SYA'IR RASULULLAH ﷺ DAN PARA SHAHABAT
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P
Sya'ir adalah salah satu jenis puisi klasik yang memperoleh pengaruh kebudayaan Arab. Syair termasuk salah satu puisi lama yang berasal dari Persia dan dibawa ke dalam sastra Indonesia bersama dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Dalam makna lain, Sya'ir adalah puisi yang berasal dari Persia dan digubah melalui suatu bahasa yang ditata secara apik. Sya'ir merupakan ungkapan dari kejujuran dan kedalaman perasaan seorang penyair.
Terbentuknya bait-bait sya'ir dipengaruhi oleh imajinasi seseorang memandang dan memahami objek dan diungkapkan dalam bentu kalimat-kalimat yang indah dan menggetarkan pendengarnya. Sehingga memberikan kesan dan pengaruh pada mereka. Hal tersebut dapat berupa metafora dan ungkapan sindiran serta pujian.
Melirik beberapa riwayat tentang sya'ir, maka akan ditemukan pengetahuan yang sesuai dan pernah diungkapkan dan diizinkan dan bahkan dilarang atau dibenci oleh Rasullah ﷺ. Begitu juga dapat juga dikaitkan dengan kehidupan yang menyenangkan dan abstraksi kekaguman pada seseorang dan lain sebagainya. Berikut penulis paparkan riwayat-riwayat dimaksud.
Imam al-Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ التُّرَابَ وَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ وَهُوَ يَقُولُ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا
وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا
فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا
وَثَبِّتْ الْأَقْدَامَ إِنْ لَاقَيْنَا
إِنَّ الْأُلَى قَدْ بَغَوْا عَلَيْنَا
إِذَا أَرَادُوا فِتْنَةً أَبَيْنَا. (رواه البخاري: ٢٦٢٥)
Telah bercerita kepada kami Hafsh bin 'Amru, telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dari Al Bara' radhiallahu'anhu berkata, Aku melihat Rasulullah ﷺ pada perang al-Ahzab mengangkut tanah bebatuan dimana tanah-tanah itu telah menutup perut Beliau yang putih sambil bersyair, "Kalaulah bukan karena Engkau ya Allah, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk, tidak pula menunaikan zakat dan mendirikan salat. Untuk itu turunkanlah sakinah (ketenangan) kepada kami, dan kuatkanlah kaki-kaki kami bila bertemu (musuh). Sesungguhnya orang-orang (itu) telah berbuat aniaya terhadap kami, jika mereka menghendaki fitnah, kami tidak pernah peduli (menyerah)." (HR. Al-Bukhari: 2625 - shahih dari al-Barra' bin 'Azib bin al-Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Imarah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 72 H)
Pada kesempatan lain juga pernah terjadi bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan para shahabat bersya'ir. Sebagaimana diinformasikan oleh imam al-Bukhari,
حَدَّثَنَا عَلِيٌّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ بُنِيَ عَلَيَّ فَجَلَسَ عَلَى فِرَاشِي كَمَجْلِسِكَ مِنِّي وَجُوَيْرِيَاتٌ يَضْرِبْنَ بِالدُّفِّ يَنْدُبْنَ مَنْ قُتِلَ مِنْ آبَائِهِنَّ يَوْمَ بَدْرٍ حَتَّى قَالَتْ جَارِيَةٌ وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَقُولِي هَكَذَا وَقُولِي مَا كُنْتِ تَقُولِينَ. (رواه البخاري: ٣٧٠٠)
Telah menceritakan kepada kami 'Ali, telah menceritakan kepada kami Bisyir bin Al Mufadldlal, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan dari ar-Rabi' binti Mu'awwidz berkata, Nabi ﷺ datang menemuiku pada pagi hari dimana aku diserahkan kepada suamiku. Lalu beliau duduk di atas tikarku seperti posisi dudukmu di hadapanku ini, dan gadis-gadis kecil menabuh rebana sembari menyenandungkan syair-syair yang berisi pujian-pujian terhadap bapak-bapak mereka yang meninggal pada waktu perang Badar hingga ada salah seorang anak yang berkata, "Bersama kami ada Nabi yang mengetahui apa yang bakal terjadi besok." Maka Nabi ﷺ segera berkata, "Janganlah kamu mengatakan begitu, ucapkan saja syair yang tadi kalian lantunkan". (HR. Al-Bukhari: 3700 - shahih dari ar-Rabi' binti Mu'awwidz bin 'Afra', ia shahabiyah dan negeri hidup Madinah)
