MENAKAR KEBOHONGAN
(Menelusuri jalur riwayat yang sahih)
Imam Ahmad meriwayatkan,
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ مَا يَحْمِلُكُمْ عَلَى أَنْ تَتَابَعُوا فِي الْكَذِبِ كَمَا يَتَتَابَعُ الْفَرَاشُ فِي النَّارِ كُلُّ الْكَذِبِ يُكْتَبُ عَلَى ابْنِ آدَمَ إِلَّا ثَلَاثَ خِصَالٍ رَجُلٌ كَذَبَ عَلَى امْرَأَتِهِ لِيُرْضِيَهَا أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ فِي خَدِيعَةِ حَرْبٍ أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ بَيْنَ امْرَأَيْنِ مُسْلِمَيْنِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمَا. (رواه أحمد: ٢٦٢٨٩)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdii, telah menceritakan kepada kami Daud bin Abdurrahman dari Ibnu Hutsaim dari Syahr bin Hausyab dari Asma' binti Yazid bahwa dia telah mendengar Rasulullah ﷺ berkhotbah, kemudian beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia, apa yang mendorong kalian ikut-ikutan berdusta sebagaimana anai-anai berebut ke api, setiap perbuatan dusta akan dicatat atas anak adam kecuali tiga hal; seorang suami yang berbohong kepada istrinya supaya istrinya ridha, atau seseorang yang berdusta dalam rangka strategi perang dan seseorang yang berbohong di antara kedua belah pihak dari kaum muslimin untuk mendamaikan keduanya." (HR. Ahmad: 26289 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah)
Dalam sanadnya terdapat periwayat yang dinilai jarah (buruh) oleh para ulama kritikus hadis. Ia adalah Syahar bin Hawsyab, ia tabi'in kalangan pertengahan kuniyah-nya Abu Sa'ad negeri hidup Syam dan wafat tahun 100 H. Penilaian para ulama kritikus hadis: Musa bin Harun dan Al-Bayhaqi menilainya dha'if, an-Nasa'i dan Hakim menilainya laisa biqawi, Ibnu Hazm menilainya saqith. Sementara Ahmad bin Hambal menilainya laisa bihiba's, Ibnu 'Adi menilainya dha'if jiddan. Sedangkan Ibnu Hajar menilainya shaduuq tetapi punya keragu-raguan.
Ummu Kultsum menceritakan sebagaimana hadis riwayat imam Ahmad,
حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ أَنَّهَا قَالَتْ رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْكَذِبِ فِي ثَلَاثٍ فِي الْحَرْبِ وَفِي الْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ وَقَوْلِ الرَّجُلِ لِامْرَأَتِهِ. (رواه أحمد: ٢٦٠١٨)
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf dari ibunya Ummu Kultsum binti 'Uqbah bahwa dia berkata, "Nabi ﷺ memberikan keringanan untuk berbohong pada tiga tempat; pada saat perang, pada saat mendamaikan antara manusia dan perkataan seseorang kepada istrinya (untuk menumbuhkan kecintaan)." (HR. Ahmad: 26018 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ummu Kultsum binti 'Uqbah bin Abi Mu'aith, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Kultsum dan negeri hidup Madinah - pen, dilihat para periwayatnya tidak ada yang dinilai buruk)
Imam Malik menceritakan,
حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْذِبُ امْرَأَتِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا خَيْرَ فِي الْكَذِبِ فَقَالَ الرَّجُلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعِدُهَا وَأَقُولُ لَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا جُنَاحَ عَلَيْكَ. (رواه مالك: ١٥٧٠)
Telah menceritakan kepadaku Malik dari Shafwan bin Sulaim berkata, "Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, "Aku akan berbohong kepada istriku, Wahai Rasulullah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada kebaikan dalam berbohong" Orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku berjanji kepadanya dan aku akan mengutarakannya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada dosa bagimu." (HR. Malik: 1570 - dha'if menurut Salim bin 'Ied al-Hilaly dari Syafwan bin Sulaim, ia tabi'in kalangan biasa kuniyah-nya Abu 'Abdullah negeri hidup Madinah dan wafat tahun 132 H. Menurut Ibnu Hajar, "tsiqah ahli ibadah, tertuduh beraliran Qadiriyah")
Sementara itu imam at-Tirmidzi meriwayatkan,
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ ح و حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ وَأَبُو أَحْمَدَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ و قَالَ مَحْمُودٌ فِي حَدِيثِهِ لَا يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَسْمَاءَ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ خُثَيْمٍ وَرَوَى دَاوُدُ بْنُ أَبِي هِنْدٍ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ أَسْمَاءَ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ عَنْ دَاوُدَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَكْرٍ. (رواه الترمذي: ١٨٦٢)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad az-Zubairi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, ia berkata -Dalam jalur lain diriwayatkan- Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr as-Sariy dan Abu Ahmad, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dari Syahr bin Hausyab, dari Asma` binti Yazid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Berdusta tidak dihalalkan kecuali