“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


Mencapai Makna dalam Ilmu
Oleh: Samsurizal, MA


Bismillaahir rahmaanir rahiem,

Assalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Dari sinilah (dunia) aku mendapatkan ilmu lebih daripada yang telah ku gali dari berbagai sumber. Alhamdulillah, kebenaran dari pengalaman hidup tak ada orang-orang besar tanpa melewati ujian-ujian tersulit dalam hidupnya. Berbagai hal dapat diambil dan diamalkan dalam ruang dan waktu berbeda Allah timpakan agar tetap dalam kebenaran. Disinilah kusadari dalam berbagai kesulitan lahir banyak karya. Pengorbanan yang mungkin sebagian orang menganggap suatu kehinaan, padahal bukan begitu. Tetapi Allah sekali lagi memperlihatkan kekuasaan-Nya bahwa, "Kamu harus lewati ini dan ini". Kenapa tidak menjadi keniscayaan, apa salahnya orang hidupnya serba berkecukupan bahagia, ternyata bukan itu menjadi tujuan Allah ciptakan manusia. Akan tetapi agar kita diuji dan menjadikan pelajaran bermakna satu, yaitu ilaihi raaji'uun. Baik atau pun buruk, semunya saling berintegrasi. Tak ada satu pun Allah ciptakan sia-sia, Rabbana aatina fid Dunya Hasanah wa fil aakhirati hasanah, waqinaa 'adzaaban naar.

Memang benar, bertemu ilmuan sesama ilmuan tak banyak yang dibicarakan hanya diam dengan menyadari diri. Sehingga diluar diri lebur dalam keheningan. Sepi tanpa suara apalagi hiruk pikuk protes dan tepuk tangan.

Apa yang dijelaskan sungguh menggetarkan hati, "bisa begitu?". Subhaanallaah, Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathila fa qinaa 'adzaaban naar.

Manusia adalah makhluk yang dimuliakan, juga mukallaf, mukhayyar, dan majziy. Keistimewaannya adalah tujuan akhir penciptaan yang makrokosmos dan mikrokosmos, ia juga cerminan Tuhan. Selanjutnya ia mesti menjalankan fungsinya secara baik dan benar. Jika sebaliknya maka akan terjadi ketimpangan. Oleh karena itu, semua yang terjadi sebagai sunnatullah harusnya dijalani dengan baik, bukan keluar apalagi ingin membuangnya. 

Selanjutnya, perlu diingat bahwa menerima dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab adalah suatu keniscayaan. Hal ini bukan bearti mandek, tetapi senantiasa bergerak pada satu titik kesempurnaan yaitu apabila sudah berakhir kehidupannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۙ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ وَلِاُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ. (قرآن سورة البقرة/٢: ١٥٠)

Dari mana pun engkau (Nabi Muhammad) keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku agar Aku sempurnakan nikmat-Ku kepadamu dan agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah/2: 150)

Menjalankan hidup dengan segala fungsi dan kepentingannya yang positif akan mengundang kesempurnaan nikmat dari Allah. Sebaliknya, apabila hal tersebut bertentangan maka justru akan terjadi penghinaan atau kecacatan hidup dan kehidupan pada diri dan makhluk Allah yang lain.

Gambaran yang lain, diingatkan dalam hadits berikut, yaitu dalam doa Rasulullah ﷺ. Sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim beliau berkata:

حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ حَدَّثَنِي ابْنُ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ. (رواه مسلم: ٤٨٩٤)

Telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin Asy Sya'ir telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin 'Amr Abu Ma'mar telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Al Husain telah menceritakan kepadaku Ibnu Buraidah dari Yahya bin Ya'mar dari Ibnu 'Abbas bahwasanya Rasulullah ﷺ pernah berdoa, "ALLAHUMMA LAKA ASLAMTU WABIKA AAMANTU, WA'ALAIKA TAWAKKALTU WAILAIKA ANABTU WABIKA KHASHAMTU, INNII A'UUDZU BI'IZZATIKA LAA-ILAAHA-ILLAA ANTA ANTUDHILLANII, ANTAL HAYYUL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUNNA "Ya Allah, sesungguhnya hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakal, hanya kepada-Mu lah aku kembali, dan hanya karena-Mu lah aku memusuhi musuh-musuh-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada keagungan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau- dari Engkau menyesatkanku. Engkaulah yang hidup dan tidak akan pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati." (HR. Muslim: 4894 - shahih dari 'Abdullah bin Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyah Abu 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H)

Demikian juga hadits riwayat imam Ahmad: 2612 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin Abbas bin 'Abdul Muthallib bin Hasyim, ia shahabat kuniyah Abu 'Abbas negeri hidup Marur Rawdz dan wafat tahun 68 H.

Wallaahu a'lam bish shawaab.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

2 komentar:

  1. Alhamdulillah. Kagum. Semua ilmu dlm alquran dan hadits mempekuat keimanan manusia kepada Allah swt sang penguasa langit dan bumi. Krn bg Allah nanti tdk ada lg kata menyesal minta kmbali minta hidup untuk akan taat dan patuh . krn sdh jelas dan tegas Allah jelaskan dlm alquran. Semoga semua termasuk golongan kanan nanti di akhirat sprt disebut dlm s.al waqi ah. Amin👐

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amien ya Allah, semoga apa yang saya tulis berkah dan selalu dalam ridha dan hidayah Allah. Syukran, Jazakallaahul Khair.

      Hapus

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]