“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

PENTINGNYA BERSIWAK (GOSOK GIGI)

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا أَبِي وَعَفَّانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا شُعَيْبٌ يَعْنِي ابْنَ الْحَبْحَابِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرْتُ عَلَيْكُمْ فِي السِّوَاكِ. (رواه أحمد: ١٢٠٠٤)

Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami bapakku dan Affan telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Syu'aib, yaitu Ibnul habhab dari Anas berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Saya menganjurkan kalian banyak bersiwak." (HR. Ahmad: 12004 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz)

Catatan: hadits riwayat Ahmad: 12004 adalah hadits 'aziz. Karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya, yaitu: 1. 'Abdush Shamad bin 'Abdul Warits bin Sa'id bin Dzakwan, ia tabi'ut tabi'in golongan biasa kuniyahnya Abu Sahal negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 207 H. Penilaian ulama: Abu Hatim menilainya shaduq shalih, Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah, Hakim menilainya tsiqah ma'mun. Sementara Ibnu Hajar menilainya shaduq dan adz Dzahabi menilainya hafizh. Sedangkan Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam ats tsiqat". 2. 'Affan bin Muslim bin 'Abdullah, ia tabi'uth tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Utsman negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 219 H. Penilaian ulama: Ibnu Hajar menilainya tsiqah tsabat, adz Dzahabi menilainya hafizh, sedangkan Ibnu Sa'ad menilainya tsiqah.

Dalam lafazh lain diriwayatkan tentang kebiasaan Zaid bin Khalid bersiwak setiap akan shalat. Imam Abu Daud menceritakan,

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ فَرَأَيْتُ زَيْدًا يَجْلِسُ فِي الْمَسْجِدِ وَإِنَّ السِّوَاكَ مِنْ أُذُنِهِ مَوْضِعَ الْقَلَمِ مِنْ أُذُنِ الْكَاتِبِ فَكُلَّمَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اسْتَاكَ. (رواه أبوداود: ٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ishaq dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Zaid bin Khalid Al Juhani dia berkata; Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalau saja aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku benar-benar perintahkan kepada mereka untuk bersiwak di setiap kali shalat." Abu Salamah berkata, Saya melihat Zaid duduk di masjid sementara siwak berada di daun telinganya layaknya pena yang diletakkan di daun telinga seorang penulis, setiap kali dia berdiri untuk shalat, dia bersiwak. (HR. Abu Daud: 43 - shahih dari Zaid bin Khalid, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 68 H)

Imam al Bukhari juga meriwayat hadits semakna,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ. (رواه البخاري: ٨٣٨)

Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Sekiranya tidak memberatkan umatku atau manusia, niscaya aku akan perintahkan kepada mereka untuk bersiwak (menggosok gigi) pada setiap kali hendak shalat." (HR. Al Bukhari: 838 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Secara umum,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ. (رواه البخاري: ٦٦٩٩)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ja'far bin Rabi'ah dari Abdurrahman aku mendengar Abu Hurairah radhiallahu'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalaulah tidak memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak." (HR. Al Bukhari: 6699 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Dengan lafazh, "tidak memberatkan orang yang beriman",

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَفِي حَدِيثِ زُهَيْرٍ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ. (رواه مسلم: ٣٧٠)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dan Amru an-Naqid serta Zuhair bin Harb mereka bertanya, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu az-Zinad dari al-A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Seandainya aku tidak khawatir memberatkan kaum mukminin, -dan dalam hadits Zuhair atas umatku,- niscaya aku perintahkan mereka bersiwak setiap kali akan shalat." (HR. Muslim: 370 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Redaksi lain, Abu Hurairah mengatakan sebagaimana hadits riwayat Abu Daud,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَرْفَعُهُ قَالَ لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ لَأَمَرْتُهُمْ بِتَأْخِيرِ الْعِشَاءِ وَبِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ. (رواه أبوداود: ٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id dari Sufyan dari Abu Az Zannad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dan dia memarfu'kannya kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Kalau saja aku tidak memberatkan orang-orang Mukmin, niscaya aku benar-benar akan perintahkan mereka untuk mengakhirkan shalat Isya dan bersiwak pada setiap kali shalat." (HR. Abu Daud: 42 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Rasulullah ﷺ akan shalat malam dan bangun tidur senantiasa bersiwak, sebagaimana imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَامَ مِنْ اللَّيْلِ فَاسْتَنَّ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ فَاسْتَنَّ وَتَوَضَّأَ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى صَلَّى سِتًّا ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ. (رواه أحمد: ٣١٠١)

Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Habib bin Abu Tsabit dari Muhammad bin Ali dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi ﷺ bahwa beliau bangun pada malam hari lalu bersiwak kemudian shalat dua rakaat, lalu beliau tidur kemudian bangun lagi dan bersiwak, lalu berwudhu dan shalat dua rakaat hingga enam rakaat, kemudian beliau witir tiga rakaat dan shalat dua rakaat. (HR. Ahmad: 3101 - isnadnya qawiy menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Imam Abu Daud meriwayatkan hadits dan sekaligus sabab wurudil hadits riwayat Ahmad: 3101 sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا حُصَيْنٌ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ بِتُّ لَيْلَةً عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ أَتَى طَهُورَهُ فَأَخَذَ سِوَاكَهُ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَاتِ { إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ } حَتَّى قَارَبَ أَنْ يَخْتِمَ السُّورَةَ أَوْ خَتَمَهَا ثُمَّ تَوَضَّأَ فَأَتَى مُصَلَّاهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى فِرَاشِهِ فَنَامَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى فِرَاشِهِ فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى فِرَاشِهِ فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ فَفَعَلَ مِثْل ذَلِكَ كُلُّ ذَلِكَ يَسْتَاكُ وَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ.

قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ ابْنُ فُضَيْلٍ عَنْ حُصَيْنٍ قَالَ فَتَسَوَّكَ وَتَوَضَّأَ وَهُوَ يَقُولُ { إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ } حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ. (رواه أبوداود: ٥٣)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami Hushain dari Habib bin Abi Tsabit dari Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari Ayahnya dari Kakeknya, Abdullah bin Abbas dia berkata, "Pada suatu malam saya bermalam di sisi Nabi ﷺ, tatkala bangun dari tidur, beliau mengambil air untuk bersuci, lalu beliau mengambil siwak dan bersiwak, kemudian beliau membaca ayat ini, (yang artinya): "Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, " (QS. Ali 'Imran/3: 190), beliau membacanya hingga hampir mengkhatamkan surat tersebut, atau beliau mengkhatamkannya, lalu beliau berwudhuk, kemudian mendatangi tempat shalatnya dan shalat dua rakaat. Lalu beliau kembali ke tempat tidurnya dan tidur hingga apa yang dikehendaki Allah. Kemudian bangun dan melakukan seperti itu lagi, lalu kembali ke tempat tidurnya dan tidur kembali. Kemudian bangun dan melakukan seperti itu lagi. Lalu beliau kembali ke tempat tidurnya dan tidur kembali. Kemudian bangun dan melakukan seperti itu lagi, setiap kali beliau bangun, beliau bersiwak dan shalat dua rakaat, kemudian beliau melakukan shalat Witir."

Abu Daud berkata; Diriwayatkan oleh Ibnu Fudhail dari Hushain, dia (Ibnu Abbas) berkata, "Beliau bersiwak dan berwudhuk lalu membaca ayat (yang artinya): "Sesungguhnya dalam penciptaan langit-langit dan bumi", hingga beliau mengkhatamkan surat tersebut." (HR. Abu Daud: 53 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Hadits 'aziz)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam an Nasa'i: 1686 secara ringkas tanpa menyebutkan beliau membaca QS. Ali 'Imran/3: 190 dan mengkhatamkannya seperti hadits riwayat Abu Daud: 53. Kemudian imam Ahmad mengatakan,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي أُمُّ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَرْقُدُ لَيْلًا وَلَا نَهَارًا فَيَسْتَيْقِظُ إِلَّا تَسَوَّكَ. (رواه أحمد: ٢٣٧٥٣)

Telah menceritakan kepada kami Affan, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammam, dia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Zaid, dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ummu Muhammad dari Aisyah, bahwa Nabi ﷺ tidak pernah tidur, baik di siang hari ataupun malam hari, kemudian beliau bangun kecuali beliau bersiwak." (HR. Ahmad: 23753 - hasan lighairihi menurut Syu'aib al Arna'uth dan isnadnya dha'if dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Catatan: pada sanad hadits riwayat Ahmad: 23753 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ahli hadits yaitu: 1. Aminah binti 'Abdullah, ia tabi'in kalangan pertengahan dan kuniyahnya Ummu Muhammad. Penilaian ulama: majhulah. 2. Ali bin Zaid bin 'Abdullah bin Jud'an, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al Hasan negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 131 H. Penilaian ulama: Ahmad bin Hanbal, al 'Ajli dan Abu Zur'ah menilainya laisa bi qawi, sedangkan Yahya bin Ma'in, an Nasa'i dan Ibnu Hajar menilainya dha'if. Selebihnya adalah periwayat maqbul (dapat diterima).

Selanjutnya dalam hadits lain imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ مِهْرَانَ مَوْلًى لِقُرَيْشٍ سَمِعْتُ جَدِّي يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ إِلَّا وَالسِّوَاكُ عِنْدَهُ فَإِذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ. (رواه أحمد: ٥٧٠٧)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muslim bin Mihran budak orang Quraisy saya mendengar kakekku menceritakan (hadits) dari Ibnu Umar, Rasulullah ﷺ tidak tidur kecuali siwak dibawanya dan jika beliau bangun, beliau memulai dengan bersiwak. (HR. Ahmad: 5707 - isnadnya hasan menurut Syu'aib al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin an Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikianlah yang dapat penulis paparkan bahwa sudah menjadi sunnah yang sangat dijaga oleh Rasulullah ﷺ bersiwak baik waktu akan shalat, bangun tidur. Sehingga beliau senantiasa melalukannya. Selanjutnya hal tersebut juga selayaknya untuk ditauladani dan menjadi kebiasaan yang rutin. Oleh sebab itu, bagi orang Islam yang beriman dan memegang sunnah beliau hendaknya mengikuti hal ini.

Disisi lain, pada masa modern ini telah banyak yang dapat menggantikan sunnah bersiwak ini yaitu bahan yang digunakan. Berbagaimacam jenis baik nama maupun bahan yang digunakan untuk membersihkan gigi dan mulut. Mulai dari Pepsoden, Deliden sampai merek Siwak itu sendiri. Secara subtansial ini adalah merek dan bahan agar gigi dan mulut tetap bersih dan segar. Disisi lain kebersihan adalah bahagian dari bukti keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Menjaga kesehatan organ tubuh juga merupakan hal yang wajib agar tetap sehat dan bugar. Apalagi untuk beribadah kepada Allah, agar lebih nyaman dan khusyuk.

Selanjutnya, menyikapi perbedaan asumsi sebagian umat muslim tentang apakah bersiwak harus dengan kayu siwak atau boleh diganti dengan yang sepadan dengan itu sepenuhnya diserahkan kepada pemahaman masing-masing. Karena hadits-hadits yang terkait dengan bersiwak pada dasarnya bertujuan menjaga kebersihan dan kesegaran mulut, buktinya sebagaimana hadits riwayat Abu Daud: 53 di atas.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]