MEMBACA PEMIKIRAN PROF. MUSA ASY`ARIE: "BERPIKIR PROFETIK”
Oleh: Samsurizal, MA
Abstrak
Kajian pola berfikir profetik yang dianut oleh Prof. Musa Asy`Arie mengupas kecerdasan Nabi Muhammad SAW sebagai landasan berfikir universal sangat penting. Hal ini akan membangunkan akal untuk mengakses semua keistimewaan seorang nabi dan rasul Allah yang paripurna. Seiring dengan waktu memberi bekas yang positif bagi insan akademik untuk membangun peradaban. Sekolah eSFIMA inilah tempat kita belajar menggagas tujuan fundamental ini.
I. Latar Belakang
Latar belakang penulisan resume ini diawali dari kekaguman kepada pemikiran Prof. Musa Asy`Ari. Kemudian menjadi pondasi berfikir bagi Dr. Zaprul Khan untuk mengungkap bagaimana pemikiran bercorak kenabian atau disebut dengan “Berfikir Profetik”. Ini adalah kajian yang mendalam terhadap pola pikir Rasulullah SAW terhadap kebenaran hakiki yang pernah diajarkan Allah kepadanya.
Selanjutnya menjadi tradisi berpikir untuk menyelesaikan semua permasalahan hidup. Kemudian dapat diaplikasikan sehingga menghasilkan berbagai bidang keilmuan. Hal ini bertolak dari motivasi firman Allah, seperti QS. Al Àlaq/96 ayat 1 sampai dengan 5 dan QS. Ali `Imran/3 ayat 190 sampai dengan 191.
Berdasarkan pandangan di atas maka dikembangkan dengan alur berfikir filsafat yaitu berfikir yang mendalam. Sehingga memperkecil peluang tertinggalnya tiga segi pancaran pola berpikir profentik yaitu ayat-ayat Kauniyah, Insaniyah, dan Qur’aniyah. Oleh karena itu, metode yang tepat untuk menguraikan ini adalah dengan metode kepustakaan. Baik dengan menelaah referensi dari karya-karya Musa Asy`ari dan wawancara/belajar langsung dengan beliau. Sehingga mengahsilkan satu pola pemikiran yaitu “Berpikir Profetik” Musa Asy`ari.
Hasil dari hal di atas, memunculkan alur berpikir yang luar biasa dan mendalam. Corak berpikir semacam ini dikembangkan dari apa yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sepanjang hidup beliau. Sehingga menginspirasi para filosof muslim untuk mengikutinya termasuk Musa Asy`ari. Selanjutnya, agar lebih jelasnya tentang apa dasar berpikir profetik dan bagaimana alur atau epistemologinya serta hasil pengembangannya, simak uraian berikut ini.
II. Pembahasan
A. Makna Kebebasan Berpikir
Kita harus berpikir sekeras-kerasnya, sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya untuk menemukan kebenaran yang terdalam, kebenaran yang hakiki, dan syaratnya adalah harus bebas dan dibebaskan dari kepentingan dan muatan hawa nafsu.
1. Berpikir: pemikiran yang bersifat bebas dan terbuka
2. Berpikir yang menyatukan dengan perbuatan (Pemikiran yang sudah dibatasi oleh etika dan hukum
3. Perbuatan orang yang tidak sadar atau gila
B. Teladan Berpikir Profetik
1. Keteladanan berpikir Nabi Muhammad SAW
2. Innamal afkar ummahatul a`mal
3. Fathanah: kecerdasan kenabian (al Fathanah an Nabawiyah) atau logika kenabian (al Manthiq an Nabawiyah) yang mencakup seluruh aspek mulai dari aspek ruh, hati, perasaan, akal, dan berbagai lathifah, esensi batiniah dala kesatuan tunggal yang utuh.
C. Epitemologi Berpikir Profetik
Pertama, QS. Al `Alaq/96: 1-5,
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5). (قرآن سورة العلق/96: 1 – 5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (1). Dia menciptakan manusia dari segumpal darah (2). Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia (3), mengajar (manusia) dengan pena (4). Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (5). (QS. Al-‘Alaq/96: 1-5)
Iqra’, maksudnya adalah proses pembacaan yang disertai pemahaman. Akar dari makna Iqra’ yaitu mengumpulkan. Hal ini mencakup kegiatan membaca yang disertai menelaah, mengkaji, dan meneliti yang pada akhirnya menghasilkan temuan yang bersifat ilmiah, akliah, sekaligus irfaniah.
