“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


HADITS TSULATSIYAT DALAM KITAB SHAHIH AL-BUKHARI
Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Sekumpulan hadits yang antara Imam al-Bukhariy dan Nabi Muhammad ﷺ hanya terdapat tiga periwayat hadits saja. Jumlah haditsnya sebanyak 22 dan hadits-hadits tersebut sanadnya 'ali (tinggi). Hadits tsulatsiyat juga terdapat dalam kitab-kitab hadits lain, seperti kitab musnad Ahmad bin Hanbal.

Hadits dimasukkan dalam kelompok tsulatsiyat adalah hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang periwayat dalam sanadnya dari Nabi Muhammad ﷺ hingga MUKHARRIJ (orang yang menulis hadits dalam kitabnya). Oleh karena itu, tidak termasuk hadits tsulatsiyat apabila tidak menyebutkan sahabat yang menerima langsung dari Rasulullah ﷺ (mursal). 

مجموعة من الأحاديث بين الإمام البخاري والنبي محمد لها ثلاث روايات فقط. مجموع الأحاديث 22 وسلاسل الأحاديث علي (مرتفع). كما يوجد الحديث الثولاثيات في كتب الأحاديث النبوية الأخرى ، مثل كتاب المسند أحمد بن حنبل. الذي كتب الحديث في كتابه). لذلك لا يشمل الحديث الثولاثيات إذا لم يذكر الصحابي الذي تسلمه مباشرة من رسول الله ﷺ (المرسل).

Seperti hadits riwayat imam Ad-Darimi berikut:

أَخْبَرَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا الصَّعْقُ قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يَقُولُ لَمَّا أَنْ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ جَعَلَ يُسْنِدُ ظَهْرَهُ إِلَى خَشَبَةٍ وَيُحَدِّثُ النَّاسَ فَكَثُرُوا حَوْلَهُ فَأَرَادَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُسْمِعَهُمْ فَقَالَ ابْنُوا لِي شَيْئًا أَرْتَفِعُ عَلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ عَرِيشٌ كَعَرِيشِ مُوسَى فَلَمَّا أَنْ بَنَوْا لَهُ قَالَ الْحَسَنُ حَنَّتْ وَاللَّهِ الْخَشَبَةُ قَالَ الْحَسَنُ سُبْحَانَ اللَّهِ هَلْ تُبْتَغَى قُلُوبُ قَوْمٍ سَمِعُوا قَالَ أَبُو مُحَمَّد يَعْنِي هَذَا. (رواه الدارمي: ٣٨)

Telah mengabarkan kepada kami Muslim bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ash Sha'q, ia berkata, Saya mendengar Al Hasan berkata, Tatkala Nabi ﷺ datang ke Madinah, beliau menyandarkan punggungnya pada sebatang pohon (kurma) sambil memberikan wejangan kepada orang-orang. Lambat laun semakin banyak hadirin yang berada di sekeliling beliau. Hal ini menjadikan beliau berniat agar semua -tanpa terkecuali-mendengar ucapannya. Maka beliau ﷺ sabdakan "Tolong, buatkan untukku mimbar yang tinggi sebagaimana yang dimiliki Musa!" Tatkala mereka membuatnya, Batang pohon itu demi Allah -kata al-Hasan- merintih. Al Hasan berkata lagi; Mahasuci Allah Subhanahu wa Ta'ala, apakah hati orang-orang yang mendengar itu masih bisa diharapkan (patuh)? Abu Muhammad berkata, Maksudnya orang-orang yang mendengar (kisah) ini. (HR. Ad-Darimi: 38 - mursal, dan isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Al Hasan bin Abi Al Hasan Yasar, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 110 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian halnya hadits riwayat imam Ad-Darimi, beliau berkata:

أَخْبَرَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا فِطْرٌ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ مُصِيبَةٌ فَلْيَذْكُرْ مُصَابَهُ بِي فَإِنَّهَا مِنْ أَعْظَمِ الْمَصَائِبِ. (رواه الدارمي: ٨٥)

Telah mengabarkan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Fithr dari 'Atha` ia berkata, Rasulullah ﷺ, " Jika suatu musibah menimpa seseorang dari kalian maka bayangkanlah musibah itu menimpaku, maka hal itu adalah termasuk musibah yang terbesar". (HR. Ad-Darimi: 85 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Atha' bin Abi Rabbah Aslam, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 114 H)

Dan, banyak lagi contoh haditsnya dalam kitab hadits imam Ad-Darimi. Sehingga hadits-hadits tersebut dinilai mursal, karena tidak menyebutkan shahabat yang menerima langsung dari Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam tulisan kali ini penulis paparkan tujuh buah riwayat atau hadits tsulatsiyat yang terdapat dalam kitab shahih al-Bukhari.