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ
كُنَّا نَجْلِسُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا يَتَنَاشَدُونَ الْأَشْعَارَ وَيَتَذَاكَرُونَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَاكِتٌ فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ أَوْ قَالَ كُنَّا نَتَنَاشَدُ الْأَشْعَارَ وَنَذْكُرُ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ٢٠١٠٢)
Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Khuza'i, telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Simak dari Jabir ia berkata, "Kami sedang duduk-duduk di sekeliling Rasulullah ﷺ saat para sahabat melantunkan syair dan menyebut-nyebut perkara jahiliah. Dan Rasulullah ﷺ tetap diam, atau barangkali beliau tersenyum. Atau Jabir menyebutkan, "Kami bersenandung syair dan menyebut-nyebut sesuatu dari perkara jahiliah sedang Rasulullah ﷺ tersenyum." (HR. Ahmad: 20102 - hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah 54 H)
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi: 2777 (shahih dan 'aziz diakhir sanad), Ahmad: 19973 (hasan) - dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah 54 H. Kedua hadits ini ditambahkan kalimat "ma'ahum", artinya Rasulullah ﷺ ikut tersenyum bersama mereka. Sebagaimana imam At-Tirmidzi meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ
جَالَسْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ مَرَّةٍ فَكَانَ أَصْحَابُهُ يَتَنَاشَدُونَ الشِّعْرَ وَيَتَذَاكَرُونَ أَشْيَاءَ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ وَهُوَ سَاكِتٌ فَرُبَّمَا تَبَسَّمَ مَعَهُمْ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَوَاهُ زُهَيْرٌ عَنْ سِمَاكٍ أَيْضًا. (رواه الترمذي: ٢٧٧٧)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah mengabarkan kepada kami Syarik dari Simak dari Jabir bin Samurah ia berkata, Aku menemani Nabi ﷺ lebih dari seratus kali, para sahabat beliau menyenandungkan syair, mereka menyebut-nyebut perkara jahiliah, sementara beliau diam, kadang beliau tersenyum bersama mereka." Abu Isa berkata, Hadits ini hasan shahih. Zuhair juga meriwayatkannya dari Simak. (HR. At-Tirmidzi: 2777 - shahih dari Jabir bin Samrah bin Janadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah 54 H)
Sebagaimana halnya hadits riwayat imam Ahmad,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شَرِيكٍ عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَ قُلْتُ لَهَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِي شَيْئًا مِنْ الشِّعْرِ قَالَتْ نَعَمْ شِعْرَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ كَانَ يَرْوِي هَذَا الْبَيْتَ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ. (رواه أحمد: ٢٣٩٢٠)
Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Syarik dari Al Miqdam bin Syuraih dari ayahnya dari Aisyah, (ayahnya Syuraih) Berkata, saya berkata kepada (Aisyah), "(benarkah) Rasulullah ﷺ pernah membawakan syair?" (Aisyah) Berkata, "Ya, tepatnya syair Abdullah bin Rawahah, dia membawakan bait berikut ini: 'Akan datang hari kepadamu membawa kabar seseorang yang kamu tidak membekalinya.'" (HR. Ahmad: 23920 - hasan lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Syarik bin 'Abdullah bin Abi Syarik, ia tabi'ut tabi'in kalangan pertengahan Abu 'Abdullah negeri hidup Kufah dan wafat tahun 177 H, dinilai oleh Ibnu Hajar "shaduq, terdapat kesalan". Sedangkan Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim menilainya shaduq, begitu halnya Yahya bin Ma'in menilainya shaduq tsiqah. Abu Daud menilainya tsiqah. Sementara Adz-Dzahabi berkata, "seorang tokoh".
Syair Rasulullah ﷺ waktu perang Khandaq.
