“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


KALIMAT PERBENDAHARAAN SURGA
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Kekuatan Allah mengalahkan semua kekuatan. Begitu juga jika Allah memberi kekuatan kepada hamba-Nya tidak akan ada yang mampu menandinginya. Sebagaimana Allah anugerahkan kekuatan kepada para nabi dan rasul-Nya, dan pada hamba-hamba-Nya dikehendaki. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat-kalimat penyerahan sekaligus mengakuan yang tulus kepada Allah agar Allah berkenan menganugerahkan kekuatan pisik maupun mental kepada siapa yang menucapkannya.

Begitu juga apa yang ia mohonkan dikabulkan oleh Allah. Karena setiap pengakuan dan permohonan orang-orang yang ikhlas akan senantiasa diijabah oleh Allah.

Kalimat yang diajarkan tersebut adalah:

" ... لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ."

" ... Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan AlIah." Kalimat ini pernah diajarkan kepada 'Abdullah bin Qais, Abu Dazar, Hazim bin Harmalah, dan Abu Hurairah serta Qais bin Sa'ad.

Kalimat ini adalah kalimat istimewa, karena ia merupakan perbendaharaan surga yang sangat dahsyat jika seseorang dapat memahaminya dan menggunakan sebagaimana mestinya. Pendalaman kalimat ini menjadi luar biasa apabila diucapkan oleh orang-orang yang bersih dan ikhlas memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Hal ini dapat mengundang pertolongan Allah datang secara luar biasa.

Hanya saja dalam riwayat at Tirmidzi ditemukan perkataan Makhul, ia berkata, "Barangsiapa mengucapkan; Laa haula walaa quwwata illaa billahi wala manja'a minallahi illa ilaihi (tidak ada daya dan upaya kecuali milik Allah dan tiada tempat berlari dari (murka) Allah kecuali kepada-Nya), maka Allah akan menghilangkan darinya tujuh puluh pintu bahaya, sedangkan bahaya yang paling rendah adalah kefakiran." (HR. At Tirmidzi: 3525 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H).

Redaksi di atas menjadi penyebab hadits ini dha'if karena Makhul tidak pernah bertemu dengan Abu Hurairah. Namun, kalimat sebelumnya adalah shahih.

Pernyataan di atas terbukti setelah ditelusuri semua hadits terkait dengan kalimat "laa hawlaa ... str". Berikut penulis paparkan secara runtut hadits-haditsnya.

Inilah yang diamalkan oleh Nabi Musa, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاَلْقِ عَصَاكَ ۗفَلَمَّا رَاٰهَا تَهْتَزُّ كَاَنَّهَا جَاۤنٌّ وَّلّٰى مُدْبِرًا وَّلَمْ يُعَقِّبْۗ يٰمُوْسٰى لَا تَخَفْۗ اِنِّيْ لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُوْنَ. (قرآن سورة النمل/٢٧: ١٠)

Lemparkanlah tongkatmu!” Ketika (tongkat itu dilemparkan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular kecil yang gesit, berlarilah dia sambil berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah pun berfirman,) “Wahai Musa, jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku para rasul tidak perlu takut.(QS. An-Naml/27: 10)

Begitu juga Nabi Lut ditolong oleh para Malaikat menghadapi kaumnya (kaum Sodom). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَمَّآ اَنْ جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَّقَالُوْا لَا تَخَفْ وَلَا تَحْزَنْ ۗاِنَّا مُنَجُّوْكَ وَاَهْلَكَ اِلَّا امْرَاَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغٰبِرِيْنَ. (قرآن سورة الانكبوت/٢٩: ٣٣)

Ketika para utusan Kami datang kepada Lut, ia sedih karena (kedatangan) mereka dan merasa tidak mempunyai kekuatan untuk melindunginya. Mereka pun berkata, “Janganlah takut dan jangan sedih. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu. Dia termasuk (orang-orang kafir) yang tertinggal.” (QS. Al-‘Ankabūt/28: 33)

اِنَّا مُنْزِلُوْنَ عَلٰٓى اَهْلِ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ رِجْزًا مِّنَ السَّمَاۤءِ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ. (قرآن سورة الانكبوت/٢٩: ٣٤)

