LIMA KAIDAH RITUALITAS BUMINTARA
1. PELEBURAN DIRI, ALAM DAN TAK TERUNGKAP
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ. (قرآن سورة البقرة/٢: ٣٠)
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah* di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah/2: 30)
Dalam Al-Qur'an, kata khaliifah memiliki makna 'pengganti', 'pemimpin', 'penguasa' atau 'pengelola alam semesta'.
Mereka merindukan informasi langsung dari yang tak terlihat.
2. MENILAI REALITAS DENGAN RASA
اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَآ اِلَّا بِالْحَقِّ وَاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاۤئِ رَبِّهِمْ لَكٰفِرُوْنَ. (قرآن سورة الروم/٣٠: ٨)
Apakah mereka tidak berpikir tentang (kejadian) dirinya? Allah tidak menciptakan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, kecuali dengan benar dan waktu yang ditentukan. Sesungguhnya banyak di antara manusia benar-benar mengingkari pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar-Rūm/30: 8)
Mencari jalan untuk mengundang kebenaran dengan rasa instuisi dan empiris.
3. BERTAHAN HIDUP DENGAN POTENSI ADAPTASI
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٧٩)
Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (QS. Al-A‘rāf/7: 179)
Mereka berusaha menggunakan hati untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang tak terlihat, pancaindra untuk melihat kebesaran dan mendengarkan pesan ayat-ayat kauniyah.
4. MENGUTAMAKAN RITUS DARIPADA DOKTRIN
۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ. (قرآن سورة الأنغام/٦: ٥٩)
Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (QS. Al-An‘ām/6: :59)
Membuka pengetahuan kegaiban dengan ritus, bukan dengan doktrin. Karena RITUS tertentu akan meluluhkan sang Penguasaalam.
5. KEBENARAN MELALUI LISAN UNTUK MENGUNGKAP YANG SAKRAL
قُلْ مَنْ يُّنَجِّيْكُمْ مِّنْ ظُلُمٰتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ تَدْعُوْنَهٗ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۚ لَىِٕنْ اَنْجٰىنَا مِنْ هٰذِهٖ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ. (قرآن سورة الأنغام/٦: ٦٣)
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari berbagai kegelapan (bencana) di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut (dengan berkata), ‘Sungguh, jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur.’” (QS. Al-An‘ām/6: :63)
قُلِ اللّٰهُ يُنَجِّيْكُمْ مِّنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ ثُمَّ اَنْتُمْ تُشْرِكُوْنَ. (قرآن سورة الأنغام/٦: ٦٤)
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Allah yang menyelamatkanmu darinya (bencana itu) dan dari segala macam kesusahan. Kemudian, kamu (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al-An‘ām/6: 64)
Seorang juru pencerah harus hadir disaat manusia terlupa dan terlelap dari kebenaran.
LIMA KAIDAH RITUALITAS BUMINTARA
Munculnya lima kaidah ritualitas Bumintara disebab karena mereka merindukan informasi langsung dari yang tak terlihat. Mencari jalan untuk mengundang kebenaran dengan rasa (instuisi). Mereka berusaha menggunakan hati untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang tak terlihat, pancaindra untuk melihat kebesaran dan mendengarkan pesan ayat-ayat kauniyah. Membuka pengetahuan kegaiban dengan ritus, bukan dengan doktrin. Karena RITUS tertentu akan meluluhkan sang Penguasaalam. Seorang juru pencerah harus hadir disaat manusia terlupa dan terlelap dari kebenaran. Melihat kaidah tersebut menggambarkan kehendak yang didambakan, penyatuan dengan Alam dan Tuhan.
Oleh: SAMSURIZAL, MA



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