SAKARATUL MAUT BAGI RASULULLAH
Oleh: Samsurizal, MA., C.I.P
BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIIM
Assalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حِجْرِي حِينَ نَزَلَ بِهِ الْمَوْتُ. (رواه أحمد: ٢٥١١٩)
Telah menceritakan kepada kami; Ya'qub ia berkata, telah menceritakan kepada kami; Ayahku dari Ayahnya dari Urwah bahwa Aisyah pernah berkata, "Saat mengalami sakaratul maut, Rasulullah sedang berada di pangkuanku." (HR. Ahmad: 25119 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Lebih lanjut imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي الْمَرَضِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ مِنْهُ بِالْمُعَوِّذَاتِ. (رواه أحمد: ٢٤١٧٠)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrozzaq dia berkata, telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Az Zuhri dari Urwah dari Aisyah berkata, Rasulullah ﷺ meniupkan dirinya karna rasa sakit yang dialaminya disaat sakaratul maut dengan membaca muawwidzaat (QUL HUWALLAH, QUL A'UDZU BIROBBIL FALAQ, QUL A'UDZU BIROBBINNAS). (HR. At Tirmidzi: 24170 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Imam at Tirmidzi meriwayatkan,
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ الْهَادِ عَنْ مُوسَى بْنِ سَرْجِسَ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالْمَوْتِ وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي الْقَدَحِ ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالْمَاءِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ الْمَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ. (رواه الترمذي: ٩٠٠)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu Al Had dari Musa bin Suraij dari Al Qasim bin Muhammad dari 'Aisyah berkata, "Aku melihat Rasulullah ﷺ pada saat menjelang kematiaannya, di sisi beliau terdapat bejana berisi air. Beliau memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu membasuhkannya pada keningnya sambil membaca: ALLAHUMMA A'INNI 'ALA GHAMARATIL MAUT AU SAKARATIL MAUT (Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi sakaratul maut).'" Abu 'Isa berkata, "Ini merupakan hadits gharib." (HR. At Tirmidzi: 900 - dha'if dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)
Demikian juga lafazh yang sama diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah: 1612, Ahmad: 23220 dan 23280, dan 23341 - dha'if dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah [istri nabi] kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H.
Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam at Tirmidzi: 900, Ibnu Majah: 1612, dan Ahmad: 23220, 23280, dan 23341 terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruk) oleh ulama hadits. Ia adalah Musa bin Sarjis, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] dan negeri hidup Hijaz. Ibnu Hajar menilainya mastur.
Setelah ditelusuri bahwa Rasulullah mengingatkan agar menyenangi bertemu dengan Allah dengan menaati perintah dan larangannya. Imam Ahmat meriwayatkan,
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ الْبَشِيرُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَوْ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ مِنْ الشَّرِّ أَوْ مَا يَلْقَاهُ مِنْ الشَّرِّ فَكَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ. (رواه أحمد: ١١٦٠٦)
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Humaid dari Anas ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barang siapa tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah tidak senang bertemu dengannya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kami semua tidak menyukai kematian?" Rasulullah ﷺ bersabda, "Bukan itu yang aku maksud, namun seorang yang beriman apabila menghadapi sakaratul maut, maka seorang pemberi kabar gembira utusan Allah (Malaikat) datang menghampirinya seraya menunjukkan tempat kembalinya, hingga tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai kecuali bertemu dengan Allah. Lalu Allah pun suka bertemu dengannya. Adapun orang yang banyak berbuat dosa, atau orang kafir, apabila telah menghadapi sakaratul maut, maka datang seseorang (setan) dengan menunjukkan tempat kembalinya yang buruk, atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan. Maka itu membuatnya tidak suka bertemu Allah, hingga Allah pun tidak suka bertemu dengannya." (HR. Ahmad: 11606 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)
Dari informasi hadits-hadits di atas sebagaimana diriwayatkan oleh 'Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ terbebas dari sakitnya sakaratul maut. Diinformasikan juga terdapat dua orang yang menghampiri seseorang ketika menghadapi hal tersebut. Pertama adalah utusan Allah yaitu malaikat yang akan menuntunnya kepada husnul khatimah (kematian yang baik). Kedua, yaitu Setan yang akan mengingatkan kepada hal-hal yang buruk. Sehingga ia dilupakan dari kebaikan dan mengingat Allah yang seharusnya dituju setelah kematiannya. Yang pertama didatangkan Allah untuk orang-orang yang beriman, sehingga ia senang bertemu Allah dan Allah tentukan akan meridhainya. Yang kedua akan merasa tidak senang bertemu dengan Allah, sehingga setan berhasil memerdayainya, sehingga ia merasakan sakitnya sakaratul maut. Karena mereka waktu hidupnya mengingkarinya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَجَاۤءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيْدُ. (قرآن سورة ق/٥٠: ١٩)
(Seketika itu) datanglah sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak engkau hindari. (QS. Qāf/50: 19)
Setelah adanya keingkaran orang-orang kafir terhadap hari kebangkitan maka dalam ayat ini Allah menolak keingkaran dan kekafiran mereka dengan keterangan bahwa mereka akan meyakini kebenaran firman Allah itu, ketika mereka menghadapi sakaratulmaut dan pada hari Kiamat. Bila telah datang sakaratulmaut, terbukalah kenyataan yang sebenarnya dan timbullah keyakinan akan datangnya hari kebangkitan; sakaratulmaut benar-benar membuka tabir, yang selalu mereka hindari. Sekarang bagi mereka tidak ada tempat berlindung atau pelarian lagi. Dalam hadis yang sahih diterangkan bahwa Nabi Muhammad ketika menghadapi ajalnya bersabda, “Subḥānallah, Mahasuci Allah, sesungguhnya sakaratulmaut ini mengandung kedahsyatan.”
Padahal, sebagaimana dimaksud oleh Quraish Shihab dalam membahas terkait wujudnya malaikat bagi urusan dunia dan akhirat manusia. Beliau berkata, "
"Malaikat selalu hadir ditengah manusia. Mereka mengawasi, mencatat amal, mengukuhkan hati, dan akan mencabut ruh manusia pada saatnya. Malaikat selalu hadir mendukung manusia untuk menuju kebaikan. Dan semakin kita dekat pada malaikat, maka semakin jauh setan dari kita". (Sumber: https://youtu.be/eaXe08-NbnM)
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