BUDAK DUNIA AKAN LENGAH
Oleh; Samsurizal, MA
Bismillahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Budak Materi dalam pikiran dan darah para penghamba dunia. Mereka cendrung menghalalkan segala cara, menyusub dalam setiap luka. Bahkan, menghantui para penikmat kemewahan, pengagum kemegahan hingga melupakan fitrah kemanusiaan yang mengakar sekalipun dapat punah.
Sudah jadi tradisi kalau materi jadi tumpuan utama. Inilah yang sering menjadi ladang mudah untuk menzhalimi. Sayangnya, tak banyak orang yang punya kepekaan terhadap kekurangan orang lain. Sehingga jadi penyebab abadinya kebencian, dan berkentayangan budak materi.
Yang kaya menindas yang lemah, yang miskin jadi budak di negeri sendiri. Tapi mereka tak sadar bahwa inilah yang akan mengikis anugerah cinta dan kasih sayang. Paham atau tidak, sunnatullaah akan tetap berlaku bagi siapa saja,
وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَزْوَاجِكُمْ بَنِيْنَ وَحَفَدَةً وَّرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِۗ اَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُوْنَ وَبِنِعْمَتِ اللّٰهِ هُمْ يَكْفُرُوْنَۙ. (قرآن سورة المحلي/١٦: ٧٢)
Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan bagimu dari pasanganmu anak-anak dan cucu-cucu, serta menganugerahi kamu rezeki yang baik-baik. Mengapa terhadap yang batil mereka beriman, sedangkan terhadap nikmat Allah mereka ingkar?(QS. An-Naḥl/6: 72)
Ingatlah, bahwa mereka juga bisa menjadi musuhmu ketika rasa syukur diantara kita hilang atau terkikis dengan pandangan yang dangkal. Sehingga, yang tampak hanya hitungan angka-angka yang terus berubah sepanjang waktu dan keadaan.
مَا جَعَلَ اللّٰهُ لِرَجُلٍ مِّنْ قَلْبَيْنِ فِيْ جَوْفِهٖ ۚوَمَا جَعَلَ اَزْوَاجَكُمُ الّٰـِٕۤيْ تُظٰهِرُوْنَ مِنْهُنَّ اُمَّهٰتِكُمْ ۚوَمَا جَعَلَ اَدْعِيَاۤءَكُمْ اَبْنَاۤءَكُمْۗ ذٰلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِاَفْوَاهِكُمْ ۗوَاللّٰهُ يَقُوْلُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِى السَّبِيْلَ. (قرآن سورة الاحزاب/٣٣: ٤)
Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya, Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia pun tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan sesuatu yang hak dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). (QS. Al-Aḥzāb/33: 4)
Dan,
اُدْعُوْهُمْ لِاٰبَاۤىِٕهِمْ هُوَ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ ۚ فَاِنْ لَّمْ تَعْلَمُوْٓا اٰبَاۤءَهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ فِى الدِّيْنِ وَمَوَالِيْكُمْ ۗوَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيْمَآ اَخْطَأْتُمْ بِهٖ وَلٰكِنْ مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوْبُكُمْ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا. (قرآن سورة الاحزاب/٣٣: ٥)
Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak mereka. Itulah yang adil di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu (teman dekat). Tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Aḥzāb/33: 5)
Ayat ini terkait dengan ayat ke-37, tentang Zaid dengan istrinya (Zainab) yang kemudian dinikahi Rasulullah atas jawaban terhadap kedudukan anak angkat.
Atau firman Allah,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة التعليم/٦٤: ١٤)
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Tagābun/64: 14)
Alasan istri-istri dan anak-anak sebagian akan menjadi musuh adalah terkadang istri dan anak dapat menjerumuskan suami atau bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Sehingga ayat selanjutnya Allah berfirman:
اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ. (قرآن سورة التعليم/٦٤: ١٥)
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar. (QS. At-Tagābun/64: 15)
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ. (قرآن سورة التعليم/٦٤: ١٦)
Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Tagābun/64: 16)
Demikianlah Allah menganugerahkan hidayah dan peringatan agar tidak terlena dengan kesenangan dunia yang sering membuat lupa kepada Allah dan memperturutkan hawa nafsu. Sehingga mereka kerap keliru memahami anugerah dan amanah Allah tersebut.
Tempat yang terbaik itu ada pada waktu-waktu tertentu. Tetapi, tempat istimewa akan wujud dalam pikiran yang senantiasa berbuat lebih baik. Setiap masa ditemukan perubahan budaya, sepanjang zaman memunculkan perubahan. Oleh karena itu dibutuhkan kemanfaatan multidimensi pandangan dan pikiran yang menempati ruang dan waktu agar hikmah terpatri dalam hati, sehingga menenangkan hati. Akhirnya, ketika kembali kepada Tuhan dalam Ridha dan Keridhaan. Setiap orang punya persepsi tentang Rizki, semua orang pasti mengakui tuhan. Tetapi tidak segalanya menjadi nikmat.
Dalam hadis lain dijelaskan:
اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقُوا الظُّلْمَ فَاِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَاِنَّ الشُّحَّ قَدْ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى اَنْ سَفَكُوْا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ. (رواه أحمد والبخاري ومسلم والبيهقي عن جابر بن عبد الله)
Rasulullah bersabda, “Peliharalah dirimu dari perbuatan zalim, sesungguhnya perbuatan zalim (menimbulkan) kegelapan di hari Kiamat, peliharalah dirimu dari sifat-sifat kikir, karena sesungguhnya kikir itu menghancurkan orang-orang yang sebelum kamu, menimbulkan pertumpahan darah di antara mereka dan akan menghalalkan yang mereka haramkan.” (Riwayat Aḥmad, al-Bukhārī, Muslim, dan al-Baihaqī dari Jābir bin ‘Abdullāh).
Nabi saw juga bersabda dalam hadis lain:
بَرِيْءٌ مِنَ الشُّحِّ: مَنْ اَدَّى الزَّكَاةَ، وَقَرَى الضَّيْفَ، وَأَعْطَى فِى النَّائِبَةِ. (رواه الطبراني)
(Tiga golongan) yang terbebas dari sifat kikir, yaitu orang yang membayarkan zakat, memuliakan tamu, dan memberikan sesuatu kepada orang yang susah. (Riwayat aṭ-Ṭabrānī).
Setiap masa punya junjungan, setiap pendapat ada sanggahan. Jadi, tak perlu khawatir. Karena keterbatasan masing-masing adalah sunnatullah.
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