AKAL DAN AGAMA
Oleh: Samsurizal, MA
Minggu, tanggal 7 November 2021
I. Pendahuluan
Sedikitnya ada tiga manfaat filsafat. Pertama, filsafat bisa membekali kita untuk memajukan sikap kritis. Kedua, filsafat bisa mendorong kaum Muslim agar benar-benar memahami kompleksitas persoalan dalam upayanya membangun sistem-sistem kehidupan Islami. Ketiga, hanya dengan penguasaan akan isu-isu filosofis mendasar seperti ini kaum Muslim ... dapat berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi kepentingan semua orang. Ciri yang membedakan filsafat Islam dari pendekatan tradisional (ta‘abbudî) dan teologis adalah pada metode yang digunakannya. Kalau dalam yang disebut belakangan metode yang digunakannya bersifat dialektik (jadalî), maka dalam filsafat Islam—meski sama-sama rasional logis—metode yang diterapkan adalah demonstrasional (burhânî).
Selanjunya sedikitnya lima aliran dalam filsafat Islam: Pertama, Teologi Dialektik (‘Ilm Al-Kalâm); kedua, Peripatetisme (Masysyâ’iyyah); ketiga, Iluminisme (Isyrâqiyyah); keempat, Sufisme/Teosofi (Tashaw wuf atau ‘Irfân), khususnya yang dikembangkan oleh Ibn ‘Arabî; kelima, Filsafat Hikmah (Al-Hikmah Al-Muta‘âliyah). Demikian juga dalam hal agama sebagai wujud Ilahiyah yang bergerak bersamaan dengan akal manusia. Selanjutnya menjelma sebagai wujud yang suci, sehingga menghendaki pemberian dan penerimaan yang niscaya.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas perlu dijelaskan bagaimana memahami akan dan agama sekaligus sebagai dua sisi dan karakter yang berbeda menjadi satu wujud yang satu yang dapat membawa kedamaian dan kebahagian bagi individu dan masyarakat bahkan seluruh alam. Berikut penulis uraikan berdasarkan informasi dan pemahaman penulis.
II. Pembahasan
Harun Nasution menguraikan akal yang sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-`aqal (العقل), yang dalam bentuk kata benda, berlainan dengan kata al-wahy (الوحى), tidak terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an hanya membawa bentuk kata kerjanya `aqaluh (عقلوه), dalam 1 ayat, ta`lim (تعقلون) 24 ayat, na`qil (نعقل) 1 ayat, ya`qiluha (يعقلها) 1 ayat dan ya`qilun (يعقلون) 22 ayat. Kata-kata itu datang dalam arti paham dan mengerti. Dalam kitab Lisan al-`Arab sebagaimana dikutib Harun Nasution, arti dari kata al-`aqal bearti al-hijr (الحجر) menahan dan al-`aqil (العاقل) iyalah orang yang menahan (يحبس) diri dan mengekang hawa nafsu. Seterusnya diterangkan pula bahwa al-`aql mengandung arti kebijaksanaan al-nuha (النحى), lawan dari lemah pikiran (الحمق). Selanjutnya disebut bahwa al-`aql juga mengandung arti kalbu (al-qalbu - القلب). Lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa kata `aqala mengandung arti memahami.
Akal, sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dengan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan. Sehingga kebutuhan terhadap akal sangat penting dipadukan dengan wahyu.
Ia menyimpulkan bahwa kata `aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berpikir. Tetapi timbul pertanyaan apakah penertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui akal yang berpusat di kepada? Dalam al-Qur’an, dijelaskan pada ayat 46 dari surat al-Hajj/22 bahwa pengertian, pemahaman, dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat di dada. Demikian juga pada ayat 179 dari surat al-A`raf/7, “Sesungguhnya Kami neraka banyak jin dan manusia; mereka mempunyai kalbu yang dengannya mereka tidak dapat memahami,..” yang menjadi sentral kata dalam ayat ini adalah qulub " قلوب".
