“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


AYAT-AYAT AL-QUR'AN TERKAIT GEOLOGI

Oleh: Samsurizal, MA

ABSTRAK

Latar belakang penulisan artikel ini adalah karena keperluan pengembangan ilmu pengetahuan kandungan al-Qurán dan menemukan hubungan yang erat dengan geologi sebagai cabang ilmu. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui sejauh mana al-Qur’an dan Geolog berbicara tentang dinamika bumi. Metode penulisan artikel ini penulis menggnakan metode library research dengan penelusuri sumber-sumber yang relevan dengan bahasan. 

Berdasarkan penelusuran penulis memperoleh informasi bahwa Al-Quran memberikan informasi tentang geologi yaitu tentang penciptaan alam semesta dan sebab musababnya, unsur-unsur alam semesta, dan masa penciptaannya. Sehingga informasi tersebut dapat menjadi petunjuk bagi ilmuan khususnya para geolog. Bukan saja al-Qur’an yang memberikan informasi tersebut tetapi hadis-hadis Nabi Muhammad juga menyinggung tentang hal tersebut. Dari informasi yang ada maka muncul satu bidang keilmuan tentangnya yang dikenal dengan geologi. Maksud dari geologi yaitu ilmu yang mempelajari dinamika bumi berikut sejarah dan proses pembentukannya. Oleh karena itu, perbincangan dalam al-Quran ada juga disebutkan gunung sebagai pasak, ciri fisikal gunung, pergerakan gunung, pergerakan benua, pembentukan gunung berapi di bawah laut, gempa bumi, pengajaran dibalik kejadian gempa bumi dan gunung berapi, dan kemenangan Bizantium. Kesemuanya dibincangkan karena mempunyai kaitan antara satu sama lain.

Kata kunci: Al-Qur’an dan Geologi

Abstract

The background of writing this article is because of the need to develop knowledge of the content of the Qur'an and find a close relationship with geology as a branch of science. The purpose of writing this article is to find out to what extent the Qur'an and Geologists talk about the dynamics of the earth. The method of writing this article the author uses the library research method by tracing sources relevant to the discussion.‎

Based on the search, the author obtained information that the Al-Quran provides information about geology, namely about the creation of the universe and its causes, the elements of the universe, and the time of its creation. So that this information can be a guide for scientists, especially geologists. It is not only the Qur'an that provides this information, but the traditions of the Prophet Muhammad also mention this. From the available information, a scientific field about it emerged which is known as geology. Geology is the science that studies the dynamics of the earth and its history and processes of formation. Therefore, the discussion in the Qur'an also mentions mountains as pegs, physical characteristics of mountains, movement of mountains, movement of continents, formation of volcanoes under the sea, earthquakes, teachings behind earthquakes and volcanoes, and victory Byzantine. All of them are discussed because they have a relationship between each other.

Keywords: Al-Qur'an and Geology

نبذة مختصرة

تعود خلفية كتابة هذا المقال إلى الحاجة إلى تطوير المعرفة بمحتوى القرآن وإيجاد علاقة وثيقة مع الجيولوجيا كفرع من فروع العلم. الغرض من كتابة هذا المقال هو معرفة إلى أي مدى يتحدث القرآن والجيولوجيون عن ديناميكيات الأرض. طريقة كتابة هذا المقال يستخدم المؤلف أسلوب البحث بالمكتبة من خلال تتبع المصادر ذات الصلة بالمناقشة.

وبناءً على البحث ، حصل المؤلف على معلومات تفيد بأن القرآن يقدم معلومات عن الجيولوجيا ، أي عن خلق الكون وأسبابه ، وعناصر الكون ، وزمن نشأته. حتى تكون هذه المعلومات دليلاً للعلماء وخاصة الجيولوجيين. لم يكن القرآن هو الذي يوفر هذه المعلومات فحسب ، بل إن أحاديث النبي محمد تذكر ذلك أيضًا. من المعلومات المتاحة ، ظهر مجال علمي عنها يعرف بالجيولوجيا. الجيولوجيا هي العلم الذي يدرس ديناميكيات الأرض وتاريخها وعمليات تكوينها. لذلك فإن الحديث في القرآن يذكر الجبال على أنها أوتاد ، وخصائص الجبال ، وحركة الجبال ، وحركة القارات ، وتشكيل البراكين تحت البحر ، والزلازل ، والتعاليم وراء الزلازل والبراكين ، والنصر البيزنطي. تمت مناقشة كل منهم لأن لديهم علاقة بين بعضهم البعض.

