Kisah Para Istri yang Diabadikan Allah dalam Al Qur'an
Allah mengabadikan kisah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth terhadap pengkhianatan mereka terhadap suami-suaminya. Dilain sisi Allah juga menginformasikan istri Fir'aun dan Maryam sebagai perbandingan ketaatan mereka kepada Allah dan keistiqamahan mereka menjaga iman dan kehormatannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَتَ نُوْحٍ وَّامْرَاَتَ لُوْطٍۗ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـًٔا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ. (قرآن سورة التحريم/٦٦: ١٠)
Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang kufur, yaitu istri Nuh dan istri Luth. Keduanya berada di bawah (tanggung jawab) dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu keduanya berkhianat kepada (suami-suami)-nya. Mereka (kedua suami itu) tidak dapat membantunya sedikit pun dari (siksaan) Allah, dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).” (QS. At-taḥrīm/66: 10)
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ. (قرآن سورة التحريم/٦٦: ١١)
Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-taḥrīm/66: 11)
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْٓ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَانَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ. (قرآن سورة التحريم/٦٦: ١٢)
Demikian pula Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, lalu Kami meniupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan yang membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, serta yang termasuk orang-orang taat. (QS At-taḥrīm/66: 12)
Seperti itu juga Allah menegaskan tentang Maryam ibunya Nabi Isa 'alaihi salam yang diabadikan dalam firman-Nya,
مَا الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُۗ وَاُمُّهٗ صِدِّيْقَةٌ ۗ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ ۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْاٰيٰتِ ثُمَّ انْظُرْ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ. (قرآن سورة المائدة/٢: ٧٥)
Almasih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Ibunya adalah seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya makan (seperti halnya manusia biasa). Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahlulkitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (dari kebenaran). (QS. Al-Mā'idah/5: 75)
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي جَعْفَرٍ أَنَّ ابْنَ قَارِظٍ أَخْبَرَهُ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ. (رواه أحمد: ١٥٧٣)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari 'Ubaidullah bin Abu Ja'far bahwa Ibnu Qarizh mengabarinya dari Abdurrahman bin Auf berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; 'Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu inginkan'." (HR. Ahmad: 1573 - hasan lighairihi, namun sanadnya dha'if menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdur Rahman bin 'Auf bin 'Abdi 'Auf bin 'Abdi bin Al Harits bin Zahrah, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Madinah dan wafat tahun 32 H)
Catatan: pada sanad hadits riwayat imam Ahmad: 1573, ulama berbeda pendapat memberikan penilaian terhadap 'Abdullah bin Lahi'ah, ia tabi' tabi'in kalangan tua kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Maru dan wafat tahun 174. Penilaian ulama: Abu Zur'ah menilainya la yadhbuth, Muhammad bin Sa'id dan ad Dzahabi menilainya dha'if, sementara Hakim menilai dzahibul hadits dan Ibnu Hajar menilainya shaduq. Selebihnya adalah periwayat Maqbul.
