SANG MUFARRIDUN
( ... وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ ...)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمٰتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَالْقٰنِتِيْنَ وَالْقٰنِتٰتِ وَالصّٰدِقِيْنَ وَالصّٰدِقٰتِ وَالصّٰبِرِيْنَ وَالصّٰبِرٰتِ وَالْخٰشِعِيْنَ وَالْخٰشِعٰتِ وَالْمُتَصَدِّقِيْنَ وَالْمُتَصَدِّقٰتِ وَالصَّاۤىِٕمِيْنَ وَالصّٰۤىِٕمٰتِ وَالْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَالْحٰفِظٰتِ وَالذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّالذّٰكِرٰتِ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا. (قرآن سورة الأحزاب/٣٣: ٣٥)
Sesungguhnya muslim dan muslimat, mukmin dan mukminat, laki-laki dan perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan penyabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kemaluannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, untuk mereka Allah telah menyiapkan ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Aḥzāb/33: 35)
Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat-sifat hamba-Nya yang akan diampuni segala dosa dan kesalahannya serta dimasukkan ke dalam surga. Sifat-sifat mereka ada sepuluh macam:
1.Taat dan tunduk kepada hukum Islam, baik ucapan maupun perbuatan.
2.Membenarkan dan memercayai ajaran Allah dan rasul-Nya.
3.Selalu melaksanakan perintah-perintah agama dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan.
4.Selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, sebagai tanda keimanan yang sempurna. Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Peganglah kebenaran, bahwa kebenaran itu membawa pada kebajikan, dan kebajikan akan membawa masuk surga, dan jauhilah dusta, sebab dusta itu membawa pada kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka.”
5.Sabar menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam melaksanakan perintah Allah serta menahan syahwat dan hawa nafsu.
6.Khusyuk dan tawaduk kepada Allah, baik jasmani maupun rohani, dalam melaksanakan semua tugas dan kewajiban dan keikhlasan semata-mata untuk mencari keridaan Allah.
7.Bersedekah dengan harta dan memberi bantuan kepada mereka yang serba kekurangan dan tidak mempunyai penghasilan.
8.Berpuasa yang dapat membantu menundukkan syahwat dan hawa nafsu, sebagaimana tercantum di dalam sabda Rasulullah ﷺ:
يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَاَحْصَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. (رواه البخاري ومسلم عن ابن مسعود)
“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk kawin silakan kawin, karena perkawinan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang belum mampu, supaya berpuasa, karena berpuasa itu dapat membendung syahwatnya.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Ibnu Mas’ūd)
9.Menjaga kemaluan dan kehormatan dari segala perbuatan yang haram dan keji, sesuai dengan firman Allah:
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ(٥) اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ (٦) فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعَادُوْنَ (٧). (قرآن سورة المؤمنون/٢٣: ٥-٧)
Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mu’minūn/23: 5-7)
10.Selalu ingat kepada Allah dengan lidah dan hati, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Mujāhid yang menyatakan bahwa seseorang itu belum disebut banyak mengingat Allah kecuali bila sudah dapat mengingat-Nya sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Abū Sa’īd al-Khudrī telah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah bersabda:
اِذَا اَيْقَظَ الرَّجُلُ اِمْرَاَتَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كَانَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ. (رواه ابوداود والنسائى وابن ماجه)
“Apabila seorang suami membangunkan seorang istrinya di malam hari lalu mereka salat tahajud dua rakaat , maka mereka berdua pada malam tersebut termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.” (Riwayat Abū Dāwud, an-Nasā’ī, dan Ibnu Mājah)
Demikian juga dipraktekkan oleh Umar bin Al Khaththab, IMAM MALIK meriwayatkan,
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ
كَانَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللَّهُ حَتَّى إِذَا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ أَيْقَظَ أَهْلَهُ لِلصَّلَاةِ يَقُولُ لَهُمْ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ ثُمَّ يَتْلُو هَذِهِ الْآيَةَ
{ وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى }. (رواه مالك: ٢٤١)
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Zaid bin Aslam dari Bapaknya bahwa Umar bin Khatthab salat malam dalam jumlah yang banyak, hingga ketika menjelang akhir malam dia membangunkan keluarganya untuk salat. Dia berkata kepada mereka, "ASHSHALAAH ASHSHALAAH (salatlah kalian, salatlah kalian)." Setelah itu ia membaca ayat, '(Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan salat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa) ' (QS. Thaahaa/20: 132). (HR. Malik: 241 - shahih mauquf menurut Salim bin Ied al Hilaly dari 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu Hafshah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 23 H. Hadits ahlul Madinah, dan termasuk hadits tsulatsiyat)
