HADITS TENTANG LARANGAN PUASA ARAFAH DI ARAFAH
(Penguat nash, hadits ahlul Madinah)
Oleh: Samsurizal, MA
Menjawab masalah dilarang atau tidaknya, bahkan disunnahkan suatu amalan mesti ditelusuri nash-nash yang ada dan diperbandingkan kekuatannya. Sehingga pijakan amal tersebut benar-benar dapat diikuti.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفٰتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْ ۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٩٨)
Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu (pada musim haji). Apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masyarilharam.*) Berzikirlah kepada-Nya karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu meskipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (QS. Al-Baqarah/2: 198)
ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٩٩)
Kemudian, bertolaklah kamu dari tempat orang-orang bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah/2: 198)
*Masyarilharam adalah bukit Quzah di Muzdalifah, disepakati bahwa ia adalah dapat digunakan tempat mabit secara keseluruhan.
Pada musim haji seseorang tidak dilarang berusaha, seperti berdagang dan lain-lain, asal jangan mengganggu tujuan yang utama, yaitu mengerjakan haji dengan sempurna. Ayat ini diturunkan sehubungan dengan keragu-raguan orang Islam pada permulaan datangnya Islam untuk berusaha mencari rezeki, sehingga banyak di antara mereka yang menutup toko-toko mereka pada waktu musim haji, karena takut berdosa. Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dari Ibnu ‘Abbās, dia berkata, “Pada zaman jahiliah ada 3 pasar, yaitu Ukaz, Majannah, dan Zulmajaz.”
Pada waktu musim haji, kaum Muslimin merasa berdosa berdagang di pasar-pasar itu, lalu mereka bertanya kepada Rasulullah saw, maka turunlah ayat ini. Berusaha mencari rezeki yang halal selama mengerjakan haji adalah dibolehkan selama usaha itu dilakukan secara sambilan, bukan menjadi tujuan. Tujuan utama ialah mengerjakan ibadah haji dengan penuh takwa kepada Allah dan dengan hati yang tulus ikhlas.
Kemudian dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada setiap orang yang mengerjakan haji agar berzikir kepada Allah bila telah bertolak dari Padang Arafah menuju ke Muzdalifah, yaitu bila telah sampai di Masy'aril Haram. Masy'aril Haram ialah sebuah bukit di Muzdalifah yang bernama Quzah. Bila telah sampai di tempat itu hendaknya memperbanyak membaca doa, takbir, dan talbiyah. Berzikirlah kepada Allah dengan hati yang khusyuk dan tawāḍu‘, sebagai tanda bersyukur kepada-Nya atas karunia dan hidayah-Nya yang telah melepaskan seseorang dari penyakit syirik pada masa dahulu, menjadi orang yang telah bertauhid murni kepada Allah swt.
Terkait dengan hadits dilarangnya puasa Arafah, berikut penulis paparkan hadits-haditsnya. Begitu juga hadits yang menunjukkan kebolehan dan memahami apakah ia termasuk amalan yang dilarang atau tidak. Sehingga dengan membaca dan memahami segala aspek tekstual dan kontekstualnya bahkan kekuatan nash-nya akan dapat disimpulkan sebagaimana mestinya.
Berikut penulis paparkan hadits-haditsnya:
Imam Ahmad berkata,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَوْشَبُ بْنُ عَقِيلٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَهْدِيٌّ الْعَبْدِيُّ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فِي بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ. (رواه أحمد: ٩٣٨٤)
Telah menceritakan kepada kami Waki' berkata, telah menceritakan kepada kami Hausyab bin 'Aqil berkata, telah menceritakan kepadaku Mahdi Al 'Abdiy dari Ikrimah, Mahdi berkata, Ikrimah berkata, Aku masuk menemui Abu Hurairah di rumahnya, lalu aku bertanya kepadanya tentang puasa Arafah di Arafah, maka Abu Hurairah menjawab, "Rasulullah ﷺ melarang berpuasa Arafah di Arafah." (HR. Ahmad: 9384 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Catatan: salam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 9384 terdapat periwayat yang dinilai berbeda (baik dan buruk) oleh ulama kritikus hadits. Mereka adalah;
1. Mahdy bin Harbi, ia tabi'ul atba' kalangan tua. Yahya bin Ma'in tidak mengenalnya, Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam Ats Tsiqat". Sedangkan Ibnu Hajar menilainya maqbul.
