HADITS ISBAL
(Melebihkan kain/pakaian dibawah mata kaki)
Bismillaahir rahmaanir rahiem,
Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Isbal adalah membiarkan pakaian atau kain menjulur sampai menutupi mata kaki, sehingga hal ini dilarang oleh Rasulullah sebagai perhatian kepada apa yang dipakai. Begitu juga sikap seseorang yang memakainya terhadap pakaian yang ia pakai.
Selanjutnya, sekian banyak hadits terkait dengan masalah ini mesti dipahami secara bijak dan menyeluruh agar tidak menjadi polemik yang keliru. Karena hal ini akan menjadi budaya yang kurang elok, ketika ia menjadi perdebatan atau bahkan saling menyalahkan.
Berdasarkan pernyataan di atas maka perlu dipaparkan riwayat-riwayat terkait.
Imam Al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ. (رواه البخاري: ٥٣٤١)
Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Barangsiapa menjulurkan kain sarungnya hingga di bawah mata kaki, maka tempatnya adalah neraka." (HR. Al Bukhari: 5341 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Lafazh semakna juga diriwayatkan oleh imam an Nasa'i: 5235 dan 5236,
أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ وَقَدْ كَانَ يُخْبِرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ. (رواه أحمد: ٥٢٣٥)
Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Daud ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa'id Al Maqburi ia mengabarkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Kain sarung yang ada di bawah mata kaki tempatnya adalah di neraka." (HR. An Nasa'i: 5235 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: lafazh hadits riwayat an Nasa'i: 5235 sama dengan hadits riwayat imam Al Bukhari: 5341.
Dan,
أَخْبَرَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ وَقَدْ كَانَ يُخْبِرُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ. (رواه النسائي: ٥٢٣٦)
Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan ia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Daud ia berkata; telah menceritakan kepada kami Syu'bah ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa'id Al Maqburi ia mengabarkan dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Kain sarung yang ada di bawah mata kaki tempatnya adalah di neraka." (HR. An Nasa'i: 5236 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Dan imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ قَالَ شُعْبَةُ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيَّ بَعْدَمَا كَبِرَ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْفَلُ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فِي النَّارِ. (رواه أحمد: ٩٥٥٥)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman Syu'bah aku mendengar Sa'id bin Abi Sa'id Al Maqburi yaitu ketika ia telah berumur senja, ia berkata; Aku mendengar Abu Hurairah menuturkan; Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Apa yang ada di bawah dua mata kaki adalah di neraka." (HR. Ahmad: 9555 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian halnya Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ إِسْحَاقَ عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَمَا كَانَ إِلَى الْكَعْبِ فَلَا بَأْسَ وَمَا تَحْتَ الْكَعْبِ فَفِي النَّارِ. (رواه أحمد: ١١٠٦٣)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad -yaitu Ibnu Ishaq- dari Al 'Ala` bin Abdurrahman dari Bapaknya dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Sarung seorang muslim adalah sebatas setengah betis, jika sampai mata kaki tidaklah mengapa, sedangkan apa yang ada di bawah mata kaki adalah di neraka." (HR. Ahmad: 11063 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sa'ad bin Malik bin Sinan bin Ubaid, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id Madinah dan wafat tahun 74 H)
Lafazh semakna juga diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَسَاهُ حُلَّةً فَلَبِسَهَا فَرَآهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ وَذَكَرَ النَّارَ حَتَّى ذَكَرَ قَوْلًا شَدِيدًا فِي إِسْبَالِ الْإِزَارِ. (رواه أحمد: ٦١٣١)
Telah menceritakan kepada kami Abdush Shamad telah menceritakan kepada kami Hammad dari Abdillah bin Muhammad bin Aqil dari Ibnu Umar, Pernah Nabi ﷺ memberinya pakaian, dan ia pun memakainya. Lalu Rasulullah ﷺ melihat pakaiannya melewati kedua mata kaki. Maka beliau menyebut-nyebut neraka sampai beliau menggunakan peringatan sangat keras berkenaan dengan kain yang melewati kedua mata kaki. (HR. Ahmad: 6131 - shahih lighairihi dan isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Ibnu Umar menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh imam Ahmad bahwa,
حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ عَدِيٍّ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ
كَسَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُلَّةً مِنْ حُلَلِ السِّيَرَاءِ أَهْدَاهَا لَهُ فَيْرُوزُ فَلَبِسْتُ الْإِزَارَ فَأَغْرَقَنِي طُولًا وَعَرْضًا فَسَحَبْتُهُ وَلَبِسْتُ الرِّدَاءَ فَتَقَنَّعْتُ بِهِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَاتِقِي فَقَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ الْإِزَارَ فَإِنَّ مَا مَسَّتْ الْأَرْضُ مِنْ الْإِزَارِ إِلَى مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ فِي النَّارِ
قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ فَلَمْ أَرَ إِنْسَانًا قَطُّ أَشَدَّ تَشْمِيرًا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ. (رواه أحمد: ٥٤٥٥)
