“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]


BERLINDUNGLAH DARI DUA HAL: UMUR DI ATAS 70 TAHUN DAN PEMIMPIN YANG BODOH


Bismillahirrahmanirrahim,

Imam Ahmad meriwayatkan,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا كَامِلٌ أَبُو الْعَلَاءِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ رَأْسِ السَّبْعِينَ وَمَنْ إِمَارَةِ الصِّبْيَانِ. (رواه أحمد: ٧٩٦٩)

Telah menceritakan kepada kami Yahya Ibnu Abi Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Kamil Abul 'Ala` berkata, aku mendengar Abu Shalih dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Berlindunglah kepada Allah dari umur di atas tujuh puluh tahun dan dari kepemimpinan anak kecil." (HR. Ahmad: 7969 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah, ia sahabat nama aslinya Abdur Rahman bin Shakhar negeri hidup Madinah dan wafat tahun 57 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Ahmad; 7968, 8300 dan 9407 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Abu Hurairah. Imam Ahmad meriwayatkan dari empat orang gurunya yaitu: Al-Aswad bin 'Amir w. 208 H, Yahya bin. Abi Bukair Nusr w. 208 H, Ismail bin Umar, dan Waki' bin al-Jarrah bin Malih w. 196 H. Mereka menerima dari Kamil bin Al 'Alaa', ia tabi'ut tabi'in kalangan tua kuniyah-nya Abu Al 'Alaa' dan negeri hidup Kufah. Penilaian ulama kritikus hadis terhadap beliau ini berbeda dari segi jarah wa ta'dil. Para ulama menilai: Yahya bin Ma'in dan Ya'qub bin Sufyan menilainya tsiqah, Ibnu Hajar menilainya shaduuq Yuthi, dan Ibnu Sa'ad menilainya qaliilul hadits. Sementara imam an-Nasa'i menilainya laisa biqawiy. Karena terdapat hadits pendukung dalam konteks ini maka Nash ini Maqbul, atau dapat diterima, sedangkan terkait dengan kualitas Nash tersebut naik dari dha'if menjadi hasanlighairihi. 

Dijelaskan dalam riwayat imam Ahmad terkait dengan pemimpin yang bodoh, beliau berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ وَالصَّلَاةُ قُرْبَانٌ أَوْ قَالَ بُرْهَانٌ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ النَّارُ أَوْلَى بِهِ يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ النَّاسُ غَادِيَانِ فَمُبْتَاعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا وَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُوبِقُهَا. (رواه أحمد: ١٣٩١٩)

Telah bercerita kepada kami Abdurrazaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Ibnu Khutsaim dari Abdurrahman bin Sabith dari Jabir bin Abdillah, Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Ka'ab bin 'Ujrah, "Semoga Allah melindungimu dari pemerintahan orang-orang yang bodoh", (Ka'ab bin 'Ujrah radhiallahu'anhu) bertanya, Apakah yang dimaksud kepemerintahan orang bodoh itu? Rasulullah ﷺ menjawab, "Yaitu para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula mengikuti jejak sunnahku. Maka barang siapa yang membenarkan atas kedustaan yang mereka perbuat serta menolong mereka atas kezalimannya, maka mereka bukanlah golonganku, dan aku pun bukanlah golongan mereka, sehingga mereka tidak akan melintasi telagaku. Dan barang siapa yang tidak membenarkan atas kedustaan yang mereka perbuat serta tidak menolong atas kezalimannya, maka mereka adalah golonganku dan aku adalah golongan mereka, sehingga mereka senantiasa akan melewati telagaku. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, puasa adalah perisai, sedekah dapat memadamkan api neraka dan salat adalah persembahan atau petunjuk. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari hal yang di murkai Allah, dan nerakalah yang paling tepat untuknya. Wahai Ka'ab bin 'Ujrah, seseorang itu akan menempuh di pagi harinya antara dua hal, Yaitu seorang yang mempersembahkan dirinya (untuk ketaatan), sehingga ia dapat terbebas (dari azab neraka), dan seorang yang menjerumuskan dirinya (pada keburukan), sehingga ia akan binasa. (HR. Ahmad: 13919 - isnad-nya qawiy dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H)

Hadis semakna diriwayatkan oleh imam Ahmad: 14746 - isnad-nya qawiy dari Jabir bin 'Abdullah bin 'Amru bin Haram, ia sahabat kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 78 H.

