“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

BIAS MEDIA DAN WIN SOLUTION PROBLEM PEMUDA KONTEMPORER
Oleh: Samsurizal, MA

PROBLEM MEDIA MASA KINI: AKAR FILOSOFIS-MASALAH-TAWARAN SOLUSI
Jatuhnya ‘kebanggaan subyektif manusia’
1. Kopernikus: Menyingkirkan bumi, tempat tinggal manusia, dari pusat kosmos. 
2. Darwin: Memposisikan manusia sebagai sama saja seperti makhluk yang lain, berevolusi dan tidak ada jaminan bahwa manusia adalah yang utama sejak awal atau merupakan puncaknya.
3. Freud: Menunjukkan ‘ketidaksadaran’ sebagai yang mengarahkan hidup manusia, membatalkan kesombongan manusia sebagai yang penuh kesadaran, rasional, dan terukur-terkendali. Hal ini berdasarkan psikoanalisis Freud.
4. Donna Haraway: Cyborg (Machine + Organism, Disassembled + Reassembled, Social reality + Creature of fiction) 

POST – HUMANISME DAN TRANS-HUMANISM
▪   Posthumanism (Pasca-manusia): Pandangan-pandangan baru tentang manusia dan ‘kemanusiaan’ menyesuaikan dengan perkembangan-perkembangan teknosains terkini (TEKNO-SAINS). 
▪ Transhumanism: ideology dan gerakan yang berusaha mengembangkan teknologi yang mengeliminasi kondisi manusiawi yang lemah, temporer, dll, dengan mengembangkan intelektual, psikis dan psikologisnya, hingga mencapai "posthuman future". 
Tujuan awalnya membantu mengembangkan ide, meringankan hidup manusia. Namun, kemudian justru memusnahkan manusia/tersingkir. Profesi-profesi kemungkinan digantikan dengan mesin, seperti profesi dosen, digantikan dengan seperti youtobe. Sehingga pada akhirnya memperbudak manusia.
▪ Kekhawatiran: 1) AI Takeover: tersingkirnya manusia oleh AI (Artificial Intellegence), 2) Voluntary Human Extinction: masa depan dirancang sebagai dijalani tanpa manusia. 
▪ Michel Foucault, Judith Butler, Gregory Bateson, Warren McCullouch, Norbert Wiener, Bruno Latour, Cary Wolfe, Elaine Graham, N. Katherine Hayles, Benjamin H. Bratton, Peter Sloterdijk, Stefan Lorenz Sorgner, Evan Thompson, Francisco Varela, Humberto Maturana, Timothy Morton, Douglas Kellner, Donna Haraway, Robert Pepperell (penulis "posthuman condition“). 
VARIABEL KUNCI PERADABAN MASA KINI punya empat karakter:
1. Demokrasi / Hak Asasi 
2. Eksistensi / Imaji 
3. Pop-Culture
4. IT / Media 
Kesadaran akan hak, bahwa manusia akhir-akhir ini mulai menyadari bahwa mereka punya hak. Seperti hak berpendapat, hidup layak, hak untuk eksis, dan lain sebagainya. Manusia hari ini dari eksistensi lebih cenderung pada imaji, sehingga ekspresi dalam bentuk pencitraan, sehingga sulit memahami kebenaran. Kemudian, budaya populer. Kecendrungan kepada hal-hal yang viral, sesuai dengan tren yang berlaku. Dan, yang terakhir IT/Media, sehingga porsi dunia nyata menjadi makin kecil (30%). Hal ini menjadikan dunia saat ini menjadi absurd. Hal ini bukan sesuatu yang salah, tetapi bagaimana manusia jangan sampai lepas kontrol (porsi dan proporsi). Mestinya, jangan sampai melupakan diri sendiri.

SITUASI HARI INI: Ekstase Komunikasi 
Maksudnya adalah mendahulukan tindakan komunikasi daripada kebenaran komunikasi. 
KLOUDIA FILOSOF PRANCIS, RENUNGAN tindakan yang tidak terkontrol hari ini:
CIRI-CIRI EKSTASE KOMUNIKASI:
1. KEDANGKALAN : aktif komunikasi, namun lemah makna.
2. KEHEBOHAN : hari ini mengejar viral, bukan makna/kebenaran. Ingin orang lain heboh.
3. KEGEMUKAN : kebanjiran informasi, namun “manusia tergantung isi pikiran” tidak memungkinkan terjadi. Karena banyak hal-hal penting yang terlewatkan.
4. KETELANJANGAN : kita sendiri menelanjangi diri sendiri. Tiap hari dan bahkan setiap saat diberitahukan kepada orang lain.
5. EPILEPSI : mental/pikiran kita hari ini seperti orang epilepsi. Karena hari ini kita hidup dari “kaget ke kaget”, viral ke viral.
6. KEKELIRUAN : mis-informasi, dis-informasi, mal-informasi.

