“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


LAKNAT ITU AKAN BERLAKU PADA YANG PANTAS
Oleh: Samsurizal, MA

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Setiap perbuatan akan dibalasi dengan adil dan sesuai kadar yang ditetapkan Allah terhadap masing-masing individu. Begitu juga sesuatu yang ditujukan kepada seseorang yang tak tepat sepenuh atau sebagiannya tidak menjadi hak manusia untuk mengklem sebagai alasan dibenarkan untuk melaknat sesama termasuk antara pemimpin dan rakyatnya.

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ ذَرٍّ عَنْ الْعَيْزَارِ بْنِ جَرْوَلٍ الْحَضْرَمِيِّ عَنْ رَجُلٍ مِنْهُمْ يُكْنَى أَبَا عُمَيْرٍ
أَنَّهُ كَانَ صَدِيقًا لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ زَارَهُ فِي أَهْلِهِ فَلَمْ يَجِدْهُ قَالَ فَاسْتَأْذَنَ عَلَى أَهْلِهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَسْقَى قَالَ فَبَعَثَتْ الْجَارِيَةَ تَجِيئُهُ بِشَرَابٍ مِنْ الْجِيرَانِ فَأَبْطَأَتْ فَلَعَنَتْهَا فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ فَجَاءَ أَبُو عُمَيْرٍ فَقَالَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَيْسَ مِثْلُكَ يُغَارُ عَلَيْهِ هَلَّا سَلَّمْتَ عَلَى أَهْلِ أَخِيكَ وَجَلَسْتَ وَأَصَبْتَ مِنْ الشَّرَابِ قَالَ قَدْ فَعَلْتُ فَأَرْسَلَتْ الْخَادِمَ فَأَبْطَأَتْ إِمَّا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ وَإِمَّا رَغِبُوا فِيمَا عِنْدَهُمْ فَأَبْطَأَتْ الْخَادِمُ فَلَعَنَتْهَا وَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّعْنَةَ إِلَى مَنْ وُجِّهَتْ إِلَيْهِ فَإِنْ أَصَابَتْ عَلَيْهِ سَبِيلًا أَوْ وَجَدَتْ فِيهِ مَسْلَكًا وَإِلَّا قَالَتْ يَا رَبِّ وُجِّهْتُ إِلَى فُلَانٍ فَلَمْ أَجِدْ عَلَيْهِ سَبِيلًا وَلَمْ أَجِدْ فِيهِ مَسْلَكًا فَيُقَالُ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ فَخَشِيتُ أَنْ تَكُونَ الْخَادِمُ مَعْذُورَةً فَتَرْجِعَ اللَّعْنَةُ فَأَكُونَ سَبَبَهَا. (رواه أحمد: ٣٦٨٢)

Telah menceritakan kepada kami Waki', telah mengabarkan kepada kami Umar bin Dzar dari Al 'Aizan bin Harwal Al Hadhrami dari seorang laki-laki dari mereka yang dikenal Abu Umair ia adalah teman Abdullah bin Mas'ud sesungguhnya Ibnu Mas'ud mengunjunginya di rumahnya namun tidak bertemu dengannya, Abu Umair berkata, lalu Abdullah minta minum kepada istrinya, kemudian istrinya mengutus seorang budak wanita membawa minuman dari tetangganya namun jalannya lambat lantas istrinya melaknatnya. Lalu Abdullah keluar dan tiba-tiba datang Abu Umair dan berkata, Wahai Abu Abdurrahmaan, seseorang seperti engkau tidak akan menimbulkan cemburu, tidakkah engkau mengucapkan salam kepada istri saudaramu lalu engkau duduk dan minum? Ibnu Mas'ud berkata, Aku sudah melakukannya, lalu istrimu mengutus seorang budak wanita namun dia sangat lambat mungkin karena tidak ada air atau sangat membutuhkannya lantas dia melaknat budak tersebut, dan aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, Sesungguhnya laknat itu akan tertuju kepada orang yang dilaknat, jika benar dia berhak dilaknat maka laknat itu akan menimpanya namun jika tidak laknat itu akan berkata, Wahai Rabbku, aku ditujukan kepada si fulan namun aku tidak mendapatkan jalan kepadanya (aku mendapatinya tidak berhak dilaknat), lantas dikatakan kepadanya: Kembalilah kepada orang yang dilaknat. Ibnu Mas'ud berkata, oleh karena itu aku pergi karena takut sibudak tidak bersalah lalu laknat itu kembali dan aku menjadi penyebabnya. (HR. Ahmad: 3682 - isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnyanya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H)

Catatan: Abu Numair adalah periwayat majhul.

Demikian juga hadits riwayat Ahmad: 3831 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnyanya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Periwayat yang menerima langsung dari 'Abdullah bin Mas'ud terputus.