الكلمات المفتاحية: القرآن والجيولوجيا

PENDAHULUAN

Al-Quran memberikan informasi tentang geologi. Maksud dari geologi yaitu ilmu yang mempelajari dinamika bumi berikut  sejarah dan proses pembentukannya. Oleh karena itu, perbincangan dalam al-Quran ada juga disebutkan gunung sebagai pasak, ciri fisikal gunung, pergerakan gunung, pergerakan benua, pembentukan gunung berapi di bawah laut, gempa bumi, pengajaran dibalik kejadian gempa bumi dan gunung berapi, dan kemenangan Bizantium. Kesemuanya dibincangkan kerana mempunyai kaitan antara satu sama lain. 

Al-Qur’an bukanlah kitab sains, tetapi kewajiban Allah sebagai pencipta adalah memberitahukan informasi tentang alam semesta yang telah Ia ciptakan. Sehingga dapat dipelajari dan diamati dan diteliti oleh manusia agar dapat dimanfaatkan dan dijaga dengan baik. Banyak sejarah tentang penciptaan alam dan kandungan yang ada di dalamnya yang belum dapat diungkap secara tuntas oleh manusia sebagai makhluk berakal dan berbudaya. Oleh karena itu, berdasarkan informasi dari Allah berupa wahyu (al-Qur’an) tersebut manusia mengikuti dan meneliti ciptaan-Nya.

Berdasarkan pernyataan di atas perlu penulis paparkan bagaimana kaitannya al-Qur’an dengan Geologi, pertama sebagai sumber absolut, dan yang kedua adalah hasil karya manusia dengan akal dan budayanya atau budi-dayanya yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada makhluk-Nya bernama manusia.

Metode yang penulis tempuh untuk memahami dua tern ini adalah dengan menggunakan metode library research (kajian kepustakaan). Langkah-langkah yang penulis tempuh adalah dengan mengumpulkan referensi-referensi yang relefan dengan bahasan atau kajian ini. Memahami dan menyuguhkannya secara sistematis dan terbuka. 

Sebagaimana lazimnya penelitian lain tentang sains tak kalah pentingnya mengupas ayat-ayat al-Qur’an yang terkait dengan Geologi atau ilmu tentang dinamika bumi, sejarah dan pembentukannya.

Berdasar penelusuran penulis menemukan beberapa ayat al-Qur’an yang berbicara tentang Geologi. Sedangkan untuk memahaminya penulis gabungkn dengan beberapa sumber. Berikut penulis paparkan satu persatu dengan menjelaskan maksud dan keterkiatannya dalam bidang ilmiah (geologi). 

Alam raya ini diciptakan oleh Allâh dengan haqq (benar) tidak ada ketimpangan dan kejanggalan. Allâh menciptakannya dengan penuh ketelitian dan disiapkan untuk makhluknya sebagai wadah yang sanggup menampung berapa pun banyaknya makhluk yang diciptakan-Nya. Tentunya untuk keberlangsungan tersebut Allâh sudah mengatur kadar dan ketetapan-Nya sendiri. Selanjutnya dikenal dengan sunnatullah. Dikatakan sunnatullah, karena semua ciptaan-Nya patuh kepada aturan-Nya.

Alam yang luas ini dan segala isinya diciptakan untuk manusia. Langit yang tujuh lapis untuk bernaung dan bumi dengan segala isinya untuk keperluan kesejahteraan mereka (QS. al-Baqarah/2: 22, 29 dan al-An`âm/6: 6).

Setelah Allâh menciptakan ini semua, timbul pertanyaan dari apa Ia menciptakan alam raya yang sangat luas ini? Pesan apa yang ingin disampaikan-Nya dari hasil yang maha luas ini?. 

