REALITAS OTENTIK AGAMA
Oleh: Samsurizal, MA
Mingu, Tanggal 31 Oktober 2021
I. Pendahuluan
Relitas otentik Agama, merupakan pola berpikir keimanan (tauhid), sementara filsafat memperkuat keimanan dengan menggali makna berpikir keagamaan seluas-luasnya. Kemudian dapat juga ditempuh pola sekuler, artinya menolerir pemikiran tentang agama sebagai jalur keimanan dan filsafat jalur akal. Disisi lain dapat dilihat dari berbagai perspektif seperti sosial, budaya, psikologi dan lain sebagainya. Sehingga realitas otentik agama berdiri sebagaimana mestinya salah satunya kritik terhadap realitas artifisial. Apabila sudah merusak subtansi hidup maka mesti dikembalikan keasalnya. Sehingga kesadaran refleksional, imitasi dan experion individu terlayani. Pada akhirnya prilaku kebertuhanan seseorang terkontrol. Inilah makna yang dipahami dari dua realitas yang berbeda dengan perannya sendiri-sendiri. Hal tersebut dapat diselesaikan dengan mempelajari aspek-aspek filosofisnya secara bersamaan.
Berdasarkan asumsi di atas perlu diuraikan agar memberikan makna filosofis. Sehingga dapat dicerna dan dikembangkan bagaimana menyerap pelajaran dari realitas otentik agama dimaksud.
II. Pembahasan
A. Realitas otentik sebagai kritik terhadap realitas buatan
Realitas otentik meliputi lima aspek yaitu alam semesta, harmoni keseimbangan, kekuasaan, kematian dan kebenaran. Sementara realitas buatan sebagai efek yang muncul dari aspek otentik, yaitu kebudayaan, konflik penghancuran, birokrasi kekuasaan, pembunuhan dan pembenaran.
B. Hirarki realitas otentik
Hirarki realitas otentik secara bertingkat dimulai dari teos, kosmos, antropos dan kebudayaan. Dalam setiap kebudayaan ada antropos, ada kosmos dan ada teos. Subtansi paling dasar adalah teos, karena cosmos dan antropos ada karena adanya teos (Tuhan). Tetapi, kebudayaan dapat bergerak menghancurkan antropos dan kosmos dan akhirnya menjadi anti-teos. Hal ini dapat diambil pelajaran terhadap produksi hasil karya manusia modern, seperti Hand Pone (HP). HP ini di dalamnya terdapat cosmos berupa bahan-bahan logam sekaligus antropos berupa elemen-elemen lainnya dan juga merupakan hasil kebiudayaan yang bersumber dari Teos (Tuhan). Semuanya saling terkait, yang pada akhirnya keberadaan semuanya itu atas adanya Tuhan.
C. Realitas otentik agama
Realitas otentik agama adalah asli dan tunggal seperti kitab suci, firman dan kedamaian. Sedangkan realitas buatan adalah dibuat dan bersifat plural, seperti penafsiran, pengajaran dan kekerasan. Kedua realitas ini sering terjadi tarik-menarik, yang mesti dimenangkan adalah realitas otentik.
Apabila telah mendatangkan mudharat pada prikehidupan dan prikemakhlukan, maka mesti dikembalikan kepada kenaran realitas otentik.
D. Kitab suci otentik, penafsiran artifisial
Kitab suci adalah realitas otentik, namun dari inilah muncul aliran pemikiran ideologi, mazhab atau golongan, dan perubahan atau keanekaragaman. Seseorang berhak menolak hasil dari pemahaman terhadap kitab suci, namun tidak boleh memutlakkan hasil pemahaman atau penafsiran terhadap kitab suci tersebut. Hal ini bukan bearti menolak kitab suci. Nah, untuk menguraikan hal dimaksud perlu pemahaman yang mumpuni.
E. Kemutlakan agama dan kenisbian penafsiran
Al-Qurán sebagai realitas otentik melahirkan berbagai penafsiran seperti yang dilakukan oleh Ibu Katsir, Hamka, Quraish Shihab dan lain-lain. Bagi seorang Muslim tidak boleh menolak al-Qur’an, tetapi boleh menolak atau berbeda pendapat terhadap penafsiran, begitu juga terhadap penerjemahan al-Qur’an. Karena hal tersebut hasil interpretasi manusia, mungkin keliru dan berkemungkinan juga benar.
F. Islam dan Muslim
Islam pada dasarnya adalah satu, namun dari Islam sebagai agama menjadikan pengikut yang dikenal dengan Muslim dan ORMAS. Kemudian muncul kebudayaan dan pemahaman, institusi birokrasi. Pada akhirnya menyebabkan peperangan dan kebaruan.
Kebertuhanan, keberagamaan, dan kebenaran ibaratnya sebuah perjalanan pendakian ke puncak Gunung. Pendakian tersebut dapat ditempuh dari segala penjuru yang bergerak naik menuju puncaknya. Sementara itu, perbedaan ada pada titik awal perjalanan, yaitu dalam menempuh perjalanannya ke puncak. Akan tetapi, setelah sampai di puncak Gunung semua perbedaan dan perjalanan pada hakekatnya sama-sama menuju puncak. Cakrawala kesatuan dicapai dalam realitas di puncak.
