“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

MEMBACA PEMIKIRAN MUSA ASY`ARIE: PARADIKMA TEOLOGI INTEGRALISTIK
OLEH: SAMSURIZAL, MA
‎17 Oktober 2021‎


Abstrak

Paradikma teologi integralistik ‎ adalah suatu epistemologi berpikir tauhid multidimensional, ‎profetik, eksistensional dan ekonomi islam. Hal ini mentolerir semua pemikiran dalam lingkaran ‎absulutisme dan refleksi tingkat tinggi. Sehingga memunculkan sikap toleransi terhadap hasil ‎pikiran multidimensi. Musa Asy`arie menawarkan corak berpikir integralistik dalam ranah tauhid ‎multidimensional diletakkan pada ruang terbuka, relatif dan membaca dengan critical thinking.‎

I.‎ Pendahuluan

Pemikiran filosof klasik cenderung berpikir bebas tapi terikat. Sehingga sering terbatas oleh ‎dogma. Seperti Al Kindi tentang pandangan ke-Tuhan-annya, “Allah adalah wujud yang ‎sebenarnya, bukan berasal dari tiada kemudian ada”. Menurut Sirajuddin Zar, pandangan ini ‎bertentangan dengan pendapat Aristoteles, Plato dan Plotinus.‎ ‎ Sedangkan al Farabi berpendapat ‎bahwa wujud pertama sebagai sebab pertama bagi segala yang ada.‎ ‎ Pernyataan yang sama ‎dengan al Farabi dikembangkan oleh Ibnu Sina, namun ia membagi wujud itu kepada tiga ‎tingkatan dengan kemampuan kreasi tersendiri yaitu wajib al wujud, mumkin al wujud dan ‎mumtani` al wujud (esensi yang tidak dapat mempunyai wujud)‎‎. Hal ini untuk memeroleh ‎pengetahuan yang menyakinkan tentang Allah. Sementara itu, filosof setelahnya banyak terjebak ‎pada perdebatan akal dan memeroleh kebenaran serta terkait agama dan filsafat.‎
Sedangkan Musa Asy'arie merefleksikannya, berpikir bebas tidak sama dengan bertindak ‎bebas. Sehingga, memeroleh kelanggengan dalam absurditas berpikir dan pengembalian ‎kebenaran absolut menjadi integralistik. Selanjutnya, menghendaki pemahaman ‎multidimensional. Akhirnya, kebenaran otentik dapat leluasa mengeritisi pembenaran parsial. ‎Inilah pondasi utama berpikir integralitas Musa Asy'arie. Berpikir integralistik membutuhkan ilmu ‎mumpuni. Hal ini tidak akan pernah dimiliki orang awam. Oleh karena itu, tingkatan berpikir ‎ketuhanan dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu persepsi, konsepsi dan empirik. Ketiga konsep ‎berpikir ini diintegeralkan menjadi satu pondasi untuk mencapai kebenaran sebagaimana ‎dipahami kaum sufi dan filsof. Sebagaimana Allah menyindir dalam al Qur’an, bahwa Allah ‎Subhanahu wa Ta'ala berfirman: ‎

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍۗ  قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ الَّذِيْ جَاۤءَ بِهٖ مُوْسٰى ‏نُوْرًا وَّهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنْتُمْ، وَلَآ اٰبَاۤؤُكُمْ قُلِ اللّٰهُ، ‏ثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ. (قرآن سورة الأنعام/6: 91)‏

Mereka (Bani Israil) tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, ‎‎“Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Nabi Muhammad), ‎‎“Siapakah yang menurunkan kitab suci (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk ‎bagi manusia? Kamu (Bani Israil) menjadikannya lembaran-lembaran lepas. Kamu ‎memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan ‎kepadamu apa yang tidak diketahui baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, ‎‎“Allah.” Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (QS. Al-An‘ām/6: 91)‎

Asas pemikiran teologi di atas sejalan dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah ‎SAW,‎

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ ‏وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي. (رواه البخري/6: 2725)‏ 
‎ 
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah ‎menceritakan kepada kami Abuz Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎bersabda, "Allah berfirman: 'Aku selalu tergantung prasangka hamba-Ku terhadap-Ku." (HR. Al ‎Bukhari/6: 2725)‎