Akal sejak awal sejarah filsafat Islam selalu terkait dengan Nous. Dan Nous pasti bukan sekadar rasio. Bahkan Tuhan, dalam Neoplatonisme identik dengan Nous. Bahkan dalam alirannya yang lebih peripatetik, tak pernah dipahami sebagai semata-mata rasio (ratio atau reason) yang bersifat cerebral (terkait dengan otak) belaka. ... menerjemahkannya dengan intelek (intellect) jauh lebih tepat. Tercakup di dalam konsep intelek ini, bahkan lebih utama dari rasio, adalah apa yang disebut dengan intuisi atau “ilham”(pencerahan, iluminasi, atau isyrâq), atau terkadang disebut sebagai “kesadaran poetik”. Oleh karena itu menurut penulis membangun keseriusan, emosional dan energik adalah suatu keharusan bagi manusia yang berakal. Sehingga akal dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Karena sebagaimana dasar dari anggapan bahwa akal mempunyai kedudukan yang tinggi, bahkan dapat diposisikan bergandengan dengan agama.
Perdebatan tentang akal dikalangan para ahli dan filsuf klasik maupun modernis, mereka mempertanyakan hakekat akal. Akal dalam bahasa Arab diartikan kecerdasan lawan kebodohan, dan diartikan pula dengan hati (qalb): suatu kekuatan yang membedakan manusia dari semua jenis hewan. Selain itu, penamaan akal sebagai kekuatan yang tersembunyi sebagaimana anggapan sebagian ahli ditolak oleh Abu Bakar Ibnu `Arabi dengan mengemukakan argumen Al-Qur’an ayat 52 dari surat al-Namal/27, tentang tanda kekuasaan Allah bagi orang yang mengetahui bahwa makar yang terbaik itu adalah dari Allah bukan dari mansuia. Begitu juga al-Qur’an ayat 4 surat al-Ra`d/13 tentang keberadaan ciptaan Allah sebagai tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir. Selanjutnya, pembahasan tentang akal ini terus berlanjut dibicarakan yang ujungnya menyerah pada tatanannya masing-masing menurut kemampuan menalar hakekatnya.
Berbicara tetang agama dari sudut pandang mana saja dipahami sebagai tolak ukur kebenaran absolut satu-satunya dari Tuhan. Hal ini memberikan pengetahuan yang banyak terhadap kontrol untuk akal agar terarah dari kebebasannya. Sehingga agama didefinisikan seperti dari sudut pandang sosial; Emile Durkheim mendefinisikan:
“Suatu sistem kepercayaan dan praktek tindakan yang terpadu yang berhubungan dengan hal-hal yang suci. Kepercayaan dan praktek-praktek menyatu dalam komunitas moral sebagai dikenal sebagai gereja (jemaah, umat)”. Lebih lanju, ia mengatakan “agama adalah sumber kehidupan sosial, agama adalah kekuatan kolektif masyarakat atas individu, agama itu sebagian besar bukan masalah pilihan individu tetapi sesuatu yang ditanamkan kedalam diri masyarakat, dalam kenyataannya tidak ada agama yang salah, semuanya benar dengan caranya sendiri.
Kemudian dilihat dari sisi Psikologi, William James berpendapat bahwa agama adalah, “Segala perasaan, tindakan dan pengalaman individual manusia dalam kesendirian mereka, sepanjang mereka memahami bahwa mereka berada dalam hubungan dengan apa pun yang mereka anggap sebagai yang-Ilahi”.
Pernyataan dua ahli yang berbeda di atas bahwa, Emile Durkheim beranggapan bahwa agama itu lebih penting fakta sosialnya. Sedangkan William James lebih menarik dilihat aspek individual, rasa atau pengalaman individu dalam beragama. Oleh karena itu, dalam pengalaman individu dalam beragama mesti memiliki tiga aspek, yaitu passionate (penuh penghayatan), emotional, dan energetic (sangat bergairah/semangat).
Selanjutnya dasar keterkaitan akal dan agama dijelaskan dalam firman Allah:
وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ. (سورة النحل/16: 5). وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ. (سورة النحل/16: 18). بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِوَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ. (سورة النحل/16: 44)
Masing-masing arti ayat di atas adalah: “Dan dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.” (QS. Al-Nahl/16: 5). “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Nahl/16: 18). “Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab, dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. Al-Nahl/16: 44)
Maksud dari kalimat “apa yang telah diturunkan kepada mereka” adalah perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran. Semuanya ini hanya dapat diemban dan cerna oleh akal atau orang-orang yang mempergunakan pikiran. Sehingga dalam mengaplikasikannya menjadi cermat dan tepat sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Allah.
