“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KENABIAN MUHAMMAD (NUR) DALAM PERSPEKTIF AL QUR'AN DAN AS-SUNNAH 

Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P

Bismillaahir rahmaanir rahiem

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

Nabi Muhammad adalah nabi terakhir, namun penobatan sebagai nabi oleh Allah sudah ada sebelum Nabi Adam 'alaihi salam dalam proses masih terpisah jasad dan ruhnya. Oleh karena itu, penyebutan Nabi Muhammad sebagai "Nur" dipahami bahwa ia sebagai awal mula segala sesuatu sesudah Allah. Sehingga pembentukan dari nur inilah senantiasa bergulir pada makhluk setelahnya. Hanya saja ia terhijab oleh kegelapan "kezhaliman" yang dibuat sendiri oleh makhluk Allah yang lain yaitu manusia dan jin.

Selanjutnya, istilah tersebut digunakan untuk menyebut cahaya hidayah dan syafaat. Dikalangan para sufi dan tarekat inilah yang menjadi incaran untuk pemurnian diri yang suci. Penemuan itu sudah dibahas dan diperdebatkan dikalangan mereka.

Pengertian Umum tentang Nur Muhammad:

Secara umum dipahami Nur Muhammad sebagai makhluk Allah yang paling awal, paling tinggi, paling mulia, dan paling utama.

1. Nur Muhammad adalah Nur Tuhan, tetapi bukan diri Tuhan. Nur adalah makhluk yang diciptakan Tuhan sejak zaman azali.

2. Untuk menegaskan bahwa nur adalah makhluk maka dikaitkan kepada nama Muhammad SAW. Nama Muhammad dipilih karena tidak ada nama makhluk Tuhan di dunia yang menampilkan Nur-Nya secara sempurna selain kekasih-Nya yang bernama Muhammad.

3. Sering pula (dikenal) dengan beberapa istilah seperti al-Qalam al-A'laa (pena tertinggi), al-Aql al-Awwal (akal utama), Amr Allah (urusan Allah), al-Ruh, al-Malak, al-Ruh al-Ilahi, al-Ruh al-Quddus, al-Haq al-Makhluk Bih atau al-Syajarah al-Baidha' karena seluruh makhluk memancar darinya, bagai pohon yang daripadanya muncul berbagai cabang dengan segala kompleksitasnya.*)

*) Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat 368 ”Nur Muhammad”, edisi: Kenabian, (Masjid Jendral Sudirman: Yogyakarta, 19 Oktober 2022); link: https://youtu.be/QgYtldAGzfU

Genealogi (asal-usul) tentang gagasan ini muncul dari Syaikh Muqatil bin Sulaiman ketika menafsirkan Al-Quran surat an-Nur ayat 35, dilanjutkan oleh Syaikh Sahal al-Tusturi (w. 283 H), kemudian dikembangkan lagi oleh Abu Mansur al-Hallaj (244 - 309 H), Ibnu 'Arabi. Kemudian dilanjutkan oleh murid beliau Syaikh Abdul Karim al-Jilli (penggagas: al-Insan al-Kamil). Mereka adalah para sufi dan memiliki kitab tafsir yang bercorak al-Syariy (sufistik). Berikut dalil-dalil naqli yang menjadi rujukan mereka.

Yang menjadi dasar pemahaman tentang Nur Muhammad dimaksud adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ. (قرآن سورة المائدة/٥: ١٥)

Wahai Ahlulkitab, sungguh rasul Kami telah datang kepadamu untuk menjelaskan banyak hal dari (isi) kitab suci yang kamu sembunyikan dan membiarkan (tidak menjelaskan) banyak hal (pula). Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab suci*) yang jelas. (QS. Al-Mā'idah/5: 15)

*) Cahaya dari Allah SWT maksudnya adalah Nabi Muhammad ﷺ, sedangkan kitab suci maksudnya adalah Al-Qur'an.

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad telah datang menerangkan sebagian dari apa yang mereka sembunyikan tentang syariat Allah yang tersebut dalam Taurat. Di antaranya apa yang diterangkan oleh Nabi seperti perhitungan amal dan balasannya di hari akhirat dan hukum rajam, tetapi banyak pula yang dibiarkan karena dianggapnya tidak begitu penting, seperti yang berkenaan dengan datangnya Muhammad ﷺ sebagai Nabi yang terakhir dan sifat-sifatnya.