Sesungguhnya Kami akan menurunkan suatu azab dari langit kepada penduduk negeri ini karena mereka selalu berbuat fasik. (QS. Al-‘Ankabūt/28: 34)

Ketika malaikat datang menemui Lut dan menyampaikan maksud kedatangannya, Lut menjadi panik dan sesak napas. Sebab, ia khawatir orang-orang Sodom itu akan mengganggunya kelak bila mengetahui ada tamu yang mulia itu. Oleh karena itu, kedatangan malaikat itu sengaja dirahasiakannya. Lut tidak sanggup menolak kedatangan mereka. Setelah melihat ketakutan dan kecemasan Lut atas kedatangan kaumnya, para malaikat itu menenteramkannya  dengan berkata, “Hai Lut hendaklah engkau tenang, jangan gusar. Engkau tak usah khawatir akan keselamatan kami dan apa yang dilakukan oleh kaummu terhadap kami. Sebab perbuatan jahat mereka telah sampai ke puncaknya dan nasihat sudah cukup banyak engkau sampaikan kepada mereka.”

Untuk menenteramkan perasaan Lut, malaikat itu berkata pula, “Kami akan menyelamatkan engkau dari siksaan yang akan diturunkan kepada kaummu dalam waktu dekat ini, demikian pula para pengikutmu yang beriman dan setia. Tak dapat tidak, pastilah mereka itu akan mengalami siksaan berat. Dan istrimu termasuk golongan orang-orang yang akan dihukum”.

Istri Lut mengetahui ada tamu lelaki menginap di rumahnya, maka dengan serta-merta ia memberitahukan hal itu kepada rekan-rekannya. Oleh karena itu, tersiarlah berita dengan cepat bahwa di rumah Lut ada tamu tak dikenal. Dengan segera timbullah niat jahat dalam hati mereka untuk mengganggu tamu itu. Mereka lalu berunding dan bermufakat untuk membuat suatu rencana supaya bisa melaksanakan niat tersebut. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa istri Lut termasuk orang yang berserikat dalam rencana busuk itu.

Keterangan malaikat di atas menenangkan perasaan Lut dari ketakutan. Kepada beliau diingatkan lagi, “Kami para malaikat pasti akan mendatangkan siksaan kepada mereka dengan tangan kami sendiri, akibat kefasikan yang sudah berurat berakar dalam diri mereka.”

Pendapat yang masyhur menyebutkan, mula-mula terjadi guncangan keras, dan tanah tempat kediaman manusia yang durhaka itu menjadi jungkir balik. Setelah diserang hujan batu dan gempa bumi yang dahsyat, negeri itu  menjadi hancur berantakan dan rata dengan bumi. Akhirnya negeri Sodom, bekas kediaman umat Nabi Lut, menjadi lautan mati (al-Baḥrul Mayit).

Ayat-ayat di atas menunjukkan keyakinan yang luar biasa para nabi dan rasul Allah yang agung untuk mengatasi kelakukan yang melampaui batas kaumnya. Sehingga pertolongan Allah datang tanpa batas.

Nah, Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat dimaksud dengan meyakini sekaligus menjadikannya sebagai anugerah istimewa kepada umatnya. Hal ini telah diajarkan pada para shahabat beliau.

Imam Al Bukhari berkata,

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَكُنَّا إِذَا عَلَوْنَا كَبَّرْنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَلَكِنْ تَدْعُونَ سَمِيعًا بَصِيرًا ثُمَّ أَتَى عَلَيَّ وَأَنَا أَقُولُ فِي نَفْسِي لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ قُلْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ أَوْ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. (رواه البخاري: ٥٩٠٥)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harbi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Abu Utsman dari Abu Musa radhiallahu'anhu dia berkata, "Kami bersama Nabi ﷺ di suatu perjalanan, apabila kami berjalan ke tempat yang agak tinggi, kami pun bertakbir, maka Nabi ﷺ bersabda, 'Saudara-saudara sekalian, rendahkanlah suara kalian! Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli dan jauh. Tetapi kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Mahadekat.' Kemudian beliau mendatangiku, sedangkan diriku tengah membaca; 'Laa haula wa laa quwwata ilIa billaah' (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan AlIah). Kemudian beliau bersabda, 'Hai Abdullah bin Qais, 'Ucapkanlah: Laa haula wala quwwata illaa billaah, karena itu adalah salah satu dari perbendaharaan surga -atau beliau bersabda; 'Maukah aku tunjukkan kepadamu suatu kalimat, yang termasuk salah satu dari perbendaharaan surga? Yaitu; Laa haula walaa quwwata illaa billah' (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan AIIah)." (HR. Al Bukhari: 5905 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H)

