“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KE-ESA-AN ALLAH DIKAITKAN DENGAN SHALAT WITIR

Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Allah sebagai sentral segala sesuatu, memberikan semua kebutuhan manusia. Sedangkan ibadah adalah jalan untuk mendekatkan kepada-Nya. Sehingga jalinan keduanya disandingkan secara khusus. Jika manusia mau berfikir dan senantiasa menjalin hubungan baik dengan Allah dan berada dalam kemuliaan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ. (قرآن سورة طه/٢٠: ١٤)

Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah salat untuk mengingat-Ku. (QS. Ṭāhā/20: 14)

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa wahyu yang utama dan yang disampaikan ialah bahwa tiada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, untuk menanamkan rasa tauhid, mengesakan Allah, memantapkan pengakuan yang disertai dengan keyakinan dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Oleh karena itu hanya Dialah satu-satunya yang wajib disembah, ditaati peraturan-peraturan-Nya. Tauhid ini, adalah pokok dari segala yang pokok, dan tauhid ini juga merupakan kewajiban pertama dan harus diajarkan lebih dahulu kepada manusia, sebelum pelajaran-pelajaran agama yang lain.

Pada akhir ayat ini Allah menekankan supaya salat didirikan. Tentunya salat yang sesuai dengan perintah-Nya, lengkap dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, untuk mengingat Allah dan berdoa memohon kepada-Nya dengan penuh ikhlas. Salat disebut di sini secara khusus, untuk menunjukkan keutamaan ibadat salat itu dibanding dengan ibadat-ibadat wajib yang lain, seperti puasa, zakat, haji dan lain-lain. Keutamaan ibadat salat itu antara lain ialah apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan tata tertib yang telah digariskan untuknya, ia akan mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ. (قرآن سورة العنكبوت/٢٩: ٤٥)

Bacalah Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-‘Ankabūt/29: 45)

Sebagian ahli Tafsir berpendapat bahwa penutup ayat ini, ditujukan kepada orang yang tidak menunaikan salat pada waktunya, apakah karena lupa atau yang lainnya, supaya melaksanakannya apabila ia sudah sadar dan mengingat perintah Allah yang ditinggalkan itu sebagaimana sabda Rasulullah saw.

مَنْ نَامَ عَنْ صَلاَةٍ اَوْنَسِيَهَا فَكَفَّارَتُهَا اَنْ يُصَلِّيَهَا اِذَا ذَكَرَهَا لاَكَفَارَةَ لهَاَ اِلاَّ ذَلِكَ (رواه البخاري ومسلم عن انس بن مالك )

Barang siapa yang tertidur dari salat atau lupa, maka imbangannya (kafaratnya) adalah salat ketika ia ingat. Tidak ada imbangan lain selain itu. (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Anas bin Mālik)
Dan sabdanya pula:

اِذَا رَقَدَ اَحَدُكُمْ اَوْغَفَلَ عَنْهَا فَلْيُصَلِّهَا اِذَا ذَكَرَهَاقَالَ اَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي (رواه البخاري ومسلم عن انس)

Apabila salah seorang kamu tidur sehingga tidak salat atau lupa salat hendaklah ia menunaikannya apabila ia telah mengingatnya, karena sesungguhnya Allah berfirman, “Dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim dari Anas)

Salah satu fungsi salat adalah untuk mengingat Allah, namun bukan berarti boleh tidak menunaikan salat hanya cukup ingat kepada Allah, karena zikir itu dengan hati, lisan dan anggota badan.

IMAM Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا هَارُونُ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يُحَدِّثُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
قَالَ نَافِعٌ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يَصْنَعُ شَيْئًا إِلَّا وِتْرًا. (رواه أحمد: ٥٦١٣)

Telah menceritakan kepada kami Harun telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb saya telah mendengar Abdullah bin Umar menceritakan hadits dari Nafi' dari Abdullah bin Umar, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah adalah Esa (ganjil) dan menyukai yang ganjil." Nafi' berkata; Dan tidaklah Ibnu Umar berbuat sesuatu kecuali ganjil. (HR. Ahmad: 5613 - shahih lighairihi, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 7406 dan 7407, 7555, dan 9976, ad Darimi: 1534 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dan terakhir menurut Husain Salim Asad ad Darani, isnadnya shahih dan hadits mutafaaq 'alaih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Sementara itu imam Ibnu Majah meriwayatkan dengan lafazh semakna dengan menyebutkan sabab wurudnya. Beliau berkata:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ الْأَبَّارُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ أَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ مَا يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ لَكَ وَلَا لِأَصْحَابِكَ. (رواه إبن ماجه: ١١٦٠)

