“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

SYARAT DAN PENGHALANG ILMU

SYARAT MENCARI ILMU MENURUT IMAM ASY SYAFI'IY
ألا لا تنال العلم إلا بستة# سٱنبيك عن مجموعها ببيان:

ذكاء و حرص واصطبار و بلغة# و إرشاد ٱستاذ و طول زمان.
Alaa laa laa tanaalul 'ilma illaa bisittatin# sa'unbika 'an majmuu'ihaa bi bayaanin:

Sesungguhnya kau tidak akan memperoleh ilmu, kecuali melakukan enam hal. Akan saya jelaskan secara ringkas: "Kecerdasan/mau berfikir (dzukaa'in), kesungguhan/semangat (hirshin), kesabaran (ishthibaarin), modal baik waktu, harta, tenaga (bulghatin) harus mau kehilangan, petunjuk guru (irsyaadu ustadzin), dan waktu yang lama (thuuli zamanin)." (Imam Asy Syafi'i)

PENGHALANG BELAJAR

شكوت إلى واكيع سوء حفظي فأرشدني إلى ترك الماضي وأخبرني بأن العلم نور و نور الله لا يودى لعاص. 

Syakautu Ilaa waaki' suu'a hifzhiy fa arsyadaniy ilaa tarkil ma'aashiy wa akhbaraniy bi annal 'ilmaa nuurun wa nuurullaahi laa yuhdaa li'aashiy.

Aku mengadu kepada Waki' tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat. (I'anatuth Thalibin, 2: 190)

Hampir masing-masing orang menginginkan orang lain sama dengan dia. Jangan, karena perbedaan itu sunnatullah. Setiap yang menginginkan diluar itu akan lenyap. Manusia itu makhluk Allah yang dimuliakan yang dibebani tanggung jawab, namun berkaitan dengan itu Allah cukupkan ia dengan potensi memilih. Dan, ia juga majzi, penerima balasan.

Semua usaha manusia yang terpaut dengan kasb (usaha) mereka adalah menjadi tanggung jawab mereka sendiri. Oleh karena itu kebaikan yang diusahakan diberi balasan oleh Allah dan bernilai sedekah. Tidak satu pun yang luput dari pengawasan-Nya. Sehingga takdir kebaikan atau pun keburukan menjadi penting untuk diyakini agar manusia senantiasa berhati-hati dan selalu berusaha untuk lebih banyak berbuat baik (bersedekah). Karena hal tersebut akan kembali kepada mereka sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata,

"ألنًّاسُ نِيَامٌ فَاِذَا مَاتُوا اِنْتَبُهُوا"

"Manusia itu (hakekatnya) tidur, apabila mereka mati baru terbangun".

Filosof dan filosofia, dari ini lahir lah peradaban keilmuan yang menghentak. Meluluh lantakkan kecerdasan, menghantui kebodohan. Mencapai hikmah dan kebijaksanaan bagi negeri dan bangsa. Menggiring kesadaran diri untuk menaklukkan kehinaan.

BEDAKAN JUGA ISTILAH YANG DIGUNAKAN terhadap kejadian luarbiasa ini: mukjizat, karamah, ma'unah, dan istidraj. Tujuannya agar tidak gagal paham tentang hal dimaksud.

Karena sesuatu yang diambil oleh Allah atau dilepaskan-Nya, BEARTI ada indikasi Allah akan ganti dengan yang lebih baik jika tetap husnuzh zhaan kepada Allah. Sehingga apa saja yang dapat dipahami akan lebih baik dan manfaatnya lebih luas. Dengan makna lain, kehendak-Nya hanya untuk mencukupkan hamba-Nya. Oleh karena itu, takdir Allah itu adalah bertujuan menyeimbangkan antara keinginan dan harapan. Seterusnya ada beberapa yang mesti dikuatkan, yaitu penyempurnaan pahala dan penguatan potensi untuk mendapatkan peluang lebih dekat dengan Allah, maka manfaatkanlah hal ini.

Agama itu statis, sedangkan keberagamaan itu dinamis. Karena pengetahuan terhadap pesan-pesan agama selalu berubah mengikuti pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati, jangan sampai intelek kita menjadi "Tuhan".

Agaknya mesti ada sebagian waktu hidup jauh dari keramaian. Karena keramaian secara terus menerus akan merusak jaringan otak. Oleh karena itu, perlu diobati dengan menyediakan waktu untuk menjauhi keramaian. Tujuannya adalah agar lebih terkontrol dan kuat untuk menopang beratnya dorongan sifat kebinatangan.

Memuliakan Ilmu dengan memelajarinya. Sehingga mampu mengurangi kegalauan intelektual. Bukan untuk dipertandingkan apalagi dibuat olok-olokan.

Peliharalah ilmu dengan menulisnya, bagikanlah ia dengan ikhlas dan sabar agar ia menjadi lekat dengan kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]