“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

Beliau Guru Kami

SI BODOH TAAT PADA GURU
Diulas oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Alkisah cerita ini...!!!
Di pondok pesantren tersebut tinggallah seorang Kiyai yang memiliki seorang putri beserta para santri yang sedang menimba ilmu agama. Salah satu santri yang mengabdi di pondok pesantren tersebut adalah seorang pemuda yang sangat bodoh. Bertahun-tahun belajar ilmu agama di Pondok tidak ada satupun ilmu yang ia dapat karena kebodohannya itu. Dan hanya sepenggal ayat dari Surat Al-Lahab yang berbunyi “Tabat Yada” yang ia bisa. maka dari itu ia dipangil “Si Tabat”. Walaupun bodoh,  Si Tabat ini adalah seorang santri yang sangat patuh kepada sang guru yaitu kiyai tersebut. apapun perintah sang guru pasti akan ia laksanakan tanpa berfikir panjang

Pada suatu ketika sang putri kiyai tersebut sakit yang aneh. Bertahun-tahun berobat kesana-kemari ke orang-orang pintar, tabib dan dokter tidak kunjung sembuh juga. Sang Kiyai pun hampir putus asa karena sang putri tak kunjung sembuh. Akhirnya Kiyai berdoa memohon petunjuk kepada Allah agar  diberi petunjuk untuk kesembuhan sang putri. Saat Kiyai sedang tidur. Sang Kiyai bermimpi, ada sebuah suara yang mengatakan “Jika sang putri ingin sembuh maka yang tau obatnya adalah Nabi Khidir as. Setelah terbangun sang Kiyai merasa bingung terhadap mimpinya semalam dan beliau berfikir bagaimana cara mencari Nabi Khidir dan siapa yang akan mencarinya.

Setelah berfikir lama akhirnya Kiyai tersebut mendapatkan sesorang yang akan mencari Nabi. Tanpa berfikir panjang Si Tabat dipanggil untuk menghadap Kiyai dan diberi tugas untuk mencari Nabi Khidir. Karena kepatuhannya Si Tabat tanpa berfikir panjang langsung menerima apa yang diamanatkan Kiyai tanpa tau siapa dan dimana Nabi Khidir. Setelah mendapat amanat tersebut Tabat langsung pergi. Tetapi saat keluar dari pendopo padepokan. Tabat kembali lagi menemui Kiyai. Karena kebodohannya Tabat baru menyadari siapa dan dimana orang yang akan dicarinya. Akhirnya kiyai menjelaskan siapa Nabi Khidir itu. Dan Kiyai berkata, “Jika kamu ingin mencari Nabi Khidir kamu telusuri sungai hingga nanti akan bertemu dengan seseorang yang memakai jubah putih. Setelah bertemu dengan Nabi Khidir, kamu tanyakan apa obat agar putriku ini dapat sembuh dari penyakit aneh ini”. Setelah mendapatkan penjelasan dari Kiyai Tabat pun langsung berangkat dengan menyusuri sungai.

Butuh waktu bertahun-tahun Si Tabat untuk menemukan Nabi khidir. Saat di tengah perjalanan TAbat melewati sebuah kuburan tua. Pada saat itu juga terdengarlah suara tanpa rupa yang memanggilnya. “Tabat kamu mau kemana nak?”. Tabatpun langsung menjawab, “Siapa kisanak? Aku mau mencari Nabi Khidir”.  Suara itu menjawab: “Aku orang yang berada di dalam kuburan ini. Kebetulan sekali nak, bolehkah aku meminta tolong kepadamu?.”  Ternyata orang yang ada di dalam kubur tersebut adalah seorang ustadz, tetapi saat dia di dalam alam kubur selalu disiksa. Dan ia ingin meminta tolong kepada Tabat jika ia bertemu Nabi Khidir agar ditanyakan mengapa kok dia disiksa. Si Tabat pun langsung setuju dengan permintaan seorang di dalam kubur tersebut.

Tabat pun melanjutkan perjalanan menyusuri sungai. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan pohon mangga yang besar. Pohon mangga itupun juga berbicara pada Tabat dan meminta tolong agar ditanyakan kepada Nabi Khidir “Mengapa kok buah manggaku tidak pernah diambil dan dimakan  orang?” Tabat pun juga menyetujui permintaan pohon mangga itu.

Tabat pun melanjutkan pencariannya lagi di tengah perjalanan lagi ia menjumpai sebuah sumur tua. Dan anehnya sumur tua itupun juga berbicara kepada Tabat dan meminta tolong jika bertemu Nabi Khidir untuk ditanyakan “Mengapa air didalam sumurku ini tidak pernah diminum orang?”. Tabatpun juga menyetujui permintaan sumur tua itu dan menjawab “Ya”.