Demikian juga hadits semakna riwayat imam Al Bukhari: 3883, 5930, 6120, dan 6838, Muslim: 4874 (masyhur diakhir sanad), Ibnu Majah: 3814 - shahih dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H. Begitu juga hadits riwayat imam Ahmad: 18817 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Qais bin Sulaim bin Hadhdhar, ia shahabat kuniyahnya Abu Musa negeri hidup Kufah dan wafat tahun 50 H.

Sedangkan dari jalur lain imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. (رواه إبن ماجه: ٣٨١٥)

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki' dari Al A'masy dari Mujahid dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Abu Dzar dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, "Maukah aku tunjukkan kepadamu perbendaharaan dari perbendaharaan surga?" jawabku, "Tentu, ya Rasulullah." Beliau bersabda, "Laa haula walaa quwwata illa billah (tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan kehendak Allah)." (HR. Ibnu Majah: 3815 - shahih dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Kemudian ditempat lain imam Ibnu Majah meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدٍ الْمَدَنِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْنٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي زَيْنَبَ مَوْلَى حَازِمِ بْنِ حَرْمَلَةَ عَنْ حَازِمِ بْنِ حَرْمَلَةَ قَالَ
مَرَرْتُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِي يَا حَازِمُ أَكْثِرْ مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ. (رواه إبن ماجه: ٣٧١٦)

Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Humaid Al Madani telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma'nin telah menceritakan kepada kami Khalid bin Sa'id dari Abu Zainab bekas budak Hazim bin Harmalah dari Hazim bin Harmalah dia berkata, "Saya berpapasan dengan Nabi ﷺ, kemudian beliau bersabda kepadaku, "Wahai Hazim, perbanyaklah ucapan, "Laa haula walaa quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kehendak Allah), sesungguhnya ia merupakan perbendaharaan surga". (HR. Ibnu Majah: 3816 - shahih dari Hazim bin Harmalah, ia shahabat)

Lafazh yang sama dari jalur periwayatan Abu Hurairah diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya, beliau berkata,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَزِيدَ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ. (رواه أحمد: ٨٠٥٤)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yazid bin Abdul Malik dari bapaknya dari Sa'id bin Abi Sa'id dari Abu Hurairah, dia berkata; Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Perbanyaklah kalian mengucapkan: LAA HAULAA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kehendak Allah), karena sesungguhnya ia adalah harta simpanan surga." (HR. Ahmad: 8054 - shahih, namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 8054 terdapat periwayat yang lemah, ia adalah Yazid bin 'Abdul Malik bin Al Mughirah, ia tabi'in [tidak jumpa shahabat] kuniyahnya Abu Al Mughirah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 167 H. Penilaian ulama: Abu Hatim, Ahmad, dan Abu Zur'ah menilainya dha'iful hadits. Yahya bin Ma'in, ad Daruquthni, Ibnu Hajar, dan adz Dzahabi menilainya dha'if. Sedangkan an Nasa'i menilainya matrukul hadits, dan Al Bukhari menilainya dha'if jiddan. Kemudian satu periwayat lagi yaitu Yahya bin Yazid bin 'Abdul Malik, ia tabi'in biasa. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya la ba'sa bih, dan Abu Hatim menilainya munkarul hadits. Sedangkan Ibnu 'Adi menilainya dha'if. Imam Ahmad bin Hambal menerima dari Yahya bin Yazid ini.

