“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


REALITAS, PROBLEMATIKA DAN SOLUSINYA 
OLEH: SAMSURIZAL, MA 

I. PENDAHULUAN 

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis kepada Allah yang telah mengantarkan penulis pada rencana yang telah dipersiapkan sejak azali untuk berjumpa dengan para pemikir dan dengan para filsof yang saya impikan selama jalan pemikirannya sejak dulu. Shalawat beserta salam kepada Rasullah SAW yang telah membimbing umatnya untuk sampai kepada penyempurnaan akhlak dan memandu perjalanan hidup umatnya. Serta, salam ta’zhim kepada para sahabat dan para tabi’in, tabi’tabi’in dan orang-orang salih yang mengikutinya sampai hari kiamat. 

Seiring dengan pernyataan di atas untuk memahami “Realitas, Problematika dan Solusi”nya di masa modern ini menurut penulis mesti mengikuti alur pemikiran yang dilandasi oleh kehendak Tuhan sebagai sentral realitas. Sehingga, apa yang menjadi tujuan hidup “Ilaihi raaji`uun” kembali kepada Allah dengan jiwa yang muthma’innah (suci dan tenang” terwujud dengan sendirinya. Sejalan dengan itu, bimbingan Rasul-Nya yang mulia baik akhlak dan pemikirannya untuk kepentingan umatnya selalu terjaga dan terpelihara dengan adanya para pecinta kebenaran dan orang-orang yang khitman dengan kebijakan realited. 

Mencermati hal demikian rumit dari penciptaan manusia yang tercurah dari al Haqq, sehingga ia pun menjadi ciptaan yang secara haqq mengikuti sifatnya secara simultan dan berproses. Kesepadatanan ini terlihat pada penyebutan Allah sebagai al Haqq dengan penciptaan manusia secara Haqq dalam al Qur’an dimuat seimbang (masing-masing sepuluh kali), kata ini dalam bentuk jamaknya “huquuq” tidak ditemukan dalam al Qur’an. 

 Demikianlah kenapa realitas dapat dimaknai dengan dua bentuk: pertama, realitas otentik dan realitas buatan. Nah, tulisan kali ini penulis mencoba menelisik sejauh mana “Realitas, Problematika dan solusi” nya dapat teraplikasi dalam pengetahuan dan pemahaman akal dan nalar yang dimiliki? Bagaimana rumus memahaminya? Kenapa harus diketahui dan dipahami? Apa saja rumusannya?. Empat pertanyaan tersebut penulis tuangkan dalam coretan pemikiran setelah ini. 

II. PEMBAHASAN 

A. Realitas 

Manusia hidup dalam realitas dan menghadapinya sebagai tantangan. Menyikapi hal ini perlu ditelusuri bahwa hal yang menjadi tantangan itu mesti dapat dikelompokan agar mudah memahaminya. Oleh karena itu Musa Asy’ari mengelompokkannya dalam dua kelompok besar yang satu dengan yang lainnya dapat menjadi simbiosis berfikir dan prilaku. Ia menyebutkan bahwa terdapat dua kelompok realitas, yaitu; 1. Realitas otentik, dan 2. Realitas buatan. Keduanya memiliki ranah dan arahnya masing-masing. Oleh karena itu, mesti berhati-hati meletakkannya sebagai tantangan hidup. Dengan demikian, perlu dicermati uraian terkait keduanya. Menurut hemat penulis uraian tersebut menurut nalar dapat penulis sebutkan di bawah ini.   

1. Realitas Otentik 

Realitas otentik adalah suatu kondisi nyata yang murni dan original apa adanya, bebas dari segala kepentingan. Ia merupakan kritik terhadap realitas buatan, yang menjadi objek penderita dari realitas otentik. Selanjutnya, realitas otentik meliputi alam semesta, harmoni keseimbangan, kekuasaan, kematian, dan kebenaran. Kelima cakupan ini semestinya mampu mengendalikan objek, karena ia adalah subjek. Jika ini terjadi maka semua yang menjadi ruang lingkup atau objeknya itu dapat terkendali dan dapat dimanfaat dengan baik dan benar (haqq). Begitu juga, jika terjadi sebaliknya maka seluruh atau sebagiannya akan hilang dan musnah. Inilah yang disindir oleh Allah dalam al Qur’an surah al Ruum/30 ayat 41, 42 dan 43 sebagai berikut: 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

 ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ. (قرآن سورة الروم/30: 41) 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rūm/30: 41) 

 قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُۗ كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ. (قرآن سورة الروم/30: 42) 

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik.” (QS. Ar-Rūm/30: 42) 

 فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ الْقَيِّمِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ يَوْمَىِٕذٍ يَّصَّدَّعُوْنَ. (قرآن سورة الروم/30: 43) 

Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (kiamat) yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu mereka terpisah-pisah.*). (QS. Ar-Rūm/30: 43) 

Ayat-ayat di atas memberikan pencerahan terhadap realitas otentik memperbaiki kunkungan realitas buatan yang diposisikan sebagai perbuatan manusia. Sehingga perbuatan mereka menjadi malapetaka, kemudian juga menjadi dasar bagi mereka kembali kepada realitas otentik yang telah dianugerahi oleh Allah sejak azali, yaitu penggunaan akal dan nalar. Lebih lanjut, disarankan kepada Rasulullah SAW bahwa peluklah Islam sebelum sampai suatu kondisi kehancuran (kiamat/kehancuran masal). Pada saat itu mereka akan terpisah satu sama lain. Terpisah, pada ayat 43 tersebut dimaksudkan bahwa mereka terpisah, sebagian ada di surga (tempat yang bahagia) dan sebagian lagi di neraka (tempat yang penuh dengan penderitaan). Ini terekam dalam ayat selanjutnya, “Siapa yang kufur, maka dia sendiri yang menanggung (akibat) dari kekufurannya. Siapa yang mengerjakan kebajika, maka mereka menyiapkan untuk diri mereka sendiri (tempat yang menyenangkan). Hal tersebut berlaku karena Allah dapat menganugerahkan balasan dan karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang kufur dengan memaksakan realitas yang dipahaminya sendiri (lihat ayat 45). Kisah-kisah tentang perusakan ini, sebab-sebabnya dan pelakunya banyak disebutkan dalam al-Qur’an, namun hemat penulis semuanya terkait dengan kualitas keimanan dan prasangka terhadap alam dan penghuninya. 

Selanjutnya, salah satu solusi terbesar dalam mengelolah alam dan komponen mikro dan makro yang tanpak amaupun tidak mesti dikelola oleh manusia sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, dibutuhkan manusia-manusia yang ahli dan tepat. Sebab senantiasa diingatkan bahwa, tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik alam ini tanpa diurus oleh orang-orang yang ahli dan tepat . Demikian juga diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab shahihnya bahwa Imam Muslim berkata, 

 حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ كِلَاهُمَا عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيَّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ وَإِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مَنْ بِأَقْطَارِهَا أَوْ قَالَ مَنْ بَيْنَ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا. و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرُونَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ الرَّحَبِيِّ عَنْ ثَوْبَانَ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى زَوَى لِي الْأَرْضَ حَتَّى رَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَأَعْطَانِي الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ. (رواه مسلم: ٥١٤٤( 

Telah menceritakan kepada kami Abu Ar Rabi' Al Ataki dan Qutaibah bin Sa'id, keduanya dari Hammad bin Zaid dan teksnya milik Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Hammad dari Ayub dari Abu Qilabah dari Abu Asma` dari Tsauban berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku, aku diberi dua harta simpanan; merah dan putih, dan sesungguhnya aku meminta Rabb-ku untuk umatku agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, agar Ia tidak memberi kuasa musuh untuk menguasai mereka selain diri mereka sendiri lalu menyerang perkumpulan mereka, dan sesungguhnya Rabb-ku berfirman: 'Hai Muhammad, sesungguhnya Aku bila menentukan takdir tidak bisa diubah, sesungguhnya Aku memberikan untuk umatmu agar tidak dibinasakan oleh kekeringan menyeluruh, Aku tidak memberi kuasa musuh untuk menyerang mereka selain diri mereka sendiri lalu mereka menyerang perkumpulan mereka meski mereka dikepung dari segala penjurunya hingga sebagian dari mereka membinasakan sebagian lainnya dan saling menawan satu sama lain." 

 Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb, Ishaq bin Ibrahim, Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basyar, berkata Ishaq: Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan yang lain berkata, telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hiysam telah menceritakan kepadaku ayahku dari Qatadah dari Abu Qilabah dari Abu Asma` Ar Rahabi dari Tsauban bahwa nabi Allah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku hingga aku melihat timur dan baratnya, dan Ia memberiku dua harta simpanan; merah dan putih." Selanjutnya ia menyebut seperti hadits Ayyub dari Abu Qilabah. (HR. Muslim: 5144 - shahih dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H. Hadits masyhur dari enam jalur periwayatan, imam Muslim meriwayatkan dari enam orang gurunya)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan imam Abu Daud: 3710 - shahih dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H. Hadits 'aziz, karena imam Abu Daud meriwayatkan dari dua orang gurunya. Ahmad: 21415 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Tsauban bin Bajdad, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam dan wafat tahun 54 H. 

