“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

KESENDIRIAN
Disarikan oleh: Samsurizal, MA, C.I.P

Simon menyindir kerakusan manusia, ia berkata: “Betapa rakusnya aku; Aku menginginkan segalanya dalam ‎kehidupan. Aku ingin menjadi seorang wanita dan sekaligus seperti pria, memiliki banyak teman ‎sekaligus menikmati kesendirian, banyak bekerja sekaligus menulis buku-buku bagus, banyak ‎kegiatan sekaligus bersenang-senang, memenuhi keinginan sekaligus tidak egois ... Lihat, sulit ‎bukan untuk mendapatkan semua yang aku inginkan. Begitu pun saat tidak berhasil, kemarahanku ‎meledak.” (Simon de Beauvoir).‎

Simon de Beauvoir adalah pasangannya Sartre seorang filosof eksistensialisme, beliau terkenal ‎dengan filsafat Feminisme.‎

Makna Kesendirian

Terdapat tiga istilah untuk makna kesendirian:‎

‎1.‎ Sendiri (alone) adalah fakta, banyak orang yang tidak ingin sendiri tetapi faktanya sendiri.‎
‎2.‎ Kesepian (loneliness) adalah jiwa/rasa sendiri walaupun di sekelilingnya banyak orang, ‎maka ia butuh teman. Hal ini bermakna negatif dan membuat diri tersiksa dan ‎menyakitkan.‎
‎3.‎ Menyendiri (solitude/uzlah) adalah upaya menjauh dari keramaian untuk tujuan dan ‎kondisi tertentu.‎

‎“Two sides of man’s being alone: the word “lonelness” to express the pain of being alone, and ‎the word “solitude” to express the glory of being alone.” (Paul Tillich, The Eternal Now).‎

Ada dua istilah yang terkenal sekali dalam bahasa inggris yaitu “loneliness” kesepian (negatif), ‎dan “solitude” kesendirian (positif).‎

Kesendirian Sebagai Kenyataan Hidup

Hakekat hidup ini adalah sendiri, sebagaimana ilustrasi yang diungkapkan Osho:‎ ‎“Kita lahir sendiri dan akan mati sendiri. Di antara dua kenyataan tersebut kita menciptakan ‎seribu satu ilusi tentang kebersamaan, yakni semua jenis hubungan, pertemanan, permusuhan, ‎cinta dan kebencian, ... Kita menciptakan aneka halusinasi hanya untuk menghindari fakta bahwa: ‎kita adalah sendirian. Namun apapun yang kita lakukan, kebenaran tidak dapat berubah. Seperti ‎itulah adanya, dan daripada berusaha untuk melarikan diri darinya, jalan terbaik adalah ‎bergembira di dalamnya. (Osho, The Sound of One Hand Clapping- suara satu tangan yang ‎bertepuk)‎

Kesendirian (kasunyatan-jawa) sebagai kecenderungan jiwa para introvert.‎

Indikasi: ‎

• Berinteraksi dengan orang merasa capek/lelah
• Lingkaran pertemanan sangat kecil
• Lebih suka menghabiskan waktu sendirian
• Self-healing terbaik: di rumah/di kamar
• Tidak suka lingkungan yang berisik
• Lebih tertarik dengan pekerjaan/aktivitas sendirian (independen)‎

 
Implikasi:‎

• Memendam apa yang dirasakan, dan berharap orang lain mengerti
• Melakukan silent-treatment tanpa batas waktu hingga akhirnya menjadi asing dengan ‎orang yang sebelumnya dikenal.‎
• Sering kecewa dengan diri sendiri karena merasa tidak seperti orang lain, dan akhirnya ‎menyalahkan diri sendiri.‎
• Terlalu berekspresi lebih kepada orang lain yang dianggap dekat, dan akhirnya kecewa.‎
• Sering tidak-enakan sehingga sering dimanfaatkan orang lain.‎

