“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

REALITAS OTENTIK AGAMA 
Oleh: Samsurizal, MA 
Mingu, Tanggal 31 Oktober 2021‎ 

I.‎ Pendahuluan 

Relitas otentik Agama, merupakan pola berpikir keimanan (tauhid), sementara filsafat ‎memperkuat keimanan dengan menggali makna berpikir keagamaan seluas-luasnya. Kemudian ‎dapat juga ditempuh pola sekuler, artinya menolerir pemikiran tentang agama sebagai jalur ‎keimanan dan filsafat jalur akal. Disisi lain dapat dilihat dari berbagai perspektif seperti sosial, ‎budaya, psikologi dan lain sebagainya. Sehingga realitas otentik agama berdiri sebagaimana ‎mestinya salah satunya kritik terhadap realitas artifisial. Apabila sudah merusak subtansi hidup ‎maka mesti dikembalikan keasalnya. Sehingga kesadaran refleksional, imitasi dan experion individu ‎terlayani. Pada akhirnya prilaku kebertuhanan seseorang terkontrol. Inilah makna yang dipahami ‎dari dua realitas yang berbeda dengan perannya sendiri-sendiri. Hal tersebut dapat diselesaikan ‎dengan mempelajari aspek-aspek filosofisnya secara bersamaan.‎ 

Berdasarkan asumsi di atas perlu diuraikan agar memberikan makna filosofis. Sehingga dapat ‎dicerna dan dikembangkan bagaimana menyerap pelajaran dari realitas otentik agama dimaksud.‎ 

II.‎ Pembahasan 

A.‎ Realitas otentik sebagai kritik terhadap realitas buatan 

Realitas otentik meliputi lima aspek yaitu alam semesta, harmoni keseimbangan, ‎kekuasaan, kematian dan kebenaran. Sementara realitas buatan sebagai efek yang muncul dari ‎aspek otentik, yaitu kebudayaan, konflik penghancuran, birokrasi kekuasaan, pembunuhan ‎dan pembenaran.‎ 

B.‎ Hirarki realitas otentik 

Hirarki realitas otentik secara bertingkat dimulai dari teos, kosmos, antropos dan ‎kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan ada antropos, ada kosmos dan ada teos. Subtansi ‎paling dasar adalah teos, karena cosmos dan antropos ada karena adanya teos (Tuhan). Tetapi, ‎kebudayaan dapat bergerak menghancurkan antropos dan kosmos dan akhirnya menjadi anti-‎teos. Hal ini dapat diambil pelajaran terhadap produksi hasil karya manusia modern, seperti ‎Hand Pone (HP). HP ini di dalamnya terdapat cosmos berupa bahan-bahan logam sekaligus ‎antropos berupa elemen-elemen lainnya dan juga merupakan hasil kebiudayaan yang ‎bersumber dari Teos (Tuhan). Semuanya saling terkait, yang pada akhirnya keberadaan ‎semuanya itu atas adanya Tuhan.

C.‎ Realitas otentik agama Realitas otentik agama adalah asli dan tunggal seperti kitab suci, firman dan kedamaian. ‎Sedangkan realitas buatan adalah dibuat dan bersifat plural, seperti penafsiran, pengajaran dan ‎kekerasan. Kedua realitas ini sering terjadi tarik-menarik, yang mesti dimenangkan adalah ‎realitas otentik. 

Apabila telah mendatangkan mudharat pada prikehidupan dan ‎prikemakhlukan, maka mesti dikembalikan kepada kenaran realitas otentik.‎ ‎

D.‎ Kitab suci otentik, penafsiran artifisial 

Kitab suci adalah realitas otentik, namun dari inilah muncul aliran pemikiran ideologi, ‎mazhab atau golongan, dan perubahan atau keanekaragaman. Seseorang berhak menolak hasil ‎dari pemahaman terhadap kitab suci, namun tidak boleh memutlakkan hasil pemahaman atau ‎penafsiran terhadap kitab suci tersebut. Hal ini bukan bearti menolak kitab suci. Nah, untuk ‎menguraikan hal dimaksud perlu pemahaman yang mumpuni.‎ 