dalam tiga situasi; seorang suami yang membuat istrinya rida saat berbincang dengannya, dusta (tipu daya) dalam peperangan, dan dusta yang dilakukan dalam rangka untuk mendamaikan (sesama) manusia." Mahmud berkata dalam hadisnya: "Tidak diperkenankan dusta kecuali pada tiga perkara." Ini adalah hadis hasan. Kami tidak mengetahuinya dari hadis Asma` kecuali dari hadis Ibnu Khutsaim. Dan Dawud bin Abi Hind meriwayatkan hadis ini dari Syahr bin Hausyab, dari Nabi ﷺ, sementara di dalamnya ia tidak menyebutkan dari Asma` sebagaimana yang telah diceritakan Muhammad bin al-Ala` kepada kami, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Za`idah, dari Dawud. Terdapat juga hadis semakna yang diriwayatkan dari Abu Bakr. (HR. At-Tirmidzi: 1862 - sahih tanpa kalimat 'liyurdhiiha (supaya dia ridha kepadanya)' menurut Muhammad Nashiruddin Al Albani dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah)
Dalam sanadnya juga terdapat Syahar bin Hawsyab sebagaimana hadits riwayat imam Ahmad: 26289. Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 26315 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Asma' bin Yazid dengan kalimat "كَذِبُ الرَّجُلِ مَعَ امْرَأَتِهِ لِتَرْضَى" (seorang suami yang berdusta terhadap istrinya untuk mendapatkan keridhaan darinya). Sedangkan hadis riwayat imam Ahmad: 26326 dengan kalimat "كَذِبِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا" (seorang suami yang berdusta terhadap istrinya untuk mendapatkan keridhaan darinya).
Dalam redaksi yang berbeda diriwayatkan oleh imam Ahmad,
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ يُرِيدُ بِهِ الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلِ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةِ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا. (رواه أحمد: ٢٦٠١٥)
Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Laits -yakni Ibnu Sa'd- dari Yazid -yakni Ibnu Al Hadi- dari Abdul Wahab dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman bin 'Auf dari ibunya Ummu Kultsum binti 'Uqbah dia berkata, "Aku belum pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberikan keringanan sedikitpun dari kedustaan kecuali dalam tiga perkara; seseorang yang mengatakan suatu perkataan dengan maksud untuk mendamaikan, seseorang yang mengatakan perkataan dalam peperangan dan seorang (suami) yang mengatakan kepada istrinya, atau istri mengatakan kepada suaminya." (HR. Ahmad: 26015 - isnad-nya dha'if menurut Syu'aib al-Arna'uth dari Ummu Kultsum. Dalam sanadnya tidak menyebutkan Syahar bin Hawsyab dan semua periwatnya maqbul)
Demikian juga hadis riwayat imam Ahmad: 26017. Kemudian imam Abu Daud meriwayatkan hadis yang sahih, beliau berkata,
حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْجِيزِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ عَنْ نَافِعٍ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ عَنْ ابْنِ الْهَادِي أَنَّ عَبْدَ الْوَهَّابِ بْنَ أَبِي بَكْرٍ حَدَّثَهُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ يَقُولُ الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلُ يَقُولُ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا. (رواه أبوداود: ٤٢٧٥)
Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Sulaiman Al Jizi berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Aswad dari nafi' -maksudnya Nafi' bin Yazid- dari Ibnul Hadi bahwa Abdul Wahhab bin Abu Bakr menceritakan kepadanya, dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdurrahman dari ibunya Ummu Kultsum binti Uqbah ia berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ memberi keringanan untuk berbohong kecuali pada tiga tempat. Rasulullah ﷺ mengatakan, "Aku tidak menganggapnya sebagai seorang pembohong; seorang laki-laki yang memperbaiki hubungan antara manusia. Ia mengatakan suatu perkataan (bohong), namun ia tidak bermaksud dengan perkataan itu kecuali untuk mendamaikan. Seorang laki-laki yang berbohong dalam peperangan. Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada istri atau istri yang berbohong kepada suami (untuk kebaikan)." (HR. Abu Daud: 4275 - sahih dari Asma' binti Yazid bin as-Sakan, ia shahabiyah kuniyah-nya Ummu Salamah dan negeri hidup Madinah. Tanpa menyebut nama Syahar bin Hawsyab)
Lafazh,
" ... وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا ... "
" ... Dan seorang laki-laki yang berbohong kepada istri atau istri yang berbohong kepada suami ..."
Hanya diriwayatkan oleh imam Abu Daud: 4275 dan Ahmad: 26015 yang dalam sanadnya tidak terdapat Syahar bin Hawsyab. Oleh sebab itu keduanya adalah hadis sahih -pen. Perlu penulis tegaskan bahwa hadis yang dha'if terkait dengan konteks ini terdapat periwayat yang bernama Syahar bin Hawsyab, para ulama kritikus hadis menilainya jarah (buruk). Imam Ahmad meriwayatkan 205 hadis dari jalur Syahar bin Hawsyab.
Wallaahu muwaafiq, wallaahu a'lam bish-shawaab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