Pengungkapan terhadap akal dalam al-Qur’an dan terhadap penggunaan pikiran tersebut terdapat berbagai penyebutan. Dengan kata lain perbuatan berpikir dalam al-Qur’an bukan hanya digambarkan dengan kata ` aqala (45 ayat), tetapi juga nadzara (30 ayat), tadzakkara (40 ayat), tafakkara (16 ayat), tadabbara (2 ayat) dan fahima atau faqih (9 ayat). Ayat-ayat tersebut berbicara tentang betapa istimewanya akal yang sehat Allah anugerahkan kepada manusia agar mereka mau menggunakannya untuk mengetahui kebesaran Allah. Baik merenungkan ciptaan-Nya, baik dan buruk, antara kekufuran dan iman, tipu daya dan kejujuran, al-haqq dengan yang bathil, halal-haram dan lain sebagainya. Hal tersebut bertujuan untuk persiapan kembali kepada-Nya dengan jiwa yang tenang dan bahagia (lihat QS. Al-Fajr/89 ayat 27-30).
Demikian juga dalam hadits,
"قوام المرء عقله و لا دين لمن لا عقل له".
“Kekuatan seseorang adalah kecerdasannya, dan tidak ada agama bagi yang tidak memiliki akal”. Menurut al-Albaniy hadits ini palsu, demikian juga dalam kitab al-Silsilah al-Dha`ifah-nya . Sementara itu Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Raudhah al-Muhadditsin, ia menjelaskan hadits ini disandar kepada sahabat Jabir, bahwanya Nabi SAW bersabda, “riwayat itu ...”. Sedangkan dalam kitab al-Maudhu` fi Ma`rifatil Hadits al-Maudhu`, bahwa imam al-Nasa’iy menilai hadits ini bathil munkar. Dengan kualitas seperti yang dijelaskan di atas dapat dipahami bahwa hadits ini merupakan ungkapan para ahli kalam, berkemungkinan merupakan hasil ijtihad dari pemahaman ayat-ayat al-Qurán yang berbicara tentang keistimewaan akal. Karena keterkaitan antara kecerdasan, agama dan akal merupakan sumber keistimewaan manusia dibanding makhluk lain yang diciptakan Allah. Dilain sisi mereka juga mengungkapkan hadits Qudsi terkait keistimewaan akal diciptakan oleh Allah. Hadits dimaksud adalah,
(أول ما خلق الله العقل فقال له أقبل فأقبل ثم قال وعزتي وجلالي ما خلقت أشرف منك فبك آخذ وبك أعطي وبك أثيب وبك أُعاقِبُ) قال الصغاني موضوع باتفاق ، وتقدم بأبسط في " إن الله لما خلق العقل ". (كشف الخفاء/1: 263)
(Hal pertama yang Tuhan ciptakan adalah pikiran, dan dia berkata kepadanya, “Silakan.” Kemudian dia berkata, “Demi kehormatan dan keagungan-Ku, apa yang aku ciptakan lebih mulia darimu, karena denganmu aku ambil, olehmu aku memberi, dan dengan Anda saya dihargai.”) Al-Saghani mengatakan itu ditetapkan dengan kesepakatan, dan maju dalam istilah yang lebih sederhana: “Sungguh, Tuhan menciptakan pikiran.” (Kasf al-Khafa’(Mengungkap Gaib)/1: 263)
Imam Al-Tabraniy memasukkannya dalam al-Awsath dari hadits Abu Umamah dan Abu Naim dari hadits `Aisyah dengan dua rantai sanad yang lemah. (Takhrij Ahadits Ihya’ Juz I, halaman 191). Lebih lanjut hadits semakna juga dikutib oleh Harun Nasution,
اَلدِّيْنُ عَقْلٌ لاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ.
“Agama adalah penggunaan akal, tiada agama bagi orang yang tak berakal”
Dan hadits qudsi yang artinya, “Demi kekuasaan dan keagungan-Ku tidaklah Kuciptakan makhluk lebih mulia dari engkau. Karena engkaulah Aku menurunkan pahala dan menjatuhkan hukuman”. Ia memahami bahwa akallah makhluk Tuhan yang tertinggi dan akallah yang memperbedakan manusia dari binatang dan makhluk Tuhan yang lainnya.
Akal membuat manusia bertanggungjawab atas perbuatannya. Tangggung jawab seseorang dalam agama tergantung akalnya, anak yang belum baligh atau orang gila tidak bertanggungjawab atas perbuatannya. Agama sering diartikan dengan sebuah sistem kepercayaan. Pernyataan ini terlepas dari apakah sistem kepercayaan itu benar atau salah. Sehingga agama terbagi kepada dua jenis yaitu agama samawi dan agama ardhi. Agama samawi adalah agama yang berdasarkan wahyu dan agama ardhi adalah agama yang merupakan hasil daya cipta akal manusia yang rindu akan adanya Tuhan.