Variasi:‎

• Social Introvert: Suka juga bersosialisasi dan juga aktif, namu di circlenya sendiri.‎
• Thingking Introvert: Bisa ditempat ramai, namun mengamati, diam, di pojok berpikir, ‎menganalisis sekeliling, tenggelam dalam pikiran sendiri.‎
• Anxious Introvert: Setelah berinteraksi berpikir: aku salah ucap gak ya? Bagaimana ‎komentar orang lain ya?‎
• Restrained Introvert: Tertutup, misterius pada awalnya, sulit cair, meski lama-lama bisa.‎

‎“If you`re lonely when you`re alone, you`re in bad company”. (Jean-paul sartre)‎

Kesendirian itu fakta (kasunyatan), tetapi kesepian tidak. Ini yang dikatakan Sartre, “Jika engkau ‎merasa kesepian saat sendiri, engkau ada di perusahaan/frekwensi yang salah/keliru.” Karena ‎kesendirian itu asik, harusnya kamu nikmati.‎

Ragam Kesepian:‎

‎1.‎ Kesepian emosional (tidak ada rasa dekat dan bisa disandari)‎
‎2.‎ Kesepian sosial (Kurangnya jaringan sosial)‎
‎3.‎ Kesepian eksistensial (rasa terpisah/berbeda dari yang lain)‎
‎4.‎ Kesepian sementara (hanya diwaktu tertentu)‎
‎5.‎ Kesepian kronis (senantiasa merasa sepi)‎
‎6.‎ Kesepian situasional (hanya dalam situasi tertentu)‎


Kesepian: Keinginan Untuk Dipahami

‎“Kesepian tidak datang karena tidak adanya orang di sekelilingmu, namun karena engkau tidak ‎mampu mengungkapkan segala yang menurutmu penting”. (Carl Jung)‎
‎“Biar kuberi tahu engkau: kalau engkau bertemu seorang penyendiri, itu bukanlah karena mereka ‎menyukai kesendirian, namun karena mereka sebelumnya telah berusaha keras untuk membaur ‎ke dalam dunia, dan orang-orang selalu mengecewakan.” (Jodi Picoult, My Sister’s Keeper)‎
‎“Rasa kesepianku lahir saat orang memuji omong-kosongku dan mencela kediaman bijaksanaku.” ‎‎(Khalil Gibran, Sand and Foam)‎

Rute Kesepian hingga menjerumuskan pada keburukan: Kesepian - menyalahkan diri – Stres Berat ‎‎– Resiko kematian meningkat

Kesepian: Kecewa (karena lenyapnya support) – Menyalahkan diri sendiri: Runtuhnya Self-‎Esteem (kebanggaan pada dirinya) – Stres berat: Meningkatnya Kortisol, sistem imun berantakan, ‎mudah sakit – Resiko kematian meningkat: Setara dengan merokok 1 bungkus per-hari, lebih ‎berat dari obesitas, lebih berpengaruh daripada tidak mau berolahraga.‎

From Loneliness to Solitude (mengubah kesepian menjadi kesendirian yang positif/bermanfaat)‎

Lakukanlah lima hal ini:‎

Acceptance and Reflections : diterima dan renungi
Self-development: meningkatkan diri
Actions: berkarya
Social-support: berinteraksi dengan orang lain untuk mendapatkan dukungan semangat bahwa ‎masih ada orang yang peduli
Sprituality: meningkatkan aktivitas spritual, sesepi apa pun kita tetapi masih ada Allah.‎

Keberanian Untuk Sendiri: Keutamaan

‎“Adalah mudah untuk tegak dalam kerumunan, namun memerlukan keberanian untuk tegak ‎sendirian.” (Mahatma Gandhi)‎
‎“Orang biasa membenci kesendirian, namun seorang master memanfaatkannya, memeluk ‎kesendirian, sambil menyadari ia adalah satu dengan seluruh semesta.” (Lao Tzu)‎

Kesendirian adalah pembuktian ketangguhan diri seseorang yang berujung pada keunggulan. ‎

KESENDIRIAN DAN KEBEBASAN

‎“Seseorang bisa menjadi dirinya sendiri hanya selama dia sendirian; dan jika dia tidak menyukai ‎kesendirian, dia tidak akan menyukai kebebasan; karena hanya ketika dia sendirian dia benar-‎benar bebas. (Athur Schopenhauer)‎

