PENENTU KIAMAT
(perbandingan laki-laki dan wanita waktu itu)
Oleh: Samsurizal, MA
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Menyimak dari perkembangan peradaban kemanusiaan wanita menjadi topik yang unik dan eksotik. Dibalik hal tersebut tersimpan bom waktu yang dapat menghancurkan peradaban tersebut, jika tidak lagi menaati syari'at sehingga mereka tanpa beban menuntut seperti kodrat dan haknya laki-laki. Aturan-aturan dibuat menjadi maunya penyetaraan dan pemerataan keadilan versi pendapat manusia.
Begitu juga dalam urusan keluarga, mereka adalah sekolah pertama bagi anak keturunan mereka. Lambat laun akan berubah menjadi petaka bagi anak keturunan mereka sendiri.
Sepanjang hal tersebut terus berjalan dan bahkan peran mereka tidak dikontrol dengan ajaran Islam, maka kehancuran dimulai dari kelompok terkecil yaitu keluarga sampai seluruh urusan dunia. Oleh karena itu, wajar Rasulullah ﷺ memprediksi sebagaimana Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَأُحَدِّثَنَّكُمْ بِحَدِيثٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُحَدِّثُكُمْ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعْتُهُ يَقُولُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ فِي الْخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ. (رواه أحمد: ١١٧٦٤)
Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas bin Malik ia berkata, "Sungguh aku akan bacakan hadits yang pernah aku dengar dari Rasulullah ﷺ, yang tidak akan ada seorang pun yang membacakannya setelahku, aku mendengarnya bersabda, "Tidak akan datang hari kiamat hingga pada setiap lima puluh wanita terdapat satu orang laki-laki, wanita akan semakin banyak dan laki-laki akan semakin sedikit." (HR. Ahmad: 11764 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Pada tempat lain imam Ahmad meriwayatkan bahwa,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّهُ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا تُمْطِرَ السَّمَاءُ وَلَا تُنْبِتَ الْأَرْضُ وَحَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ وَحَتَّى أَنَّ الْمَرْأَةَ لَتَمُرُّ بِالْبَعْلِ فَيَنْظُرُ إِلَيْهَا فَيَقُولُ لَقَدْ كَانَ لِهَذِهِ مَرَّةً رَجُلٌ ذَكَرَهُ حَمَّادٌ مَرَّةً هَكَذَا وَقَدْ ذَكَرَهُ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَشُكُّ فِيهِ وَقَدْ قَالَ أَيْضًا عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَحْسِبُ. (رواه أحمد: ١٣٥٣٦)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad dari Tsabit dari Anas berkata; kami berbincang-bincang tidak akan terjadi Kiamat sehingga langit tidak menurunkan hujan, bumi tidak menumbuhkan (tanaman) dan sampai jika ada jumlah lima puluh wanita hanya ada satu laki-laki yang mengurusinya. Sampai ada seorang wanita yang melewati seorang laki-laki, lalu si laki-laki melihat wanita itu dan berkata; 'Aduhai sekiranya ada laki-laki lain untuk menikahi wanita ini.' Seorang yang disebutkan Hammad sekali begini. Dan dia Hammad telah menyebutkan dari Tsabit dari Anas dari Nabi ﷺ dengan tidak ragu dan dia telah berkata juga dari Anas dari Nabi ﷺ menurut persangkaannya. (HR. Ahmad: 13536 - isnadnya shahih menurut Syu'aib al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwa sudah menjadi sunnatullah terhadap wanita dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Seiring berjalannya waktu akan semakin jelas perbandingan jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki di bumi (dunia) menjelang datangnya hari Kiamat.
Dilain pihak, konstribusi wanita terhadap peradaban akan semakin meningkat sehingga mereka cenderung melupakan kodrat mereka sebagai makhluk Allah yang punya andil dan peran terbesar dalam urusan rumah tangga menjadi keluar dari belenggu tersebut. Akibatnya akan semakin besar kemungkinan terjadinya uruhara, karena urusan yang lazimnya diemban oleh laki-laki, namun kelaziman tersebut berubah yaitu diemban oleh wanita.
Dengan demikian, wajarlah terjadi banyaknya fitnah dan kekejian dikalangan masyarakat dan pergerakan pemikiran. Awalnya peran mereka membina anak-anak, kini beralih membina peradaban dunia. Kekokohan pendirian dan pemikiran beralih menjadi rapuh dan lemah.
Lebih lanjut disinyalir akan banyak diakhir zaman para wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Sehingga ini menjadi indikasi bahwa penghuni neraka didominasi oleh wanita. Pada gilirannya, peran laki-laki menjadi sedikit dan digantikan secara simultan oleh wanita. Seterusnya, kaum laki-laki menjadi terlena dengan pergeseran peran yang terjadi.