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَدَاةٍ بَارِدَةٍ وَالْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ يَحْفِرُونَ الْخَنْدَقَ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّ الْخَيْرَ خَيْرُ الْآخِرَهْ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَهْ فَأَجَابُوا نَحْنُ الَّذِينَ بَايَعُوا مُحَمَّدَا عَلَى الْجِهَادِ مَا بَقِينَا أَبَدَا. (رواه البخاري: ٦٦٦١)
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Ali, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits, telah menceritakan kepada kami Humaid dari Anas radhiallahu'anhu; Nabi ﷺ berangkat di suatu pagi yang dingin sedang kaum Muhajirin dan Anshar sedang menggali Khandaq (parit), lantas Nabi melantunkan sebuah bait syair, "Ya Allah, sesungguhnya kebaikan sejati adalah kebaikan akhirat, maka ampunilah kaum Anshar dan muhajir." Serta merta para sahabat menyahut dengan bait syair, "Kita adalah yang berbaiat kepada Muhammad untuk jihad sepanjang hayat." (HR. Al-Bukhari: 6661 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh:
HR. at-Tirmidzi: 3791 - shahih dari Sahal bin Sa'ad bin Malik, ia shahabat kuniyahnya Abu al-'Abbas negeri hidup Madinah dan wafat tahun 88 H.
HR. Muslim: 3367 (hadits 'aziz diakhir sanad), 3370, Ibnu Majah: 734, Ahmad: 12271, 12385, 12483, 12653, 13072, 13154, 13445, dan 13554 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.
HR. Ahmad: 25277 dan 25458 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hind binti Abi Umayyah bin al-Mughirah, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu Salamah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 62 H.
BERSYA'IR DI MASJID
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا يَعْلَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ
مَرَّ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى حَسَّانَ وَهُوَ يُنْشِدُ الشِّعْرَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ فِي مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُنْشِدُ الشِّعْرَ قَالَ كُنْتُ أُنْشِدُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ أَوْ كُنْتُ أُنْشِدُ فِيهِ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ. (رواه أحمد: ٢٠٩٢٧)
Telah menceritakan kepada kami Ya'la, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amr dari Yahya bin 'Abdur Rahman, ia berkata, 'Umar radhiallahu'anhu melawati Hassan saat tengah bersyair di masjid kemudian 'Umar berkata, di masjid Rasulullah ﷺ syair disenandungkan? Hassan berkata, 'Saya pernah bersyair dan di dalam masjid ada orang yang lebih baik darimu (yaitu Nabi ﷺ).' (HR. Ahmad: 20927 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Demikian juga hadits riwayat imam An-Nasa'i, beliau berkata:
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ مَرَّ عُمَرُ بِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ وَهُوَ يُنْشِدُ فِي الْمَسْجِدِ فَلَحَظَ إِلَيْهِ فَقَالَ قَدْ أَنْشَدْتُ وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ ثُمَّ الْتَفَتَ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَجِبْ عَنِّي اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ قَالَ اللَّهُمَّ نَعَمْ. (رواه النسائي: ٧٠٩)
Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az Zuhri dari Sa'id bin Al Musayyab dia berkata, "Umar pernah melewati Hasan bin Tsabit yang sedang membaca syair di dalam masjid, maka Umar memperingatkannya. Hassan berkata, Aku pernah pernah membaca syair dalam masjid padahal orang yang lebih baik daripada kamu (maksudnya Nabi ﷺ) berada di dalam masjid tersebut. Kemudian dia menoleh kepada Abu Hurairah sambil berkata, 'Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah ﷺ memohon Ya Allah, kabulkanlah untukku, kuatkanlah ia dengan Ruhul Qudus (Jibril)?' Maka (Abu Hurairah) menjawab, 'Ya Allah, benar'. (HR. An-Nasa'i: - shahih dari Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H dan Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 434, 2973, dan 5686, Muslim: 4539 (dengan 12 jalur sanad), Ahmad: 7324, dan 20926 - shahih dari Hasan bin Tsabit dan Abu Hurairah.