Sementara itu, terdapat riwayat semakna dengan konteks yang sama yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud, beliau berkata:

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا أَبَانُ ح حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ الطَّائِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ قَالَ زَيْدٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَجُلًا لَعَنَ الرِّيحَ وَقَالَ مُسْلِمٌ إِنَّ رَجُلًا نَازَعَتْهُ الرِّيحُ رِدَاءَهُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَنَهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْعَنْهَا فَإِنَّهَا مَأْمُورَةٌ وَإِنَّهُ مَنْ لَعَنَ شَيْئًا لَيْسَ لَهُ بِأَهْلٍ رَجَعَتْ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ. (رواه أبوداود: ٤٢٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Aban. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam Ath Tha`i berkata, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Umar berkata, telah menceritakan kepada kami Aban bin Yazid Al 'Aththar berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Abul 'Aliyah. Zaid menyebutkan dari Ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki melaknat angin. Muslim menyebutkan, "Pada masa Nabi ﷺ ada seorang laki-laki yang selendangnya diterbangkan oleh angin, lalu ia melaknat langit tersebut. Maka Nabi ﷺ bersabda, "Jangan engkau melaknatnya, karena sesungguhnya ia diperintah. Sungguh, orang yang melaknat sesuatu padahal ia tidak pantas mendapatkan laknat, maka laknat tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri." (HR. Abu Daud: 4262 - shahih dari 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu Al 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H. Hadits 'aziz diakhir sanadnya)

Oleh karena itu Rasulullah menasehati sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ هَوْذَةَ الْقُرَيْعِيُّ أَنَّهُ قَالَ حَدَّثَنِي رَجُلٌ سَمِعَ جَرْمُوزًا الْهُجَيْمِيَّ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي قَالَ أُوصِيكَ أَنْ لَا تَكُونَ لَعَّانًا. (رواه أحمد: ١٩٧٥٧)

Telah menceritakan kepada kami Abdusshamad, telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Haudah Al Qurai'i dia berkata, telah menceritakan kepadaku seorang lelaki yang mendengar Jarmuzan Al Hujaimi bahwa dia berkata, "Aku berkata, "Wahai Rasulullah, berilah aku nasihat!" beliau menjawab, "Aku nasihatkan kepadamu supaya jangan menjadi orang yang suka melaknat." (HR. Ahmad: 19757 - isnadnya qawiy menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Jarmuz bin 'Aus bin 'Abdullah, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman, hadits ini termasuk mubham, karena terdapat periwayat yang tidak disebutkan namanya)

Demikian juga hadits semakna riwayat imam Ahmad,

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ وَأَبُو دَاوُدَ قَالَا حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلَاعَنُوا بِلَعْنَةِ اللَّهِ وَلَا بِغَضَبِهِ وَلَا بِالنَّارِ. (رواه أحمد: ١٩٣١٥)

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dan Abu Daud, keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah bin Jundub, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian saling melaknat dengan laknat Allah dan kemurkaan-Nya, dan jangan pula dengan Neraka." (HR. Ahmad: 19315 - hasan lighairihi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Samrah bin Jundab bin Hilal, ia shahabat kuniyahnya Abu Sa'id negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 58 H. Hadits 'aziz diakhir sanadnya)

Disisi lain terdapat konteks yang berbeda yaitu dalam menaati pemimpin. Imam Ahmad berkata,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ قَالَ حَدَّثَنِي زُرَيْقٌ مَوْلَى بَنِي فَزَارَةَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ قَرَظَةَ وَكَانَ ابْنَ عَمِّ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقولُ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ مَنْ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لَا مَا أَقَامُوا لَكُمْ الصَّلَاةَ أَلَا وَمَنْ وُلِّيَ عَلَيْهِ أَمِيرٌ وَالٍ فَرَآهُ يَأْتِي شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَلْيُنْكِرْ مَا يَأْتِي مِنْ مَعْصِيَةِ اللَّهِ وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ. (رواه أحمد: ٢٢٨٥٦)

Telah bercerita kepada kami 'Ali bin Ishaq berkata, telah memberitakan kepada kami 'Abdullah berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Abdur Rahman bin Yazid bin Jabir berkata, telah bercerita kepadaku Zuraiq, budak Bani Fazarah dari Muslim bin Qarazhah, keponakan 'Auf bin Malik berkata, Aku mendengar 'Auf bin Malik berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Pemimpin-pemimpin kalian yang terbaik adalah pemimpin yang kalian sukai dan mereka menyukai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian dan pemimpin-pemimpin kalian yang terburuk adalah mereka yang kau benci dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian." Kami bertanya: Bolehkan kami menentang mereka saat itu? Rasulullah ﷺ menjawab, "Tidak, selama mereka menegakkan salat. Ingatlah, siapa pun yang dipimpin oleh seorang pemimpin lalu ia melihatnya melakukan suatu kemaksiatan terhadap Allah, hendaklah ia memungkiri kemaksiatan yang dilakukannya dan jangan sekali-kali menarik tangan untuk tidak taat." (Jangan membelot, pent). (HR. Ahmad: 22856 - isnadnya jayyid menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Auf bin Malik bin Abi 'Auf, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 73 H)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَعَنَ الْكٰفِرِيْنَ وَاَعَدَّ لَهُمْ سَعِيْرًاۙ. (قرآن سورة الأحزاب/٣٣: ٦٤)

Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka  (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala). (QS. Al-Aḥzāb/33: 64)

Demikian juga Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ  كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ. (قرآن الأنغام/٦: ١٠٨)

Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An‘ām/6: 108)

Demikian Islam mengajarkan betapa mereka menjaga kehormatan dan kedudukannya dihadapan Allah. Sehingga setiap prilaku dan tindakan mereka memungkin untuk selalu husnuzhan kepada sesama manusia.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]