SITUASI HARI INI: POST-TRUTH
Situasi ketika fakta takluk dihadapan emosi dan kepentingan atau keyakinan pribadi, sehingga mengalahkan fakta. Hal ini pernah terkenal di eranya Donal Trum.
Ciri-ciri Post-Truth:
1. Fakta takluk di hadapan emosi & kepentingan 
2. Fakta obyektif kalah pengaruh oleh emosi/keyakinan pribadi dalam membantuk opini 
3. Echo Chamber : situasi orang hanya mau mendengar hanya yang cocok dengan dirinya saja. Walaupun yang tidak ia sukai itu benar, tetap tidak dianggap.
4. Banalisasi Kebohongan : bohong dianggap biasa. Ketika satu kebohongan sering ditampilkan, maka lama-lama menjelma menjadi kebenaran. Karena beda dengan apa yang dipahami.

LAHIRNYA POST-TRUTH 
Framing, mengambil yang sesuai dengan selera. Media hari ini mengambil yang mana mereka suka dan sesuai kepentingan. Sehingga bagian-bagian utuhnya disembunyikan. Signing, ditampilkan semua, tetapi informasinya tetap dipilih. Priming, kemampuan mengarahkan pemahaman orang. 
FRAMING Simulakra, kebenaran yang dibuat. PseudoEvent, realitas buatan. Sehingga kita tertipu, padahal bukan sebenarnya. Fakta followernya banyak, tetapi sebenarnya dibeli. Oleh karena itu fenomena ini berkembang dengan menghadirkan realitas sesuai kepentingan. PseudoSophy, bukan berpikir mendalam, tetapi dibuat seperti rasional dan pilosofis.

EFEK: DISRUPSI PSIKOLOGI (REALITAS PALSU) 

MANUSIA tidak bisa dikendalikan oleh norma-norma, aturan-aturan.
1. Online Disinhibition Effect 
2. Fear of Missing Out, ketakutan yang tidak rasional.
3. Pencitraan: pencitraan yang terjadi saat ini tidak dapat dikontrol.
4. Instant Mentality/metalitas instan: ingin segera sukses, eksis, viral, dan lain-lain.
5. Lemah dalam alarming intuition (peringatan dari dalam diri). Kepekaan diri menjadi terkikis, sehingga terjadi ketidakpedulian kepada orang lain.
6. Ketidakpastian, cenderung tidak terdeteksi.
• Tension, Doubt, Anxiety + Worry, Suspicion, Agitation, Paranoia/paranoid, Embarrassment. 

EFEK: DISRUPSI PSIKOLOGI 
Ciri-ciri distrupsi psikologi:
1. Narasi mengalahkan data, viralitas mengalahkan obyektifitas 
2. Menyuburkan polarisasi masyarakat 
3. Kebohongan menyuburkan ideology dan menyulitkan untuk menerima yang lain-yang berbeda 
4. Terpinggirkan/ terlewatkannya hal-hal esensial, demi citra dan kepentingan artifisial

Prilaku netizen hari ini bukan refleksi, tetapi reaksi. Sehingga muncul ketegangan-ketegangan dan kerusuhan. Orientasi kita mestinya “CINTA KEBIJAKSANAA” (PHILOSOPIA), kebenaran itu tidak memandang orangnya, lembaga, instutusi menjadi tujuan utama.

EFEK: DISRUPSI SOSIAL PERAN MEDIA & KEKUATAN MEDIA 
Peran Media (media functions) Kekuatan Media (media power) 
1. Membangun suatu nilai 
2. Meyakinkan audiens 
3. Sharing same interest, yang pada akhirnya menjadi suatu budaya baru atau budaya populer dan membuahkan hegemoni. 
4. Melanggengkan status-quo 
5. Menciptakan dan mengarahkan problem dan isu untuk menjadi perhatian publik 
6. “Membelah” masyarakat 
7. Polisemi: menciptakan tanda dengan kandungan beragam makna 
8. Menciptakan “frameworkInterpretation” 

TIPOLOGI PENGGUNAAN MEDIA 
Passing time Companionship Escape Enjoyment Social interaction Relaxation Information Excitement 

PILIHAN-PILIHAN RESPON ATAS MEDIA 
Dominant Reading: Operating inside the dominant code 
Media menghasilkan pesan untuk dikonsumsi massa. Audien membacanya dengan pemahaman serupa. Negotiated Reading: Applying a negotiable code Penonton menerima yang ditawarkan secara umum tetapi menentang aplikasinya dalam hal-hal tertentu. Oppositional Reading: Substituting an oppositional code Audiens menolak makna dan menggantinya serta melakukan ‘demitologi’ terhadap pesan yang disampaikan. 