Terlepas dari kedua hadits di atas dalam sejarah terbukti bahwa Nabi Muhammad adalah sosok pemikir. Hal ini terlihat pada sikap dan praktek hidup beliau. Beliau sejak masa kanak-kananya terkenal sangat cerdas, banyak bertanya tentang segala hal. Ia memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Kisah Nabi Muhammad menurut Musa Asy`arie, “Merupakan penjelmaan dari tugas filosof yang sebenarnya, paling tidak sebelum ia diangkat menjadi Rasulullah. Seorang filosof sejati bukan hanya mereka yang berpikir tentang sesuatu yang besar, tetapi yang melibatkan diri dalam perubahan masyarakatnya.
Poedjawijatna memberikan sedikit stressing bahwa agama adalah keseluruhan pendapat tentang Tuhan, dunia, hidup dan mati, tingkah laku serta baik buruknya yang berlandaskan wahyu. 21 Dengan demikian pemahaman tersebut berkumpul pada manusia. Karena padanyalah akal dianugerahkan. Sehingga peran para nabi dan rasul sebagai utusan Allah menjadi sangat penting untuk membantu memberikan informasi Ilahiyah. Salah satu firman Allah yang dapat menjadi landasannya adalah:
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ. (قرآن سورة التوبة/9: 33)
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. Al-Taubah/9: 33)
Ayat ini diulang dalam QS. Al-Shaff ayat 9, ayat semakna terdapat dalam QS. Al-Fath/48 ayat 28 sebagai berikut:
هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ، وَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا. (قرآن سورة الفتح/48: 28)
“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al-Fatḥ/48: 28)
Demikian penjelasan Allah menjelaskan kepada manusia agar orang-orang yang mempunyai akal sehat senantiasa menggerakkan keunggulannya (akal) untuk mempertahankan keyakinannya terhadap agama.
III. Penutup
Akal dan Wahyu (Agama) adalah dua sisi mata uang yang menjaga nilai kemanusian. Hal yang sama dengan melestarikan dua realitas penting dalam kehidupan. Membuka diri pada realitas ini, bertujuan memupuk toleransi dan wawasan. Karena jika ini tertutup sama artinya memperbanyak simpanan pikiran negatif.
REFERENSI
Abdul al Salim Mukrim, Pemikiran Islam antara Akal dan Wahyu, (Jakarta: Mediyatama Sarana, 1987), Ed. 1, Cet. 1
Abu Bakar Ahmad bin al Husain al-Baihaqiy, Syi`b al-Iman, tahqiq: Muhammad al-Sa`id Basyuniy Zughlul, (Bairut: Dar al-Kutub al-`Ilmiyah, 1410 H), Juz IV
Al-`Ajluniy, Isma`il bin Muhammad al-Jarahiy, Kasyf al-Khafa’ wa Mazilul al-Albas `Amma Isytahru min al-Ahadits `ala al-Sunat al-Nas, (tp: Dar al-Turats al-`Arabiy, tth), Juz I
Al-Qariy, `Aliy bin Sulthan al-Haruy, al-Maudhu` fi Ma`rifatil Hadits al-Maudhu`, ditahqiq oleh: `Abdul Fatah Abu Ghuddah, (tt: Maktub al-Mathbu`at al-Islamiyah, tth), Juz I
Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat 326; Emile Durkheim-Agama, (MJS Channel, 3 November 2021), https://www.youtube.com/playlist?list ..
Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat 327; William James - Agama, (MJS Channel, 10 November 2021), https://www.youtube.com/playlist?list
Fatimah, Kuliah Filsafat: Akal dan Agama, (Yogyakarta, 7 Novemver 2021)
Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2006), Cet. II
Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 1986), Ed. 1, Cet. 2
Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta: Universitas (UI-Press), 2002), Ed. 2, Cet. I
Ibnu Hajar, Raudhah al-Muhadditsin, Juz XII
Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, Shahih wa Dha`if al-Jami` al-Shaghir, (Ttp: tp, tth), Juz XVII
Muhammad Nashiruddin al-Albaniy, al-Silsilah al-Dha`ifah, Juz I
Poedjawijatna. Tahu dan Pengetahuan Pengantar Keilmuan dan Filsafat, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