“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


ETIKA ISLAM (ISLAMIC ETHICS) DAN SOCIETY 5.0‎ 
Oleh: Samsurizal, MA 

REVOLUSI PERADABAN MANUSIA

1.‎ Society 1.0 → era berburu (hunting society); manusia hidup harmonis dengan alam. ‎SEPERTI AVATAR, pemikiran manusia dipindahkan.‎ 
‎2.‎ Society 2.0 → era pertanian (agricultural society); manusia sudah mengenal bercocok-‎tanam Society. Sudah memakai waktu yang panjang mereka belum banyak mengenal ‎mesin. Produksi tidak dengan masal.‎ ‎
3.‎ ‎3.0 → era industri (industrial society); manusia mulai menggunakan mesin untuk ‎membantu aktivitas sehari-hari; mass production. Bercocok tanam dengan mesisn dan ‎diproduksi secara masal.‎ ‎
4.‎ Society 4.0 → era informasi (information society); manusia sudah mengenal komputer dan ‎internet. Kelanjutan dari sebelumnya, industri melibatkan informasi dengan komputer dan ‎internet tahun 1900 M.‎ ‎
5.‎ Society 5.0 → (super smart society) abad 21, teknologi menjadi bagian dari aktivitas dan ‎eksistensi manusia. 
Teknologi menjadi penentu bagi kehidupan manusia, eksistensi ‎mereka menjadi hal yang utama dengan teknologi.‎ 

Revolusi Industri 

Bagian dari industrial industri (revolusi besar peradaban manusia). Ada empat periode ‎terkait dengan ini menurut para ahli:‎ 

1.‎ Industri 1.0 → mekanisasi → penggunaan mesin uap dalam proses produksi. ‎ ‎
2.‎ Industri 2.0 → elektrifikasi → mesin uap digantikan dengan tenaga listrik, assembly line, ‎divisionisasi, menjadi spesialis pada masingmasing lini. ‎ ‎
3.‎ Industri 3.0 → otomatisasi dan globalisasi → komputerisasi, robot, internet, ruang dan ‎waktu menjadi semakin terkompresi dan mampat. ‎ ‎
4.‎ Industri 4.0 → digitalisasi → penggunaan perangkat yang saling terhubung, AI, IoT, cloud, ‎big data, penggabungan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional. ‎ Abad 20-an, Era globalisasi cepat dan pendeknya ruang dan waktu untuk melakukan ‎beberapa kegiatan bahkan banyak kegiatan. Dikenal juga dengan “Memanusiakan manusia ‎dengan teknologi”.‎ ‎
5.‎ Industri 5.0 → teknologi menjadi bagian dari aktivitas dan eksistensi manusia, ‎memanusiakan manusia dengan teknologi.‎ 

Hal tersebut di atas dikenal dengan S (society) 5.0 and IR (information) 4.0.‎ 

Society 5.0 (five point zero)‎ 

Maret 2017, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengenalkan konsep Society 5.0 di ‎pameran CeBIT, Hannover, Jerman. Kehebatan Jepang, bahkan Indonesian Open saat ini juga ‎dikuasai oleh Jepang.‎ ‎

“A human-centered society that balances economic advancement with the resolution of ‎social problems by a system that highly integrates cyberspace and physical space”. Maksudnya ‎adalah semua kegiatan berpusat pada manusia. Society 5.0 bertujuan menyeimbangan antara ‎unsur manusia dan ekonomi. Suatu saat maka manusia digantikan dengan robot, sehingga ‎menghilangkan aspek kemanusiaannya. Begitu juga untuk menyeimbangkan ruang maya dan ‎ruang pisik.‎ 

Tujuan Society 5.0 (five point zero)‎

‎◦ menangani segala aspek masyarakat, seperti ekonomi, politik, pemerintahan, industri, kesehatan, ‎mobilitas, infrastruktur dst.‎ ‎ 
◦ menciptakan masyarakat di mana tantangan sosial diselesaikan dengan memasukkan inovasi ‎revolusi industri keempat (misalnya IoT, Big Data, AI) ke dalam industri dan kehidupan sosial.‎ 

ETIKA ISLAM (ISLAMIC ETHIK)‎ ETIKA Etika: ‎ ‎

◦ Yunani: ethos → berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat ‎kebiasaan. Etika ini menjadi bagian kajian filsafat.‎ 

Keyword on ethics : ‎ ‎
1.‎ Nilai dan norma ‎
2.‎ Baik-buruk ‎ ‎
3.‎ Hak dan kewajiban moral ‎ ‎
4.‎ Kebebasan dan tanggung jawab.‎ 

Apa yang dianggap baik atau buruk bagi masyarakat?‎ 

Tiga Pemaknaan Etika  ‎

1.‎ Etika sebagai sistem nilai → nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi asas, ‎pegangan, atau pedoman bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah ‎lakunya secara individual maupun sosial → bercorak normatif. Bukan masyarakat saja, ‎tetapi digunakan oleh sistem nilai agama. Karena sifatnya normatif, maka ia tidak tertulis ‎hanya sebagai hal yang diingat oleh masyarakat untuk ditaati.‎ 

‎2.‎ Etika sebagai kode etik → kumpulan asas atau nilai moral yang bersifat teknis dan praktis. ‎Kumpulan itu lebih tepat disebut sebagai kode etik. ‎ ‎

3.‎ Etika sebagai ilmu → kajian tentang yang baik atau buruk dan tentang hak dan kewajiban ‎moral → bercorak sistematis-ilmiah. Hal ini merupakan hasil kajian dan analisis ilmiah, ‎dipakai dikalangan akademik sebagai ilmu.‎ 