‎“Jika engkau sendirian, engkau sepenuhnya memiliki diri sendiri. Jika engkau ditemani oleh satu ‎pendamping, engkau hanya memiliki sebagian dari dirimu sendiri atau bahkan kurang, sebanding ‎dengan kesemberonoan perilaku, dan jika engkau memiliki lebih dari satu pendamping, engkau ‎akan jatuh lebih dalam ke dalam penderitaan yang sama.” (Leonardo da Vinci)‎

KESENDIRIAN DAN PEMENUHAN DIRI ‎
‎(Dalam kesendirian kita dapat mewujudkan semua keinginan)‎

‎“Tanpa kesendirian yang luar biasa tidak ada pekerjaan serius yang mungkin dilakukan.” (Pablo ‎Picasso)‎

‎“Tidak ada yang menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri. Tidak ada yang bisa, dan tidak ada ‎yang mungkin bisa. Kita sendiri harus menempuh jalan itu.” (Budha Gautama)‎

‎“Aku butuh sakitnya kesepian untuk membuat imajinasiku berhasil.” (Orhan Pamuk)‎
‎“Jiwa yang melihat keindahan terkadang bisa berjalan sendiri.” (Goethe)‎

From Solitude to Spiritual Awareness (Dari kesendirian yang positif menuju kesadaran spritual)‎

‎“Orang yang takut sendirian, pasti akan kesepian, tidak peduli seberapa banyak orang di ‎sekelilingnya. Namun orang yang belajar dalam kesendiriannya, untuk berdamai dengan ‎kesepiannya, dan lebih memilih kenyataan daripada ilusi persahabatan, akan menyadari ‎kehadiran Tuhan yang tak terlihat.” (Thomas Merton, No Man is an Island)‎

Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah, ketika mengalami kesepian beliau melakukan tahannus ‎‎(menyendiri).‎

‎“Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan menuju kesendirian absolut, engkau tidak dapat ‎mengajak orang lain ke sana bersamamu.” (Osho, Just The Tip of Iceberg)‎

‎“Kita harus menjadi sendiri, begitu sendirian, lalu kita menarik diri ke dalam diri yang terdalam. ‎Ini memang jalan penderitaan yang pahit. Tetapi kemudian kesendirian kita akan teratasi, kita ‎tidak lagi merasa kesepian, karena kita menemukan bahwa dalam diri kita yang terdalam ada ‎jiwa, yang ilahiyah, yang tak terpisahkan. Lalu kita menemukan diri kita berada di tengah-tengah ‎dunia, namun tidak terganggu oleh keserbaragamannya, karena jjiwa kita yang paling dalam itu ‎membuat kita tahu bahwa diri kita adalah menjadi satu dengan semua makhluk.” (Hermann ‎Hesse)‎

Diawali dari sendiri, sendiri yang tidak kesepian. Dilanjutkan dengan perjalanan ke dalam diri, ‎dipuncaki dengan kesadaran ilahiyah, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak merasa ‎ada bedanya dengan semua makhluk dan tidak tergoda oleh warna-warni duniawi. Kongkritnya ‎adalah uzlah.‎


Spritual Solitude (uzlah), terdapat dua istilah yang dekat dengan uzlah dalam dunia tasawuf yaitu ‎khalawat dan zuhud: Uzlah menjauhkan diri dari keramaian. Zuhud adalah kondisi jiwa yang tidak ‎tergoda dengan hal-hal yang duniawi. Khalawat memisahkan diri dari keramaian berdua dengan ‎yang dicintai (Allah).‎

Ayat yang menyarankan kita untuk memperhatikan diri sendiri ditemukan dalam Qu’an yaitu QS. ‎Al-Maidah/5: 105. Allah menyarankan, “Orang-orang yang sesat tidak akan ada yang mampu menggoda, membahayakan, ‎kalau kalian sudah mendapatkan hidayah/petunjuk Tuhan. Jangan lupa ‎bahwa kepada Allah-lah kamu akan kembali.‎

