FILSAFAT PENCIPTAAN
Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P
Filsafat Islam berbicara tentang kehendak bebas, manusia, dan wujud. Ketiga hal ini menjadi dasar berpijak untuk memikirkan bagaimana perbuatan, eksistensi dan realitas yang benar-benar ada.
Manusia dengan segala keistimewaannya sebagai makhluk yang mulia, mukallaf, mukhayyar dan majziy. Ia adalah tujuan akhir penciptaan, dan tujuan akhir hidup manusia adalah untuk kembali lagi kepada Allah sang Mahapencipta dan Mahamenerima segala kondisi manusia sekarang maupun kelak di akhirat.
Manusia itu minuman masa lalu, kini, dan masa depan. Jika dingin maka dibutuhkan disaat cuaca panas, dan apabila hangat enaknya diminum saat cuaca dingin. Nah, kesesuaian tersebut kita yang mengatur. Tetapi, apakah penggunaan itu pas atau tidak tergantung takarannya (takdirnya). Karena panas dan dingin sudah menjadi ketetapan-Nya (qadha). Hanya saja manusia memandang dirinya bagaimana? Apakah mau cepat habis atau berlahan, bahkan tak habis-habis.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اَللّٰهُ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ. (قرآن سورة الروم/٣٠: ١١)
Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) lagi. Lalu, hanya kepada-Nya kamu dikembalikan. (QS. Ar-Rūm/30: 11)
Ingatlah ketika Adam alais salaam diciptakan bahwa ia mempunyai rongga/ajwaf (ruang hampa) yang berkemungkinan dapat dimasuki oleh pengaruh dari luar dirinya. Hal ini diinformasikan dalam riwayat imam Ahmad, beliau berkata:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ وَصَوَّرَهُ ثُمَّ تَرَكَهُ فِي الْجَنَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَتْرُكَهُ فَجَعَلَ إِبْلِيسُ يُطِيفُ بِهِ فَلَمَّا رَآهُ أَجْوَفَ عَرَفَ أَنَّهُ خَلْقٌ لَا يَتَمَالَكُ. (رواه أحمد: ١٣١٦٨)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Anas Rasulullah ﷺ bersabda, "Selesai Allah 'Azza wa Jalla menciptakan Adam dan membentuk rupanya, kemudian Dia (Allah 'Azza wa Jalla) meninggalkannya di surga dengan sekehendak-Nya kemudian iblis datang mengitarinya. Ketika (Iblis) melihat bahwa Adam adalah makhluk yang memiliki rongga ia mengerti bahwa Adam adalah makhluk yang tidak bisa mengendalikan dirinya". (HR. Ahmad: 13168 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Hazam, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 12081 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Hazam, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah.
Oleh karena itu, beramallah sebelum terjadi enam hal dalam masa peradaban manusia dan perubahan terbalik daripada realitas yang benar.
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أبي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَالدَّجَّالَ وَالدُّخَانَ وَالدَّابَّةَ أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ. (رواه أحمد: ٨٤٩٤)
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Isma'il, telah mengabarkan kepadaku Al 'Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata, Bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, "Bersegeralah beramal sebelum datangnya enam perkara; terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, munculnya Dajjal, munculnya asap, munculnya binatang melata, kematian salah seorang kalian dan kehancuran total." (HR. Ahmad: 8494 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga riwayat imam Ahmad: 8910, 7952, dan 8092. Sedangkan hadits semakna dengan hadits di atas diriwayatkan oleh imam Muslim: 5240 (masyhur diakhir sanad), Ibnu Majah: 4046 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Imam Muslim meriwayatkan,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا أَوْ الدُّخَانَ أَوْ الدَّجَّالَ أَوْ الدَّابَّةَ أَوْ خَاصَّةَ أَحَدِكُمْ أَوْ أَمْرَ الْعَامَّةِ. (رواه مسلم: ٥٢٤٠)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa'id dan Ibnu Hujr mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari Al Ala` dari ayahnya dari Abu Hurairah Rasulullah ﷺ bersabda, "Segeralah beramal sebelum (munculnya) enam (hal): terbitnya matahari dari barat, kabut, Dajjal, binatang, kekhususan salah seorang dari kalian (kematian) atau urusan umum (kiamat)." (HR. Muslim: 5240 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Analisa keunggulan hadits di atas dapat dikemukakan bahwa semua hadits diriwayatkan melalui jalur shahabat yang sama, yaitu dari Abu Hurairah. Sehingga riwayat imam Ahmad dan imam Muslim ke-shahih-annya sama dari sisi ke-masyhuran-nya. Hanya saja imam Ahmad meriwayatkan dari empat orang gurunya dalam riwayat beliau secara terpisah, yaitu dari Sulaiman bin Daud bin Daud bin Ali w. 219 H, Affan bin Muslim bin 'Abdullah w. 219 H, dan 'Abdus Shamad bin 'Abdul Warits bin Sa'id bin Dzakwan w. 207 H. Mereka meriwayatkan dengan matan yang sama. Pada hadits imam Muslim ditemui informasi bahwa beliau meriwayatkan dari tiga orang gurunya, yaitu Yahya bin Ayyub w. 234 H, Qutaibah bin Sa'id w. 240 H. Dan Ibnu Hujri, nama aslinya Ali bin Hajar bin Iyas, ia tabi'ut tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu al-Hasan negeri hidup Baghdad dan wafat tahun 244 H.
Hadits seperti ini (masyhur) kebanyakan dari imam Muslim, seperti hadits dengan nomor versi al-Alamiyah 4105 dan penomoran Syarah Shahih Muslim 2215 tentang al-Habbatus Sauda' (الحبة السوداء) dan hadits nomor 116 atau 408 tentang salawat, serta 2482/1399 tentang tentang Rasulullah ﷺ mendatangi Masjid Quba' dengan berkendara dan berjalan kaki, serta 3950/2114 ... dan lain-lain. Bahkan ada juga beliau meriwayatkan dalam satu hadits dari empat orang gurunya. Salah satu contoh beliau riwayatkan,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَسُمْ الْمُسْلِمُ عَلَى سَوْمِ أَخِيهِ. (رواه مسلم: ٢٧٨٨)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa'id serta Ibnu Hujr mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il dia adalah Ibnu Ja'far, dari Al 'Ala` dari ayahya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah seorang muslim menawar harga barang yang telah ditawar (dan disepakati harganya) oleh muslim lainnya." (HR. Muslim: 2788 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Memahami Nash tentang penciptaan manusia pertama akan membawa manusia kepada asal kejadiannya. Dimana ia memang diciptakan dalam bentuk yang sempurna, namun ruang kosong dalam dirinya dibutuhkan agar dapat menerima pengaruh dari luar dirinya dan mampu memfilter apa yang masuk tersebut dengan potensi akal dan hati untuk berpikir dan memahami terhadap apa yang dibutuhkan dan mana yang tidak dibutuhkan. Wallaahu a'lam bish shawaab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