ETIKA ISLAM Akhlāq (pl.) → khuluq (sing.) → khalaqa: menciptakan sesuatu dari tiada menjadi ada. ‎ 
‎1.‎ Akhlāq sebagai bagian dari fiqh (mu’āmalah) 
‎2.‎ Falsafah al-akhlāq sebagai bagian dari filsafat praktis – orientasinya pada amaliah yang ‎penekanannya pada aspek individu. ‎ 
‎3.‎ Akhlāq sebagai tujuan dalam Tasawuf. Orientasinya pada penyempurnaan akhlak.‎ 

Etika menjadi cabang filsafat yang paling sedikit menarik atensi peneliti kebudayaan Islam.‎ 

PERSPEKTIF DALAM ETIKA ISLAM 

Majid Fakhry ‎
1. Scriptural Morality
2. Theological Ethics
3. Philosophical Ethics
4. Religious Ethics

Muhammad Abid al-Jabiri (Nalar Etik Islam)‎  ‎ 1. Etika Arab: al-akhlāq al-muru’ah (Etika Harga Diri)‎  ‎
2. Etika Persia: al-akhlāq aṭ-ṭā’ah (Etika Kepatuhan) ‎  
3.‎ Etika Yunani: al-akhlāq as-sa’ādah (Etika Kebahagiaan) ‎  ‎
4. Etika Sufistik: al-akhlāq al-fanā ‎ 
5. Etika Keagamaan: al-akhlāq ad-Dīnī; al-akhlāq al-’amal aṣ-‎ṣaliḥ; prinsip kemaslahatan 

Majid Fakhriy : Etika Islam ditentukan oleh al Qur’an dan hadits secara leterleks. Baik buruk, ‎dikembangkan oleh agama. Tindakan manusia, apakah manusia mempunyai kehendak bebas. ‎Seperti Raja Yogyakarta awalnya mengaku sebagai khalifatullah. Artinya seluruh tindakannya ‎adalah tindakan Tuhan. Oleh karenya pertanggungjawabanya kepada Tuhan. Kemudian ‎Philosophical Ethics yang dibahas oleh pada filosof. Begitu juga religius ethics yang ada dalam al ‎Qur’an dan al hadits. Oleh karena fakta di atas kajian dan sudut pandang filsafat etik sangat ‎fleksibel, sehingga dapat dimasukkan dalam berbagai perspektif keilmuan.‎ 

Muhammad Abid al-Jabiri, menekankan pada mengelompokkan dalam berbagai pola pikir ‎dengan menerjemahkan dalam berbagai pandangan tentang akhlak.‎ 

ISLAMIC ETHICS in SOCIETY 5.0 (five point zero)‎ 

Islamich ethics in society 5.0 menitik beratkan pada manusia.‎ 

Prinsip-prinsip yang tidak berubah:‎ 

1.‎ Relasi dengan Allah → ‘ibadah, ketaatan, bersyukur, ridha, tawakkal, dzikir. ‎ 
‎2.‎ Relasi dengan alam → kewajiban terhadap alam, menjaga dan melestarikan alam. Muncul ‎teologi alamiah atau lingkungan, merupakan hal yang sama dengan etika lingkungan. ‎ ‎
3.‎ Relasi dengan manusia : ‎ 
 Relasi dengan diri sendiri → fitrah, sikap diri yang baik. ‎ 
 Relasi orang lain → keadilan, amar ma’ruf nahi munkar, saling membantu, musyawarah. ‎ 
 Membangun sistem sosial yang bermoral (keadilan ekonomi-sosial, equality, hukum).‎ 

Perlunya merubah paradigma etik:‎ ‎

1.‎ Dari pra-industrial-scientific era ke post-industrial-scientific era. ‎ 
‎2.‎ Dari norma-norma yang “siap pakai” menjadi studi kritis terhadap praktik-praktik normatif ‎‎(fakta-fakta moral keagamaan). Mengkaji fakta-fakta moral, kenapa norma moral tertentu ‎dianggap baik oleh kelompok masyarakat tertentu dan dianggap buruk bagi kelompok yang ‎lain?.‎ ‎
3.‎ Dari pengaruh-utamaan etika normatif (tanpa perlu data) ke menekankan etika deskriptif ‎‎(berdasarkan data). ‎ ‎
4.‎ Dari penanaman moral yang doktrinal ke internalisasi nilai-nilai moral yang dialogis. Mereka ‎diajak dialog dengan anak, kenapa hal tertentu dianggap baik atau buruk.‎ ‎
5.‎ Membedakan moral dengan fakta-fakta moral (historis). Moral di semua agama diajarkan, ‎tetapi fakta-fakta moral akan berbeda-beda.‎ 
‎6.‎ Menerjemahkan nilai-nilai moral yang normatif-universal ke praktik-praktik sosial-‎keagamaan yang partikular. Dalam ruang kerja yang partikular tersebut mesti punya etika ‎moral tersendiri.‎ 

Augus de Comte, membagi kemajuan peradaban pemikiran manusia: Teologis – Metafisik – ‎logis (puncaknya peradaban). Contoh pemikiran dengan mitologis: adanya petir karena palu TOR ‎digerakkan, kenapa tidak muncul hujan karena palunya dicuri.‎ 

Etika normatif dan etika deskriptif. Etika normatif selalu berkenaan dengan norma baik atau ‎buruk, sementara yang deskriptif terkait dengan fakta-fakta moral, tidak ada kliem moral. Sehingga ‎seorang peneliti kaya dengan data. Sebaliknya, etika normatif seorang peneliti minim dengan data.‎ Sebagai contoh: menemukan kliem moral secara deskriptif dengan menelusuri apakah norma ‎tersebut dikarenakan dari hirarki sosial, kondisi alam, dan yang lain.‎

Sumber:
Kuliah Filsafat bersama: Imam Iqbal, eSfima bacth 3 tanggal 19 Juni 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]