Pertanyaan di atas, orang mencoba menjawabnya dengan berbagai dalil baik akal, naql dan hikmah. Jawaban menurut akal mereka gunakan dengan dugaan-dugaan teologis dan filosofis. Seperti Al-Kindi, ia berpendapat bahwa alam disebabkan oleh yang jauh, yakni Allâh. Ia yang menciptakan alam dari tiada (creation ex nihilo) atau ibdâ’, ia bersifat baharu dan terbatas. Sedang Ibnu Rusyd berpendapat bahwa alam diciptakan dari sesuatu yang sudah ada atau ijâd, yakni dari al-mâ’ dan al-dukhân dan dari materi inilah alam diciptakan, bersifat berkesinambungan sejak azali (sampai sekarang).

Pendapat Al-kindi dan Ibnu Rusyd di atas nampak bertentangan, namun pada dasarnya “ijtihad” mereka tentang penciptaan alam ini tidaklah mempengaruhi iman seseorang, karena Allâh sendiri dalam Al-Qur’ân tidak menyebutkan secara tegas dari apa Ia menciptakan alam ini.

Selanjutnya, Sirajuddin Zar menyimpulkan bahwa berdasarkan temuan kosmolog kekinian sama dengan pendapat Al-Kindi dari segi asal, membantah bahwa alam diciptakan dari yang sudah ada, namun dari ketiadaan. Sementara materi yang disebut Ibnu Rusyd sebagai asal alam semesta adalah menunjukkan proses penciptaan alam semesta sedang berlangsung yang pernah berbentuk al-mâ’ (zat alir, sopkosmos) dan al-dukhân (kondensasi dan pengembunan) dan bukan asal. Jawaban ini berawal dari pengembangan teori Big Bang, yang distandarisasi oleh Georges Lemaitre (1894-1966) kebangsaan Belgia pada tahun 1927 M, teori ini kemudian dikuatkan oleh A. Baiquni.

Kata "geologi" pertama kali digunakan oleh Jean-André Deluc dalam tahun 1778 dan diperkenalkan sebagai istilah yang baku oleh HoraceBénédict de Saussure pada tahun 1779. Orang yang mempelajari ilmu geologi disebut geolog atau ahli geologi. Muhammad Zuhdi menjelaskan Ahli geologi telah membantu dalam menentukan umur bumi yang diperkirakan sekitar 4.5 milyar (4.5x109 ) tahun, dan menentukan bahwa kulit bumi terpecah menjadi lempeng tektonik yang bergerak di atas mantel yang setengah cair (astenosfir) melalui proses yang sering disebut lempeng tektonik. 

Lebih lanjut Ahli geologi membantu menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, dan uranium serta mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan helium. Ilmu geologi terus berkembang dan terbagi lagi menjadi ilmu-ilmu yang menjadi dasar geologi. Cabang-cabang ilmu geologi tersebut diantaranya: Mineralogi, Petrologi, stratigrafi, Paleontologi, Geologi Struktur, Geomorfologi, Geologi fisik dan Geokimia. 

Perlu difahami bahwa geologi fisik berbeda dengan geofisika. Geologi fisik adalah cabang geologi yang mempelajari sifat fisis bumi dan batuan dendangkan geofisika adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari bumi dengan metode dan instrumen fisika. Pada prinsipnya ilmu geologi dapat diterapkan pada planet-planet di tata surya. Aplikasi ilmu geologi pada planet lainnya dalam tata surya (solar sistem) disebut Astrogeologi. Namun juga terdapat istilah khusus lainnya seperti selenology (ilmu tentang bulan), areologi (ilmu tentang tentang planet Mars) dan lain-lain.  

Abdul Basith dan Dalia Shiddiq dalam bukunya “Ensiklopedi Ilmiah dalam al-Qur’an dan Sunnah” membahas secara khusus tentang Ilmu Geologi. Mereka mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan ilmu geologi adalah ilmu yang berkaitan dengan pengamatan struktur batu-batuan yang ada di dalam bumi dan bentuk-bentuknya serta rekahan batu-batuan tersebut dan pengaruhnya. Sebagai sebuah ilmu, ia mempunyai dasar dan cabang-cabangnya yang banyak. 

