BERFILSAFAT ZAMAN SEKARANG
Mingggu, 19 Desember 2021
Oleh: Samsurizal, MA
Pendahuluan
Kebahagiaan terkait amat erat dengan kemampuan kita mengelola perasaan (emosi) – kesedihan, kekecewaan, frustrasi, kesepian, dan sebagainya. Selain dari agama, pengelolaan emosi dikendalikan oleh rasio. Ada satu Quote yang bagus, “You can be the ripest sweetest strawberry, but there will be still people who don’t like to eat it”....Kita bisa menjadi strauberi yang besar, manis, jussy, enak. Tetapi tetap saja akan ada orang yang tidak suka memakannya. Artinya “kita bisa menjadi orang yang baik, cerdas, santun, suka menolong orang lain. Tetapi tetap ada orang yang tidak suka dengan kita. Jadi, sejauh kita bisa mengelola kekecewaan, kesedihan dan frustrasi maka kita akan bahagia.
Pembahasan
Manfaat Praktis Filsafat
Banyak orang yang meragukan manfaat praktis filsafat, apa gunanya menjelajahi gagasan abstrak para filosof? Kepuasan intelektual? Karier? Selebresi. Terdapat banyak ungkapan yang berkembangan dikalangan para pelajar filsafat seperti, “Aku klik maka aku ada”. Selanjutnya ada juga sebagai selebrasi seperti ungkapan “Tuhan telah mati”. Hanya saja untuk pendukung karir tentu perlu dilihat dan pahami lagi.
Filsafat yang bertolak dari kehidupan harus kembali menggeluti masalah keseharian. Jika dilihat filosof zaman Plato, Aristoteles bahkan zaman pra Socrates, selalu bertanya tentang kehidupan seperti pertanyaan “dari mana asal mula kehidupan ini?”. Selanjutnya, filosof muslim juga mempertanyakan bagaimana kehidupan setelah mati. Ini suatu yang eskatologis, tetapi hal ini hubungannya sangat erat dengan kehidupan keseharian agar termotifasi untuk mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah mati.
Alain de Botton membahas pemikiran beberapa filosof untuk menunjukkan bagaimana mereka mengatasi persoalan keseharian: kekurangan uang, patah hati, atau kegagalan. Ia mengajak kita berpikir bersama para filosof bagaimana persoalan-persoalan hidup harus dihadapi dan diselesaikan.
Kemudian perlu juga kita belajar dari Socrates. Sejarah juga menunjukkan bahwa sejak awal, bahkan masa Socrates, filsafat sudah erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Ia pergi ke pasar-pasar dan berbincang dengan masyarakat. Mengajak masyarakat berpikir atas apa yang selama ini mereka terima mentah. Kemudian ia memancing orang untuk berpikir secara otonom dan menolak common sense (kewajaran) tanpa menyelidiki logikanya. Dari segi dialog-dialognya kita belajar bahwa orang lain bisa saja keliru: “Kebenaran suatu pernyataan bukan ditentukan oleh mayoritas, maupun keyakinan orang-orang penting selama berabad-abad. Pernyataan yang benar adalah tidak dapat dibuktikan mengandung kontradiksi dan pikiran.
Sebagai salah satu contoh:
Bagi yang patah hati ... dalam hidup mungkin kita sering kali mengalami masalah, termasuk pata hati ... bagi yang berduka karena cinta, barangkali Arthur Schopenhauer (1788-1860) adalah filofof terbaik. Kisah hidupnya dipenuhi oleh berbagai kisah sedih: “Eksistensi manusia pastilah suatu kesalahan,” dan “Kehidupan adalah urusan yang menyedihkan, aku memutuskan untuk menggunakan hidupku untuk memikirkannya,” katanya. Penyebab ia berkata demikian adalah: ia kurang mendapat perhatian di rumah, ayahnya bunuh diri, ditolak wanita, dan kuliahnya kurang diminati. Ia mengatakan: “Setiap kehidupan adalah sejarah penderitaan.” Pengalaman dan pandangan hidup Arthur Schopenhauer memberi kita pelajaran bahwa “kepediahan itu normal”. Ketika cinta kita ditolak tidak ada yang aneh dalam karakter kita, wajah kita tidak buruk. Kita tidak perlu membenci diri sendiri ...”. hal seperti ini akan dilalui oleh setiap orang, hanya saja ada orang yang ekstrovert (terbuka) atau intrivert (tertutup). Pertama adalah orang yang suka menceritakan kepada orang lain, sehingga jiwanya plong. Dan yang kedua orang yang suka memendam masalahnya, orang-orang seperti ini lebih rentan sakit jantung. Ingatlah, semua orang mengalaminya, punya kegagalan dan kesedihan. Arthur Schopenhauer mengajarkan pada jita untuk tidak kaget dengan kesedihan. Ia bermaksud membebaskan kita dari pengharapan yang mengandung kesedihan. Sebuah pepatah Inggris mengingtakan yaitu “Time Heals” waktu menyembuhkan. Kita bukan merupakan manusia yang menderita sendirian, namun merupakan bagian dari umat manusia yang juga merasakan banyak kesediahan.
