'Akal berta'aqqul
Kualitas 'aqal sangat ditentukan oleh sejauh mana kemampuannya ber-ta'aqqul (mencipta). Oleh karena itu, manusia butuh ruang dan waktu. Sedangkan Allah diluar dari semua itu. Manusia mempunyai daya cipta yang berbeda dengan Allah. Daya cipta yang luar biasa ini hanya dianugerahkan oleh Allah kepada manusia. Tidak ada manusia yang tidak memiliki daya cipta. Atas dasar inilah sesama manusia mesti menghargai hak maupun hasil cipta sesama. Daya cipta dimaksud adalah daya cipta mandiri.
Allah menyebut ulul albab (lihat QS. Al Baqarah/2: 179, Ali 'Imran/3: 7 dan 190, Shad/38:29, az Zumar/39: 9), ulin nuha (lihat QS. Thaha/20: 54 dan 128), lidzi hijr (QS. Al hijr/89: 5) dan Ulil abshar (QS. Nur/24: 44, al Hasyar/59: 2). Mereka ini adalah para pencipta dibidangnya masing-masing. Melalui jalan i'tibar dari ciptaan yang Mahamencipta. Dengan kata lain, manusia yang menggunakan akalnya secara maksimal.
Maka dari itu, kemampuan menalar menurut saya baru sebatas mengerti. Mengerti itu, masih pada batasan menghindar atau menghalangi.
Sehingga kemampuan epistimologi manusia menjadi bertingkat-tingkat: mengetahui, memahami, percaya, mencipta dan yaqin serta haqqul yaqin. Yang terakhir ini mendekatkan manusia pada Tuhan (al haqq).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