Isyarat ilmiah yang terdapat dalam beberapa ayat al-Qur’an terkait dengan kondisi geologi bumi seperti struktur bumi yang memiliki ketinggian tertentu. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat al-Nahal/16 ayat 15, al-Rum/30 ayat 1 – 3 dan 9, al-An`am/6: 125, al-Tariq/86 ayat 11, dan Fathir/35 ayat 27, al-Hadid/57 ayat 25, al Naazi`ant/79 ayat 31, al-Nur/24 ayat 43, dan al-Namal/27 ayat 60.

A. Gunung sebagai pasak bagi bumi

Allah berfirman dengan ketelitian penggunaan kata, ayat dimaksud adalah sebagai berikut: 

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ. (قرآن سورة النحل/16: 15)

Artinya: “Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. An-Naḥl/16: 15)

Berdasarkan geomorphologi, gunung memiliki fungsi sebagai pasak yang menancap bumi di jaqat alam raya ini. Puncaknya menjadi penahan keseimbangan bumi dari arah atas. Bagian yang menancap di kedalaman bumi menjadi peyeimbang dari arah bawah, dan berhubungan dengan inti bumi. Dengan adanya gunung keseimbangan bumi jadi terjaga, sehingga tidak terlalu condong ke salah satu arah di tengah-tengah alam raya yang melingkupinya.

Jika diamati ayat di atas maka dapat dipahami dari penggunaan kata al-Qaa, menunjukkan adanya peristiwa pemindahan materi-materi pembentuk gunung, baik yang berasal dari dasar bumi, lalu mengendap dipermukaannya, maupun dari salah satu bagian dari permukaan bumi yang terbawa ke permukaannya ke bagian lain. Pemindahan yang terjadi dari dasar bumi ke permukaanya, terdapat pada gunung vulkanik yang menyemburkan lava dari kawahnya. Ada pun yang terbentuk karena endapan yang terjadi dipermukaan bumi, maka hal ini dapat terjadi karena pelapukan dan pengikisan yang diiringi oleh serangkaian proses perubahan alami dan kimiawi sehingga endapan tersebut menjadi keras dan terkumpul menjadi materi pembentuk gunung. 

Selanjutnya penggunaan kata an tamida bikum, menjelaskan fungsi gunung dalam menekan dan mengontrol gerakan bumi, sehingga keseimbangan di tengah-tengah jagat raya ini terjaga.

B.  Tempat peperangan Romawi dengan Persia di lembah sungai Yordania

Peristiwa perang antara Romawi dengan Persia ini menujukkan adanya dataran rendah di permukaan bumi. Informasi tersebut terdapat dalam firman Allah QS. Al-Rum ayat 1-3, sebagai berikut:

الۤمّۤ ۚ. غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ.  فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ. (قرآن سورة الروم/30: 1-3)

Artinya: “Alif Lām Mīm. Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat580)dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang.” (QS. Al-Rūm/30: 1-3)

Penelitian yang dilakukan oleh ahli geologi menunjukkan, bahwa lembah sungai Yordania saat itu, merupakan daratan terendah, dibandingkan daerah lain dibelahan bumi lain.

C. Gas bumi dan Grafitasi

Ayat al-Qur’an terkait dengan gas bumi dan gaya grafitasinya disinggung oleh Allah dalam firmannya,

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اَوَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۗ كَانُوْٓا اَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَّاَثَارُوا الْاَرْضَ وَعَمَرُوْهَآ اَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوْهَا وَجَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۗ فَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَۗ. (قرآن سورة الروم/30: 9)

Artinya: “Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul)? Orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan mereka telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya melebihi apa yang telah mereka makmurkan. Para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang jelas. Allah sama sekali tidak menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi dirinya sendiri.” (QS. Al-Rūm/30: 9)

Ayat ini penjelaskan bahwa bumi telah dilapisi oleh lapisan gas yang menjaganya dari pengaruh sinar matahari. Pengaruh lapisan ini dapat dirasakan secara langsung dalam kehidupan kita. Lapisan tersebut dikenal dengan atmosfir bumi, yang mengelilingi seluruh permukaan planet bumi. Dengan adanya atmosfir ini maka al-Qur’an mengungkapkan bahwa manusia hidup di bumi (fil Ardhi), bukan di atas bumi. Karena kalau kita hidup di atas bumi maka permukaan kulit bumi adalah bagian terluar dari bumi. Dan ini tentunya bertentangan dengan realitas alam, dengan adanya atmosfir bumi yang mengelilingi semua permukaan bumi dengan kekuatan gaya grafitasinya.

