GENEOLOGI
Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (JPRMI)
Silsilah, genealogi, atau nasab adalah kajian tentang keluarga dan penelusuran jalur keturunan serta sejarahnya. Genealogi merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari asal usul sejarah dan warisan budaya suatu bangsa.
URGENSI prinsip Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (kemudian disebut JPRMI). Organisasi ini mesti mendalami alur pikir Al-Qur'an dan al-Hadits. Karena alur pikir syar'iyah akan mengantarkan mereka pada sikap logis dan kritis dalam mengambil dan mengamalkan syari'at secara menyeluruh dan istiqamah. Sebagaimana dikenal dikalangan pemikir Islam bahwa "berpikir adalah induk segala amal". Sehingga dapat dipilah dan dijalankan dalam bentuk amanah-amanah ilahiyah yang mengurat dan mengakar pada aktifitas para kaum muda yang didambakan oleh kaum tua, terutama para orang tua yang cerdas dan shalih.
Dasar Naqliy
A. Al-Qur'an surah At-Taubah/9 ayat 18
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ. (قرآن سورة التوبة/٩: ١٨)
Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah/9: 18)
Ayat ini menerangkan bahwa yang patut memakmurkan mesjid-mesjid Allah hanyalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan berserah diri kepada-Nya serta percaya akan datangnya hari akhir tempat pembalasan segala amal perbuatan, melaksanakan salat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Orang-orang inilah yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk untuk memakmurkan mesjid-mesjid-Nya. Banyak hadis yang menjelaskan tentang keutamaan memakmurkan mesjid, antara lain sabda Rasulullah saw:
مَنْ بَنَى لِلّٰهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِيْ بِهِ وَجْهَ اللّٰهِ بَنىَ اللّٰهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ (رواه البخاري ومسلم والترمذي عن عثمان بن عفّان)
Barang siapa membangun mesjid bagi Allah untuk mengharapkan keridaan-Nya, niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah dalam surga. (Riwayat al-Bukhārī, Muslim dan at-Tirmiżī dari ‘Uṡmān bin ‘Affān)
Sabda Rasulullah saw:
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَعْتَادُ الْمَسَاجِدَ فَاشْهَدُوْا لَهُ بِاْلإِيْمَانِ (رواه أحمد والترمذي وابن ماجه والحاكم عن أبي سعيد الخدري)
Apabila kamu melihat seseorang membiasakan diri (beribadah) di mesjid, maka bersaksilah bahwa ia orang yang beriman. (Riwayat Aḥmad, at-Tirmiżī, Ibnu Mājah dan al-Ḥākim dari Abi Sa’id al-Khudrī)
Dan sabdanya yang lain:
أَنَّ امْرَأَةً كَانَتْ تَقُمُّ الْمَسْجِدَ -أَيْ تَكْنُسُهُ- فَمَاتَتْ فَسَأَلَ عَنْهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيْلَ لَهُ مَاتَتْ “أَفَلاَ كُنْتُمْ اٰذَنْتُمُوْنِيْ بِهَا لِأصَلِّيَ عَلَيْهَا؟ دُلُّوْنِيْ عَلَى قَبْرِهَا” فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا (رواه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجه)
Sesungguhnya ada seorang perempuan yang biasa menyapu mesjid lalu meninggal dunia, Rasulullah saw menanyakannya, dan ketika dikatakan kepadanya bahwa perempuan itu sudah meninggal, Rasulullah berkata, “Mengapa kamu tidak memberitahukan kepada saya, agar saya salatkan ia. Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburnya.” Maka Rasulullah mendatangi kuburan itu, lalu ia salat di atasnya (shalat jenazah-pen). (Riwayat al-Bukhārī, Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Mājah)
Dalam hadis lain:
مَنْ أَسْرَجَ سِرَاجًا فِيْ مَسْجِدٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ مَا دَامَ فِيْ ذٰلِكَ الْمَسْجِدِ ضَوْءُهُ (رواه سالم الرازي عن أنس)
Barang siapa menyalakan penerangan lampu dalam mesjid, niscaya para malaikat dan para pembawa arasy senantiasa memohon ampun kepada Allah agar diampuni dosanya selama lampu itu bercahaya dalam mesjid. (Riwayat Salim ar-Rāzī dari Anas r.a.)
ALLAH MENUNGGU ORANG YANG AKAN DINAUNGI DI AKHIRAT
Imam al-Bukhari meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ. (رواه البخاري: ٦٢٠)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Bundar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepadaku Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ bersabda, "Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabb-nya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis." (HR. Al-Bukhari: 620 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam al-Bukhari: 1334, 6308 (semakna), At-Tirmidzi: 2313, an-Nasa'i: 5285, Ahmad: 9288, Malik: 1501 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Sedangkan imam Muslim meriwayatkan lafazh yang terbalik, yaitu kalimat,
" ... وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ ...". (رواه مسلم: ١٧١٢)
" ... Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya ...". (HR. Muslim: 1712 - shahih dari Abu Hurairah)
Catatan: hadits riwayat imam Muslim: 1712 sanadnya shahih, namun terdapat keterbalikan teks matan (maqlub). Sehingga lafazh dan maknanya bertentangan dengan matan riwayat orang yang lebih tsiqah dari imam Muslim yaitu imam al-Bukhari. Begitu juga bertentangan matannya dengan riwayat shahih lain yaitu hadits riwayat imam At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ahmad, dan Malik. Sehingga haditsnya dha'if. Dalam istilah ilmu hadits dari segi kecacatannya dikenal dengan istilah hadits syadz.