Dalam hadis yang lain dari Sahal bin Mu’āz al-Juhanī dari ayahnya diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
اَيُّ الْمُجَاهِدِيْنَ اَعْظَمُ اَجْرًا يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرًا. قَالَ: أَيُّ الصَّائِمِيْنَ اَكْثَرُ اَجْرًا؟ قَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرًا ثُمَّ ذَكَرَ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ رَسُوْلُ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا. فَقَالَ اَبُوْ بَكْرٍ لِعُمَرَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: ذَهَبَ الذَّاكِرُوْنَ بِكُلِّ خَيْرٍ. فَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَجَلْ. (رواه احمد)
“Pejuang-pejuang manakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah?” Nabi ﷺ menjawab, “Yang paling banyak ingatnya kepada Allah. Lalu ia bertanya lagi,” Cara orang yang berpuasa manakah yang paling besar pahalanya?” Nabi ﷺ menjawab, “Yang paling banyak ingat kepada Allah.” Kemudian dia menyebutkan pula orang yang salat, berzakat, naik haji dan bersedekah, dan pada kesemuanya itu Nabi ﷺ mengatakan, “Mereka yang paling banyak ingatnya kepada Allah.” Abu Bakar lalu berkata kepada Umar, “Orang yang banyak ingatnya kepada Allah telah membawa semua kebajikan.” Dan Nabi ﷺ menambahkan, “Memang demikianlah.” (Riwayat Aḥmad)
Imam Muslim meriwayatkan,
حَدَّثَنَا أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامَ الْعَيْشِيُّ حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ فَقَالَ سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ. (رواه مسلم: ٤٨٣٤)
Telah menceritakan kepada kami Umayyah bin Bistham Al 'Aisyi, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai', telah menceritakan kepada kami Rauh bin Al Qasim dari Al 'Ala dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata, "Pada suatu ketika Rasulullah ﷺ pergi ke Makkah melewati sebuah gunung yang bernama Jumdan. Kemudian beIiau bersabda, 'Ayo jalanlah! Inilah Jumdan. Telah menang para mufarridun.' Para sahabat bertanya, 'Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan mufarridun?' Beliau menjawab, 'Yaitu orang-orang (laki-laki/perempuan) yang banyak berzikir kepada Allah.' (HR. Muslim: 4834 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad dengan matan yang umum. Beliau berkata,
حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ حَدَّثَنَا عَلِيٌّ يَعْنِي ابْنَ الْمُبَارَكِ عَنْ يَحْيَى يَعْنِي ابْنَ أَبِي كَثِيرٍ عَنِ ابْنِ يَعْقُوبَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْمُفَرِّدُونَ قَالَ الَّذِينَ يُهْتَرُونَ فِي ذِكْرِ اللَّهِ. (رواه أحمد: ٧٩٤٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir, telah menceritakan kepada kami Ali -yaitu Ibnul Mubarak- dari Yahya -yaitu Ibnu Abu Katsir- dari Ibnu Ya'qub dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Al Mufarridun telah mendahului" para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah siapa itu Al Mufarridun?" beliau bersabda, "Yaitu orang-orang yang disibukkan dengan berzikir kepada Allah." (HR. Ahmad: 7940 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Hadits semakna juga diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi,
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ رَاشِدٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَقَ الْمُفْرِدُونَ قَالُوا وَمَا الْمُفْرِدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْتَهْتَرُونَ فِي ذِكْرِ اللَّهِ يَضَعُ الذِّكْرُ عَنْهُمْ أَثْقَالَهُمْ فَيَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِفَافًا.
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ٣٥٢٠)
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al 'ala`, telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Umar bin Rasyid dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Al Mufarridun (orang-orang yang menyendiri untuk beribadah) telah mendhului (unggul)." Mereka bertanya, "Apa (yang dimaksud dengan) Al Mufaridun ya Rasulullah?" beliau bersabda, "Mereka adalah orang-orang yang terpikat dalam berzikir kepada Allah, zikir telah menggugurkan dosa yang mereka pikul, sehingga mereka datang dalam keadaan ringan tanpa beban dosa."
Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan gharib." (HR. At-Tirmidzi: 3520 - dha'if menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Hanya saja dalam riwayat imam At-Tirmidzi: 3520 ini, terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama kritikus hadits. Ia adalah 'Umar bin Rasyid bin Syajarah, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Hafsh dan negeri hidup Yamamah. Ibnu Hajar, Yahya bin Ma'in, dan Ad-Daruquthni menilainya dha'if. Al 'Ajli menilainya la ba'sa bih, An-Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah. Sedangkan Abu Zur'ah menilainya layyinul hadits.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