Hadits semakna dengan hadits di atas cukup banyak, baik dalam riwayat imam al Bukhari, ‎Muslim, at Tirmidzi, an Nasa’iy, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Malik, ad Darimiy, al Hakim, ath ‎Thabraniy, al Baihaqiy dan yang lainnya. Sehingga kemutawatirannya tidak diragukan lagi. ‎Memahami Allah sebagaimana terurai dalam pola berpikir teologi integeralistik dapat ‎diterima dengan legitimasi dogmatis, filosofis dan empirik. Alasan inilah kenapa perlunya ‎mengembangkan pola berpikir sebagaimana dimaksud. Agar lebih jelasnya mari simak dan ‎cermati uraian di bawah ini.‎

II.‎ Pembahasan  ‎

A.‎ Paradikma Teologi Integralistik

Tauhid teologis menurunkan tauhid kosmologi yang kemudian memunculkan tauhid ‎kebidayaan.‎

‎1.‎ Tauhid Teologis ‎
‎2.‎ Tauhid Kosmologis: Alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan dikelola oleh manusia. ‎Kemudian memberi solusi dengan  ‎
‎3.‎ Tauhid Antropologis: Tauhid kebudayaan.‎

B.‎ Struktur Fundamental Paradikma Teologi Integralistik

‎1.‎ Paradigma Berpikir Multidimensional ‎
‎2.‎ Metodologi Berpikir Profetik ‎
‎3.‎ Filsafat Eksistensialis Teo-Antroposentrisme: Manusia sebagai khalifah Allah.‎
‎4.‎ Filsafat Ekonomi Islam: Sebagai akibat dari kekhalifahan manusia untuk mengatur ‎hidup, terbentuk dari kebudayaan.‎

C.‎ Filsafat Ketuhanan

‎1.‎ Tanggung jawab Dogmatis yang berdasarkan pada dogma atau wahyu, ini ‎kebertuhanan kaum awam.‎
‎2.‎ Tanggung jawab Filosofis yang berpijak pada akal dengan melakukan penalaran secara ‎rasional-filosofis. Ia bersifat universal yang dapat melampaui dogmatis.‎

D.‎ Tauhid Teologis

Sifatnya terbuka terhadap hasil pikiran orang lain. Pendekatan tersebut dibagi tiga ‎pandangan yaitu Tuhan Persepsi, Tuhan Konsepsi, dan Tuhan Empirik.‎

‎1.‎ Tuhan Persepsi: Pendekatan Dogmatis: Keberagamaan/kebertuhanan kaum awam. ‎Gaya kebertuhanan seperti ini rawan akan perubahan atau dirubah orang lain. Mereka ‎mudah terjebak kepada intoleransi.‎
‎2.‎ Tuhan Konsepsi: Pendekatan Filosofis dengan menggunakan lima argumentasi ‎rasional filosofis yakni argumentasi ontologis, teologis, kosmologis (sebab-akibat), ‎moralitas dan pragmatis: Keberagamaan/kebertuhanan kaum intelektual. Gaya ‎kebertuhanan ini, mereka akan senantiasa mencari atau muncul keinginan yang luar ‎biasa untuk meningkatkan gaya kebertuhanannya.‎
‎3.‎ Tuhan Empirik: hal ini dapat dilakukan secara filosofis Tuhan yang benar-benar kita ‎alami dalam hidup
a.‎ Tuhan Empirik: Religious Experience, pendekatan intuitif memalui pengalaman.‎
b.‎ Erich Fromm: The Highest development of rationality, rasionalitas tertinggi tidak ‎bisa digambarkan. Kecuali oleh orang yang mengalaminya sendiri. Ini adalah ‎karakter Keberagamaan/kebertuhanan kaum sufi (sufistik).‎