PROBLEM MEDIA 
1. Mass media memandu kita menuju mitos-mitos yang membentuk persepsi kita tentang dunia. 
2. Media dikontrol oleh pemegang kuasa/ korporasi/ kaum elit tertentu, informasi yang ditampilkan kepada publik yang pada akhirnya dipengaruhi dan ditargetkan dengan tujuan untuk mencapai keuntungan mereka. 
3. Kontrol dari pemegang kuasa/ korporasi/ kaum elit tertentu atas sumber informasi menghalangi pemahaman yang tepat atas satu peristiwa dan melahirkan bias-bias. 
4. Kecenderungan untuk menganggap apa yang terjadi sesuai dengan teori, kepercayaan atau Confirmation Bias kesepakatan yang diyakini. Biasanya ‘menyisihkan’ situasi atau kondisi yang tidak sesuai. 
5. Memahami sesuatu hanya dari contoh terdekat, yang paling mudah didapat, misalnya: “Merokok itu tidak apa-apa untuk kesehatan, buktinya kakekku merokok setiap hari dan usianya bisa sampai 90 tahun.” Availability Bias 
6. Satu aspek (misalnya kecantikan, status sosial, umur) yang memunculkan kesan positif atau Halo Effect negatif biasanya akan dijadikan dasar untuk menilai semua aspek yang lain secara keseluruhan. 
7. Otak-atik gatuk, menyesuaikan yang dilihat/dipahami dengan ideal yang ditetapkan. Kata Allah di atas awan? Singa yang bisa mengaumkan “Allah”? Pohon yang berbentuk ayat Al-Qur’an? Ilusi Pola 
8. Sebagaimana katak direbus, yang menganggap semuanya masih normal saja, sampai ia sendiri mati dalam air mendidih. (Tunggu dan biarkan orang terbiasa, menerima dan pasrah dalam satu keadaan sebelum mengubahnya menjadi keadaan yang lebih buruk). Ilusi Kenormalan

MEMBANGUN KESADARAN 
KESADARAN AKAN MASALAH 
+ kritis, naif
- Fatalis, apatis
KESADARAN UNTUK BERUBAH 
+ Kritis Fatalis 
- Naif, Apatis 
Tak peduli dan tidak mau berubah ini bentuk apatis.
Tak akan pernah berubah bagi yang fatalis, naif, dan apatis.

TIPS HUMANISASI TEKNOLOGI DARI GANDHI: 
HINDARILAH TEKNOLOGI YANG MEMILIKI KARAKTER SEPERTI INI… 
1. “Hanya menyenangkan, tapi bagi kamu saja, untuk kepentinganmu saja”. Seharusnya dievaluasi ulang, agar tidak menabrak kemanusiaan.
2. “Membuatmu tidak beraktifitas sama sekali”. Teknologi meggantikan aktivitas total manusia maka perlu dihentikan agar eksistensi kita terjaga.
3. “Mempengaruhi perilaku psikologismu”. Teknologi yang dapat membuat orang malas, melakukan kejahatan.
4. “Memperkuatmu atau menuntunmu dalam kegelapan”. 
5. “Mengubah citra dan identitasmu di tengah masyarakat”. 

TRIPLE FILTER DARI SOCRATES mengemukan tiga alat uji/teori menguji informasi: KEBENARAN, KEMANFAATAN, dan KEBAIKAN/KEMANFAATANYA. Tiga hal tersebut terkait dengan moralitas menyebarkan berita.

LITERASI MEDIA 

CONSEPTS QUESTIONS
 Setiap berita dari media adalah hasil konstruksi pembuat-nya 
 Setiap berita disampaikan dengan menonjolkan bagian (pesan) tertentu dengan cara tertentu 
 Setiap media mengandung nilai dan sudut pandang tertentu 

 Sebagian besar media dikelola untuk memperoleh keuntungan dan atau kekuasaan tertentu  Siapa yang membuat berita ini? 

 Apa pesan yang ingin disampaikan dan ditonjolkn serta bagaimana caranya? 

 Apa nilai, sudut pandang atau gaya hidup yang dikandung oleh media ini atau apa nilai dan sudut pandang yang disingkirkan?
 Mengapa pesan/berita ini dilontarkan?
 
SEBELUM POSTING, TANYAKAN DULU… ABCC
1. AWARE, Apa yang aku tuju, apa yang aku inginkan?
2. BREATHE, Apakah aku perlu berhenti sebentar, melihat secara lebih obyektif? 
3. CURIOSITY, Apakah aku punya semua fakta yang dibutuhkan? Apakah aku tahu yang sebenarnya terjadi? 
4. CHOOSE, Apa pilihan (kata, diksi, kalimat, gambar) terbaik yang harus aku sampaikan? 