Rasulullah memuji kepada wanita kaum Quraisy, sebagaimana imam Ahmad meriwayatkan:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ
سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ يَعْنِي نِسَاءَ قُرَيْشٍ. (رواه أحمد: ٩٦٧٩)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Hammad dari Muhammad bin Ziyad berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Aku mendengar Abul Qasim ﷺ bersabda, "Sebaik-baik wanita pengendara unta, sangat sayang terhadap anak dan taat (amanah) kepada suaminya dalam menjaga hartanya adalah wanita Quraisy." (HR. Ahmad: 9679 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Istri bagaimana yang paling baik? Maka Rasulullah menjawab, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad berikut:
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ. (رواه أحمد: ٩٢٨١)
Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu 'Ajlan aku mendengar bapakku dari Abu Hurairah berkata; (suatu ketika) ditanyakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, wanita yang bagaimana yang paling baik?" maka beliau menjawab, "Wanita yang menyenangkan hati jika dilihat, taat jika diperintah dan tidak menyelisihi pada sesuatu yang ia benci terjadi pada dirinya (istri) dan harta suaminya." (HR. Ahmad: 9281 - isnadnya qawi menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Abu Hurairah, ia shahabat nama aslinya 'Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)
Satu hal yang perlu diingat dalam setiap kewajiban adalah menaati selagi dalam syari'at bukan maksiat. Sebagaimana diinformasikan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Al Bukhari berikut:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ. (رواه البخاري: ٦٦١١)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari 'Ubaidullah Telah menceritakan kepadaku Nafi' dari Abdullah radhiallahu'anhu, dari Nabi ﷺ bersabda, "Mendengar dan taat adalah wajib bagi setiap muslim, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai, selama ia tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan, adapun jika ia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada hak mendengar dan menaati." (HR. Al Bukhari: 6611 - shahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)
Demikian juga hadits riwayat imam Muslim: 3423 (hadits Masyhur, karena imam Muslim meriwayatkan dari empat jalur periwayatan dan dari empat orang gurunya), at Tirmidzi: 1629, an Nasa'i: 4135, Abu Daud: 2257. Semuanya dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.
Hadits semakna diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah, beliau berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَسُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَجَاءٍ الْمَكِّيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ الطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ أَوْ كَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ. (رواه إبن ماجه: ٢٨٥٥)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh; telah memberitakan kepada kami Al Laits bin Sa'ad dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi' dari Ibnu Umar; demikian juga telah diriwayatkan dari jalur yang lainnya, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah dan Suwaid bin Sa'id, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Raja` Al Makki dari Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah seorang muslim senantiasa taat, baik yang ia sukai atau ia benci, kecuali apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kata mendengar dan taat lagi." (HR. Ibnu Majah: 2855 - shahihul isnad menurut Nashiruddin al Albani dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Hadits masyhur, Karena imam Ibnu Majah meriwayatkan dari tiga jalur periwayatan dan dari tiga orang gurunya)
Demikian hadits riwayat imam Ahmad: 4439 dan 5996 (hadits 'aziz, karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya) - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin Al Khaththab bin Nufail, ia shahabat kuniyahnya Abu 'Abdur Rahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Sementara itu dalam lafazh lain diriwayatkan oleh imam Ahmad:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَتَّابٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ
بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِيمَا اسْتَطَعْتُ. (رواه أحمد: ١٢٤٥٤)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari 'Attab berkata, saya telah mendengar Anas bin Malik berkata, aku berbaiat pada Nabi ﷺ untuk mendengar dan taat semaksimal kemampuanku. (HR. Ahmad: 12454 - shahih lighairihi, isnadnya hasan menurut Syu'aib Al Arna'uth dari Anas bin Malik bin an Nadhir bin Dhamdham bin Zaid bin Haram, ia shahabat kuniyahnya Abu Hamzah negeri hidup Bashrah dan wafat tahun 91 H. Hadits ahlul Bashrah)