KEUTAMAAN UZLAH (Solitude)‎

Uzlah melatih jiwa kita untuk menjadi kuat. ‎

‎1.‎ Mendapat banyak kesempatan untuk beribadah dan bertafakkur atas Kemahasucian-Nya
‎2.‎ Terlepas dari dosa yang dilakukan karena hidup dalam masyarakat: 1) Ghibah, 2) Tidak ‎melakukan amar ma`ruf nahi munkar, 3) Riya’, 4) Perilaku buruk seperti: mengumpat, ‎memfitnah.‎
‎3.‎ Membebaskan diri dari pertengkaran dan perselisihan serta menyelamatkan diri dari ‎percakapan yang tidak berguna dan sia-sia.‎
‎4.‎ Menyelamatkan diri dari gangguan atau cercaan orang lain.‎
‎5.‎ Putusnya harapan orang banyak atas kita dan harapan kita atas orang banyak, karena ‎mustahil mendapatkan kerelaan orang banyak dan memuaskan semua keinginan mereka.‎
‎6.‎ Jika orang yang bodoh, maka orang lain aman dari kebodohan dan keburukan karena ‎ketidaktahuannya.‎

Kesendirian itu indah dan memberikan banyak manfaat. Rasulullah menyarankan untuk uzlah ‎ketika kondisi masyarakat yang negatif. Rasulullah bersabda: “Apabila engkau menyaksikan ‎manusia yang mengingkari janji dan amanah yang dipercayakan kepada mereka, dan apabila ‎mereka kemudian menjadi begini (beliau memasukkan jari-jari satu tangan ke dalam jari tangan ‎lainnya) maka mereka akan sibuk dengan pertengkaran dan perselisihan”. Seseorang kemudian ‎bertanya: “Lalu apa yang harus kami lakukan, Ya Rasulullah?”. Beliau menjawab: “Tetaplah kalian ‎berada di rumah kalian, jaga lidahmu baik-baik dan ambil apa yang kalian ketahui dan tinggalkan ‎apa yang tidak ketahui. Karena itu tetaplah sibuk dengan urusan kalian sendiri dan tinggalkanlah ‎urusan orang banyak.” (Ihya’)‎

Sebagian atsar sahabat juga menginspirasi untuk uzlah:‎

Umar bin Khaththab r.a.: “Kesendirian lebih baik daripada punya sahabat yang buruk ‎perilakunya.”‎
Ibnu al-Samad berkata: “Manusia adalah ibarat obat yang dengannya mereka menyembuhkan ‎penyakit. Namun manusia masa kini telah berubah menjadi penyakit yang tidak lagi ada penawar ‎baginya. Karena itu larilah dari manusia banyak sebagaimana kalian lari dari Singa.”‎

Menciptakan kesendirian untuk diri/hidup kita pada kondisi yang memungkinkan dan kondosi ‎yang pas justru itu sesuatu yang dianjurkan, mulia, dan hal yang utama.‎

Great eagles fly Alone, Great lions Hunt alone, Great souls walk alone, alone with God. (Leonard ‎Ravenhill)‎

‎“Burung elang yang hebat itu terbang sendiri, singa yang hebat itu berburu sendirian, jiwa yang ‎hebat berjalan sendirian, sendirian bersama Tuhan.” (Leonard Ravenhill)‎

Kesendirian itu hebat kalau rumus dan dosisnya tepat, tetapi kalau meleset maka akan ‎membuahkan kesepian, tekanan stres. Oleh karena itu, pintar-pintarlah mencari formula yang ‎tepat untuk meletakkan kapan diri untuk sendiri dan kapan mesti berbaur.‎

DR. Fahruddin Faiz - https://youtu.be/VfevZyttGH4‎

Ngaji Filsafat : Kesendirian ‎
Ngaji Filsafat 389 Edisi : Falsafah Hidup (Lagi) ‎
Bersama Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag ‎
Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta Rabu, 07 Juni 2023

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]