“Contextualizing the Qur’an and Hadith in Human Life” explores how sacred texts can be meaningfully understood and applied in today’s world. It invites readers to see the Qur’an and Hadith not as distant traditions, but as living sources of guidance for personal growth, social harmony, and spiritual depth.

Cari Blog Ini

Mengenai Saya

Foto saya
Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Indonesia
Samsurizal is a lecturer and writer specializing in socio-cultural, religious, and spiritual studies. Since 2007, he has been serving as a faculty member at the Islamic College of Balaiselasa YPPTI Pesisir Selatan, Indonesia. Alongside his academic role, he is an active researcher and prolific author, with numerous books and scholarly articles published in reputable journals. His works often explore the intersections of tradition, culture, and religion, highlighting both historical and contemporary perspectives. Through his academic contributions, he seeks to advance critical discourse on Islamic studies, spirituality, and broader socio-cultural issues. Samsurizal is also engaged in intellectual and educational activities that promote cross-cultural understanding and the dissemination of knowledge. His research and writings are intended not only for academic audiences but also for the wider public, aiming to build bridges between scholarly inquiry and societal needs.

Post Page Advertisement [Top]

MENATA KEINDAHAN HIDUP DENGAN GAYA HIDUP MINIMALIS
Disarikan oleh: Samsurizal, S.IQ, S.ThI, MA., C.I.P


Kesalahpahaman tentang pandangan hidup minimalis adalah membuang barang-barang sekaligus ‎tanpa pertimbangan. Menganggap gaya hidup minimalis hanya sebagai trend "aesthetic". Mengikuti ‎standar jumlah barang orang lain. Tidak meyimpan barang kenangan atau hadiah. Sehingga hanya ‎terfokus pada barang.‎

Gaya hidup Minimalis tidak identik dengan prilaku pelit

Hidup minimalis bukan berarti pelit, bukan bearti tidak bisa membeli apa yang disukai. Simpan apa ‎yang kita yakini penting dan buang apa yang tidak dibutuhkan. Hidup menimalis bearti dengan sadar ‎menjaga hanya apa yang penting, apa yang membuat kita bahagia, dan apa yang berharga buat kita. Jika ‎engkau merasa ada sesuatu yang tidak penting atau bahkan merugikan, hapus dan ganti dengan yang ‎lebih bermanfaat. ‎

Minimalis bukan bearti anti-Konsumsi

Seorang minimalis bukanlah anti-konsumsi melainkan anti-prilaku konsumeris yang berlebihan karena ‎manusia tidak bisa hidup tanpa mengonsumsi atau membeli. Yang dilakukan oleh pelaku hidup ‎minimalis ialah memilah kualitas dan kuantitas sesuai kebutuhan hidupnya. Manusia bisa hidup bahagia ‎dan tetap menjadi manusia yang utuh tanpa harus mengikuti perkembangan gaya (fashion), upgrade ‎telepon genggam, atau memiliki furnitur yang artistic dan mathching satu sama lain, dan lain-lain.‎

PENGHALANG UNTUK HIDUP MINIMALIS

A.‎ FOMO (Feer of Missing Out) 

FOMO yaitu Gangguan Kecemasan, sebuah keinginan untuk ‎terus terkoneksi atau mengikuti apa yang orang lain lakukan_tergolong pada anxiety disorder. Acap ‎kali produsen membuat jenis produk baru yang tidak memiliki perbedaan fungsional dari produk ‎keluaran sebelumnya _ baik itu perusahaan yang sama maupun tidak. Produk-produk baru tersebut ‎hanya berbeda dari segi tampilan dan fitur-fitur tambahan yang juga tidak terlalu fungsional. ‎Kemudian mereka merayu konsumen agar merasa harus memiliki barang tersebut sehingga tidak ‎tertinggal dari yang lainnya. Oleh karena itu, hati-hati dengan ketakutan ketinggalan zaman, ‎sehingga tidak rasional.‎

B.‎ KONSUMERISM

Kapitalis modern membutuhkan orang-orang yang bekerja sama dengan mudah, dalam jumlah ‎besar; yang ingin mengonsumsi lebih dan lebih; dan yang seleranya dibakukan dan dapat dengan ‎mudah dipengaruhi dan dikendalikan. (Erich Fromm). Kapitalis dan Konsumerisme adalah dua sisi ‎mata uang yang sama, gabungan dari dua perintah. Perintah tertinggi orang kaya adalah 'Investasilah'. ‎Perintah tertinggi untuk kita semua adalah 'Beli' (Yuval Noah Harari). Untuk hidup sepenuhnya, kita ‎harus belajar bagaimana memanfaat barang dan mencintai orang, bukan mencintai barang dan ‎memanfaatkan orang. (John Powell). ‎