E.‎ Kemutlakan agama dan kenisbian penafsiran 

Al-Qurán sebagai realitas otentik melahirkan berbagai penafsiran seperti yang dilakukan ‎oleh Ibu Katsir, Hamka, Quraish Shihab dan lain-lain. Bagi seorang Muslim tidak boleh menolak ‎al-Qur’an, tetapi boleh menolak atau berbeda pendapat terhadap penafsiran, begitu juga ‎terhadap penerjemahan al-Qur’an. Karena hal tersebut hasil interpretasi manusia, mungkin ‎keliru dan berkemungkinan juga benar.‎ 

F.‎ Islam dan Muslim 

Islam pada dasarnya adalah satu, namun dari Islam sebagai agama menjadikan pengikut ‎yang dikenal dengan Muslim dan ORMAS. Kemudian muncul kebudayaan dan pemahaman, ‎institusi birokrasi. Pada akhirnya menyebabkan peperangan dan kebaruan.

Kebertuhanan, keberagamaan, dan kebenaran ibaratnya sebuah perjalanan pendakian ke ‎puncak Gunung. Pendakian tersebut dapat ditempuh dari segala penjuru yang bergerak naik ‎menuju puncaknya. Sementara itu, perbedaan ada pada titik awal perjalanan, yaitu dalam ‎menempuh perjalanannya ke puncak. Akan tetapi, setelah sampai di puncak Gunung semua ‎perbedaan dan perjalanan pada hakekatnya sama-sama menuju puncak. Cakrawala kesatuan ‎dicapai dalam realitas di puncak.

Demikian juga halnya dari Tuhan yang satu, banyak nabi dari Tuhan yang satu, banyak kitab ‎suci dari Tuhan yang satu, banyak nama atau sebutan. Kemudian dari nabi dan kitab yang satu ‎banyak penafsiran aliran dan mazhab. Kenapa kita berkelahi dalam perbedaan dan tidak bisa ‎memahami kesatuan dalam perbedaa?. Sedangkan Tuhan itu Mahapengasih dan ‎Mahapemurah bagi semua hamba-Nya. Kita dari Tuhan yang satu dan akan kembali kepada-‎Nya.‎ 

Pengembangan lain juga dapat diambil contoh dalam Injil. Baru-baru ini, terdapat Alkitab ‎Edisi terbaru dalam 4 Bahasa ( Inggris, Ibrani Modern, Ibrani Paleo & Ibrani Pictographic ). ‎Hebatnya lagi nama TUHAN ( ‎יהוה‎ ) ditulis konsisten dalam bentuk Paleo Hebrew kecuali ‎bahasa Pictographic Hebrew ( Pictograf Proto Kanaan sebagai sistem penulisan awal alfabet ‎Hebrew (Ibrani). Pembuktian Alkitab edisi terbaru ini (salah satunya ) dapat di dilihat di ‎Dokumen Gua Qumran (Dead Sea Scroll). Penyingkapan Firman-Nya mulai dibukakan dalam ‎aslinya. Penyebutan nama-nama Tuhan, kadang para teolog mengungkapkan seperti Elohim, ‎Eloakh dan Elsaday dan seterusnya. Simak pengalaman sahabat saya dari Kristen (Marten ‎Tendean):‎ ‎ 

“Saya punya cerita singkat tentang pengalaman saya mencoba menerjemahkan Alkitab ‎dari bahasa Ibrani ke Indonesia bersama sahabat saya pengikut Yudaisme. Setelah ‎beberapa lembar dibuat, tanpa sepengetahuannya saya print out hasilnya, ternyata ada ‎kesalahan penulisan dalam bahasa Ibrani. Dalam lembar tsb ternyata ada nama TUHAN ‎‎(dlm huruf Ibrani). Waktu itu saya belum tahu jika ada kesalahan penulisan, maka lembar ‎tersebut harus di musnahkan. Brother tahu cara memusnahkan lembar yang ada nama ‎TUHAN tidak boleh di sobek, di bakar atau dibuang ke tempat sampah, dan lain-lain... ‎selain harus di kubur. Hebat tidak cara memperlakukan/menghormati nama TUHAN dari ‎sudut pandang penulisan...dan masih banyak lagi cerita lainnya... bersambung ya bro.”‎ 