2. Hawsyab bin 'Uqail, ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu Dahiyah dan negeri hidup Bashrah. Penilaian ulama: Al Hasadi menilainya dha'if dan Abu Hatim menilainya shalihul hadits. Sedangkan yang lain menilainya tsiqah, yaitu: Yahya bin Ma'in, an Nasa'i, Abu Daud, Ahmad bin Hambal, dan adz Dzahabi. Ibnu Hibban berkata, "disebutkan dalam Ats Tsiqat".
Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 2084, Ibnu Majah: 1722 (hadits 'aziz diakhir sanadnya), dan Ahmad: 7688 - dha'if menurut Al Albani dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H. Ketiga hadits ini juga terdapat periwayat yang sama seperti hadits riwayat imam Ahmad: 9384, yaitu Mahdy bin Harbi dan Hawsyab bin 'Uqail.
Sebagai pernyataan di atas memang pernah terjadi perdebatan tentang puasa Arafah. Sebagian mereka mengatakan Rasulullah ﷺ berpuasa di Arafah, dan sebagian mengatakan tidak. Namun kenyataannya beliau berbuka di Arafah. Hal ini diceritakan oleh Ummu Fadhal, sebagaimana dalam riwayat imam Abu Daud, beliau berkata:
حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي النَّضْرِ عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ بِعَرَفَةَ فَشَرِبَ. (رواه أبوداود: ٢٠٨٥)
Telah menceritakan kepada kami Al Qa'nabi dari Malik dari Abu An Nadhr dari 'Umair mantan budak Abdullah bin Abbas, dari Ummu Al Fadhal binti Al Harits bahwa beberapa orang berselisih di hadapannya pada Hari 'Arafah mengenai puasa Rasulullah ﷺ, kemudian sebagian mereka mengatakan; beliau berpuasa, dan sebagian mereka mengatakan; beliau tidak berpuasa. Kemudian Ummu Al Fadhal mengirimkan mangkuk yang berisi susu kepada beliau sementara beliau sedang berada di atas untanya di 'Arafah lalu beliau meminumnya. (HR. Abu Daud: 2085 - shahih dari Lubabah binti Al Harits bin Hazan, ia shahabiyah Ummu Al Fadhal dan negeri hidup Madinah. Hadits ahlul Madinah)
Hadits riwayat imam Abu Daud: 2085 ini didukung oleh riwayat imam Al Bukhari: 1551 (hadits ahlul Madinah), 1852 (hadits 'aziz diakhir sanadnya) - shahih dari Lubabah binti Al Harits bin Hazan, ia shahabiyah Ummu Al Fadhal dan negeri hidup Madinah. Hadits ahlul Madinah. Imam Muslim: 1894 juga meriwayat hal demikian, bahkan dengan sanad masyhur yang memiliki empat jalur sanad, namun bersumber dari Ummu Fadhal.