Selanjutnya dijelaskan juga asbabul wurudnya diriwayat oleh imam Ahmad bahwa,

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَابِسٍ قَالَ سَمِعْتُ كُمَيْلَ بْنَ زِيَادٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ أَحْسِبُهُ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَسْلَمَ عَبْدِي وَاسْتَسْلَمَ. (رواه أحمد: ١٠٣١٨)

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Daud, dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Syu'bah dari Abdurrahman bin 'Abis berkata; aku mendengar Kumail bin Ziyad menceritakan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Maukah aku tunjukkan kepadamu simpanan surga?" aku menjawab, "Tentu, " maka beliau bersabda, "LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allah) " Abu Hurairah berkata, "Aku mengiranya bahwa beliau bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla berfirman; 'Hamba-Ku telah masuk Islam dan menyerahkan diri." (HR. Ahmad: 10318 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Pada konteks lain imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ زَاذَانَ يُحَدِّثُ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ
أَنَّ أَبَاهُ دَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْدُمُهُ فَأَتَى عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ قَالَ فَضَرَبَنِي بِرِجْلِهِ وَقَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ. (رواه أحمد: ١٤٩٣٢)

Telah menceritakan kepada kami Wahb bin Jarir telah menceritakan kepada kami bapakku berkata; saya telah mendengar Manshur bin Zaadzan menceritakan dari Maimun bin Abu Syabib dari Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah bapaknya menyerahkan (Qais) kepada Nabi ﷺ sebagai pembantunya. Lalu Nabi ﷺ datang kepadaku setelah aku shalat dua rakaat. (Qais) berkata; lalu Rasulullah ﷺ menendangku dengan kakinya (agar ia mampu mengetahui betapa pentingnya apa yang akan beliau sampaikan) seraya bersabda, maukah kamu aku tunjukkan salah satu pintu dari pintu-pintu surga? Aku menjawab, Tentu. (Rasulullah ﷺ) bersabda, LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). (HR. Ahmad: 14932 - hasan lighairihi , namun isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Qais bin Sa'ad bin 'Ubadah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdul Malik dan negeri hidup Madinah)

Selanjutnya redaksi lain terkait dengan kalimat di atas juga diriwayatkan oleh imam at Tirmidzi, beliau berkata:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ هِشَامِ بْنِ الْغَازِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرْ مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ.

قَالَ مَكْحُولٌ فَمَنْ قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا مَنْجَأَ مِنْ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ كَشَفَ عَنْهُ سَبْعِينَ بَابًا مِنْ الضُّرِّ أَدْنَاهُنَّ الْفَقْرُ.

قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِمُتَّصِلٍ مَكْحُولٌ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. (رواه الترمذي: ٣٥٢٥)

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar dari Hisyam bin Al Ghaz dari Makhul dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, "Perbanyaklah mengucapkan; Laa haula walaa quwwata illa billahi (tidak ada daya dan upaya melainkan milik Allah), karena ia merupakan perbendaharaan surga."

Makhul berkata, "Barangsiapa mengucapkan; Laa haula walaa quwwata illaa billahi wala manja'a minallahi illa ilaihi (tidak ada daya dan upaya kecuali milik Allah dan tiada tempat berlari dari (murka) Allah kecuali kepada-Nya), maka Allah akan menghilangkan darinya tujuh puluh pintu bahaya, sedangkan bahaya yang paling rendah adalah kefakiran."

Abu Isa berkata, "Hadits ini sanadnya tidak bersambung, karena Makhul tidak pernah mendengar dari Abu Hurairah." (HR. At Tirmidzi: 3525 - shahih tanpa perkataan makhul yaitu: Barang siapa berkata ... ia adalah maqthu' menurut Nashiruddin Al Albani - dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: Makhul, ia adalah tabi'ul atba' kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdullah negeri hidup Syam 113 H. Penilaian ulama: Al 'Ajli menilainya tsiqah, Ibnu Kharasy menilainya shaduq. Abu Hatim dan adz Dzahabi berkata, "orang yang paling faqih di Syam pada masanya". Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam Ats tsiqat". Ibnu Yunus menilainya faqih 'alim, sedangkan Ibnu Hajar menilainya tsiqah, faqih. Makhul tidak mendengar langsung dari Abu Hurairah, dengan kata lain rawi terputus setelah Makhul.

Bagaimana pun pertolongan Allah pasti datang kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Sehingga bukan karena klimatnya, tetapi lebih ditekankan pada eksistensi kalimat itu harus selalu membasahi bibirnya. Sehingga esensi atau hakekat kalimat tersebut wujud dalam setiap sikap dan prilakunya. Sehingga yang menggunakan kalimat tersebut terhindar dari syirik dan tetap istiqamah dalam tauhid uluhiyahnya, peng-esa-an Allah dalam seluruh aktivitasnya.

Demikianlah yang dapat penulis paparkan semoga bermanfaat. Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]