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Hafs Al Abbar dari A'masy dari Amru bin Murrah dari Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah itu ganjil, menyukai yang ganjil, maka laksanakanlah witir wahai ahli Qur'an. "Kemudian seorang Badui berkata, "Apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ?" Beliau bersabda, "Bukan bagimu dan bukan pula bagi teman-temanmu." (HR. Ibnu Majah: 1160 - shahih dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)

Selanjutnya hadits ini dikaitkan dengan dilanjutkannya shalat witir. Sebagaimana hadits riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عِيسَى عَنْ زَكَرِيَّا عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ الْأَبَّارُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ زَادَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ مَا تَقُولُ فَقَالَ لَيْسَ لَكَ وَلَا لِأَصْحَابِكَ. (رواه أبوداود: ١٢٠٧)

Telah menceritakan kepada Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada Kami Isa dari Zakaria dari Abu Ishaq dari 'Ashim dari Ali radhiallahu'anhu ia berkata; Rasulullah ﷺ berkata; wahai ahli Al-Qur'an, shalat Witirlah kalian karena Allah adalah Dzat yang Maha Esa dan menyukai sesuatu yang ganjil. Telah berkata kepada Kami Utsman bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada Kami Abu Hafsh Al Abbar dari Al A'masy dari 'Amr bin Murrah dari Abu Ubaidah dari Abdullah dari Nabi ﷺ dengan makna yang sama namun ia menambahkan; kemudian terdapat seorang Badui berkata; apa yang kamu katakan? Dia menjawab; bukan urusanmu dan bukan urusan para sahabatmu. (HR. Abu Daud: 1207 - shahih dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Al Muthalib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Dan, 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Hadits 'aziz sempurna, karena dari dua jalur periwayatan terdiri dari dua periwayat pertabaqatnya. Namun, pada jalur 'Abdullah bin Mas'ud terdapat sanad terputus yaitu periwayat yang menerima dari beliau)

Demikian juga hadits riwayat imam Ibnu Majah: 1159, at Tirmidzi: 415, an Nasa'i: 1657 - shahih dari Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Al Muthalib bin Hasyim bin 'Abdi Manaf, ia shahabat kuniyahnya Abu Al Hasan negeri hidup Kufah dan wafat tahun 40 H. Hadits 'aziz, karena imam Ibnu Majah meriwayatkan dari dua orang gurunya. Hadits semakna dengan hadits-hadits juga banyak dimuat dalam musnad Ahmad bin Hanbal yaitu hadits ke-835, 1151, 1162, 1165, 1197, dan 5613. Semuanya berbicara tentang "Allah itu Ganjil dan menyukai yang ganjil" oleh karena itu wahai ahlul Qur'an kerjakanlah shalat witir, karena Rasulullah senantiasa melakukannya.

Imam Al Bukhari meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا. (رواه البخاري: ٩٤٣)

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari 'Ubaidullah telah menceritakan kepadaku Nafi' dari 'Abdullah bin 'Umar dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Jadikanlah akhir shalat malam dengan ganjil (witir)." (HR. Al Bukhari: 943 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits semakna diriwayatkan oleh imam Muslim: 1244 dan 1245, Abu Daud: 1226, Ahmad: 4480, 5532, 6018, dan 6984 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Riwayat-riwayat menyebutkan tentang pentingnya shalat witir setelah shalat malam (tahajud) dan dilaksanakan sebelum shalat fajar.

Berdasarkan penjelasan hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa Allah yang Mahaesa adalah tunggal dan menyukai amalan-amalan ganjil. Dalam penjelasan tersebut menggunakan kalamat "witri" (satu/esa). Jadi, pengertian witri disamkan dengan "waaahid". Ini memberikan pemahaman bahwa "keganjilan" ditujukan kepada Allah dan amal yang bilangannya ganjil menjadi tern yang menarik untuk sikap kebertuhanan. Sehingga perhtian manusia tertuju pada kalimat "witr". Padahal, Allah itu witr bukan sekedar bilangan, namun berefek pada amalan. Oleh karena itu, mendudukkan keduanya perlu direkonstruksi kepada pemahaman dualisme yang berbeda. Hikmah yang dapat diambil dari pernyataan Rasul di atas adalah menunjukkan amalan yang paling berfaidah dan bermanfaat. Hal ini terbukti beliau senantiasa melakukan shalat witir. Artinya, beliau tidak pernah meninggal shalat tahajud. Karena tidak ada witir tanpa terlebih dahulu melaksanakannya.

Menelisik hikmah yang dimunculkan maka tidak diragukan lagi bahwa amalan ini menunjukkan posisi yang penting bagi ahlul Qur'an untuk mengamalkannya. Selanjutnya, bagi orang-orang yang menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman hidupnya, mesti paham dengan keistimewaan dan hikmah yang besar dari pernyataan "keesaan Allah hubungannya dengan shalat witir". Inilah menjadi jalan manusia menjadi mulia dan bijaksana.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]