“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


PENTINGNYA SAHUR DAN SUNNAHNYA
Oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Penelusuran hadits dimaksud dengan lafazh: Rasulullah ﷺ bersabda, "Makan sahurlah kalian, karena makan di waktu sahur itu mengandung keberkahan." (HR. Al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, Ahmad, dan Ad Darimi. Hadits dimaksud diriwayatkan dari jalur sanad Anas bin Malik dan Abu Hurairah dengan redaksi dan konteks yang sama.

Disamping pentingnya sahur dan keberkahannya, juga terdapat tata cara pelaksanaannya yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, yaitu menyegerakan berbuka dan shalat Maghribnya dan mengakhirkan sahur. Sehingga pelaksanaan tersebut menjadikan suatu kesempatan untuk memperbanyak amal yang lain. Seperti memperbanyak membaca Al Qur'an, shalat sunat, dan zikir.

Pernyataan di atas dipahami berdasarkan nash (Al Qur'an dan Al Hadits) yang memberikan petunjuk terkait dengan sahur dan berbuka. Selanjutnya dipraktekkan oleh Rasulullah ﷺ dan para shahabatnya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ  ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٨٧)

Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.(QS. Al-Baqarah/2: 187)

PERBEDAAN PUASA ORANG MUSLIM DAN AHLUL KITAB

Imam Muslim meriwayatkan,

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيٍّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي قَيْسٍ مَوْلَى عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ جَمِيعًا عَنْ وَكِيعٍ ح و حَدَّثَنِيهِ أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ كِلَاهُمَا عَنْ مُوسَى بْنِ عُلَيٍّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ. (رواه مسلم: ١٨٣٦)

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Laits dari Musa bin Ulay dari bapaknya dari Abu Qais Maula Amru bin Ash, dari Amru bin Ash bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur." Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abu Syaibah semuanya dari Waki' -dalam jalur lain- Dan telah menceritakannya kepadaku Abu Thahir, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb keduanya dari Musa bin Ulayy dengan isnad ini. (HR. Muslim: 1836 - shahih dari 'Amru bin al-`Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H. Jalur sanad ke-4 adalah ahlul Maru, hadits masyhur dikalangan muhaddits)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 1996, at-Tirmidzi: 643, An-Nasa'i: 2137, Ahmad: 17095, 7103, 17133, dan Ad-Darimi: 1635 - shahih dari 'Amru bin al-`Ash bin Wa'il bin Hasyim, ia shahabat kuniyahnya Abu `Abdullah negeri hidup Maru dan wafat tahun 43 H.

Imam Muslim berkata,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ عَنْ ابْنِ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ وَعَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً. (رواه مسلم: ١٨٣٥)

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Husyaim dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb dari Ibnu Ulayyah dari Abdul Aziz dari Anas radhiallahu'anhu -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas radhiallahu'anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Makan sahurlah kalian, karena makan di waktu sahur itu mengandung keberkahan." (HR. Muslim: 1835 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits tersebut adalah hadits hasan)

Demikian juga hadits riwayat imam Al Bukhari: 1789 dan at Tirmidzi: 642 - shahih dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hanya saja imam an Nasa'i meriwayatkan dari jalur 'Abdullah bin Mas'ud bin Ghafil bin Habib, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 32 H. Namun "وَقَفَهُ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ" Ubaidullah bin Said memauqufkannya, kualitas hadits hasan menurut Al Albani. Hadits terkait dengan makan sahur ditemukan 21 buah dalam ensiklopedi hadits 9 imam v11.0.5.

Lebih lanjut hadits yang sama juga diriwayatkan oleh imam Ahmad, beliau berkata:

حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً. (رواه أحمد: ١٣٠٦٢)

Telah menceritakan kepada kami Suraij, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Qatadah dari Anas berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Makan sahurlah kalian karena sahur menadatangkan barakah". (HR. Ahmad: 13062 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 12768 (hadits ahlul Bashrah) - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H.

Sedangkan disisi lain imam Ahmad meriwayatkan dari jalur Abu Hurairah, beliau berkata:

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَطَاءٍ عَنِ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً. (رواه أحمد: ٩٧٩٥)

Telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Laila dari 'Atha` dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah kalian makan sahur, karena dalam sahur ada berkahnya." (HR. Ahmad: 9795 - shahih, namun isnadnya dha'if dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Catatan: pada sanad hadits riwayat Ahmad: 9795 terdapat periwayat lemah yaitu Muhammad bin 'Abdur Rahman bin Abi Lailaa, ia tabi'in kalangan biasa kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Kufah dan wafat tahun 148 H. Ulama hadits menilainya: Yahya bin Sa'id menilainya dha'if, Ahmad bin Hambal menilainya "buruk hafalannya". Sedangkan Syu'bah berkata, "paling buruk hafalannya". Abu Hatim berkomentar, "kejujuran ada padanya, namun buruk hafalannya". An Nasa'i menilainya laisa bi qawiy. Ibnu Hajar menilainya shaduq.

Kemudian hadits yang sama lafazhnya juga diriwayatkan oleh imam ad Darimi: 1634. Hadits dimaksud adalah:

أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً. (رواه الدارمي: ١٦٣٤)

Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin 'Amir dari Syu'bah dari Abdul Aziz bin Shuhaib dari Anas ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah kalian makan sahur, sesungguhnya dalam sahur terdapat berkah." (HR. Ad Darimi: 1634 - isnadnya shahih dan hadits mutafaq 'alaihi menurut Husain Salim Asad ad Darani dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad: 11512 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits 'aziz diakhir sanadnya.