Tuhan Empirik, hakikatnya ber-Tuhan itu dapat menjadi pengalaman empirik yang ‎menggetarkan, di mana seseorang menjalani jejak-jejak Tuhan dalam kehidupannya dan ‎bersama kehidupan semua yang ada, baik di daratan, di lautan maupun di langit, karena ‎sesungguhnya semua kehidupan itu berada di dalam Tuhan, dan di luar Tuhan ‎sesungguhnya tidak ada kehidupan sama sekali. Dengan menapaki jejak-jejak Tuhan itu, ‎maka manusia berkenalan secara pribadi dengan Tuhan yang autentik dalam pengalaman ‎empirik yang menggetarkan hatinya. Hal ini dapat diarahkan pada aspek Filosofis: ilmu, ‎karu’yatin nar, sementara dipandang dari sisi sufistik. Ini merupakan kekuatan makrifat, ‎kal isthilahi biha “seperti tenggelam dalam api”(Imam Ghazali) dan ‘Adamul ilmi laisa ilman ‎bil adami “tidak adanya pengetahuan, bukan berarti tidak ada”(Ibnu Taimiyah).‎
Maksudnya, sesuatu yang tidak bisa dicerna secara rasional, bukan berarti realitas ‎tentang sesuatu itu tidak ada. Hanya saja, pengalaman mistik bersifat supra-indrawi ‎bahkan supra-rasional sehingga tak terjangkau oleh kapasitas panca indra dan akal ‎manusia. Hal tersebut disebabkan karena gabungan jasmani, intelektual dan spritual.‎
Ketiga Tuhan itu digabungkan, karena masing-masing sifatnya relatif, baik Tuhan ‎persepsi, konsepsi dan empirik kita tentang Tuhan bukanlah Tuhan. Oleh karena itu, perlu ‎membuka diri. Alasanya, semuanya konsepsi tentang Tuhan itu terbatas. Masuklah ‎kebertuhanan Sufistik, maka jiwa akan tenang. Artinya sudah benar-benar memahami ‎bertemu atau keber-Tuhan-an. Sehingga memunculkan toleransi yang sangat tinggi ‎terhadap pemikiran tentang Tuhan oleh orang lain.‎
Pernyataan di atas sejalan dengan informasi yang ditemukan dalam kitab-kitab hadits ‎bahwa semua makhluk ada dalam genggaman Allah. Bahkan semuanya hanya diciptakan ‎oleh Allah dengan jari-Nya. Imam Al Bukhari meriwayatkan ‎,‎

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَزْهَرُ السَّمَّانُ عَنْ ابْنِ عَوْنٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ عُبَادٍ قَالَ كُنْتُ ‏جَالِسًا فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ فَدَخَلَ رَجُلٌ عَلَى وَجْهِهِ أَثَرُ الْخُشُوعِ فَقَالُوا هَذَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ‏فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ تَجَوَّزَ فِيهِمَا ثُمَّ خَرَجَ وَتَبِعْتُهُ فَقُلْتُ إِنَّكَ حِينَ دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ قَالُوا هَذَا رَجُلٌ مِنْ ‏أَهْلِ الْجَنَّةِ قَالَ وَاللَّهِ مَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَقُولَ مَا لَا يَعْلَمُ وَسَأُحَدِّثُكَ لِمَ ذَاكَ رَأَيْتُ رُؤْيَا عَلَى عَهْدِ ‏النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَصَصْتُهَا عَلَيْهِ وَرَأَيْتُ كَأَنِّي فِي رَوْضَةٍ ذَكَرَ مِنْ سَعَتِهَا وَخُضْرَتِهَا ‏وَسْطَهَا عَمُودٌ مِنْ حَدِيدٍ أَسْفَلُهُ فِي الْأَرْضِ وَأَعْلَاهُ فِي السَّمَاءِ فِي أَعْلَاهُ عُرْوَةٌ فَقِيلَ لِي ارْقَ قُلْتُ لَا ‏أَسْتَطِيعُ فَأَتَانِي مِنْصَفٌ فَرَفَعَ ثِيَابِي مِنْ خَلْفِي فَرَقِيتُ حَتَّى كُنْتُ فِي أَعْلَاهَا فَأَخَذْتُ بِالْعُرْوَةِ فَقِيلَ ‏لَهُ اسْتَمْسِكْ فَاسْتَيْقَظْتُ وَإِنَّهَا لَفِي يَدِي فَقَصَصْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تِلْكَ ‏الرَّوْضَةُ الْإِسْلَامُ وَذَلِكَ الْعَمُودُ عَمُودُ الْإِسْلَامِ وَتِلْكَ الْعُرْوَةُ عُرْوَةُ الْوُثْقَى فَأَنْتَ عَلَى الْإِسْلَامِ حَتَّى ‏تَمُوتَ وَذَاكَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَامٍ و قَالَ لِي خَلِيفَةُ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا ‏قَيْسُ بْنُ عُبَادٍ عَنْ ابْنِ سَلَامٍ قَالَ وَصِيفٌ مَكَانَ مِنْصَفٌ. (رواه البخاري: ٣٥٢٩)‏