Imam Muslim meriwayatkan tentang Hasaan bin Tsabit pernah bersya'ir dihadapan 'Aisyah. Beliau berkata,
حَدَّثَنِي بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ
دَخَلْنَا عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَعِنْدَهَا حَسَّانُ بْنُ ثَابِتٍ يُنْشِدُهَا شِعْرًا يُشَبِّبُ بِأَبْيَاتٍ لَهُ وَقَالَ حَصَانٌ رَزَانٌ مَا تُزَنُّ بِرِيبَةٍ
وَتُصْبِحُ غَرْثَى مِنْ لُحُومِ الْغَوَافِلِ
فَقَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ لَكِنَّكَ لَسْتَ كَذَلِكَ قَالَ مَسْرُوقٌ فَقُلْتُ لَهَا لِمَ تَأْذَنِينَ لَهُ أَنْ يَدْخُلَ عَلَيْكِ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى
{ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ }
فَقَالَتْ وَأَيُّ عَذَابٍ أَشَدُّ مِنْ الْعَمَى قَالَتْ لَهُ إِنَّهُ كَانَ يُنَافِحُ أَوْ يُهَاجِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري: ٣٨٣١)
Telah menceritakan kepadaku Bisyir bin Khalid, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ja'far dari Syu'bah dari Sulaiman dari Abu Adl Dhuha dari Masruq ia berkata, "Aku menemui 'Aisyah sementara Hassan bin Tsabit di sampingnya tengah melantunkan bait-bait syair untuk memujinya. Hassan bersyair, "Yang memelihara dirinya, teguh dan tidak mudah terperdaya, Jadilah ia sasaran orang-orang yang lalai." 'Aisyah berkata kepadanya, "Tetapi kamu tidak termasuk seperti itu." Masruq berkata, aku bertanya kepada 'Aisyah, "Mengapa Anda mengizinkan dia menemuimu, padahal Allah telah berfirman, "Dan orang yang berperan besar diantara mereka baginya akan mendapatkan siksa yang besar." (QS. An-Nur/24: 11). 'Aisyah berkata, "Siksa apakah yang lebih berat dari kebutaan?" 'Aisyah melanjutkan, "Sungguh dia pernah membela Rasulullah ﷺ untuk mencaci musuh." (HR. Al-Bukhari: 3831 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Selaras dengan hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبٍ عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اهْجُوا بِالشِّعْرِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُجَاهِدُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ كَأَنَّمَا يَنْضَحُوهُمْ بِالنَّبْلِ. (رواه أحمد: ١٥٢٣٥)
Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Bahr, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi dari Muhammad bin Abdullah bin saudara Ibnu Syihab dari Ibnu Syihab dari Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik dari Ka'ab bin Malik berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Cacilah musuh dengan syair, karena seorang mukmin berjihad dengan jiwa dan hartanya. Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, syair yang kalian lontarkan kepada musuh, adalah ibarat panah yang kalian lemparkan kepada mereka.' (HR. Ahmad: 15235 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ka'ab bin Malik bin Abi Ka'ab 'Amru, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)
Ka'ab bin Malik juga pernah meminta pendapat Rasulullah ﷺ tentang sya'ir, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad:
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ كَعْبَ بْنَ مَالِكٍ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الشِّعْرِ مَا أَنْزَلَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ أَنْزَلَ فِي الشِّعْرِ مَا قَدْ عَلِمْتَ وَكَيْفَ تَرَى فِيهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يُجَاهِدُ بِسَيْفِهِ وَلِسَانِهِ. (رواه أحمد: ١٥٢٢٥)
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri berkata, telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik, ketika Allah Tabaraka Wa Ta'ala menurunkan ayat tentang syair, Ka'ab bin Malik selalu mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, Allah Tabaraka Wa Ta'ala telah menurunkan tentang syair seperti yang telah Anda ketahui, bagaimana pendapatmu? Nabi ﷺ bersabda, "Seorang mukmin akan berjihad dengan pedangnya dan lisannnya". (HR. Ahmad: 15225 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ka'ab bin Malik bin Abi Ka'ab 'Amru, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 51 H)
Rasulullah ﷺ membenarkan sya'ir Labib, sebagaimana hadits riwayat imam Muslim,
و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا شَاعِرٌ كَلِمَةُ لَبِيدٍ أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلٌ
وَكَادَ أُمَيَّةُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ أَنْ يُسْلِمَ. (رواه مسلم: ٤١٨٧)
Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim bin Maimun, telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dari Sufyan dari 'Abdul Malik bin 'Umair, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sya'ir paling benar yang pernah diucapkan oleh penyair adalah syairnya Labid. Labid bersyair: Alaa, kullu syaiin maa khalallaha bathil (Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah itu pasti binasa). Dan hampir saja Umayyah bin Abu Shalt masuk Islam. (HR. Muslim: 4187 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 3553, 5681, 6008, Muslim: 4188, 4190, At-Tirmidzi: 2776, Ibnu Majah: 3747, Ahmad: 7079, 8747, 9525, 9694, dan 9840 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Hanya saja terdapat perbedaan matan dengan riwayat lainnya pada riwayat imam Ahmad: 9840, imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ أَبِي حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْعَرُ كَلِمَةٍ قَالَتْهَا الْعَرَبُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِلُ. (رواه أحمد: ٩٨٤٠)
Telah menceritakan kepada kami Waki', bapakku berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abdul Malik bin 'Umair dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Kalimat syair yang paling bagus diucapkan oleh bangsa Arab adalah kalimat syair milik Labid, 'ketahuilah bahwa segala sesuatu selain Allah adalah batil.'" (HR. Ahmad: 9840 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Semua hadits di atas diriwayatkan melalui dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Demikian halnya hadits riwayat imam Ahmad,
حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْلَى بْنِ كَعْبٍ الطَّائِفِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنْشَدَهُ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ قَالَ فَأَنْشَدَهُ مِائَةَ قَافِيَةٍ فَلَمْ أُنْشِدْهُ شَيْئًا إِلَّا قَالَ إِيهِ إِيهِ حَتَّى إِذَا اسْتَفْرَغْتُ مِنْ مِائَةِ قَافِيَةٍ قَالَ كَادَ أَنْ يُسْلِمَ. (رواه أحمد: ١٨٦٤٥)
Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Qasim, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman bin Ya'la bin Ka'ab Ath Tha`ifi dari Amru bin Syarid dari bapaknya bahwa Rasulullah ﷺ meminta kepadanya untuk membalas syair Umayyah bin Ash Shalt, maka ia pun membacakan seratus bait. Ia berkata, "Tidaklah saya membacakan syair padanya, kecuali berkata, 'Itu benar,. memang.' Hingga jika saya selesai membacakan seratus bait, beliau bersabda; Nyaris dia masuk Islam." (HR. Ahmad: 18645 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari asy-Syarid bin Suwaid, ia shahabat)
Abu Thalib pernah bersya'ir untuk menggambarkan barakahnya kehadiran Rasulullah ﷺ. Sebagaimana diinformasikan oleh imam Ibnu Majah dalam riwayatnya:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ حَمْزَةَ حَدَّثَنَا سَالِمٌ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رُبَّمَا ذَكَرْتُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَمَا نَزَلَ حَتَّى جَيَّشَ كُلُّ مِيزَابٍ بِالْمَدِينَةِ فَأَذْكُرُ قَوْلَ الشَّاعِرِ وَأَبْيَضَ يُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ ثِمَالُ الْيَتَامَى عِصْمَةٌ لِلْأَرَامِلِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي طَالِبٍ. (رواه إبن ماجه: ١٢٦٢)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad Ibnul Azhar berkata, telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil dari Umar bin Hamzah berkata, telah menceritakan kepada kami Salim dari Bapaknya ia berkata, "Aku ingat perkataan syair ketika memperhatikan wajah Rasulullah ﷺ di atas mimbar, dan beliau tidak turun dari atas mimbar kecuali semua saluran air di Madinah penuh dengan air. Aku mengingat perkataan syair, "Orang yang berkulit putih (Rasulullah), dengan wajahnya hujan di minta, penyantun anak yatim dan pelindung kaum janda. " Itu adalah ucapan Abu Thalib. (HR. Ibnu Majah: 1262 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Dalam suatu perjalanan, sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ ثَابِتٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ وَحَادٍ يَحْدُو بِنِسَائِهِ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا هُوَ قَدْ تَنَحَّى بِهِنَّ قَالَ فَقَالَ يَا أَنْجَشَةُ وَيْحَكَ ارْفُقْ بِالْقَوَارِيرِ. (رواه أحمد: ١٢٣٠٠)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, ia berkata, telah bercerita kepadaku Syu'bah dari Tsabit, ia berkata, Aku mendengar Anas bin Malik berkata, "Tatkala Rasulullah ﷺ melakukan suatu perjalanan, orang yang mengemudikan istri-istri beliau sedang melantunkan syair, maka Rasulullah ﷺ pun tertawa, padahal sebelumnya beliau menjauh dari istri-istrinya." Anas melanjutkan, "Kemudian beliau bersabda, "Wahai Anjasyah, hati-hatilah terhadap kaca. (HR. Ahmad: 12300 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)
LARANGAN DAN SANGGAHAN TERHADAP SYA'IR