Selanjutnya bagaimana Rasulullah ﷺ melaksanakan sahur? Hal tersebut dikhabarkan oleh istri beliau sendiri yaitu 'Aisyah. Sebagaimana Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ خَيْثَمَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ قُلْنَا لِعَائِشَةَ
إِنَّ فِينَا رَجُلَيْنِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُورَ وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ السُّحُورَ قَالَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ أَيُّهُمَا الَّذِي يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السُّحُورَ قَالَ فَقُلْتُ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ فَقَالَتْ كَذَا كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد: ٢٤٢٣٠)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman berkata, saya mendengar Khaitsamah menceritakan dari Abu Athiyyah, dia berkata, kami berkata kepada Aisyah, "Sesungguhnya di antara kami ada dua orang laki-laki dari sahabat Nabi ﷺ, salah satunya menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, sedangkan yang satunya mengakhirkan berbuka dan menyegerakan sahur." Dia berkata, Aisyah berkata, "Siapa di antara keduanya yang menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur?" Dia berkata, saya berkata, "Dia adalah Abdullah." Aisyah berkata, "Seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ." (HR. Ahmad: 24230 - shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Demikian diriwayat oleh imam an Nasa'i: 2129, 2130, 2131, dan 2132, at Tirmidzi: 637 - shahih dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H. Sementara itu imam Ahmad meriwayatkan dalam redaksi yang panjang sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ
دَخَلْتُ أَنَا وَمَسْرُوقٌ عَلَى عَائِشَةَ فَقُلْنَا لَهَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ قَالَ فَقَالَتْ أَيُّهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ قَالَ قُلْنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ قَالَتْ كَذَاكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ أَبُو مُوسَى.

حَدَّثَنَا ابْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ خَيْثَمَةَ وَقَالَ يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ السَّحُورَ.

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي عَطِيَّةَ قَالَ قُلْنَا لِعَائِشَةَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْمَغْرِبَ وَيُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ وَيُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ فَذَكَرَهُ. (رواه أحمد: ٢٣٠٨١)

Telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy dari Umarah dari Abi Athiyah berkata, Saya dan Masruq pernah menemui Aisyah, lalu kami berkata, "Wahai Ummul Mukminin, ada dua orang sahabat Nabi ﷺ, salah satu dari mereka berdua menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat, sedangkan yang satu lagi mengakhirkan berbuka dan mengakhirkan salat." (Athiyyah) Berkata, Maka Aisyah bertanya, "Siapa dari mereka berdua yang menyegerakan berbuka dan menyegerakan salat?" Kami berkata, "Abdullah bin Mas`ud." Aisyah berkata, "Memang seperti itulah yang diperbuat oleh Nabi ﷺ." Sedang lelaki yang lainnya adalah Abu Musa Al-Asy`ari.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Sulaiman berkata, Saya telah mendengar Khaitsamah dan dia berkata, "(Abu Musa) menyegarakan berbuka dan mengakhirkan sahur."

Telah menceritakan kepada kami Mu'ammal, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al-A`masy dari Umarah dari Abu Athiyyah berkata, Kami berkata kepada Aisyah, "Ada dua orang lelaki dari sahabat Muhammad ﷺ, salah satu dari mereka berdua menyegerakan (salat) Magrib dan menyegerakan berbuka dan yang lain mengakhirkan (salat) Magrib dan mengakhirkan berbuka." Lalu ia menyebutkan (seperti cerita di atas)." (HR. Ahmad: 23081 - isnadnya mukhtalaf fiih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Aisyah binti Abi Bakar ash Shiddiq, ia shahabiyah kuniyahnya Ummu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 58 H)

Dengan redaksi berbeda diriwayat oleh imam Ahmad, bahwa:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ غَيْلَانَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ الْحِمْصِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ أَنْتَ يَا بِلَالُ تُؤَذِّنُ إِذَا كَانَ الصُّبْحُ سَاطِعًا فِي السَّمَاءِ فَلَيْسَ ذَلِكَ بِالصُّبْحِ إِنَّمَا الصُّبْحُ هَكَذَا مُعْتَرِضًا ثُمَّ دَعَا بِسَحُورِهِ فَتَسَحَّرَ وَكَانَ يَقُولُ لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا أَخَّرُوا السَّحُورَ وَعَجَّلُوا الْفِطْرَ. (رواه أحمد: ٢٠٥٣٠)

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Daud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai'ah dari Salim bin Ghailan dari Sulaiman bin Abu Utsman dari Adi bin Hatim Al Himshi dari Abu Dzar bahwa Nabi ﷺ bersabda pada Bilal, "Wahai Bilal, kalau Subuh telah beranjak ke langit maka itu bukanlah Subuh, Subuh itu nampak seperti ini, " lalu beliau menyuruh untuk sahur dan beliau pun sahur seraya bersabda, "Umatku akan selalu dalam kebaikan selama mengakhirkan sahur dan mempercepat berbuka." (HR. Ahmad: 20530 - isnadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Jundub bin Junadah, ia shahabat kuniyahnya Abu Dzar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)

Dalam sanad hadits riwayat imam Ahmad: 20539 terdapat periwayat bernama Sulaiman bin 'Utsman, ia tabi'in kalangan biasa, ia dinilai majhul. Dan periwayat lain yang dinilai buruk (jarah) oleh sebagian ulama kritikus hadits seperti Salim bin Ghailan dinilai ad Daruquthni matruk, 'Abdullah bin Lahi'ah dinilai oleh Muhammad bin Sa'id dan adz Dzahabi dha'if. Walaupun masih ada sebagiannya menilai baik (ta'dil).

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]