Telah bercerita kepadaku 'Abdullah bin Muhammad telah bercerita kepada kami Azhar as-‎Samman dari Ibnu 'Aun dari Muhammad dari Qais bin 'Abbad berkata; Aku pernah duduk ‎di masjid Madinah lalu datang seorang laki-laki yang nampak pada wajahnya tanda-‎tanda kekhusyukan. Orang-orang berkata, "Inilah seseorang diantara calon penghuni ‎surga". Orang itu kemudian mengerjakan shalat dua rakaat dengan menyempurnakannya ‎lalu keluar masjid. Aku mengikutinya lalu aku berkata, " ketika Anda masuk masjid tadi ‎orang-orang mengatakan bahwa Anda termasuk calon penghumi surga". Orang itu ‎berkata, "Demi Allah, sungguh tidak patut buat seorangpun mengatakan hal yang dia ‎tidak mengetahuinya. Aku akan ceritakan kepadamu apa alasannya. Sungguh aku pernah ‎bermimpi pada zaman Nabi ‎ﷺ‎ lalu aku ceritakan mimpiku kepada beliau. Dalam mimpiku ‎itu seolah aku melihat taman yang luas, suasananya yang hijau nan asri, di tengahnya ‎ada tiang-tiang dari besi. Bagian bawahnya adalah bumi sedang atasnya adalah langit. ‎Pada bagian atasnya itu ada tali. Dikatakan kepadaku, "Mendakilah". Aku katakan, "Aku ‎tak sanggup". Kemudian datang kepadaku orang yang membantuku, lalu dia ‎mengangkat bajuku dari belakangku sehingga aku mampu mendakinya hingga ketika ‎sudah berada di atas aku pegang tali tersebut. Dikatakan kepadaku, "Berpeganglah". ‎Maka aku sanggup memegangnya dan sungguh tali itu berada pada genggamanku". ‎Kemudian aku ceritakan mimpiku itu kepada Nabi ‎ﷺ‎ maka beliau berkata, "Yang dimaksud ‎dengan taman itu adalah Islam sedangkan tiang-tang adalah tiangnya Islam dan tali itu ‎adalah al-'urwatul wutsqa (kalimat tauhid). Dan kamu berada dalam Islam hingga ‎meninggal dunia". Orang itu adalah 'Abdullah bin Salam. Dan berkata kepadaku Khalifah ‎telah bercerita kepada kami Mu'adz telah bercerita kepada kami Ibnu 'Aun dari ‎Muhammad telah bercerita kepada kami Qais bin 'Abbad dari Ibnu Salam berkata; Kata ‎Shiifu sebagai kata ganti dari minshaf". (HR. Al Bukhari: 3528 - shahih dari 'Abdullah bin ‎Salam bin Al Harits, ia shahabat kuniyahnya Abu Yusuf negeri hidup Madinah dan wafat ‎tahun 43 H. Hadits 'aziz, karena imam Al Bukhari meriwayatkan dari dua orang gurunya)‎

Demikian juga diriwayatkan secara makna yaitu hadits riwayat imam Al Bukhari: 6497  ‎‎(hadits 'aziz, karena imam Al Bukhari meriwayatkan dari dua orang gurunya) dan Muslim: ‎‎4536 (dengan lafazh sama)- shahih dari 'Abdullah bin Salam bin Al Harits, ia shahabat ‎kuniyahnya Abu Yusuf negeri hidup Madinah dan wafat tahun 43 H.‎