Rasulullah ﷺ dan para shahabat, Abu Bakar, Umar, dan Usman tidak melakukan puasa di Arafah. Demikian halnya kebanyakan Ulama bahkan menyunnahkan untuk tidak berpuasa di Arafah agar kuat berdoa dan minta ampun kepada Allah sebanyak-banyak di Arafah sebagaimana diingatkan dalam QS. Al Baqarah ayat 198 - 199 di atas. Sedangkan sebagiannya juga berpuasa. Sebagaimana hadits riwayat imam at Tirmidzi, beliau berkata:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ وَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَ
وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عُمَرَ وَأُمِّ الْفَضْلِ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ حَجَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَصُمْهُ يَعْنِي يَوْمَ عَرَفَةَ وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ يَسْتَحِبُّونَ الْإِفْطَارَ بِعَرَفَةَ لِيَتَقَوَّى بِهِ الرَّجُلُ عَلَى الدُّعَاءِ وَقَدْ صَامَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ يَوْمَ عَرَفَةَ بِعَرَفَةَ. (رواه الترمذي: ٦٨١)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ulaiyah, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi ﷺ buka puasa di 'Arafah dan Ummul Fadhal mengirim susu kepadanya, lalu beliau meminumnya. Dalam bab ini (ada juga riwayat -pent) dari Abu Hurairah, Ibnu Umar dan Ummul Fadhal. Abu 'Isa berkata, hadits Ibnu Abbas merupakan hadits hasan shahih. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau berkata, saya telah melaksanakan haji bersama Nabi ﷺ sedangkan beliau tidak puasa di 'Arafah, saya juga pernah berhaji bersama Abu Bakar dia juga tidak puasa 'Arafah, pernah juga bersama Umar dan dia tidak berpuasa, demikian juga halnya bersama 'Utsman dia juga tidak berpuasa, (hadits ini) juga diamalkan oleh kebanyakan para ulama, mereka menyunnahkan untuk tidak berpuasa di 'Arafah (berbuka di Arafah) supaya kuat untuk berdoa, dan sebagian ulama juga ada yang berpuasa Arafah ketika berada di Arafah. (HR. At Tirmidzi: 681 - shahih menurut al Albani dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ قَالَ لَا أَدْرِي أَسَمِعْتُهُ مِنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَمْ نُبِّئْتُهُ عَنْهُ قَالَ
أَتَيْتُ عَلَى ابْنِ عَبَّاسٍ بِعَرَفَةَ وَهُوَ يَأْكُلُ رُمَّانًا فَقَالَ أَفْطَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَةَ وَبَعَثَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَهُ. (رواه أحمد: ١٧٧٣)
Ahmad bin Hanbal berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il, telah menceritakan kepada kami Ayyub berkata, Saya tidak tahu apakah saya mendengarnya dari Sa'id bin Jubair atau saya diberitahu hadits itu darinya, berkata, aku menemui Ibnu Abbas saat ia di Arafah yang sedang makan buah delima. Lalu dia berkata, "Rasulullah ﷺ berbuka di Arafah, lalu Ummul Fadhal mengirimkan kepada beliau susu dan beliau meminumnya." (HR. Ahmad: 1773 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 3204 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.
Asal informasi dari Abu Lubabah, diterima oleh Ibnu 'Abbas sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّهُ أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ أُتِيَ بِرُمَّانٍ فَأَكَلَهُ وَقَالَ حَدَّثَتْنِي أُمُّ الْفَضْلِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ أَتَتْهُ بِلَبَنٍ فَشَرِبَهُ. (رواه أحمد: ٢٥٦٣٥)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibn Abbas, bahwa dia berbuka puasa di Arafah, saat disuguhkan buah delima kepadanya ia pun memakannya. Kemudian dia berkata, "Ummu Fadhal menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ berbuka puasa di Arafah, ia menyuguhkan susu untuk beliau, lalu beliau pun meminumnya." (HR. Ahmad: 25635 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Lubabah binti Al Harits bin Hazan, ia shahabiyah Ummu Al Fadhal dan negeri hidup Madinah)
Ditempat lain imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْطَرَ بِعَرَفَةَ قَالَ بَعَثَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِلَبَنٍ فَشَرِبَهُ. (رواه أحمد: ٢٣٨٦)
Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ berbuka di 'Arafah, ia berkata, "Ummu Al Fadhal mengirimkan susu kepada beliau, lalu beliau pun meminumnya." (HR. Ahmad: 2386 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 3224 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)
Selaras dengan maksud hadits-hadits di atas imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ أَنْبَأَنِي قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنِ رَجُلٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّهُ سَأَلَهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَصُمْهُ
وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَمَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَأَنَا لَا أَصُومُهُ وَلَا آمُرُكَ وَلَا أَنْهَاكَ إِنْ شِئْتَ فَصُمْهُ وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَصُمْهُ. (رواه أحمد: ٥١٦٣)
Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Syu'bah berkata Ibnu Abi Najih, telah memberitakan kepadaku, dia berkata, saya mendengar bapakku bercerita dari seseorang dari Ibnu Umar, dia bertanya kepada Ibnu Umar tentang puasa Arafah. Dia (Ibnu Umar) berkata, Pernah kami berangkat haji bersama Rasulullah ﷺ dan beliau tidak berpuasa, juga pernah bersama Abu Bakar beliau juga tidak berpuasa, juga bersama Umar dia pun tidak berpuasa, dan bersama Usman dia juga tidak berpuasa dan saya tidak akan berpuasa (di hari Arafah) dan saya juga tidak memerintahkan atau melarang kamu. Jika kamu menghendaki berpuasalah dan jika tidak, silakan. (HR. Ahmad: 5163 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Periwayat yang menerima langsung dari Ibnu Umar tidak diketahui namanya)
Hadits didukung oleh hadits riwayat imam at Tirmidzi: 682 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H, dengan empat jalur sanad. Demikian juga disebutkan hadits semakna yang diriwayat oleh imam Ahmad: 4846 dan 4871 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar. Selanjutnya imam ad Darimi juga meriwayatkan hadits semakna,
أَخْبَرَنَا الْمُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سُئِلَ ابْنُ عُمَرَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ حَجَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ عُمَرَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَحَجَجْتُ مَعَ عُثْمَانَ فَلَمْ يَصُمْهُ وَأَنَا لَا أَصُومُهُ وَلَا آمُرُ بِهِ وَلَا أَنْهَى عَنْهُ. (رواه الدارمي: ١٧٠٠)
Telah mengabarkan kepada kami Al Mu'alla bin Asad, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ulaiyyah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Najih dari Ayahnya ia berkata, "Ibnu Umar ditanya mengenai puasa pada hari 'Arafah, lalu ia menjawab, "Aku pernah berhaji bersama Nabi ﷺ dan beliau tidak berpuasa padanya, aku berhaji bersama Abu Bakar dan ia tidak berpuasa padanya, aku berhaji bersama Umar dan ia tidak berpuasa padanya, aku berhaji bersama Utsman dan ia tidak berpuasa padanya dan aku tidak berpuasa, tidak memerintahkannya dan tidak melarang darinya." (HR. Ad Darimi: 1700 - isnadnya shahih menurut Husain Salim Asad ad Darani dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Fadhilah puasa Arafah
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ قَالَ سُئِلَ عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ وَأَنَا شَاهِدٌ عَنْ الْفَضْلِ فِي صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ جَاءَ هَذَا مِنْ قِبَلِكُمْ يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ حَدَّثَنِيهِ أَبُو الْخَلِيلِ عَنْ حَرْمَلَةَ بْنِ إِيَاسٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَلِمَةً تُشْبِهُ عَدْلَ ذَلِكَ قَالَ صَوْمُ عَرَفَةَ بِصَوْمِ سَنَتَيْنِ وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ بِصَوْمِ سَنَةٍ. (رواه أحمد: ٢١٥٦٨)
Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam berkata, 'Atha` bin Abu Rabah ditanya dan saya menyaksikan dari Al Fadhl tentang puasa hari 'arafah. Berkata 'Atha`; Ini berasal dari kalian wahai penduduk 'Irak. Telah menceritakannya kepadaku Abu Al Khalil dari Harmalah bin Iyas dari Abu Qatadah bahwa Nabi ﷺ mengucapkan kata-kata yang mirip dengan kesamaannya, ia berkata, Puasa 'Arafah seperti puasa dua tahun dan puasa 'Asyura` sama seperti puasa setahun. (HR. Ahmad: 21568 - shahih, isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Al Harits bin Rib'iy, ia shahabat kuniyahnya Abu Qatadah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 54 H)
Demikian yang dapat penulis paparkan tentang larangan dan bagaimana kedudukan puasa Arafah. Hemat penulis, bahwa hadits pelarangan berpuasa waktu wuquf di Arafah jelas haditsnya dha'if, karena bertentangan dengan hadits yang shahih. Ini menambah ke-dha'if-annya. Sehingga, dipahami bahwa puasa Arafah hukumnya sunat. Jika dikerjakan tidak terlarang, dan jika dilakukan mendapat pahala. Hal ini tentu menyisakan pertanyaan yang kontekstual yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang yang melaksanakan wuquf. Oleh sebab itu, kecendrungan riwayat terkuat adalah hadits yang diriwayatkan oleh ahlul Madinah, bahwa berpuasa di Arafah hukumnya sunat.
Wallaahu a'lam bish shawaab.
Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