FILSAFAT MINIMALISME

‎“Rahasia kebahagiaan, Anda lihat, tidak ditemukan dalam mencari lebih banyak, tetapi dalam ‎mengembangkan kapasitas untuk menikmati lebih sedikit”. "Dia yang tidak puas dengan apa yang dia ‎miliki, tidak akan puas dengan apa yang dia ingin miliki." (Socrates). "Orang yang merasa cukup dengan ‎yang ia miliki adalah orang kaya." (Lao Tzu). "Hiduplah dengan sederhana agar orang lain dapat ‎hidup". (Gandhi). Hakekat hidup minimalis adalah merasa cukup.‎

Mengendalikan keinginan adalah sifat dewa-dewa yang tidak membutuhkan apapun, dan manusia yang ‎seperti dewa hanya menginginan sedikit hal. (Diogenes). Akan lebih baik jika tidak memiliki apa-apa. ‎Karena ada lebih banyak rasa sakit daripada kesenangan di bumi, setiap kepuasan hanyalah sementara, ‎menciptakan keinginan baru dan kesusahan baru, dan penderitaan hewan yang dimakan selalu jauh ‎lebih besar daripada kesenangan yang melahapnya”. Kita harus membatasi keinginan kita, mengekang ‎keinginan kita, merendahkan amarah kita, selalu mengingat bahwa seorang individu hanya dapat ‎memeroleh bagian yang sangat kecil dalam segala hal yang berharga; dan bahwa disisi lain, setiap orang ‎harus menanggung banyak penyakit dalam hidup. (Arthur Schopenhauer). Hal ini dikenal dengan ‎filsafat kehendak atau filsafat keinginan dari Arthur. Ia memahami hidup pada hidup pada hakekatnya ‎adalah penderitaan, karena kita menjalani hidup dengan keinginan. Ketika keinginan tercapai, tidak ‎berhenti sampai disana tetapi muncul keinginan baru. Dibalik kesuksesan ada sisi penderitaan, baik ‎dalam proses maupun dalam kesuksesan tersebut.‎

Mengendalikan Keinginan

Kekayaan tidak terdiri dari memiliki banyak harta, tetapi memiliki sedikit keinginan (Epictetus). Bukan ‎orang yang memiliki terlalu sedikit, tetapi orang yang memiliki lebih, itulah yang miskin (Seneca). Energi ‎dan waktumu sama-sama terbatas, jadi jangan sia-siakan mereka pada apa yang dilakukan, dipikirkan, ‎dan dikatakan oleh orang-orang yang tidak penting dalam hidupmu. Dengan memperioritaskan hal ‎yang tepat; keluarga, teman, usaha dan kesejahteraan, engkau akan menemukan kepuasan dan harmoni ‎‎(Marcus Aurelius).‎

Menemukan yang lebih hakiki dan berguna

‎"Jangan memiliki barang yang tidak kau ketahui gunanya atau tidak kau yakini keindahannya" (William ‎Moris). "Apakah kamu tidak malu untuk begitu peduli pada perolehan uang dan ketenaran dan prestise, ‎ketika kamu tidak berpikir dan peduli tentang kebijaksanaan dan kebenaran dan peningkatan jiwamu?". ‎‎"Isi hidupmu dengan pengalaman, bukan barang. Miliki banyak cerita untuk dikisahkan, bukan barang ‎untuk ditampilkan" (Socrates).‎

Jangan Memperumit Hidup

‎"Hidup ini sangat sederhana, tetapi kita bersikeras untuk membuatnya rumit” (Confucius). "Saya tidak ‎mengatakan 'tidak' karena saya sangat sibuk. Saya mengatakan 'tidal' karena saya tidak ingin terlalu ‎sibuk" (Courtney Varver). ‎

Filsafat minimalis dalam perspektif agama-agama: Dihampir semua agama dan sekaligus diteladankan ‎oleh banyak agama: - Kesederhanaan dan kebersahajaan adalah menuju kehidupan yang lebih dalam ‎secara spritual. Hal-hal duniawi: benda yang dimiki, ambisi, dan emosi negatif adalah sumber ‎penderitaan. Kekayaan dan kebahagiaan dari rasa syukur. 

Lihat: https://www.youtube.com/watch?v=Oph5zIx-Og8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon koreksi jika terdapat kekeliruan dalam postingan yang saya upload🙏🙏🙏

Bottom Ad [Post Page]