد بن ابي وقاص.
“Sa‘ad bin Abi Waqāsh bertanya kepada Rasulullah, “Siapa orang yang paling berat cobaannya, Rasulullah menjawab, Orang yang paling berat cobaannya adalah para nabi, orang-orang yang mirip para nabi, kemudian orang-orang yang mirip mereka.” (Riwayat Ibnu Mājah dari Sa‘ad bin Abi Waqāsh)
Hadits lengkapnya sebagai berikut:
حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ حَمَّادٍ الْمَعْنِيُّ وَيَحْيَى بْنُ دُرُسْتَ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ. (رواه إبن ماجه: ٤٠١٣)
Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Hammad Al Ma'ni dan Yahya bin Durusta keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari 'Ashim dari Mush'ab bin Sa'ad dari Ayahnya Sa'ad bin Abu Waqash dia berkata, "Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling keras cobaannya?" beliau menjawab, "Para Nabi, kemudian kalangan selanjutnya (yang lebih utama) dan selanjutnya. Seorang hamba akan diuji sesuai kadar agamanya (keimanannya). Jika keimanannya kuat maka cobaannya pun akan semakin berat. Jika keimanannya lemah maka ia akan diuji sesuai dengan kadar imannya. Tidaklah cobaan ini akan diangkat dari seorang hamba hingga Allah membiarkan mereka berjalan di muka bumi dengan tanpa dosa." (HR. Ibnu Majah: 4013 - hasan dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H)
Hadits riwayat imam Ibnu Majah: 4013 adalah hadits 'aziz dan beliau meriwayatkan dari dua guru yang tsiqah yaitu: 1. Yusuf bin Hammad, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Ya'qub negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 245 H. Penilaian ulama: an Nasa'i, al Bazzar, Maslamah bin Qasim dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah. 2. Yahya bin Durusta bin Ziyad, ia tabi'ul atba' kalangan tua kuniyahnya Abu Zakariya dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya tsiqah.
Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 1400, 1412, 1473 dan 1521 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H. Begitu juga hadits riwayat ad Darimi: 2664 - isnadnya hasan dan haditsnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani.
Selanjutnya imam at Tirmidzi juga meriwayatkan makna yang sama,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ بَهْدَلَةَ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأُخْتِ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ. (رواه الترمذي: ٢٣٢٢)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari 'Ashim bin Bahdalah dari Mush'ab bin Sa'ad dari ayahnya berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya? Beliau menjawab, "Para nabi, kemudian yang sepertinya, kemudian yang sepertinya, sungguh seseorang itu diuji berdasarkan agamanya, bila agamanya kuat, ujiannya pun berat, sebaliknya bila agamanya lemah, ia diuji berdasarkan agamanya, ujian tidak akan berhenti menimpa seorang hamba hingga ia berjalan dimuka bumi dengan tidak mempunyai kesalahan."
Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih. Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Hurairah dan saudari Hudzaifah bin Al Yaman, Nabi ﷺ ditanya tentang siapa orang yang paling berat ujiannya, beliau menjawab, "Para nabi, kemudian orang-orang serupa kemudian orang-orang serupa." (HR. At Tirmidzi: 2322 - hasan sahih menurut al Albani dari Sa'ad bin Abi Waqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhra, ia shahabat kuniyahnya Abu Ishaq negeri hidup Kufah dan wafat tahun 55 H)
Demikianlah i'tibar yang dapat dipetik dan diambil pelajaran dari kisah Nabi Ayyub 'alaihissalam. Melalui informasi al Qur'an dan al Hadits di atas jelas memberi sugesti untuk mengukur iman dan sejauh mana tawakkal kita terhadap ujian yang ditimpakan oleh Allah. Seperti nabi Ayyub juga pernah hidup senang dan kaya raya, lalu Allah uji dengan penyakit yang sangat payah. Sehingga beliau ditinggalkan keluarganya. Kemudian karena iman dan kesabaran serta tawakkalnya kokoh, Allah ganti dengan kebahagiaan dan rahmat bagi dirinya dan keluarganya.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