Terdapat satu komentar lagi dari Marten Tendean kepada Elius Gea, bahwa:‎ ‎“Jika suatu waktu bro Elius Gea melihat atau membaca atau mendengar nama TUHAN ‎dalam huruf Ibrani ... tapi di sebut HASHEM ... itu ada ceritanya tersendiri. Pasti juga ‎mungkin bro bertanya tanya, kenapa dalam Alkitab tertulis nama ALLAH dan TUHAN ... ‎apa hubungannya dengan El, Eloah, Elohim, adonai, kurios, El shadday, El Olam, dan ‎masih banyak lagi seperti nama-nama malaikat atau nabi yang berakhiran EL ... benar ‎tidak...he..he.” Alius Gea menjawab, “Iya Sir memang saya sangat ingin tau apalagi kalau ‎diperhatikan dalam Kejadian pasal 1 s/d 2: 3 disitu hanya disebut Allah nanti setelah di ‎ciptakan manusia pertama Kej .2: 4 baru disebut Tuhan Allah”. ‎ 

G.‎ Realitas buatan keagamaan mengurung kreatifitas 

Realitas keagamaan buatan itu tidak bisa dihindari dan akan selalu ada baik ideologi, ‎mazhab, aliran, dan institusi sosial kegamaan. Tetapi, realitas buatan tersebut tidak mutlak dan ‎tidak boleh dimutlakan. Fanatik boleh, tetapi untuk internal saja, bukan untuk orang lain ‎‎(eksternal). Solidaritas kemanusiaan perlu dibangun di atas solidaritas agama.‎ 

H.‎ Agama untuk kedamaian bukan untuk kekerasan 

Solidaritas kemanusiaan dan solidaritas kegamaan sering bentrok atau malah dapat ‎digabungkan. Agama pada hakekatnya untuk manusia, tetapi manusia tidak boleh terkurung ‎dalam institusi keagamaan buatan. Solidaritas agama untuk kemanusiaan. Bukan solidaritas ‎kemanusiaan untuk institusi keagamaan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi paradoks ‎fundamental agama, yang semula untuk kedamaian. Tetapi jatuh pada kekerasan dan ‎sektarianisme agama untuk manusia bukan untuk Tuhan.‎ 

III.‎ Kesimpulan 

Menelaah secara filosofis realitas otentik agama menjadi sangat urgen agar pemahaman ‎terhadap agama dan segala terkait dengan tern ini yang bersifat tunggal melahirkan ‎sesuatu yang plural. Akibat dari hirarki ini dapat dikontrol dengan pemahaman ini. Sehingga ‎berdampak positif pada perkembangan persepsi, konseptual dan mendapatkan pengalaman yang ‎bermakna. ‎ 

Tujuan memahami realitas otentik agama ini adalah untuk meletakkan agama pada posisi yang benar ‎dan tepat agar tercipta keharmonisan dengan realitas artifisial (buatan). Karena, dengan ‎melakukan ini maksud dan tujuan dimaksud membuahkan hasil keselamatan dan kedamaian. ‎Karena sesungguhnya kekuatan otentik itu hanya dapat diluluhkan dengan ketaatan agar ‎senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang kita peroleh karena kasih sayang-Nya.‎ 

Referensi 

Marten Tendean, Dialog di Facebook tentang Alkitab, (Rabu, tanggal 3 November 2021)‎

Musa Asy`arie, Realitas Otentik Agama pertemuan kelima, (Yogyakarta: eSfima, 31 Oktober 2021)‎

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]