Sementara itu istri Rasulullah ﷺ ('Aisyah) memberikan pernyataan bahwa syair adalah perkataan yang beliau benci. Sebagaimana
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ شَيْبَانَ عَنْ أَبِي نَوْفَلٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتَسَامَعُ عِنْدَهُ الشِّعْرُ فَقَالَتْ كَانَ أَبْغَضَ الْحَدِيثِ إِلَيْهِ. (رواه أحمد: ٢٣٩٩٥)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Al Aswad bin Syaiban dari Abi Naufal berkata, saya telah bertanya kepada Aisyah, "Apakah Rasulullah ﷺ memperdengarkan syair?" (Aisyah) Berkata, "Syair adalah perkataan yang paling beliau benci." (HR. Ahmad: 23995 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Dan diulang lagi pada riwayat imam Ahmad: 24378 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Sanad dan matan yang sama,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو نَوْفَلِ بْنُ أَبِي عَقْرَبٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُتَسَامَعُ عِنْدَهُ الشِّعْرُ قَالَتْ كَانَ أَبْغَضَ الْحَدِيثِ إِلَيْهِ. (رواه أحمد: ٢٣٨٧١)
Telah menceritakan kepada kami Affan, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Aswad bin Syaiban, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Naufal bin Abi `Aqrab berkata, saya bertanya kepada Aisyah, "Apakah pernah dilantunkan syair di depan Rasulullah ﷺ.?" Aisyah menjawab: "(syair) adalah perkataan yang paling beliau benci." (HR. Ahmad: 23871 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Hadits dha'if tentang sya'ir, sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا الشُّعَيْثِيُّ عَنْ زُفَرَ بْنِ وَثِيمَةَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ الْمَسَاجِدُ لَا يُنْشَدُ فِيهَا الْأَشْعَارُ وَلَا تُقَامُ فِيهَا الْحُدُودُ وَلَا يُسْتَقَادُ فِيهَا قَالَ أَبِي لَمْ يَرْفَعْهُ يَعْنِي حَجَّاجًا. (رواه أحمد: ١٥٠٢٨)
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Asy-Syu'aisyi dari Zufar bin Watsimah dari Hakim bin Hizam berkata, Masjid itu tidak boleh di lantunkan di dalamnya syair-syair, tidak boleh digunakan untuk melaksanakan hukuman (had), juga tidak boleh untuk meminta balasan (qishas) di dalamnya. Bapakku berkata, Hajjaj tidak memarfu'kannya. (HR. Ahmad: 15028 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hakim bin Hizam bin Khuwailid, ia shahabat kuniyahnya Abu Khalid negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 54 H)
Hadits ini terkait dengan sya'ir, ia bertentangan dengan HR. Ahmad: 20927 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Hassan bin Tsabit bin al-Mundzir, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H.
Catatan: dalam riwayat imam Ahmad: 15028 terdapat dua periwayat yang dinilai jarah oleh ulama kritikus hadits. Pertama, Zufar bin Watsimah bin Malik, ia tabi'in kalangan pertengahan dan negeri hidup Syam. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam Ats tsiqat". Adz-Dzhabi berkata, "mereka men-tsiqah-kannya". Sedangkan Ibnu Hajar menilainya maqbul. Sementara Ibnul Qaththan berkata, "tidak dikenal". Kedua, Muhammad bin 'Abdullah bin al-Muhajir, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa dan negeri hidup Syam. Ibnu Hibban mengatakan, "disebutkan dalam Ats tsiqat". Dahim menilainya tsiqah, dan An-Nasa'i menilainya laisa bihi ba'sa. Sedangkan Abu Hatim menilainya dha'if. Ibnu Hajar menilainya shaduq.
LEBIH lanjut,
حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ يُحَنَّسَ مَوْلَى مُصْعَبِ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نَسِيرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعَرْجِ إِذْ عَرَضَ شَاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لَأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ الرَّجُلِ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا. (رواه أحمد: ١٠٩٤١)
Telah menceritakan kepada kami Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Laits dari Yazid -yaitu Ibnul Had- dari Yuhannas mantan budak Mush'ab Ibnu Az Zubair dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, "Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah ﷺ di suatu tempat, tiba-tiba seorang penyair melantunkan syair, maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tangkaplah setan itu, -atau beliau mengatakan, - "Tahanlah setan itu. Sungguh, sekiranya perut salah seorang dari kalian dipenuhi oleh muntahan, adalah lebih baik daripada mulutnya penuh dengan syair." (HR. Ahmad: 10941 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H)
Diulang lagi pada riwayat imam Ahmad: 10635 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.