Selanjutnya, objek Iqra’ secara global ada tiga klaster:
1. Ayat-ayat Kauniyah yang menghasilkan natural sciences.
2. Ayat-ayat Insaniyah yang menghasilkan social and philosophical sciences.
3. Ayat-ayat Quraniyah atau diniyah yang akan membuahkan religious sciences.
Kedua, QS. Ali `Imran/3: 190-191, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ. (قرآن سورة آل عمران/3: 190)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (QS. Āli ‘Imrān/3: 190)
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. (قرآن سورة آل عمران/3: 191)
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Āli ‘Imrān/3: 191)
Tahapan Berpikir Profetik Ulul Albab berdasarkan QS. Ali `Imran/3 ayat 190-191 terdiri dari empat tahap berpikir
1. Zikir, kesadaran transenden/teologi
2. Pikir, berpikir secara metodologis/saintifik
3. Transendensi Ilmu
4. Pengabdian/Ibadah
D. Berpikir Profetik Rasional Transendental
Berpikir dalam metode kenabian sesungguhnya adalah berpikir rasional transendental. Rasionalitasnya terletak pada penguasaan proses penciptaan yang dimulai dari membangun konsep, kemudian diikuti uji coba yang konsisten dan lantas dirumuskan dan dituliskan dalam teori-teori sains dan teknologi yang akurat dan aplikatif. Sementara itu, transendentalnya yang terletak pada pengakuan atas imannya dalam kata kerja yang dinamis dan mencair untuk kebermanfaatan bagi kehidupan manusia, bukan untuk kepentingan egoisme manusia, egoisme sektoral yang cenderung memecah belah demi kepentingan politik, kekuasaan dan pragmatisme.
E. Strategi Perjuangan Nabi Muhammad SAW
1. Strategi perjuangan secara kultural di Mekah
2. Strategi perjuangan secara kultural di Madinah
3. Pembangunan masjid nabawiy
4. Persaudaraan antara umam Islam
5. Piagam Madinah
F. Urgensi Berpikir Profetik
1. Alasan prioritas bagi kaum akademis:
Aspek fathanah, scientific mentality dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya.
2. Alasan kontekstual:
a. Hilangnya critical thinking
b. Tenggelam dalam banalitas
c. Tenggelam dalam pop culture
G. Peradaban Transendental Universal
Secara kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan teknologi sesunggunya milik semua manusia dan untuk manusia semuanya, bukan milik peribadi atau sekelompok orang. Sains dan teknologi adalah jalan keluar untuk mengatasi problem kemanusiaan universal, menjadi upaya perbaikan hidup bersama yang lebih baik dan lebih sejahtera.
H. Teori Radiasi Peradaban
1. Ilmu Pengetahuan, sains dan teknologi
2. Estetika
3. Etika
4. Spritual
III. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dasar berpikir profetik adalah dari Al Qur’an dan hadis sebagai sumber utama acaran Islam. Kemudian dikembangkan dengan penafsiran dan berusaha memahaminya dengan metode keilmuan yang benar yaitu dengan filsafat. Inilah ciri khas yang tidak dapat ditinggalkan dari cara berpikir filosof islam. Sehingga menghasilkan para pemikir yang memiliki cara berpikir kenabian.
Berpikir dengan pola ini dinilai oleh Musa Asy`ari sebagai berfikir bebas tanpa ada kepentingan. Oleh karena itu, semua hasil pikiran ini dapat dinikmati dan dikembangkan oleh semua orang. Bertolak dari ini akan diperoleh jalan keluar dari semua masalah kemanusian. Sehingga memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan milik bersama dan untuk semua.
Referensi
Zaprul Khan, Membaca Pemikiran Musa Asy`Arie; Berpikir Profetik, (Yoqyakarta: Sekolah Filsafat Musa Asy`arie, 10 Oktober 2021)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