Redaksi lain mengungkapkan bahwa Rasulullah bersumpah dengan jiwanya yang berada ‎dalam genggaman Allah. Begitu juga Langit dan bumi semua isinya. Hal ini terekam dalam ‎hadits riwayat imam Al Bukhari: 4467, beliau berkata:‎

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ ‏حَبْرٌ مِنْ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللَّهَ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ ‏عَلَى إِصْبَعٍ وَالْأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَسَائِرَ ‏الْخَلَائِقِ عَلَى إِصْبَعٍ فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا ‏لِقَوْلِ الْحَبْرِ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا ‏قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ }. (رواه البخاري: ‏‏٤٤٣٧)‏
Telah menceritakan kepada kami Adam Telah menceritakan kepada kami Syaiban dari ‎Manshur dari Ibrahim dari Abidah dari Abdullah radhiallahu'anhu dia berkata; Seorang ‎rahib datang kepada Nabi ‎ﷺ‎ lalu dia berkata; 'Ya Muhammad, Kami mendapatkan bahwa ‎Allah Ta'ala memegang langit, bumi, pohon-pohon, air, binatang-binatang, dan seluruh ‎makhluk dengan jari-Nya seraya berkata; 'Akulah Raja (Penguasa)! 'Maka Rasulullah ‎ﷺ‎ ‎pun tertawa hingga nampak gigi serinya sebagai pembenaran terhadap perkataan rahib ‎tersebut. Kemudian beliau membaca ayat: 'Dan mereka tidak mengagungkan Allah ‎dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya ‎pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Tuhan dan ‎Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.' (QS. Al Zumar: 67). (HR. Al Bukhari: ‎‎4437 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu ‎‎'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat 32 H)‎

Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 6865 (hadits ahlul Kufah), 6897, 6959 ‎‎(hadits ahlul Kufah), Muslim: 4992 (hadits masyhur, karena ia imam Muslim meriwayatkan ‎dari tiga orang gurunya), at Tirmidzi: 3164, Ahmad: 2154, 3409, 4138 (hadits 'aziz, karena ‎imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya) dan 5157. Semunya shahih, kecuali ‎hadits riwayat Ahmad: 2154. Imam Ahmad meriwayatkan,‎

حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ حَسَنٍ الْأَشْقَرُ حَدَّثَنَا أَبُو كُدَيْنَةَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ ‏يَهُودِيٌّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ جَالِسٌ قَالَ كَيْفَ تَقُولُ يَا أَبَا الْقَاسِمِ يَوْمَ يَجْعَلُ اللَّهُ ‏السَّمَاءَ عَلَى ذِهْ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْأَرْضَ عَلَى ذِهْ وَالْمَاءَ عَلَى ذِهْ وَالْجِبَالَ عَلَى ذِهْ وَسَائِرَ الْخَلْقِ ‏عَلَى ذِهْ كُلُّ ذَلِكَ يُشِيرُ بِأَصَابِعِهِ قَالَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ }. (رواه أحمد: ‏‏٢١٥٤)‏

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hasan Al Asyqar telah menceritakan kepada ‎kami Abu Kudainah dari 'Atho` dari Abu Adl Dhuha dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Seorang ‎Yahudi lewat di depan Rasulullah ‎ﷺ‎ yang sedang duduk, lalu berkata, "Wahai Abul Qasim ‎bagaimana menurutmu ketika Allah menciptakan langit seperti itu." Seraya menunjuk ‎dengan telunjuknya."Bumi seperti ini, air seperti ini, gunung-gunung seperti ini dan semua ‎makhluk seperti itu?" semuanya ditunjuk dengan jari telunjuknya. Maka Allah ‎menurunkan ayat: (Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang ‎semestinya). (HR. Ahmad: 2154 - hasan ligharihi dan isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al ‎Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat ‎kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)‎