Oleh karena itu, baik laki-laki maupun wanita hendaknya senantiasa istiqamah dan tetap dalam bimbingan agama yang lurus yaitu Islam. Menerima syari'at dengan ikhlash dan selalu berharap keridhaan-Nya. Sehingga, peran tersebut terabaikan dengan keteguhan hati menjalan dan ridha terhadap apa pun yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Walau pun kebanyakkan dari kaum wanita menjadi korban fitnah dan melepaskan kodratnya.
Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala berikut:
اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا. (قرآن سورة الأحزاب/٣٣: ٣٥)
"Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS.Al-Aḥzāb/33: 35)
Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat-sifat hamba-Nya yang akan diampuni segala dosa dan kesalahannya serta dimasukkan ke dalam surga. Sifat-sifat mereka ada sepuluh macam:
1. Taat dan tunduk kepada hukum Islam, baik ucapan maupun perbuatan.
2. Membenarkan dan memercayai ajaran Allah dan rasul-Nya.
3. Selalu melaksanakan perintah-perintah agama dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan.
4. Selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, sebagai tanda keimanan yang sempurna. Dalam sebuah hadis yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Peganglah kebenaran, bahwa kebenaran itu membawa pada kebajikan, dan kebajikan akan membawa masuk surga, dan jauhilah dusta, sebab dusta itu membawa pada kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka.”
5. Sabar menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam melaksanakan perintah Allah serta menahan syahwat dan hawa nafsu.
6. Khusyuk dan tawadhuk kepada Allah, baik jasmani maupun rohani, dalam melaksanakan semua tugas dan kewajiban dan keikhlasan semata-mata untuk mencari keridaan Allah.
7. Bersedekah dengan harta dan memberi bantuan kepada mereka yang serba kekurangan dan tidak mempunyai penghasilan.
8. Berpuasa yang dapat membantu menundukkan syahwat dan hawa nafsu, sebagaimana tercantum di dalam sabda Rasulullah ﷺ:
يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَاَحْصَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (رواه البخاري ومسلم عن ابن مسعود)
“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk kawin silakan kawin, karena perkawinan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang belum mampu, supaya berpuasa, karena berpuasa itu dapat membendung syahwatnya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas‘ud);
9. Menjaga kemaluan dan kehormatan dari segala perbuatan yang haram dan keji, sesuai dengan firman Allah:
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ. (قرآن سورة المؤمنون/٢٣: ٥)
"dan orang yang memelihara kemaluannya," (QS. Al-Mu'minūn/23: 5)
اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ. (قرآن سورة المؤمنون/٢٣: ٦)
"kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela." (QS. Al-Mu'minūn/23: 6)
فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ ۚ. (قرآن سورة المؤمنون/٢٣: ٧)
"Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-Mu'minūn/23: 7)
10. Selalu ingat kepada Allah dengan lidah dan hati, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Mujahid yang menyatakan bahwa seseorang itu belum disebut banyak mengingat Allah kecuali bila sudah dapat mengingat-Nya sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Abu Sa‘id al-Khudri telah meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah bersabda:
اِذَا اَيْقَظَ الرَّجُلُ اِمْرَاَتَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كَانَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الله َكَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ. (رواه ابوداود والنسائى وابن ماجه)
“Apabila seorang suami membangunkan seorang istrinya di malam hari lalu mereka shalat tahajud dua rakaat, maka mereka berdua pada malam tersebut termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.” (Riwayat Abu Daud, an-Nasa'i, dan Ibnu Majah)
Dalam hadis yang lain dari Sahal bin Mu‘adz al-Juhani dari ayahnya diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
اَيُّ الْمُجَاهِدِيْنَ اَعْظَمُ اَجْرًا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرًا. قَالَ: أَيُّ الصَّائِمِيْنَ اَكْثَرُ اَجْرًا؟ قَالَ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرًا ثُمَّ ذَكَرَ الصَّلاَةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ رَسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا. فَقَالَ اَبُوْ بَكْرٍ لِعُمَرَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: ذَهَبَ الذَّاكِرُوْنَ بِكُلِّ خَيْرٍ. فَقَالَ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَجَلْ. (رواه احمد)
“Pejuang-pejuang manakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah?” Nabi ﷺ menjawab, “Yang paling banyak ingatnya kepada Allah. Lalu ia bertanya lagi,” Cara orang yang berpuasa manakah yang paling besar pahalanya?” Nabi ﷺ menjawab, “Yang paling banyak ingat kepada Allah.” Kemudian dia menyebutkan pula orang yang shalat, berzakat, naik haji dan bersedekah, dan pada kesemuanya itu Nabi ﷺ mengatakan, “Mereka yang paling banyak ingatnya kepada Allah.” Abu Bakar lalu berkata kepada Umar, “Orang yang banyak ingatnya kepada Allah telah membawa semua kebajikan.” Dan Nabi ﷺ menambahkan, “Memang demikianlah.” (Riwayat Ahmad)
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