2. Realitas Buatan 

Realitas buatan adalah hasil karya manusia dan resesi alam yang saling berjalin dalam kerangka kebudayaan, konflik penghancuran, birokrasi kekuasaan, pembunuhan, dan pembenaran. Semua hal ini dipicu oleh komponen yang diciptakan sendiri oleh manusia. Karya tersebut berbentuk opini, media, teknologi, ideologi, birokrasi. 

Pertama; Opini ini terbentuk melalui proses pemikiran, sehingga melahirkan penelitian, penarikan kesimpulan. Selanjutnya menjadi teori yang, kemudian kebenaran yang dihasilkan menjadi kebenaran yang dimutlakan. Kecendrungan ini, secara umum dijadikan rujukan bagi mereka yang membuat realitasnya sendiri. Selanjutnya opini ini disosialisasikan melalui media, seperti televisi, youtuber, layar digital, cetakan dan spanduk baik berbentuk kalimat-kalimat tertulis maupun orasi ilmiah. Istilah sekarang dikenal dengan dikembang memalalui media digital offline maupun online, mereka mewujudkan industri media. Hal tersebut mengandung tujuan yang terorganisir dalam kerangka menuai keuntungan (profit), yaitu: kepentingan, media, isi, sehingga sulit untuk bersikap dan bertindak netral. Alasan yang sering dikompanyekan adalah jika tidak berorientasi seperti itu, maka industri media akan mati. 

Kedua; Teknologi, ini dimulai dari pembuatannya, sistem, kekuatan kapital (modal), alat, dan cara pelipatgandaanya. Semuanya menjadi penting dalam membangun satu realitas teknologi. Sehingga ia berjalan sesuai dengan keinginan pembuatnya (manusia cerdas). 

Ketiga; Realitas ideologi, ini berupa pandangan tentang politik, ekonomi, agama, konflik ideologi, dan ideologi negara. Paduan semua ini dibuat untuk mencapai tujuan hidup yang mapan dan berkelanjutan. Tern-tern ini akan memicu munculnya persaiangan hidup yang melelahkan, sehingga tolak ukurnya adalah kemampuan kompetisi antar manusia dan produk yang mereka hasilkan dan pasarkan kepada sesama manusia melalui media di atas. 

Keempat; Demokrasi kapital, hal ini menjadi awal lahirnya partai politik, money politik, pemilu dan uang, birokrasi pemilu, dan demokrasi prosedural. Kelahiran ide-ide ini diharapkan dapat mengendalikan ideologi yang dianut baik individu maupun kelompok. 

Kelima; Birokrasi kekuasaan, terkait dengan empat realitas di atas menghendaki lahirnya birokrasi kekuasaan. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan. Hadirnya hal ini menggerakkan manusia membuat sistem birokrasi negara, pemerintahan, partai, transaksiaonal, dan birokrasi korup (kelompok se-ide). 

Mencermati uraian di atas akan berdampak kepada realitas Terguruan Tinggi (PT). Unsur-unsur yang masuk ke PT dapat menyebabkan Feodalisme PT, Industri gelar akademik, kajian akademiki industrial, kajian teoritik opini. Sebagai hasilnya akan berorientasi pada anti realitas otentik sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Sehingga semua sisi kehidupan berada dalam kunkungan realitas buatan atau rekayasa realitas. Lebih lanjut, akan muncul kampus, universitas atau perguruan tinggi anti realitas. Tercipta buku dan atau karya ilmiah beraplikasi keilmuan. Konseptualisasi teoritik realitas buatan tidak berhubungan dengan tealitas otentik yang berperan sebagai kritik teori yang bertumpu pada pembenaran. 

Realitas otentik semestinya berperan dalam dinamika kehidupan secara tidak langsung membentuk karya ilmiah yang berpikir secara metodologis memandang ilmu sebagai proses, produk dan masyarakat ilmiah. Inilah konsep yang mesti dibuyakan, sehingga konseptualisasi teoritis terjaga. 

Perbandingan antara realitas otentik dan realitas buatan jelas menghendaki hasil yang berbeda baik dalam alur pikir maupun dalam aplikasi dalam kehidupan. Namun, semakin ketatnya gerak kebudayaan manusia telah dikungkung oleh realitas buatannya sendiri. Sehingga mereka terkotak-kotak, fanatis (tertutup) susah menerima tealitas buatan orang lain, atau bahkan berada dalam ketidak puasan. Akhirnya terjadilah tragedi perebutan kekuasaan dan komfilk kekerasan. Jika ini berlanjut, maka tidak dapat dihindari lagi pemusnahan masal akan terjadi. 