Yang mendorong mereka untuk menyembunyikan apa yang mereka ketahui dari Taurat ialah disebabkan takut akan kehilangan kedudukan, pengaruh dan lain-lain yang berhubungan dengan keduniaan, termasuk perasaan yang tidak pernah lepas dari mereka, yaitu bahwa mereka adalah keturunan atau umat dari Nabi yang terbaik yakni keturunan dari Nabi Ishak, sedang Nabi Muhammad ﷺ adalah keturunan Nabi Ismail.

Keadaan Nabi Muhammad yang ummi (tidak pandai menulis dan membaca) menambah keberanian mereka untuk menyembunyikan apa yang ingin mereka sembunyikan, karena mereka mengira Nabi Muhammad tidak akan mengetahuinya, tetapi persangkaan mereka meleset dengan turunnya wahyu (Al-Qur’an) kepada Nabi yang mengungkapkan sebagian dari yang mereka sembunyikan itu yang menyebabkan banyak pendeta Yahudi masuk Islam. Hukum rajam yang disembunyikan oleh Yahudi kepada Nabi Muhammad saw masih terdapat sekarang dalam kitab Ulangan xxii.22-24: Perempuan bersuami atau laki-laki beristri kedapatan tidur bersama, “haruslah keduanya dibunuh mati.” Dan jika yang melakukan itu “seorang gadis yang masih perawan, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa keluar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati.”

Selanjutnya diterangkan arti telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan. Yang dimaksud dengan cahaya di sini ialah Nabi Muhammad ﷺ karena ia telah menerangi umat manusia dari alam kejahilan ke alam keimanan dan pengetahuan. Sedang yang dimaksud dengan “Kitab yang menjelaskan” di sini ialah Al-Qur’an yang menjelaskan syariat Allah yang diturunkan kepada Muhammad dan menjelaskan pula rahasia Ahli Kitab yang suka mengubah dan menyembunyikan sebagian isi Taurat dan Injil.

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ رَجُلٍ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى جُعِلْتَ نَبِيًّا قَالَ وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ. (رواه أحمد: ٢٢١٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Suraij bin An Nu'man, telah bercerita kepada kami Hammad dari Khalid Al Hadzdza` dari 'Abdullah bin Syaqiq dari seseorang berkata, Aku berkata, Wahai Rasulullah! Kapan baginda dijadikan nabi? Rasulullah ﷺ bersabda, "Saat Adam berada diantara ruh dan jasad (sebelum Adam diciptakan Allah)." (HR. Ahmad: 22128 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari dari seorang shahabat. Hadits mubhamat)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 16028 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari dari seorang shahabat bernama Maysarah Al Fajri ('Abdullah bin Abi Al Jadz'aa'). Atau dengan kalimat "kutibta". Sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مَنْصُورُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ بُدَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ مَيْسَرَةَ الْفَجْرِ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى كُتِبْتَ نَبِيًّا قَالَ وآدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ. (رواه أحمد: ١٩٦٨٦)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi, telah menceritakan kepada kami Manshur bin Sa'd dari Budail dari Abdullah bin Syaqiq dari Maysarah Al Fajri dia berkata, aku bertanya, "Wahai Rasulullah, kapankah engkau dicatat sebagai seorang Nabi?" Beliau bersabda, "Ketika Adam 'alaihissalam antara Ruh dan Jasad." (HR. Ahmad: 19686 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Abi Al Jadz'aa', ia shahabat dan negeri hidup Bashrah. Hadits ahlul Bashrah)

Selanjutnya pada jalur lain (Abu Hurairah) diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi dengan lafazh semakna, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو هَمَّامٍ الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعِ بْنِ الْوَلِيدِ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى وَجَبَتْ لَكَ النُّبُوَّةُ قَالَ وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَفِي الْبَاب عَنْ مَيْسَرَةَ الْفَجْرِ. (رواه الترمذي: ٣٥٤٢)

Telah menceritakan kepada kami Abu Hammam Al Walid bin Syuja' bin Al Walid Al Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Al Auza'i dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, sejak kapankah kenabian di nobatkan kepada Anda?" Beliau menjawab, "Ketika Adam masih berada antara ruh dan jasad."