AKIBAT BAKHIL DAN HIJRAH PALING BERAT
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ وَيَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُكْتِبِ عَنْ أَبِي كَثِيرٍ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَمَرَهُمْ بِالظُّلْمِ فَظَلَمُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا وَإِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَلَا التَّفَحُّشَ قَالَ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ قَالَ فَقَامَ هُوَ أَوْ آخَرُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عَقَرَ جَوَادَهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ
قَالَ أَبِي و قَالَ يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ فِي حَدِيثِهِ ثُمَّ نَادَاهُ هَذَا أَوْ غَيْرُهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَهْجُرَ مَا كَرِهَ رَبُّكَ وَهُمَا هِجْرَتَانِ هِجْرَةٌ لِلْبَادِي وَهِجْرَةٌ لِلْحَاضِرِ فَأَمَّا هِجْرَةُ الْبَادِي فَيُطِيعُ إِذَا أُمِرَ وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ وَأَمَّا هِجْرَةُ الْحَاضِرِ فَهِيَ أَشَدُّهُمَا بَلِيَّةً وَأَعْظَمُهُمَا أَجْرًا. (رواه أحمد: ٦٥٠٢)
Telah menceritakan kepada kami Waqi' telah menceritakan kepada kami Al Mas'udi. Dan Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Mas'udi dari 'Amru bin Murroh dari Abdullah bin Al Harits Al Muktibi dari Abu Katsir Az Zubaidi dari Abdullah bin 'Amru, dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda, "Berhati-hatilah kalian dari sifat bakhil, sesungguhnya sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, jika sifat itu menyuruh mereka berbuat zalim, mereka pun berbuat zalim, jika menyuruh mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan mereka pun memutuskannya, jika menyuruh berbuat dosa mereka pun berbuat dosa. maka berhati-hatilah kalian dari berbuat zalim, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan kekejian dan perkataan keji." Dia berkata; maka berdirilah seorang laki-laki seraya berkata, "Wahai Rasulullah, muslim yang bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Yaitu seorang muslim yang kaum muslimin selamat dari bahaya lisan dan tangannya." Dia berkata, maka berdirilah laki-laki tersebut, atau laki-laki lainnya seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, jihad yang bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang kudanya terluka dan darahnya bersimbah." Bapakku berkata; dan Yazid bin Harun berkata dalam haditsnya, kemudian ini atau yang lainnya berseru dan berkata, "Wahai Rasulullah, hijrah yang bagaimana yang paling utama?" Beliau menjawab, "Engkau jauhi sesuatu yang telah dibenci oleh Rabb-mu, sedangkan hijrah itu sendiri ada dua; Hijrah Al Hadhir dan Hijrah Al Badiy. Hijrah Al Badiy adalah taat apabila diperintah, dan selalu siap jika diseru. Adapun Hijrah Al Hadhir adalah hijrah yang lebih berat ujian dan pahalanya di antara kedua hijrah tersebut." (HR. Ahmad: 6502 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Hadits 'aziz, Karena imam Ahmad meriwayatkan dari dua orang gurunya)
Demikian juga hadits riwayat imam Abu Daud: 1447 - shahih dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H. Namun hanya sampai lafazh "وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا" ( ... dan mereka diperintahkan untuk berbuat dosa maka merekapun berbuat dosa).
Secara terpisah juga diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُكْتِبِ عَنْ أَبِي كَثِيرٍ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَهْجُرَ مَا كَرِهَ رَبُّكَ وَهُمَا هِجْرَتَانِ هِجْرَةُ الْحَاضِرِ وَهِجْرَةُ الْبَادِي فَأَمَّا هِجْرَةُ الْبَادِي فَيُطِيعُ إِذَا أُمِرَ وَيُجِيبُ إِذَا دُعِيَ وَأَمَّا هِجْرَةُ الْحَاضِرِ فَهِيَ أَشَدُّهُمَا بَلِيَّةً وَأَعْظَمُهُمَا أَجْرًا. (رواه أحمد: ٦٥٢١)
Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Al Mas'udiy dari Amru bin Murrah dari Abdullah bin Al Harits Al Maktab, dari Abu Katsir Az Zubaidiy dari Abdullah bin 'Amru, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, dia berkata, "Hijrah yang bagaimana yang paling utama?" beliau menjawab, "Yaitu engkau jauhi apa yang telah dibenci oleh Rabb-mu, dan itu ada dua hijrah; Hijrah Al Hadhir dan Hijrah Al Badiy. Hijrah Al Badiy adalah engkau selalu taat jika diperintah, dan selalu siap jika diseru. Adapun Hijrah Al Hadhir adalah hijrah yang lebih berat ujian dan pahalanya di antara kedua hijrah tersebut." (HR. Ahmad: 6521 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H)
Lihat juga hadits riwayat Ahmad: 1642 - isnadnya shahih menurut Syu'aib Al Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash bin Wail, ia shahabat kuniyahnya Abu Muhammad negeri hidup Maru dan wafat tahun 63 H.
Wallaahu a'lam bish shawab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