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي. (رواه أحمد: ١٠٤٨٩)
Telah menceritakan kepada kami Rauh berkata, telah menceritakan kepada kami Malik dari Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar dari Abu Al Hubab dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman pada hari kiamat, 'Dimanakah hari ini orang-orang yang saling mencinta karena keagungan-Ku? Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku.'" (HR. Ahmad: 10489 - isnadnya shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ad-Darimi: 2638 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad Ad-Darimi dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Begitu juga hadits riwayat Muslim: 4655, Ahmad: 6933, 8101, 8476, 10362 - shahih dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H.
Kemudian,
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ قَيْسٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي الْيَسَرِ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرْ الْمُعْسِرَ أَوْ لِيَضَعْ عَنْهُ. (رواه أحمد: ١٤٩٧٢)
Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ishaq dari Abdurrahman bin Mu'awiyah dari Hanzhalah bin Qais Az-Zurraqi dari Abu Al Yasar salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang senang berada dalam naungan Allah 'Azza wa Jalla (pada hari tiada naungan selain naungan-Nya) maka lihatlah orang yang berada dalam kesulitan atau dia melapaskannya dari (kesulitan) tersebut." (HR. Ahmad: 14972 - shahih, isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Ka'ab bin 'Amru bin 'Abbad, ia shahabat kuniyahnya Abu al-Yusur negeri hidup Madinah dan wafat tahun 55 H)
Hadits yang dha'if tentang informasikan naungan Allah, dalam riwayat imam Ahmad. Beliau berkata,
قَالَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ عَدِيٍّ قَالَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَقِيلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَعَانَ مُجَاهِدًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ غَارِمًا فِي عُسْرَتِهِ أَوْ مُكَاتَبًا فِي رَقَبَتِهِ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ. (رواه أحمد: ١٥٤٧٢)
Telah menceritakan kepada kami Zakariya bin 'Adi berkata, telah mengabarkan kepada kami 'Ubaidullah bin 'Amr dari Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil dari Abdullah bin Suhail bin Hunaif dari bapaknya berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa menolong seorang mujahid di jalan Allah atau orang yang terlilit utang dalam kesulitan yang dia hadapi atau budak (yang telah dijanjikan merdeka oleh tuannya) dalam tanggungannya, Allah menaunginya dalam naungAn Nya pada hari ketika tidak ada naungan selain naungAn Nya". (HR. Ahmad: 15417 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sahal bin Hunaif bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu Tsabit negeri hidup Madinah dan wafat tahun 38 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 15418 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Sahal bin Hunaif bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu Tsabit negeri hidup Madinah dan wafat tahun 38 H.
Catatan: dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 15417 dan 15418 terdapat periwayat yang nilai jarah oleh ulama hadits, yaitu 'Abdullah bin Muhammad bin 'Aqil bin Abi Thalib, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 142 H. Penilaian ulama: Muhammad bin Sa'ad menilainya munkarul hadits, Yahya bin Muhammad menegaskan, "tidak boleh berhujah dengan haditsnya". Sedangkan Abu Hatim menilainya layyinul hadits. Ibnu Hajar menilainya, "shaduq, tetapi terdapat kesalahan".
B. Al-Qur'an surah Al-Kahf/18 ayat 13
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَاَهُمْ بِالْحَقِّۗ اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ. (قرآن سورة الكهفي/١٨: ١٣)
Kami menceritakan kepadamu (Nabi Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka. (QS. Al-Kahfi/18: 13)
Dalam ayat ini, Allah mulai menguraikan kisah Aṣḥābul Kahf, yang pada ayat-ayat sebelumnya telah disampaikan secara global. Allah mengata-kan kepada Rasul saw bahwa kisah yang disampaikan ini mengandung kebenaran. Maksudnya diceritakan menurut kejadian, tidak seperti yang dikenal oleh bangsa Arab. Mereka telah mengenal kisah pemuda-pemuda penghuni gua ini, akan tetapi dalam bentuk yang berbeda. Umayyah bin Abi Salt, seorang penyair Arab zaman permulaan Islam dari Bani Umayyah (w. 9 H), pernah dalam sebuah baitnya menyebut gua ini, yang menunjukkan bahwa bangsa Arab telah mengenal kisah ini. Baitnya berbunyi:
وَلَيْسَ بِهَا إِلاَّ الرَّقِيْمُ مُجَاوِرًاوَصَيْدُهُمُوْ وَالْقَوْمُ هُجَّدًا.
Tidak ada di situ kecuali ar-Raqim (batu bertulis) yang berada di dekatnya serta anjingnya. Sedang kaum itu tidur dalam gua.
Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya para penghuni gua itu adalah para pemuda yang beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh keyakinan. Meskipun masyarakat mereka menganut agama syirik, tetapi mereka dapat mempertahankan keimanan mereka dari pengaruh kemusyrikan. Memang para pemuda pada umumnya mempunyai sifat mudah menerima kebenaran, mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah tenggelam dalam ajaran-ajaran yang batil. Oleh karena itu, dalam sejarah, terutama sejarah perkembangan Islam, para pemuda yang lebih banyak pertama kali menerima ajaran Allah dan Rasul-Nya. Adapun orang tua, seperti tokoh-tokoh Quraisy, tetap mempertahankan ajaran agama yang salah, sedikit sekali di antara mereka yang menerima ajaran Islam.
Dasar 'Aqliy
Masjid pada zaman Rasulullah SAW merupakan pusat kegiatan ummat Islam activity center yang di dalamnya dibahas dan dibangun masyarakat madani, tempat dimana sebuah perubahan dimulai. Remaja Masjid, adalah sebuah fenomena yang menarik yang berkembang akhir-akhir ini, disaat hedonisme (tabiat bersenang-senang) menjadi kiblat banyak golongan muda dengan berlandaskan kebebasan anak muda berekspresi, namun para remaja yang sering berhimpun di masjid mereformasi diri mereka sendiri dan mengorganisasikan diri untuk memperbaiki diri dan lingkungan mereka dari masjid-masjid disekitar mereka.
Pemuda, dari zaman ke zaman, memegang peranan penting dalam mengawal perubahan sebuah bangsa. Sejak dulu hingga sekarang, pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan sebuah bangsa, pemuda adalah rahasia kekuatannya. Dan dalam setiap perubahan, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. Pemuda dan Remaja Masjid merupakan pilar-pilar kebangkitan bangsa yang harus dikelola dengan baik, diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri mereka sendiri, mengorganisasikan setiap potensi yang mereka miliki, hingga akhirnya menyumbangkan perubahan besar sebuah bangsa, menuju bangsa dengan harkat dan martabat yang ditopang oleh generasi muda pemuda dan remaja masjid yang memiliki komitmen moral yang tinggi dan semangat pantang menyerah. Jaringan Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia atau JPRMI, bermula dari keinginan aktivis pemuda atau remaja masjid untuk bekerja sama diantara mereka serta bentuk keprihatinan atas kondisi perkembangan institusi pemuda atau remaja masjid dewasa ini. Banyak fakta ditemukan, ada Organisasi Pemuda dan Remaja Masjid OPRM namun tidak ada pengurusnya, ada OPRM punya pengurus tapi tidak mempunyai agenda kegiatan yang jelas, atau ada OPRM namun terjebak pada kegiatan rutin tahunan saja, tanpa tahu kemana akan diarahkan anggotanya. Dengan latar belakang tersebut, maka pada tanggal 7 Sya’ban 1426 H atau bertepatan dengan tanggal 11 September 2005 M bertempat di Masjid Agung Sunda Kelapa, sekumpulan OPRM melakukan Musyawarah Besar I dan mendeklarasikan pendirian JPRMI, yang dilakukan oleh 36 utusan dari 27 OPRM.
Diantara OPRM yang sudah bergabung saat itu adalah RISKA-Menteng Jakarta Pusat, YISC Al Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan, PRISMA At-Tin Jakarta Timur, MADARIS Islamic Center Jakarta Utara, RISMATA At-Taqwa Kemanggisan Jakarta Barat. Informasi pendirian JPRMI ini menyebar baik melalui media massa karena kiprah pada penolakan Aksi Pornografi dan Pornoaksi yang diselenggarakan oleh JPRMI dan dihadiri oleh sekitar 5000 orang anggota remaja masjid se-DKI Jakarta, dan sebaran melalui milis-milis di internet.
Berdasarkan desakan dari daerah-daerah untuk bergabung dengan JPRMI yang sangat tinggi, maka pada tanggal 19 Mei 2006 dideklarasikanlah JPRMI Nasional yang dihadiri oleh utusan dari 30 Propinsi seluruh Indonesia. Organisasi ini bersifat independent dengan tetap menjunjung tinggi ukhuwah islamiyah dan akhlakul kharimah.
Tujuan dari terbentuknya JPRMI ini adalah mensinergikan potensi-potensi pemuda dan remaja masjid untuk memperkuat dakwah Islamiyah, dan menambah pemuda dan remaja masjid yang mampu memakmurkan masjid dan melahirkan pemimpin-pemimpin masyarakat dan bangsa yang berbasis kemasjidan.
Moekijat. Pengantar Sistem Informasi Manajemen. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1994, hal. 8-9.
Dokumentasi JPRMI Pengurus Wilayah DKI Jakarta.
Departemen Agama RI, Al- Qur’an dan terjemahnya.
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.quran.kemenag
Lidwa, 2010 - 2022, Aplikasi Ensiklopedi Hadis - Kitab 9 Imam, v11.1.9



Amin
BalasHapus🤲🤲🤲
HapusAmin
BalasHapus