SEBELUM COMMENT, TANYAKAN DULU…
1. Apakah harus segara aku jawab atau bisa ditunda atau tidak perlu aku jawab?
2. Apakah sesuai dengan bidang pengetahuan yang aku dalami selama ini? 
3. Apakah aku harus mencari rujukan dulu? 
4. Apakah aku harus mendiskusikan dulu dengan orang lain yang berkaitan? 
5. Apakah aku harus melakukan observasi dulu? 
6. Apakah komentarku akan memberi solusi ataukah menambah persoalan? 
7. Apakah ...

AL QUR’AN MENAWARKAN DELAPAN KARAKTER KOMUNIKASI:
1. Qaulan syadiidaa, semua perkataan yang diutarakan hanya yang benar. Lihat QS. Al Ahzab/33: 70, tentang sikap orang beriman)
2. Qaulan balighah, berbicara sesuai objek atau audiens yang dihadapai agar membekas pada hati dan jiwa mereka (QS. An Nisa’/4: 63). 
3. Qaulan ma`ruufaa, berbicara baik secara sosial. Lihat QS. Al Baqarah/2: 235, tentang kebolehan meminang perempuan dengan cara sindiran. Sedangkan QS, an Nisa’/4: 5, berbicara tentang penyerahan tanggung jawab kepada orang yang layak. Selanjutnya QS. An Niasa’/4: 8, tentang pembagian warisan. Khusus terkait komunikasi lain jenis kelamin, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَاَحَدٍ مِّنَ النِّسَاۤءِ اِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِيْ فِيْ قَلْبِهٖ مَرَضٌ وَّقُلْنَ قَوْلًا مَّعْرُوْفًاۚ. (قرآن سورة الأحزاب/٣٣: ٣٢)

Terjemahannya: “Wahai istri-istri Nabi, kamu tidaklah seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka, janganlah kamu merendahkan suara (dengan lemah lembut yang dibuat-buat) sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al-Aḥzāb/33: 32)

4. Qaulan kariimah, berkata yang mulia dan memuliakan terhadap sesama khususnya kepada kedua orang tua. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا. (قرآن سورة الاسراف/١٧: ٢٣)

Terjemahannya: “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isrā'/17: 23)
 
5. Qaulal layyinaa, berkata dengan lemah lembut kepada penguasa zhalim/kasar. Lihat QS. Thaha/20: 44.  Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى. (قرآن سورة طاه/٢٠: ٤٤)

Artinya: “Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Ṭāhā/20: 44)

6. Qaulan maysuuraa, berbicara dengan kaliamat yang mudah dipahami. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
وَاِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاۤءَ رَحْمَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُوْرًا. (قرآن سورة الاسراء/١٧: ٢٨)

Artinya: “Jika (tidak mampu membantu sehingga) engkau (terpaksa) berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, ucapkanlah kepada mereka perkataan yang lemah lembut.” (QS. Al-Isrā'/17: 28)
7. Qaulan ihsan – lawan dari perkataan bisikan setan (QS. Al Isra`/17: 53)
8. Qaulal haqq – terkait dengan firman Allah tentang kelahiran Nabi Isa (QS. Maryam/19: 34) 

KEBENARAN BERDASARKAN KUALIATAS DAN WILAYAHNYA (RANAH)
1. Kebenaran obyektif, segala hal yang berhubungan dengan fakta empiris. Cara memgujinya dengan verifikasi, seperti: semua orang islam naik haji ke Makkah.
2. Kebenaran subjektif, tanggapan individu terhadap objek. Masing-masing punya perspektif, kesan, dan apresiasi masing-masing.
3. Inter-subjektif, semua subjektif bertemu. Kemudian menghasilkan kesepakatan bersama, hal ini adanya di level sosial – logika sosial.
4. Kebenaran normatif, berdasarkan norma-norma yang disepakati bersama. Norma sosial, agama, adat, dan lain sebagainya. 

Masing-masing kebenaran di atas mempunyai kualitas dan ranahnya sendiri. Sehingga tidak ada tingkatan yang mengharuskan mana yang harus diutamakan dalam kondisi sama dan mana yang dipakai pada kondisi berbeda. Semua orang memiliki kebenarannya dan sudut pandang masing-masing. Oleh karena itu, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang pada refleksi dan kepantasan serta bersesuaian dengan konteksnya.

"Kita sebenarnya bukan makluk yang manusiawi, kemudian punya pengalaman spiritual. Tetapi hakekatnya kita makhluk spiritual yang punya pengalaman kemanusiaan". (Pierre Teilhard de Chardin)

Resume Pertemuan ke-7 esfima bacth 3
Minggu, 17 Juli 2022
Pemateri: DR. Fahruddin Faiz 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]