Hadits tsulatsiyat yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dalam Kitab Shahih-nya

Pertama:

Imam al-Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يَقُلْ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. (رواه البخاري، كتب العلم: ١٠٦)

Telah menceritakan kepada kami Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Barang siapa berkata tentangku yang tidak pernah aku katakan, maka hendaklah ia persiapkan tempat duduknya di neraka." (HR. Al-Bukhari, kitab ilmu: 106 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Kedua:

Sanad yang sama dengan redaksi/matan berbeda diriwayatkan oleh imam al-Bukhari. Beliau berkata,

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ
كَانَ جِدَارُ الْمَسْجِدِ عِنْدَ الْمِنْبَرِ مَا كَادَتْ الشَّاةُ تَجُوزُهَا. (رواه البخاري، كتب الصلاة: ٤٦٧)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Jarak antara dinding masjid di mimbar kira-kira seukuran kambing bisa lewat." (HR. Al-Bukhari, kitab shalat: 467 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Ketiga:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ
كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا. (رواه البخاري، كتب الصلاة: ٤٧٢)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid berkata, "Aku dan Salamah bin Al Akwa' datang (ke Masjid), lalu dia salat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, 'Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat salat dekat tiang ini?' Dia menjawab, 'Sungguh aku melihat Nabi ﷺ memilih untuk salat di situ.'" (HR. Al-Bukhari, kitab shalat: 472 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 788 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Keempat:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ قَالَ
كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَغْرِبَ إِذَا تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ. (رواه البخاري، كتب مواقيت الصلاة: ٥٢٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah berkata, "Kami pernah salat Magrib bersama Nabi ﷺ ketika matahari sudah tenggelam tidak terlihat." (HR. Al-Bukhari, kitab waktu-waktu shalat: 528 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Hadits terkait dengan konteksi ini (matan sama) juga diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 680 dan Ahmad: 15954 (tsulatsiyat - sanad yang sama dengan sanad imam al-Bukhari - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Kelima:

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا يُنَادِي فِي النَّاسِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ إِنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ أَوْ فَلْيَصُمْ وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلَا يَأْكُلْ. (رواه البخاري، كتب الصوم: ١٧٩٠)

Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' radhiallahu'anhu bahwa Nabi ﷺ mengutus seseorang untuk menyeru manusia pada (waktu sahur) hari 'Asyura', bila ada seseorang yang sudah makan maka hendaklah ia meneruskan makannya atau hendaklah puasa dan barang siapa yang belum makan maka hendaklah ia tidak makan (maksudnya teruskan berpuasa)." (HR. Al-Bukhari, kitab puasa: 1790 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Keenam:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ أَنْ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنَّ مَنْ كَانَ أَكَلَ فَلْيَصُمْ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ وَمَنْ لَمْ يَكُنْ أَكَلَ فَلْيَصُمْ فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ. (رواه البخاري، كتب الصوم: ١٨٦٨)

Telah menceritakan kepada kami Al Makkiy bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid dari Salamah bin Al Akwa' radhiallahu'anhu berkata, Nabi ﷺ memerintahkan seseorang dari suku Aslam untuk menyerukan kepada manusia, bila ada seseorang yang sudah makan maka hendaklah ia mengganti puasanya pada hari yang lain dan siapa yang belum makan hendaklah dia meneruskan puasanya karena hari ini adalah hari 'Asyura'". (HR. Al-Bukhari, kitab puasa: 1868 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Hadits terkaid dengan konteks ini diriwayatkan oleh imam al-Bukhari: 1790 (tsulatsiyat), 1824, dan 6723, Muslim: 1918, An-Nasa'i: 2282 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Ketujuh:

حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ
رَأَيْتُ أَثَرَ ضَرْبَةٍ فِي سَاقِ سَلَمَةَ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ مَا هَذِهِ الضَّرْبَةُ فَقَالَ هَذِهِ ضَرْبَةٌ أَصَابَتْنِي يَوْمَ خَيْبَرَ فَقَالَ النَّاسُ أُصِيبَ سَلَمَةُ فَأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَفَثَ فِيهِ ثَلَاثَ نَفَثَاتٍ فَمَا اشْتَكَيْتُهَا حَتَّى السَّاعَةِ. (رواه البخاري، كتب المغازي: ٣٨٨٤)

Telah menceritakan kepada kami Al Makki bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abu 'Ubaid ia berkata, "Aku pernah melihat bekas luka pukulan pedang pada kaki (bagian lutut) Salamah. Aku lalu berkata kepadanya, "Wahai Abu Muslim, luka bekas pukulan apakah ini?" Dia menjawab, "Ini luka bekas pukulan yang aku alami pada perang Khaibar. Saat itu orang-orang berkata, "Salamah terluka" Maka aku mendatangi Nabi ﷺ, lalu beliau meludahi lukaku sebanyak tiga kali. Setelah itu aku tidak merasakan sakit hingga sekarang." (HR. Al-Bukhari, kitab peperangan: 3884 - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H. Hadits tsulatsiyat)

Hadits terkait dengan konteks ini juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 3396, dan Ahmad: 15819 (sanad I tsulatsiyat, hadits 'aziz diakhir sanad) - shahih dari Salamah bin 'Amru bin Al Akwa', ia shahabat kuniyahnya Abu Muslim negeri hidup Madinah dan wafat tahun 74 H.

Demikian paparan penulis, semoga bermanfaat dan dapat memberi pencerahan terhadap kekayaan terpendam dalam kitab-kitab hadits. Insyaallah pada kesempatan lain akan dilengkapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]