Filsafat dan Kesuksesan
Dalam konteks modern, orang mulai mengatakan bahwa berfilsafat pun bisa membawa kepada kebahagiaan (baca: kesuksesan) ekonomi dan bisnis. Pertanyaannya, mana mungkin?. Walau pun tidak detail, tetapi cara pikir seseorang yang bertolak dari filsafat membimbing perspektif pemikiran menjadi lebih baik dan terbuka. Tom Morris dalam karyanya “If Aristotle Ran General Motor”, ia mendemonstrasikan betapa kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno Aristoteles bisa membimbing seorang pengusaha kepada kesuksesan bisnis. Lebih jauh dari itu, dua penulis lain, yaitu Gay Hendricks dan Kate Ludeman, dalam buku-keduanya berjudul The Corporate Mystic – malah menyebutkan bahwa di antara 11 karakter pengusaha dan eksekutif sukses di Amerika Serikat adalah spritualitas dan pengetahuan diri (self knowligh). Hal ini tidak terlepas dari perspektif kita terhadap konsep yang mengantarkan pada kesuksesan. Oleh karena itu persepsi, konsep serta berfikir filsafat harusnya dapat membuat kita berpikir lebih terbuka dan bahagia, sehingga mampu menyelesaikan masalah hidup keseharian. Relevansi filsafat dalam hidup dan kehidupan keseharian sangat membahagiaankan. Karena mengarahkan pemikiran pada hal-hal yang positif dan lebih bermakna, baik secara konseptual maupun praktikal.
Filsafat Islam Zaman Sekarang
Filsafat islam saat ini dapat dilihat dari dua sisi: Filsafat Islam sebagai proses berpikir, dan sebagai produk pikir. Pertama, kita melihat proses berpikir kreatif para filosof dengan cara berpikir bagaimana memadukan antara akal dan agama. Kedua, ada hal praktis yang dapat dipraktekkan dalam keseharian. Selanjutnya terkait dengan filsafat islam sering membawa kita terutama untuk membahas masalah-masalah yang masuk ke alam metafisis, yakni alam khayal dan bahkan alam ruhani. Seperti, bagaimana terkait dengan proses penciptaan dan hidup setelah mati. Pembahasan filsafat, khususnya Filsafat Islam, mengangkat kita dari eksistensi sehari-hari yang umumnya bersifat fisikal dan indrawi (eksistensial) ke “dunia lain” yang di dalamnya pengertian agama dan keimanan beroperasi (esensial).
Pelajaran pertama yang dapat kita ambil dari para filosof Muslim adalah keberaniannya untuk berpikir secara kritis dengan tetap mendasarkannya pada fundamental text of Islam. Memang seharusnya demikian, sebagai Muslim lepas dari teks wahyu. Era digital menawarkan pada kita beragam informasi, misalnya, mensyaratkan kita secara mutlak untuk berpikir kritis sehingga kita dapat membedakan antara fakta obyektif dan opini yang dibentuk secara emosional. Seharusnya informasi yang diterima mestinya disaring dulu sebelum disebarkan “saring sebelum sharig”. Karena banyak kita menyaksikan dan medapat informasi bahwa banyak keluarga yang bubar disebabkan keliru megelola informasi yang ada. Kondisi seperti saat ini, sebaiknya hal yang perlu dilakukan: Pertama, kita perlu memahami ulang prinsip-prinsip dasar logika, sebab seringkali sebuah opini dibentuk dengan logika orang yang akan dibohongi, sehingga mudah diterima. Kedua, kenyataan bahwa pembahasan Filsafat Islam membawa kita ke alam ruhani bisa mendekatkan diri kita kepada (pengetahuan) tentang elemen-elemen keimanan termasuk tentang Tuhan, Malaikat, Nabi, dan Hari Akhir. Hal ini lebih pada aspek epistemologisnya. Ketiga, memahami Tuhan dan ciptaan-Nya, proses penciptaan, dan hirarki wujud, yang merupakan tema-tema penting dalam Filsafat Islam, pada giliranya bisa meningkatkan keimanan kita, hal ini adalah pada level aksiologisnya. Perlu direnungi juga bahwa Aristoteles menyatakan bahwa, “hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tidak layak dijalai”. Sehingga, jika para filosof merenungi kehidupan sesungguh mereka sedang menjani kehidupan. Hanya saja orang-orang yang memandangnya aneh.
Dengan realitas ini saya berpikir bahwa, “Matikan dirimu dengan menulis, semakin banyak tulisamu maka semakin sering kamu mati. Karena kematian adalah tujuan kebahagiaan.” Pernyataan ini bertujuan agar semakin mengenal diri, bahwa kebahagiaan tersebut harusnya menghindari emosional liar dan saling menyalahkan dan mengafirkan. Begitu juga hal-hal yang meracuni kebahagiaan.
Nah, pertanyaan bagi kita semua: Bagaimana dengan hidup anda: apakah merupakan kehidupan yang layak dijalani?
Penutup
“Selamat berbangga menjadi pecinta filsafat, dan teruslah menerangi orang-orang di sekitar anda dengan pikiran yang jernih, yang radix, menyeluruh, dan membawa manfaat bagi semua.”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