Abu Isa berkata, "Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari hadits Abu Hurairah, kami tidak mengetahui kecuali dari jalur ini, dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Maisarah Al Fajri (lihat hadits riwayat imam Ahmad: 19686)." (HR. At Tirmidzi: 3542 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian uraian singkat tentang Nabi Muhammad sebagai makhluk pertama yang dinobatkan sebagai nabi sebelum Nabi Adam 'alaihissalaam. Pemahaman tersebut menginspirasi bahwa penyingkapan Nur Muhammad dalam diri manusia akan senantiasa ada, sehingga dia akan terlahir secara simultan. Oleh karena itu penentuan keturunan disebabkan adanya cahaya yang kemudian ia dapat dikotori dan dibersihkan dengan mengingat kembali asal muasal kejadian dan rahmat Allah kepada manusia sebagai manifestasi sempurna dari semua makhluk yang diciptakan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ يُزَكُّوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ بَلِ اللّٰهُ يُزَكِّيْ مَنْ يَّشَاۤءُ وَلَا يُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا. (قرآن سورة النساء/٤: ٤٩)

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun. (QS. An-Nisā'/4: 49)

Tugas Nabi Muhammad ﷺ sebagai Rasul hanya menyampaikan risalah yang diwahyukan kepadanya dan memberi peringatan kepada manusia atas kekeliruan yang mereka kerjakan semoga kembali kepada jalan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ. (قرآن سورة فاطر/٣٥: ١٨)

Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika seseorang yang (dibebani dengan) dosa yang berat (lalu) memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada Tuhannya (sekalipun) tidak melihat-Nya dan mereka yang menegakkan salat. Siapa yang menyucikan dirinya sesungguhnya menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Hanya kepada Allah tempat kembali. (QS. Fāṭir/35: 18)

Selanjutnya, ingatlah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ. (قرآن سورة الشمس/٩١: ٩)

sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). (QS. Asy-Syamsu/91: 9)

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ. (قرآن سورة الشمس/٩١: ١٠)

dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syamsu/91: 10)

Oleh karena itu beraihkanlah diri dengan amalan baik seperti banyak sedekah, mengeluarkan zakat, 'Abdullah bin Arqam berkata,

" ... إِنَّمَا الصَّدَقَةُ أَوْسَاخُ النَّاسِ يَغْسِلُونَهَا عَنْهُمْ. (رواه مالك: ١٧٨٤)

"Sesungguhnya zakat adalah kotoran manusia yang mereka bersihkan dari diri mereka." (Lihat HR. Malik: 1784 - mauquf shahih menurut Salim bin 'Ied al-Hilaly dari 'Adullah bin al-Arqam bin 'Abdu Yaghuts, ia shahabat dan negeri hidup Madinah. Hadits tsulatsiyat, dan ahlul Madinah)

Atau sabda Rasulullah ﷺ,

"...  إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَةَ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ وَإِنَّهَا لَا تَحِلُّ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه النسائي: ٢٥٦٢)

"Sesungguhnya sedekah ini merupakan kotoran-kotoran manusia, dan sedekah tersebut tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad ﷺ." (HR. An-Nasa'i: 2562 - shahih dari 'Abdul Muthallib bin Rabi'ah al-Harits, ia shahabat negeri hidup Syam dan wafat tahun 62 H dan 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Hadits 'aziz awal dan akhir sanad)

Lihat juga hadits riwayat imam Muslim: 1784, Abu Daud: 2592, Ahmad: 16863 - shahih dari Abdul Muthalib bin Rabi'ah, Ahmad: 9785 - shahih dari Abu Hurairah, dan Malik: 1592 - mauquf shahih dari 'Abdullah bin al-Arqam.

Dan banyak lagi cara-cara untuk menyucikan diri, sehingga benar-benar "Nur Muhammad" terpelihara dan terjaga kesuciannya. Sehingga memunculkan nilai-nilai nubuwah dalam hidup dan kehidupan. Nah, inilah yang dilakukan oleh kaum sufistik Islam.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]