Catatan: periwayat hadits riwayat Ahmad: 2154 terdapat periwayat yang dinilai jarah ‎‎(buruk) oleh ulama kritikus hadits, ia adalah Al Husain bin Al Hasan, ia tabi'ul ‎atba' kalangan tua dan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 208 H. Penilaian ‎ulama: Abu Hatim, ad Daruquthni dan an Nasa'i menilainya laisa bi tsiqah. Adz ‎Dzahabi menilainya waahi. Al Bukhari menilainya fihi nazhar dan Abu Zur'ah ‎menilainya munkar hadits. Disisi lain, matan hadits tidak berurutan sebagaimana ‎hadits yang lain. Hadits riwayat at Tirmidzi: 3164 - shahih dari 'Aisyah. Hadits ‎riwayat Ahmad: 5157 dari 'Abdullah bin 'Umar. Selebihnya dari 'Abdullah bin ‎Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri ‎hidup Kufah dan wafat 32 H.‎

E.‎ Urgensi Teologi Integralistik

Integrasi antara ketiga wacana tentang Tuhan: Tuhan Persepsi, Tuhan Konsepsi, dan Tuhan ‎Empirik. Kita letakkan pada ruang terbuka dan relatif dan membaca dengan critical thinking. ‎
F.‎ Kesadaran Kritis

‎“Perlu ada kesadaran diri bahwa persepsi tentang Tuhan adalah bukan Tuhan itu sendiri. ‎Kecenderungan seseorang untuk mengabdi, menyembah dan mempertuhankan persepsinya ‎harus direlatifkan. Karena itu, diperlukan kesadaran bahwa Tuhan yang ada dalam ‎persepsinya itu sangat terbatas, sedangkan Tuhan tidak terbatas, sehingga tidak boleh ‎dimutlakkan. Apalagi untuk menghakimi orang lain yang berbeda persepsi dengannya sebagai ‎sesat dan kafir”.‎

‎1.‎ What do I love when I love my God?‎
‎2.‎ What do I know when I know my God? (John Caputo) ‎
‎3.‎ Al-Ilahul Mu’taqadat: Tuhan sebagaimana dipahami oleh manusia ‎
‎4.‎ Al-Ilahul Muthlaq: Tuhan Yang Maha Mutlak/Absolut (Ibnu Arabi)‎
G.‎ Implikasi Teologi Tauhid

Pembacaan melalui perspektif filsafat ketuhanan tersebut, dengan suatu tujuan agar ‎mengalami pendewasaan dalam hal keberagamaan secara intelektual, emosional sekaligus ‎spiritual. Sehingga sikap keberagamaan kita menjadi terbuka, toleran, humanis, inklusif, ‎bahkan pluralis.‎

Implikasi positifnya:‎
‎1.‎ Setiap orang harus dewasa dalam bertuhan
‎2.‎ Tidak perlu berebut untuk memiliki Tuhan
‎3.‎ Berebut klaim kebenaran tentang Tuhan
‎4.‎ Berebut paling tahu dan benar tentang Tuhan yang menyebabkan terjadinya tindakan ‎anarkis, kekerasan, dan pertumpahan darah

III.‎ Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa berpikir teologi integralistik merupakan ‎epistemologi berpikir yang multidimensional dan bersifat otentik sebagai kritik terhadap pola ‎berpikir persepsi, konsep dan empirik secara integral. Sehingga melahirkan gaya berpikir baru ‎yang terbuka dan fundamental. ‎


REFERENSI

Lidwa, Ensiklopedi Hadits Kitab 9 Imam v10.6.2, (Indonesia: Saltanera, 2021)‎
Muhammad bin Isma`il Abu `Abdullah al Bukhariy al Ja`fiy (selanjutnya disebut al Bukhariy), al ‎Jami` ash Shahih al Mukhtashar, (Bairut: Dar Ibnu Katsir, 1987), Juz VI
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: RajaGrafindo, 2007), Ed. 2, hlm. 50‎
Zaprul Khan, Paradikma Berpikir Kritis Musa Asy`Arie: Paradikma Teologi Integralistik, (Kuliah ‎Filsafat,  17 Oktober 2021)‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]