D. Atmosfir bumi

Terkait dengan sifat atmosfir, Allah berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَاۤءِۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/6: 125)

Artinya: “Maka, siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An‘ām/6: 125)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa semakin tinggi  meninggalkan bumi maka tekanan udara pada ketinggian makin berkurang. Hal ini berpengaruh pada benda-benda hidup seperti manusia untuk bernafas pada ketinggian tersebut. Karena saluran pernafasannya terganggu karena persediaan oksigen menipis. Bahkan akibat dari persediaan oksigen yang yang sedikit itu bisa mengakibatkan manusia seperti tercekik atau hampir mati.

Pada ayat tersebut, yang dimaksud “dadanya sempit lagi sesak” adalah terjadi kekurangan oksigen pada saluran pernafasan. Dan perumpamaannya dengan pendakina ke langit, hal tersebut menunjukkan kurangnya persediaan oksigen pada ketinggian tertentu pada lapisan atmosfir bumi.

Selanjutnya terkait dengan sifat lain dari atmosfir bumi, disinggung dalam firman Allah QS. Al-Thariq/86 ayat 11, ayat dimaksud sebagai berikut:

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الرَّجْعِۙ. (قرآن سورة الطارق/86: 11)

Artinya: “Demi langit yang mengandung hujan.” (QS. Aṭ-Ṭāriq/86: 11)

Yang dimaksud dengan kalimat “dzaatu al-raj`i”, mengandung arti bahwa atmosfir memiliki daya melindungi bumi, sekaligus membantulkan kembali gelombang elektronik yang membenturnya kepermukaan bumi. Kondisi ini dimanfaatkan oleh manusia untuk membuat radio yang memanfaatkan energi gelombang udara. Pada umum, manfaat dari atmosfirni juga digunakan secara luas dalam bidang telekomunikasi. Selanjutnya, Raj'i bearti 'kembali berputar'.  Hujan dinamakan raj'i karena berasal dari uang yang naik dari bumi ke udara, kemudian turun ke bumi, kemudian menguap kembali ke atas, lalu turun lagi ke bumi, dan begitu seterusnya.

E. Sebab terbentuknya Gunung 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ ثَمَرٰتٍ مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهَا ۗوَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ ۢبِيْضٌ وَّحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهَا وَغَرَابِيْبُ سُوْدٌ. (قرآن سورة فاطر/35: 27)

Artinya: “Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, lalu dengan (air) itu Kami mengeluarkan hasil tanaman yang beraneka macam warnanya. Di antara gunung-gunung itu ada bergaris-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS. Fāṭir/35: 27)

Ayat di atas menunjukkan sebab terbentuknya gunung yang berwarna putih atau merah adalah air. Ini adalah isyarat bahwa air mempunyai pengaruh dalam reaksi kimia yang menyebabkan warna pada bebatuan dan tambang. Isyarat lain, dalam surat al-Hadid/57 ayat 25 Allah berfirman, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ. (قرآن سورة الحديد/٥٧: ٢٥)

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami menurunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan berbagai manfaat bagi manusia agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Ḥadīd/57: 25)

Kalimat “... Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat ...” وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ, ayat ini menunjukkan salah satu unsur terpenting yang terdapat pada lapisan bebatuan yang ada di dalam bumi, yaitu unsur besi (logam). Para peneliti menjelaskan bahwa unsur besi, mustahil terjadi dalam perut bumi. Karena dalam pembentukannya ia membutuhkan energi yang banyak dan sulit tersedia di dalamnya. Mereka berkesimpulan unsur besi telah terbentuk di planet lain yang di dalamnya tersedia energi yang memungkinkan pembentukkannya. Kemudian unsur besi itu dibawa atau dipindahkan ke bumi dengan satu mekanisme yang tidak diketahui. Hal ini terungkap pada kaliamat “Kami turunkan”. Jika demikian tentu terjadinya dari yang tinggi kepada yang rendah yaitu tingkat energi yang dibutuhkan.