Terkait dengan firman Allah dalam QS. Yāsīn/36 ayat 69,
وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ. (قرآن سورة يس/٣٦)
Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad) dan (bersyair) itu tidaklah pantas baginya. (Wahyu yang Kami turunkan kepadanya) itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Al-Qur’an yang jelas. (QS. Yāsīn/36: 69)
Pada ayat ini, Allah membantah tuduhan kaum kafir yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah syair yang diciptakan oleh Nabi Muhammad ﷺ sendiri. Dengan demikian, menurut tuduhan mereka, Muhammad adalah seorang penyair. Hal ini dibantah keras pada ayat ini, karena Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang membawa kebenaran. Sedang Nabi Muhammad ﷺ bertugas menyampaikannya kepada umat manusia semua kebenaran yang diterima dari Allah. Nabi Muhammad bukan penyair yang hanya mengkhayal, tetapi rasul Allah yang membawa kebenaran untuk memperbaiki orang-orang jahiliah.
Al-Qur’an jauh berbeda dengan syair yang berkembang di tanah Arab ketika itu. perbedaan itu dapat dilihat dalam hal:
1. Syair Arab waktu itu merupakan rangkaian kalimat-kalimat yang terikat pada wazan (timbangan kalimat) atau pola tertentu, bahr-bahr (irama dan notasi dalam syair Arab) tertentu, seperti bahr kamil, bahr rajaz, dan lain-lain.
Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an susunan kalimatnya begitu indah, pilihan diksi kata-katanya begitu tepat, tetapi tidak terikat pada wazan dan bahr syair Arab.
2. Syair Arab juga terikat pada qafiyah, yaitu huruf akhir tertentu. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka rusaklah syair tersebut, sehingga ada unsur pemaksaan atau takalluf. Pada ayat-ayat Al-Qur’an memang ada beberapa huruf akhir yang sama sehingga bersajak (masju‘), tetapi menjadi lebih indah karena tidak kaku dan tidak ada unsur pemaksaan (takalluf).
3. Isi syair Arab biasanya berupa khayalan penyair dengan imajinasi yang tinggi sehingga melupakan banyak hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an semuanya sesuai dengan kenyataan, baik alam gaib maupun alam nyata, sehingga memberi informasi yang benar.
4. Syair-syair Arab biasanya berupa puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap raja atau kepala suku sehingga menjadikan para raja bertambah sombong. Syair bisa juga berisi celaan atau ejekan terhadap musuh sehingga meningkatkan permusuhan yang ada.
Sedangkan Al-Qur’an selalu berbicara masalah kebenaran tanpa membuat orang menjadi sombong, bahkan ayat Al-Qur’an melarang kesombongan dan rasa kebencian maupun permusuhan.
5. Syair-syiar Arab seringkali disusun dan dirangkai oleh penyair dan digunakan untuk mendapat hadiah sebagai mata pencaharian penyair. Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an semata-mata memberi informasi, petunjuk, dan pelajaran yang baik. Bahkan ayat Al-Qur’an tidak boleh diperjualbelikan dengan harga murah untuk memperoleh penghasilan tertentu.
Dari hal-hal di atas terbukti bahwa bahasa Al-Qur’an lebih indah dari syair dan kandungan isinya lebih baik dan memberi manfaat yang lebih besar bagi kehidupan manusia secara keseluruhan.
Allah menegaskan bahwa Dia tidak mengajarkan syair kepada Muhammad saw. Ia hanyalah mewahyukan Al-Qur’an kepadanya, untuk disampaikan kepada umat manusia. Tuduhan kaum musyrik dan kaum kafir bahwa Muhammad saw adalah penyair adalah tuduhan yang tidak patut dan tidak dapat diterima akal yang sehat.
Kemudian Allah menegaskan lagi bahwa Al-Qur’an yang disampaikan oleh Muhammad saw adalah pelajaran dan kitab suci yang memberikan penerangan kepada umat manusia untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Kaum musyrik mengatakan Al-Qur’an itu syair, karena kata-kata dan kalimat-kalimat yang terdapat di dalamnya demikian indah dan tepat. Bahkan kadang-kadang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah sihir, karena kata-kata dan susunan kalimatnya memang memesona siapa saja yang mendengarnya. Akan tetapi, tuduhan mereka ini sama sekali tidak benar. Al-Qur’an bukanlah sihir ataupun syair, karena syair merupakan susunan yang terikat kepada pola-pola tertentu, sedang Al-Qur’an tidaklah demikian.
........



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