Setelah bertahun-tahun menyusuri sungai, akhirnya usaha Tabat membuahkan hasil. Ia menjumpai seorang pria yang memakai jubah putih bersih. Tabat pun menghampiri dan bertanya, “Apakah Kisanak adalah Nabi Khidir?”. Ternyata orang berjubah putih itu adalah Nabi Khidir. Tabat pun langsung menangis dan bersujud karena bersyukur kepada Allah karena usahanya diridhai.

Tabat langsung menyampaikan amanat dari kiyai bahwa Kiyai ingin meminta petunjuk untuk putrinya. Nabi Khidir pun menjawab dan memberi petunjuk jika sang putri ingin sembuh maka harus dinikahkan. Karena bodohnya Tabat, ia langsung menerima jawaban tanpa bertanya dengan siapa putri harus menikah.

Setelah itu Tabat menyampaikan pesan permasalahan  dari orang yang ada di dalam kubur, pohon mangga dan sumur tua. Nabi Khidir menjawab, “Sebenarnya orang di dalam kubur itu adalah seorang ulama, karena ia memiliki ilmu tetapi tidak pernah diamalkan kepada orang lain, maka di dalam kubur tidak tenang arwahnya. Jika orang itu ingin bebas, suruh berikan ilmunya kepadamu, maka ia akan tenang di alam kubur”.

“Mengapa pohon mangga buahnya tidak pernah diambil orang padahal buahnya besar-besar. Hal itu dikarenakan di dalam pohon mangga itu terdapat pusaka yang ampuh. Jika ingin buahnya diambil dan dimakan orang, maka ambillah pusaka itu.”

“Yang terakhir, "mengapa sumur itu airnya tidak pernah diambil orang. Itu karena di dalam sumur itu terdapat sebuah emas. Jika ingin airnya diambil oleh orang maka suruh sumur itu serahkan emasnya kepadamu.”

Setelah mendapatkan amanat dari Nabi Khidir, si Tabat langsung mohon pamit untuk kembali. Setiba di sumur tua, Tabat menyampaikan apa yang diamanatkan Nabi Khidir. Akhirnya diberikanlah kepada Tabat emas yang ada dalam sumur itu. Setelah menemui Mangga diberikanlah pusaka ampuh dari pohon mangga itu. Setelah sampai dikuburan diberikanlah kepada Tabat ilmu dari ulama itu. Akhirnya Si Tabat manjadi orang yang Pandai, Kaya dan Sakti.

Setelah bertahun-tahun berkelana akhirnya Tabat tiba di Pondok. Semua orang tidak ada yang mengenali karena Tabat terlihat bagaikan seorang yang pandai, berpendidikan, sopan dan santun. Berbeda dengan Tabat beberapa tahun yang lalu. Bahkan Kiyai pun juga tidak mengenali karena perubahan Tabat. Akhirnya setelah Tabat menceritakan apa yang terjadi akhirnya Kiyai pun terharu akan diri Tabat yang sekarang. Kiyai dan para teman santri tidak menyangka setelah kembali Tabat menjadi seorang yang pandai, kaya dan sakti. Tabat juga menyampaikan obat untuk kesembuhan putri Kiyai yaitu agar sang Putri dinikahkan. Tetapi Kiyai bertanya dengan penuh rasa ragu, "Dengan siapa harus kunikahkan Tabat?” Tabatpun juga tidak tau dengan siapa harus dinikahkan. Karena Si Tabat yang berjasa dan dapat menemukan Nabi Khidir akhirnya Tabat dinikahkan dengan Putri Kiyai tersebut. Akhirnya sang putripun sembuh dan menjadi istri Tabat serta hidup bahagia. Maka dari itu ... "ridhanya Allah SWT Ada pada ridha guru mu...".

Jujurlah dalam berguru,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ يَقُولُ جَالَسْتُ ابْنَ عُمَرَ سَنَةً فَمَا سَمِعْتُهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا. (رواه إبن ماجة: ٢٦)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr dari Syu'bah dari Abdullah bin Abu As Safar ia berkata, "Aku mendengar Asy Sya'bi berkata, " Aku berguru kepada Ibnu Umar selama satu tahun, namun aku tidak pernah mendengar ia membacakan satu hadits pun dari Rasulullah ﷺ." (HR. Ibnu Majah: 26 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 6176, ad Darimi: 274 dan 275 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Semoga yang sedang menuntut ilmu mendapatkan keberkahan dari doa guru...Aamien

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]