F. Lapisan bebatuan (lempeng tektonik)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ. وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ. (قرآن سورة الزلزلة/99: 1-2)

Artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, bumi mengeluarkan isi perutnya.” (QS. Az-Zalzalah/99: 1-2)

Peristiwa rekahan yang terjadi di kulit bumi, terjadi pada lipatan lempengan tektonik yang membentuk struktur bumi. Hal tersebut berpengaruh pada terbelahnya lapisan bebatuan yang ada di perut bumi dan terbentuknya lubang besar. Sehingga tercipta palung besar yang membentuk lautan dan samudra. Contohnya palung yang terdapat di laut merah yang berasal dari lubang besar di daratan Afrika. 

Pembagian ketebalan bebatuan menurut para ahli geologi dan geofisika bahwa ketebalan yang terdapat pada bebatuan dibagia inti bumi lebih besar daripada yang terdapat pada bebatuan dibagian kulit bumi. Itulah sebabnya berat bumi terletak pada intinya, bukan di kulitnya. Petunjuk lain juga ditunjukkan oleh para ahli yaitu bumi bisa menumpahkan isinya yang terdiri dari bebatuan-bebatuan besar ketika terjadi letusan gunung atau gempa yang dahsyat. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ. وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ. (قرآن سورة الزلزلة/99: 1-2) 

Artinya: “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, bumi mengeluarkan isi perutnya.” (QS. Az-Zalzalah/99: 1-2)

Pesan ilmiah yang dalam ayat di atas adalah: Pertama, ketebalan lapisan bebatuan di bagian inti bumi dibandingkan dengan lapisan bebatuan yang terdapat di kulit bumi. Kedua, gelombang gempa yang dahsyat dapat menyebabkan bumi mengeluarkan kandungan batu-batu besar yang terdapat di dalamnya ke permukaan bumi.

Selanjutnya, diisyaratkan juga bahwa terdapatnya lapisan air yang terdapat di antara lapisan bebatuan sebagai pembentuk bumi bersama dengan lapisan udara yang terletak pada celah-celah disekitar lapisan bebatuan yang ada. Lapisan air ini juga tersedia sangat banyak di lautan, samudra,  dan sungai, sehingga membentuk permukaan air yang mengelilingi semua permukaan bumi. Lebih lanjut sebagai gambaran hal tersebut terdapat dalam al-Qur’an surat al-Nazi` at ayat 31 dan al-Namal ayat 60.

Pesan yang ingin disampaikan dalam masalah ini adalah betapa besarnya kekuasaan Allâh yang mampu menciptakan alam raya yang mahaluas ini dari ketiadaan menjadi wujud dan dapat dimanfaatkan oleh manusia dan tempat hidup makhluk-Nya yang lain seperti Malaikat, Iblis, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semua yang diciptakan-Nya itu mesti mengabdi kepada aturan dan kehendak-Nya. Mereka semua berada diluar ranah Allâh keberadaan-Nya, tetapi tetap dalam pengawasan-Nya. Rasulullah SAW juga menyinggung tentang pembentukan bumi, sebagaimana hadits berikut:

كَانَتِ الْكَعْبَةُ خُشَعَةٌ عَلَى الْمَاءِ فَدَخِيَتْ مِنْهَا الْأَرْضَ. 

Artinya: “Dahulu Ka`bah adalah bukit kecil di atas air kemudian dibentangkanlah bumi dari (bawah)nya."

Hadits ini dianggap gharib (aneh) oleh ulama-ulama dahulu maupun modern mengandung fakta ilmiah yang belum ditemukan manusia kecuali pada pertengahan dekade 60-an abad ke-20. Setelah usaha keras yang melibatkan ribuan pakar dan waktu yang cukup panjang. Dibuktikanlah pada umat manusia bahwa bumi kita ini pada awal penciptaan-Nya penuh dengan air sampai tidak ada kawasan kering yang tampak sedikit pun.