Selanjutnya dijelaskan lagi,

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا النَّهَّاسُ بْنُ قَهْمٍ أَبُو الْخَطَّابِ عَنْ شَدَّادٍ أَبِي عَمَّارٍ الشَّامِيِّ قَالَ قَالَ عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ يَا طَاعُونُ خُذْنِي إِلَيْكَ قَالَ فَقَالُوا أَلَيْسَ قَدْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا عَمَّرَ الْمُسْلِمُ كَانَ خَيْرًا لَهُ قَالَ بَلَى وَلَكِنِّي أَخَافُ سِتًّا إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ وَبَيْعَ الْحُكْمِ وَكَثْرَةَ الشَّرْطِ وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ وَنَشْئًا يَنْشَئُونَ يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ وَسَفْكَ الدَّمِ. (رواه أحمد: ٢٢٨٤٥)

Telah menceritakan kepada kami Waki', ia berkata, telah menceritakan kepada kami An Nahhas bin Qahm Abu Al Khaththab dari Syaddad Abu 'Ammar Asy Syami, ia berkata, Berkata 'Auf bin Malik: Hai Tha'un, seranglah aku. Syaddad berkata: Lantas mereka berkata, Bukankah kau pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesuatu yang dimakmurkan oleh seorang muslim itu lebih baik baginya." 'Auf berkata : Benar, tapi aku takut akan enam hal; Kepemimpinan orang-orang bodoh, menjual hukum, banyaknya penjagaan, memutus tali silaturahmi, generasi yang tumbuh dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai seruling dan pertumpahan darah. (HR. Ahmad: 22845 - shahihlighairi, isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Auf bin Malik bin Abi 'Auf, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Syam dan wafat tahun 73 H)

Konteks di atas tentu berbeda dengan apa yang dilakukan Rasulullah terhadap Usamah bin Zaid yang diangkat oleh beliau menjadi pemimpin. Hal ini diinformasikan oleh imam Ahmad,

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّرَ أُسَامَةَ عَلَى قَوْمٍ فَطَعَنَ النَّاسُ فِي إِمَارَتِهِ فَقَالَ إِنْ تَطْعَنُوا فِي إِمَارَتِهِ فَقَدْ طَعَنْتُمْ فِي إِمَارَةِ أَبِيهِ وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كَانَ لَخَلِيقًا لِلْإِمَارَةِ وَإِنْ كَانَ لَمِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَيَّ وَإِنَّ ابْنَهُ هَذَا لَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ بَعْدَهُ. (رواه أحمد: ٤٤٧١)

Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar ia berkata, Aku mendengar Abdullah bin Umar mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah menjadikan Usamah sebagai pemimpin kaum, lalu orang-orang ingin mencela kekuasaannya. Maka beliau bersabda, "Jika kalian mencela kekuasaannya berarti kalian juga mencela kekuasaan ayahnya. Demi Allah, sesungguhnya ia benar-benar pantas menjabatnya dan ia adalah orang yang paling aku cintai. Dan sesungguhnya anaknya ini adalah orang yang paling aku cintai setelahnya." (HR. Ahmad: 4471 - isnad-nya sahih menurut Syu'aib al-Arna'uth dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H)

Demikian juga diriwayatkan oleh imam Bukhari: 3451 dan 3919 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H. Secara urut diinformasikan: HR. Al-Bukhari: 4108 (hadis ahlul Madinah), 6137, dan 6650, Muslim: 4452 (hadis masyhur) dan 4453, at-Tirmidzi: 3752, (hadis 'aziz diakhir sanad), dan Ahmad: 5622 - sahih dari 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab bin Nufail, ia sahabat kuniyah-nya Abu Abdurrahman negeri hidup Madinah dan wafat tahun 73 H.

Allah berfirman,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ. (قرآن سورة الأعراف/٧: ١٩٩)

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al-A‘rāf/7: 199)

Inilah yang dilakukan Nabi Yusuf 'alaihisalaam sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ اَحَبُّ اِلَيَّ مِمَّا يَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ ۚوَاِلَّا تَصْرِفْ عَنِّيْ كَيْدَهُنَّ اَصْبُ اِلَيْهِنَّ وَاَكُنْ مِّنَ الْجٰهِلِيْنَ. (قرآن سورة يوسف/١٢: ٣٣)

(Yusuf) berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yūsuf /12: 33)

Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]