Solusi yang dapat diambil dalam kondisi di atas diantaranya adalah perlunya distinsi mengambil jarak. Cara ini dapat memposisikan manusia sebagai subjek, sementara realitas buatan menjadi objek. Selanjutnya mengambil jarak untuk keluar dari dominasi sistemiknya. Tujuannya untuk mendapatkan kebebasan, kemerdekaan, dan kemandirian baik individu maupun kelompok. Ini bermakna, bagaimana mengoposisikan diri. 

B. Problematika Realitas Mengamati realitas yang terjadi, hal yang menjadi problem dalam lingkung realitas buatan adalah mengurung kebebasan, menghilangkan kemandirian, fanatisme tertutup/jumud, sehingga pada akhirnya tercipta konflik detruktif. Begitulah secara simultan terjadi dalam hidup dan kehidupan manusia, sejatinya akan berputar dalam lingkarannya. Ini terjadi sejak diciptakan manusia. Inilah kisah peradaban manusia yang senantiasa terulang dalam masa dan tempat yang berbeda dan pemain gamelan yang sendu. Namun, mengamati realitas ini akan semakin terbukti kebenaran yang hakiki yaitu firman Allah. Begitu juga halnya kedalaman hikmah diutusnya para nabi dan rasul. 

C. Solusi Realitas Pada akhirnya sampailah kepada perumusan solusi untuk mengatasi realitas buatan agar tidak meggilas atau bahkan dapat memperlambat kehancuran. Hal dapat dilakukan adalah berfilsafat. Karena dengan berfilsafat dapat mengalami pengalaman bagaimana berpikir bebas, menguliti realitas sampai kedalamnya. Sehingga menemukan hikmah dan hakikat realitas. Karena inilah salah satu jalan untuk menilai dan bertindak secara etis dan sesuai nalar (reason). Selanjutnya, existensi otak (brain) dan akal (maind) berfungsi secara maksimal, pada gilirannya merayu intuasi. Begitu juga Nalar untuk mendayagunakan akal budi dalam menjalankan hidup sehari-hari. Kemampuan mempertimbangkan, dan memilih yang tepat. 

III. PENUTUP 

Realitas otentik dan realitas buatan merupakan suatu lingkaran peradaban yang pasti dialami oleh manusia sepanjang peradabannya. Keduanya terkadang berada pada titik yang bertolak belakang, sehingga terjadi kerusakan. Begitu juga terkadang berada pada posisi sejajar, dimana manusia dapat hidup berdampingan dengan harmoni dan saling memberikan nutrisi kehidupan. Seruan-seruan untuk mengelola keduanya dengan baik dan tepat bersumber dari kebenaran yang hakiki yaitu dari Tuhan yang memiliki otoritas absolut untuk mempergilirkan keduanya. Sehingga melahirkan keseimbangan alam dan penghuninya, baik secara makro maupun mikro. 

Wujudnya dua tern ini, menciptakan ketertarikan tersendiri agar semua potensi yang Allah anugerahkan bergerak. Sisi baiknya dapat memaksimalkan penggunaan otak, akal dan nalar manusia. Sejalan dengan itu, melalui pengetahuan dan realitas pengalaman hidup mereka semakin dekat dengan daya instuisi atau mencapai sesuatu diluar nalar. Ektase yang dialami dari kenikmatan berfikir diluar nalar mengantarkan manusia kepada ketenangan jiwa.   

 REFERENSI


https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag 

Lidwa, Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam v10.4.5, (Indonesia: Saltanera, 2010) 

Muhammad bin `Isa Abu `Isa at Tirmidzi al Silmiy, al Jami` al Shahih al Tirmidziy,tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, (Bairut: Dar ihya al Turats al `Arabiy, tth), Juz IV. 

Muhammad bin Hibban Ahmad Abu Hatim al Tamimiy al Bustiy, Shahih Ibnu Hibban bitartibi Ibnu Balban, tahqiq: Syu`aib al Arnuth, (Bairut: Muassasah al Risalah, 1993), Juz XVI. 

Musa Asy`arie, Realitas, Problematika dan Solusinya, (Yogyakarta: Sekolah Filsafat Musa Asy`arie, 3 Oktober 2021), Materi I. 

Muslim bin al Hajjaj Abu al Husain al Qusyairiy al Naisabuuriy, Shahih Muslim, tahqiq: Muhammad Fu’ad `Abdul Baqiy, (Bairut: Dar ihya al Turats al `Arabiy, tth), Juz IV. 

Samsurizal, Karakteristik Kata al Haqq dalam al Qurán, (Jawa Barat: Penerbit Adab, 2021), Cet. I.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]