Kemudian Allah menghendaki untuk memuntahkan dasar samudra luas dengan letusan gunung berapi hebat yang terus menerus memuntahkan lava yang menggumpal satu sama lain, membentuk rentetan pegunungan di tengah samudra belantara ini. Pegunungan ini terus meninggi dan meninggi sampai nampak kepermukaan air yang membentuk daratan pertama dalam bentuk pulau vulkanik yang mirip dengan  sejumlah kepulauan vulkanik yang sekarang tersebar di seluruh samudra, misalnya kepulauan Jepang, Filipina, Indonesia, dan Hawaii. Sampai sekarang kepulauan-kepulauan vulkanik tetap membentuk sebagai puncak-puncak rantai pegunungan samudra.

Mencermati hadis dan penjelasan di atas dipahami bahwa pembentukan bumi yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut adalah sebuah ungkapan yang padat makna (al-jam`ul kalim) yang bersifat qudsiyah. Oleh karena itu, patutlah dipahami dengan penelitian yang mendalam. Karena jelas pengetahuan tersebut adalah dari Allah yang menjadi sabda beliau. 

Pernyataan tersebut menyebabkan para pakar baik Muslim maupun non-muslim selalu meneliti dan penelusuri terus-menerus kebenaran fakta teks hadis ini. Banyak lagi contoh sabda beliau yang menunjukkan para ilmuan di bidang sains yang sangat penting bagi mereka, seperti fenomena gerhana bulan dan matahari, kebuatan bumi dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan pengetahuan yang seterusnya menjadi ilmu yang teratur dan sistematis dalam kehidupan manusia modern. Hal ini akan senantiasa berlanjut.

REFERENSI

Abdul Basith dan Daliya Shiddiq, Ensiklopedi Ilmiah dalam al-Qur’an dan Sunnah, penerjemah: Ahrul Tsani dan Subhan Nur, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002), Cet. I

Asep Kurnia Permana, Regulasi dan Pengembangan Warisan Geologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s), (Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kamis 2 Juli 2020) ... https://psg.bgl.esdm.go.id/docs_gsm/2020/20200702-Webiner-1.pdf

Buchari. M, Kaidah Keshahihan Matan Hadits, (Padang: Azka, 2004), Cet. I

Faruq Sherif, Al-Qur’ân menurut Al-Qur’ân (Penterjemah M. H. Assagaf  dan Nur Hidayah), (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, November 2001), Cet. I

Harun Nasution, Akal dan Wahyu, 1986, h. 15,  17)

Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1960)

Manna’ Al-Khalil Al-Qaththan, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’ân, (Jakarta: PT. Lentera AntarNusa, 1994), Cet. II

Mahmud Syaltut, Islam Aqidah dan Syari`ah, (Jakarta: Pustaka Amani, 1998), Cet. II

T. M. Hasbi Ash-Shiddieqiy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’ân/tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), Cet. Ke-7

Muhammad ibn Hajjaj, al-Musnad al-Shahîh al-Mukhtashar min al-Sunan bi naql al-`Adl `an Rasûl Allâh Shallâ Allâh  `alaihi wa Sallam, (selanjutnya disebut Shahîh Muslim), naskah di-tahqiq oleh Muhammad Fu’ad `Abd al-Bâqiy, (Bairût: Dâr al-Fikr, [t. th.]),  jilid II

Pengertian Geologi – Pengetahuan, Alam, Sejarah, Cabang Ilmu (khasanahkonsultama.co.id)

Muhammad Zuhdi, Buku Ajar Pengantar Geologi, (Lombok: Duta Pustaka Ilmi, 2019), Cet. I

Nia Ainiah, Ayat-ayat Geologi dalam Al-Qur’an: Studi Komparatif Tafsir Ilmi dan Sains Modern, (Jakarta: Institut Ilmu al-Qur’an (IIQ), 2020

Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), Cet. II

Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), Ed. 2

Rosihan Anwar, Ulumul Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 2004), Cet. II

Zainal Abidin S., Seluk-beluk Al-Qur’ân, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), Cet. I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]