Telah menceritakan kepada kami Zakariya bin Adi telah mengabarkan kepada kami Ubaidullah bin Amr dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil dari Ibnu Umar dia berkata, Pernah Rasulullah ﷺ memberiku kain bergaris bersulam sutra, bekas pemberian Fairuz untuk nabi. Kain itu aku gunakan untuk sarung. Namun terlalu panjang dan lebar. Dengan terpaksa kain saya seret. Kemudian saya memakai sorban, kujadikan sebagai penutup kepala. Kontan Rasulullah ﷺ memegang pundakku seraya bersabda, "Wahai Abdullah, angkatlah kain itu. Karena segala kain yang menyentuh tanah hingga bawah kedua mata kaki akan dijebloskan dalam neraka." Abdullah bin Muhammad berkata, "Semenjak itu saya tidak pernah melihat seorangpun manusia yang lebih menyingsingkan kain sarungnya daripada Abdullah bin Umar. (HR. Ahmad: 5455 - shahih lighairihi, dan isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Untuk membatasi pernyataan hadits di atas dapat dipaparkan riwayat-riwayat terkait dengan masalah tersebut. Sebagaimana imam Al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا. (رواه البخاري: ٥٣٤٢)
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinnad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan melihat orang yang menjulurkan kain sarungnya karena sombong." (HR. Al Bukhari: 5342 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Pada jalur lain beliau juga meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مَطَرُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا شَبَابَةُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ لَقِيتُ مُحَارِبَ بْنَ دِثَارٍ عَلَى فَرَسٍ وَهُوَ يَأْتِي مَكَانَهُ الَّذِي يَقْضِي فِيهِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَحَدَّثَنِي فَقَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ مَخِيلَةً لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقُلْتُ لِمُحَارِبٍ أَذَكَرَ إِزَارَهُ قَالَ مَا خَصَّ إِزَارًا وَلَا قَمِيصًا
تَابَعَهُ جَبَلَةُ بْنُ سُحَيْمٍ وَزَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ وَزَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّيْثُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مِثْلَهُ وَتَابَعَهُ مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ وَعُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَقُدَامَةُ بْنُ مُوسَى عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ. (رواه البخاري: ٥٣٤٥)
Telah menceritakan kepada kami Mathar bin Al Fadl telah menceritakan kepada kami Syababah telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata; saya berjumpa Muharib bin Ditsar di atas kudanya, ketika ia datang di tempat untuk memutuskan suatu perkara, lalu aku bertanya tentang suatu hadits, maka dia menceritakan kepadaku, katanya; saya mendengar Abdullah bin Umar radhiallahu'anhuma berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa menjulurkan kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat kelak." Lalu tanyaku kepada Muharib, "Apakah beliau menyebutkan kain sarung?" dia menjawab, "Beliau tidak mengkhususkan kain sarung ataukah jubah." Hadits ini juga diperkuat oleh riwayat Jabalah bin Suhaim dan Zaid bin Aslam serta Zaid bin Abdullah dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ. Al Laits mengatakan; dari Nafi' dari Ibnu Umar seperti itu. Dan diperkuat pula oleh riwayat Musa bin 'Uqbah, Umar bin Muhammad dan Qudamah bin Musa dari Salim dari Ibnu Umar dari Nabi ﷺ yaitu dengan redaksi, "Barangsiapa menjulurkan pakainnya….". (HR. Al Bukhari: 5345 - shahih masyhur dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 5337, Muslim: 3887 - masyhur dikalangan tabi'in dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
Selanjutnya, Abu Bakar pernah melakukannya tetapi bukan karena kesombongan. Sebagaimana imam Al Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ ثَوْبِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلَاءَ
قَالَ مُوسَى فَقُلْتُ لِسَالِمٍ أَذَكَرَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ قَالَ لَمْ أَسْمَعْهُ ذَكَرَ إِلَّا ثَوْبَهُ. (رواه البخاري: ٣٣٩٢)
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Musa bin 'Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Abdullah bin 'Umar radhiallahu'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang menjulurkan pakaiannya karena kesombongan maka Allah tidak akan melihat kepadanya pada hari kiamat". Kemudian Abu Bakr berkata, "Sesungguhnya sebelah dari pakaianku terjulur kecuali bila aku memeganginya (mengangkatnya) ". Maka Rasulullah ﷺ berkata, "Sesungguhnya kamu melakukan itu bukan bermaksud sombong". Musa berkata; Aku bertanya kepada Salim; "Apakah Abdullah menyebutkan, "Siapa yang menjulurkan sarungnya? (pakaian bagian bawah). Salim berkata, "Aku tidak pernah mendengar dia berkata kecuali menyebut pakaian". (HR. Al Bukhari: 3392 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga riwayat imam Al Bukhari: 5338 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Terdapat 38 hadits terkait dengan hal ini.
Oleh karena itu berdasarkan hadits-hadits di atas dapat dipahami bawah: isbal dimaksud adalah membiarkan kain sarung atau sorban bahkan pakaian menjulur melebihi mata kaki. Sehingga menyeret tanah, hal seperti inilah yang dilarang atau diancam dengan neraka. Artinya hal demikian termasuk prilaku buruk.
Kemudian, apa bila seseorang melakukan itu bukan karena sikap sombong (bathran) dan bangga (khuyaalaa') maka tidak termasuk dalam ancaman tersebut. Karena ketika Ibnu Umar diberikan kain bersulam sutra kepada beliau. Seperti penggalan hadits riwayat Ahmad: 5455, " ... Pernah Rasulullah ﷺ memberiku (Ibnu 'Umar) kain bergaris bersulam sutra, bekas pemberian Fairuz untuk nabi. Kain itu aku gunakan untuk sarung. Namun terlalu panjang dan lebar. Dengan terpaksa kain saya seret. Kemudian saya memakai sorban, kujadikan sebagai penutup kepala ... ". Hadits ini mengisyarakatkan sikap Ibnu Umar memakainya. Nah, sikap tersebut yang dicela oleh Rasul.
Dengan mengompromikan riwayat-riwayat tersebut, maka terjawab prasangka atau kekeliruan memahami hadits-hadits tentang isbal dimaksud. Jadi, maksud Rasul dengan ancaman tersebut bukan karena memakai kain melebih mata kaki, namun karena sikap pelakunya yang sombong dan bangga. Sehingga pakaian atau apa pun yang dipakai dengan berlebihan tetap menjadi perhatian, yaitu sikap pemakainya.
Wallaahu a'lam bish shawaab,
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