Demikian juga halnya dari Tuhan yang satu, banyak nabi dari Tuhan yang satu, banyak kitab suci dari Tuhan yang satu, banyak nama atau sebutan. Kemudian dari nabi dan kitab yang satu banyak penafsiran aliran dan mazhab. Kenapa kita berkelahi dalam perbedaan dan tidak bisa memahami kesatuan dalam perbedaa?. Sedangkan Tuhan itu Mahapengasih dan Mahapemurah bagi semua hamba-Nya. Kita dari Tuhan yang satu dan akan kembali kepada-Nya.
Pengembangan lain juga dapat diambil contoh dalam Injil. Baru-baru ini, terdapat Alkitab Edisi terbaru dalam 4 Bahasa ( Inggris, Ibrani Modern, Ibrani Paleo & Ibrani Pictographic ). Hebatnya lagi nama TUHAN ( יהוה ) ditulis konsisten dalam bentuk Paleo Hebrew kecuali bahasa Pictographic Hebrew ( Pictograf Proto Kanaan sebagai sistem penulisan awal alfabet Hebrew (Ibrani). Pembuktian Alkitab edisi terbaru ini (salah satunya ) dapat di dilihat di Dokumen Gua Qumran (Dead Sea Scroll). Penyingkapan Firman-Nya mulai dibukakan dalam aslinya. Penyebutan nama-nama Tuhan, kadang para teolog mengungkapkan seperti Elohim, Eloakh dan Elsaday dan seterusnya. Simak pengalaman sahabat saya dari Kristen (Marten Tendean):
“Saya punya cerita singkat tentang pengalaman saya mencoba menerjemahkan Alkitab dari bahasa Ibrani ke Indonesia bersama sahabat saya pengikut Yudaisme. Setelah beberapa lembar dibuat, tanpa sepengetahuannya saya print out hasilnya, ternyata ada kesalahan penulisan dalam bahasa Ibrani. Dalam lembar tsb ternyata ada nama TUHAN (dlm huruf Ibrani). Waktu itu saya belum tahu jika ada kesalahan penulisan, maka lembar tersebut harus di musnahkan. Brother tahu cara memusnahkan lembar yang ada nama TUHAN tidak boleh di sobek, di bakar atau dibuang ke tempat sampah, dan lain-lain... selain harus di kubur. Hebat tidak cara memperlakukan/menghormati nama TUHAN dari sudut pandang penulisan...dan masih banyak lagi cerita lainnya... bersambung ya bro.”
Terdapat satu komentar lagi dari Marten Tendean kepada Elius Gea, bahwa:
“Jika suatu waktu bro Elius Gea melihat atau membaca atau mendengar nama TUHAN dalam huruf Ibrani ... tapi di sebut HASHEM ... itu ada ceritanya tersendiri. Pasti juga mungkin bro bertanya tanya, kenapa dalam Alkitab tertulis nama ALLAH dan TUHAN ... apa hubungannya dengan El, Eloah, Elohim, adonai, kurios, El shadday, El Olam, dan masih banyak lagi seperti nama-nama malaikat atau nabi yang berakhiran EL ... benar tidak...he..he.” Alius Gea menjawab, “Iya Sir memang saya sangat ingin tau apalagi kalau diperhatikan dalam Kejadian pasal 1 s/d 2: 3 disitu hanya disebut Allah nanti setelah di ciptakan manusia pertama Kej .2: 4 baru disebut Tuhan Allah”.
G. Realitas buatan keagamaan mengurung kreatifitas
Realitas keagamaan buatan itu tidak bisa dihindari dan akan selalu ada baik ideologi, mazhab, aliran, dan institusi sosial kegamaan. Tetapi, realitas buatan tersebut tidak mutlak dan tidak boleh dimutlakan. Fanatik boleh, tetapi untuk internal saja, bukan untuk orang lain (eksternal). Solidaritas kemanusiaan perlu dibangun di atas solidaritas agama.
H. Agama untuk kedamaian bukan untuk kekerasan
Solidaritas kemanusiaan dan solidaritas kegamaan sering bentrok atau malah dapat digabungkan. Agama pada hakekatnya untuk manusia, tetapi manusia tidak boleh terkurung dalam institusi keagamaan buatan. Solidaritas agama untuk kemanusiaan. Bukan solidaritas kemanusiaan untuk institusi keagamaan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi paradoks fundamental agama, yang semula untuk kedamaian. Tetapi jatuh pada kekerasan dan sektarianisme agama untuk manusia bukan untuk Tuhan.
III. Kesimpulan
Menelaah secara filosofis realitas otentik agama menjadi sangat urgen agar pemahaman terhadap agama dan segala terkait dengan tern ini yang bersifat tunggal melahirkan sesuatu yang plural. Akibat dari hirarki ini dapat dikontrol dengan pemahaman ini. Sehingga berdampak positif pada perkembangan persepsi, konseptual dan mendapatkan pengalaman yang bermakna.
Tujuan memahami realitas otentik agama ini adalah untuk meletakkan agama pada posisi yang benar dan tepat agar tercipta keharmonisan dengan realitas artifisial (buatan). Karena, dengan melakukan ini maksud dan tujuan dimaksud membuahkan hasil keselamatan dan kedamaian. Karena sesungguhnya kekuatan otentik itu hanya dapat diluluhkan dengan ketaatan agar senantiasa bersyukur atas semua nikmat yang kita peroleh karena kasih sayang-Nya.
Referensi
Marten Tendean, Dialog di Facebook tentang Alkitab, (Rabu, tanggal 3 November 2021)
Musa Asy`arie, Realitas Otentik Agama pertemuan kelima, (Yogyakarta: eSfima, 31 Oktober 2021)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